Posted in

Hubunganku dengan Mas Adit kian berjarak setelah aku menolak mengatur kembali gaji Mas Adit yang terkesan berantakan sekali di tangan Nita. Aneh sekali, Nita yang bersikeras mengambil alih tugasku, tapi tetap saja aku yang disalahkan.

Malam tadi Mas Adit memberitahuku bahwa ada hal yang ingin ia bicarakan dengan anggota keluarganya yang lain. Sehingga pagi ini aku sudah berada di ruang keluarga. Duduk di kursi yang aku bawa sendiri dari dapur. Setelah sarapan, semua keluarga berkumpul.

Nita duduk dengan malas di samping Mas Adit yang bersiap memulai pembicaraan. Ibu dan bapak duduk bersampingan.

“Kalian mengerti kan, kalau keuangan keluarga kita sekarang sedang tidak baik-baik saja?” Mas Adit bicara tanpa berbasa-basi lagi.

“Maka dari itu mulai hari ini, kau Risa, diharuskan menyetorkan sebagian gajimu pada Nita, untuk menambah biaya hidup kita semua. Kamu kan tahu sendiri, bahwa gajiku ternyata tak bisa mencukupi kebutuhan kita semua. Padahal Nita sudah berusaha hemat, tapi tetap saja di akhir bulan kita selalu kekurangan.” Mas Adit menghela napas panjang.

“Gak bisa! Aku gak mau mas. Kebutuhan kalian bukan tanggung jawabku. Seharusnya kamu berusaha lebih keras lagi, dong. Kan kamu sendiri yang mau nikah lagi, kok jadi aku yang harus nafkahin istri muda kamu? Enak banget kamu, Mas.” Aku berdiri melipat kedua tanganku di depan dada. Emosiku memuncak saat ini hingga membuat dadaku berdebar tak karuan.

Dulu, saat pertama kali memintaku menerima pernikahan keduanya, dengan pongahnya Mas Adit bilang kalau ia bisa berlaku adil. Inikah yang ia maksud dengan adil itu?

“Risa, kita ini satu keluarga. Kenapa sih kamu egois banget? Apa salahnya kamu ikut bantu keuangan keluarga?” desak Mas Adit dan diamini oleh yang lain.

“Bapak punya tambak ikan, kenapa selama ini bapak gak diminta ikut bantu? Beliau masih sehat, usahanya masih jalan seperti biasa.” Napasku memburu seiring gejolak amarah di dalam dada kian meronta.

“Risa, beliau orang tuaku. Sudah seharusnya aku menanggung biaya hidupnya.”

“Dan aku istrimu. Sudah menjadi kewajibanmu memenuhi kebutuhanku. Lagipula kamu yang poligami, kenapa kamu tak mau usaha lebih keras lagi biar gak kekurangan? Sudah tahu gaji pas-pasan, kenapa nekat nikah lagi?”

“Aku udah usaha, Risa. Kamu lihat, aku bahkan sampai harus nyambi jadi supir taksi online biar bisa mencukupi kebutuhan keluarga kita.” Wajah Mas Adit terlihat memelas.

Suasana semakin runyam karena ibu dan Nita iku memojokkan diriku. Sampai aku terlihat seperti seorang yang jahat, tega membuat keluarga ini terlantar.

“Risa, seharusnya kamu juga ikut andil memenuhi kebutuhan keluarga ini. Kalau Nita, mana mungkin dia bekerja sedang dia aja sekarang sedang hamil.” Sengaja ibu menekan kata hamil untuk membuatku semakin terpojok.

“Mau Nita hamil kek, mau apa terserah. Pokoknya aku gak mau pakai uangku lagi buat nutupin gaya hidup kalian. Kalau gaji Mas Adit hanya cukup untuk makan tahu tempe setiap hari, yasudah, silakan nikmati! Sepuluh tahun aku mengabdi pada keluarga ini tapi pengorbananku tak pernah dianggap. Bukankah kalian hanya ingin keturunan? Sekarang Nita hamil, seharusnya kalian tak perlu merisaukan hal lain.” Tak bisa lagi aku menahan air mataku untuk tak keluar. Nyatanya buliran bening itu meluncur bebas seiring dengan kalimat-kalimat intimidasi dari Mas Adit dan yang lainnya.

“Egois banget sih kamu, Mbak? Pantesan kamu gak hamil-hamil, sama keluarga sendiri aja pelit,” ucap Nita tanpa perasaan. Mataku memicing menatap Nita yang berdiri dengan pongah di samping ibu mertua.

“Gak usah sok tahu kamu, Nita!” sergahku marah. Tersinggung dengan kata-kata Nita.

“Memang kenyataannya begitu kok,” balasnya lagi tak mau kalah.

“Nita cukup!” bentak Mas Adit membuat Nita bungkam. Wajahnya terlihat tak senang.

“Kita butuh tambahan uang, Risa. Nita butuh nutrisi dan gizi yang cukup untuk bayinya,” bujuk Mas Adit lembut.

“Kita? Enggak mas, kamu aja. Aku gak butuh,” sahutku cepat.

“Risa, aku sudah berusaha bicara baik-baik sama kamu. Aku cuma mau minta pengertian kamu aja. Sekarang kamu turuti permintaan kami, atau…,”

“Atau apa, Mas?” sahutku tak sabar. Kutatap mata Mas Adit yang memerah, menunggu ia menyelesaikan kalimatnya.