“Aku seharian di rumah, tapi saudara iparku yang kurang ajar dan parasit itu terus menghinaku. Dia pikir aku akan diam saja, tapi malam ini aku akan menghancurkan mulutnya dengan cabai!!! Dia pasti mati! Makan semua cabainya!!!”
AKU MENYEMPROTKAN SAUS CABAI KE WAJAH SAUDARA IPARKU YANG MENYEBALKAN
Asap mengepul dari meja makan, membawa aroma menggoda dari kari ayam dan kangkung tumis dengan pasta udang. Namun, bagi Nadia, aroma itu tidak memberikan kenyamanan. Di tangannya, ia masih memegang lesung dan alu. Di dalamnya ada saus cabai super pedas yang telah ia buat dengan semua cabai merah yang tersisa. Warnanya merah tua, berminyak, dan memiliki bau menyengat yang membuat hidungnya perih.
Nadia mengatur piring-piring secara mekanis. Jantungnya masih berdebar kencang mengingat kejadian siang itu. Kunci mobilnya telah dicuri, harga dirinya diinjak-injak, dan kemandulannya menjadi bahan olok-olok.
Tak lama kemudian, tawa melengking terdengar dari pintu depan. Della masuk bersama Rigen, membawa beberapa tas belanja berwarna oranye dan putih. Di belakang mereka, Bagas dan Regina keluar dari kamar tidur, menyapa “anak emas” mereka seolah-olah Della baru saja memenangkan medali emas, bukan menghabiskan uang iparnya.
“Astaga, aku lelah sekali! Macetnya parah sekali. Untungnya aku di mobil Nadia; AC-nya bagus sekali, jadi kulitku tidak kering,” kata Della, melemparkan tas belanjanya ke kursi ruang tamu sebelum menuju meja makan tanpa mencuci tangannya.

Rigen mengikuti, duduk, dan mengambil gelas air Nadia. “Enak sekali. Kebetulan, aku lapar setelah berkeliling mal.”
Nadia tetap diam, berdiri di samping meja dengan ekspresi serius.
“Nadia, ambilkan nasi untuk Rigen dan Della. Mereka pasti sangat lelah,” perintah Regina, sambil duduk di kursi utama.
Nadia tidak bergerak. “Mereka punya tangan, Ibu.” “Mereka bisa mengambil makanan sendiri.”
Suasana di meja makan menjadi hening. Bagas berdeham, mencoba meredakan ketegangan. “Nad, hentikan. Jangan mulai lagi. Mari makan dengan tenang, oke?”
Della mendengus, mengambil piring dan menyendok nasi dengan kasar. “Astaga, Tuan Bagas. Istrimu semakin sulit diatur, ya? Mungkin karena hormonnya belum stabil. Kasihan, dia sangat sensitif.”
Nadia mencengkeram serbetnya erat-erat. Matanya menatap tajam ke arah Della. “Jaga ucapanmu, Della. Ini rumahku, dan aku yang membayar makanan yang akan kau makan.”
Della tersenyum tipis, menoleh ke ibunya. “Bu, dengar itu? Nadia suka pamer kekayaannya. Lagipula, Tuan Bagas adalah suaminya, jadi semua yang Ibu miliki adalah miliknya. Mengapa Ibu begitu perhitungan?” “Kau bertingkah seperti orang miskin.”
Lalu ia menatap makanan di atas meja dengan jijik. “Lagipula, kenapa ini mengerikan sekali? Kari ayamnya hambar. Kangkungnya sepertinya kurang bumbu. Ya ampun, Kak… kalau kau tidak tahu cara memasak untuk keluarga, sebaiknya kau belajar. Pantas saja Pak Bagas selalu makan di luar; masakan istrinya tidak berbeda dengan makanan kaki lima.”
“Della, cukup,” tegur Bagas lemah, tetapi alih-alih menatap adiknya, ia malah menatap piringnya sendiri.
“Benarkah, Mas? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Aku bersamanya di mobil siang ini dan dia banyak bicara, dan sekarang dia harus makan makanan mengerikan ini. Nadia seharusnya bersyukur memiliki ipar perempuan sepertiku, yang mau memberi nasihat jujur.” “Agar dia tidak malu saat tamu datang.” Della menyendok saus cabai ke dalam mangkuk kecil dan mengendus aromanya dengan ekspresi jijik. “Oh, baunya menyengat sekali. Apakah ini saus cabai atau sampah? Baunya busuk!”
BRAK!
Nadia membanting tangannya ke meja, membuat gelas-gelas berjatuhan. Kesabarannya yang sudah rapuh benar-benar habis.
“Kalau kau pikir makanan ini sampah, kenapa kau masih duduk di sini dengan mulut kotormu?!” teriak Nadia.
“Nadia! Bersikap sopan!” bentak Regina, bangkit dari kursinya. “Della adalah kakak iparmu! Dia hanya mengatakan yang sebenarnya!”
Della semakin terkejut. Dia berdiri dan menunjuk jari telunjuknya yang panjang dan ramping ke wajah Nadia. “Oh, kau marah? Takut rahasiamu akan terungkap bahwa Mas Bagas benar-benar tidak menyukaimu? Tenanglah, Kak! Kau hanya seorang pewaris, bagaimana dengan menjadi seorang istri? Kau gagal! Mandul, pelit, dan mudah marah.” “Kalau aku Mas Bagas, aku pasti sudah menceraikanmu sejak lama!”
Mata Nadia memerah. Kata-kata “mandul” dan “perceraian” hanya menambah bahan bakar ke api. Tanpa berkata apa-apa, Nadia meraih lesung dan alu yang masih penuh dengan pasta cabai.
SCREEEET!
Dengan gerakan cepat dan tak terduga, Nadia menuangkan semua pasta cabai merah langsung ke wajah Della.
“AAAAAAAKKKKKHHHHHH!!!”
Teriakan melengking Della memecah keheningan malam. Pasta cabai yang sangat pedas itu terciprat ke mata, hidung, dan mulutnya, yang menganga karena kaget.
“MATAKU! PANAS SEKALI! BU! MAS BAGAS! TOLONG AKU!” Della meronta-ronta, mengayunkan tangannya saat wajahnya kini tertutup saus cabai merah pedas.
“Minta maaf atau aku ceraikan kamu malam ini juga!” ancam Bagas, dadanya kembang kempis menahan amarah yang memuncak.
Nadia menepis cengkeraman tangan Bagas dengan hentakan kuat. Ia menyeka tetesan darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap Bagas dengan senyuman paling meremehkan yang pernah ia tunjukkan.
“Cerai?” Nadia tertawa hambar, suaranya menggema dingin di antara jeritan histeris Della yang masih disiram air putih oleh Ibu Regina di dekat wastafel. “Kamu pikir aku takut dengan kata itu, Bagas? Justru kata-kata itu yang paling ingin kudengar darimu sejak lama.”
Nadia berjalan perlahan menuju meja ruang tamu, mengambil sebuah map tebal berwarna biru dari dalam laci, lalu melemparkannya tepat ke dada Bagas hingga dokumen di dalamnya berhamburan ke lantai.
“Buka matamu lebar-lebar, Bagas! Lihat apa itu!” bentak Nadia.
Bagas terpaku. Dengan tangan gemetar, ia memungut lembaran-lembaran kertas tersebut. Wajahnya yang tadi merah padam seketika berubah pucat pasi bagai kehilangan darah. Itu adalah laporan medis rahasia hasil pemeriksaan kesuburan yang dilakukan dua bulan lalu atas nama Bagas.
“K-Kamu… kamu sudah tahu?” suara Bagas mendadak mencicit, kehilangan taringnya.
“Ya! Aku sudah tahu!” teriak Nadia dengan air mata yang mulai menggenang, bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang membuncah. “Selama tiga tahun ini aku diam! Aku menelan semua hinaan ibumu dan adikmu yang bilang aku mandul, perempuan pembawa sial, dan tidak berguna! Aku menjaga harga dirimu sebagai laki-laki karena aku mengira kamu punya hati nurani! Tapi ternyata apa? Kamu mandul, Bagas! Kamu yang tidak bisa punya anak, bukan aku!”
Suasana meja makan seketika senyap. Bahkan jeritan Della mendadak terhenti, meskipun matanya masih merah dan bengkak akibat siraman sambal. Ibu Regina membeku di tempatnya, menatap putranya dengan pandangan tidak percaya.
“Nadia… itu… itu pasti salah paham…” gagap Regina, mencoba membela anak emasnya.
“Diam kau, tua bangka!” bentak Nadia tanpa ampun. “Jangan pernah berani bicara lagi di rumahku! Kalian semua ini cuma parasit! Benalu yang tidak tahu diri!”
Pengusiran Sang Parasit
Nadia tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk membela diri. Ia berjalan ke arah pintu utama, membukanya lebar-lebar, lalu berbalik menatap keempat orang yang selama ini menumpang hidup darinya.
“Rumah ini, mobil yang dipakai Della untuk pamer di mall, makanan yang kalian kunyah setiap hari, bahkan baju yang melekat di tubuh kalian saat ini—semuanya dibeli dengan uang dan warisan orang tuaku!” ucap Nadia dengan nada mutlak. “Kamu mau cerai, Bagas? Detik ini juga kita cerai! Aku tidak sudi berbagi satu atap lagi dengan laki-laki pengecut yang membiarkan istrinya diinjak-injak demi membela adiknya yang berhati iblis!”
Nadia menunjuk ke luar pintu yang gelap. “Sekarang, angkat kaki kalian semua dari rumahku! Bawa Della dan mulut cabenya itu pergi dari sini!”
“Nad, tolong jangan begini… ini sudah malam, Della sedang sakit,” mohon Rigen, suami Della, yang akhirnya membuka suara karena ketakutan membayangkan harus kehilangan fasilitas mewah dari kakak iparnya.
“Aku tidak peduli! Keluar!” Nadia menyambar kantong-kantong belanjaan oranye milik Della dan melemparkannya ke halaman rumah yang basah karena sisa hujan. “Satpam kompleks sudah kupanggil. Kalau dalam waktu lima menit kalian belum keluar, mereka yang akan menyeret kalian seperti sampah!”
Akhir dari Keangkuhan
Bagas hanya bisa menunduk pasrah. Lembaran hasil analisis medis di tangannya telah meruntuhkan seluruh harga diri dan kesombongannya. Tanpa harta Nadia, ia hanyalah seorang pria dengan gaji pas-pasan yang tidak akan mampu menghidupi ibu dan adiknya yang gila hormat.
Sambil memegangi Della yang masih menangis memegangi wajahnya yang perih dan melepuh, Ibu Regina dan Rigen terpaksa melangkah keluar dari gubuk kemewahan yang selama ini mereka nikmati dengan gratis. Mereka melangkah terseok-seok ke jalanan kompleks yang dingin, tanpa mobil, tanpa uang tunai yang cukup, dan membawa rasa malu yang teramat sangat.
Nadia berdiri di ambang pintu, menatap punggung-punggung tak tahu malu itu menjauh. Ia tersenyum puas. Pipi kirinya mungkin masih terasa berdenyut akibat tamparan Bagas, namun dadanya kini terasa begitu lapang. Malam ini, ia tidak hanya merujak mulut iparnya dengan cabai rawit pedas, tetapi ia juga telah membersihkan hidupnya dari racun-racun berkedok keluarga.
BRRAAAK!
Nadia menutup pintu rumahnya dengan keras, menguncinya rapat-rapat, dan siap memulai lembaran hidupnya yang baru—sebagai wanita merdeka yang berkuasa penuh atas kebahagiaannya sendiri.