ULAR PELIHARAANKU MULAI BERTINGKAH ANEH BEBERAPA HARI INI. TADI MALAM, DIA TIBA-TIBA MENOLAK MAKAN. BUKAN CUMA ITU—SETIAP MALAM DIA TIDUR LURUS MENEMPEL DI TUBUHKU.

ULAR PELIHARAANKU MULAI BERTINGKAH ANEH BEBERAPA HARI INI. TADI MALAM, DIA TIBA-TIBA MENOLAK MAKAN. BUKAN CUMA ITU—SETIAP MALAM DIA TIDUR LURUS MENEMPEL DI TUBUHKU.

Aku bahkan sempat tertawa dalam hati.

“Anak besar Mommy sudah manja sekarang.”

Aku memotretnya lalu mengirim foto itu ke sahabatku, seorang dokter hewan reptil di Jakarta.

Tapi beberapa detik kemudian…

dia langsung menelepon dengan suara panik.

“Lia, kamu gila?! Itu bukan manja!”

Suaranya gemetar.

“Dia sedang mengukur tubuhmu! LARI DARI APARTEMEN SEKARANG!”

Namaku Lia Santoso.

Aku cuma pegawai kantor biasa di Jakarta yang hidupnya monoton antara kerja dan pulang.

Satu-satunya hal tidak biasa dalam hidupku adalah ular peliharaanku.

Namanya Lakan.

Seekor Burmese python hampir lima meter panjangnya.

Aku memeliharanya sejak ukurannya masih sebesar pensil.

Sudah enam tahun bersama.

Dia tenang.

Tidak pernah menyerang siapa pun.

Biasanya dia hanya melingkar diam di terrarium kaca ruang tamuku seperti patung hidup.

Setiap aku pulang kerja…

aku selalu memanggilnya.

“Lakan…”

Dan dia akan bergerak perlahan mendekat, lidahnya menjulur kecil lalu menempelkan tubuh dinginnya ke kakiku.

Seperti keluarga sendiri.

Tapi beberapa hari terakhir…

ada yang berubah.

Dia berhenti makan.

Tikus hidup favoritnya bahkan tidak disentuh.

Aku pikir mungkin suhu terrarium bermasalah.

Atau dia sedang sakit.

Namun semuanya normal.

Sampai malam itu.

Aku terbangun karena suara gesekan sisik di lantai apartemenku di daerah Tebet.

“Ssshhh… ssshhh…”

Lakan naik ke tempat tidurku.

Tapi kali ini…

dia tidak melingkar seperti biasanya.

Dia merebahkan tubuhnya lurus tepat di samping tubuhku.

Dari kepala sampai kaki.

Seolah sedang mengukur panjang badanku.

Aku malah tertawa kecil.

“Good night, Lakan…”

Aku tidak tahu…

di sisi lain telepon, sahabatku sudah hampir histeris melihat fotoku.

Keesokan paginya, Lakan kembali ke terrarium seperti biasa.

Tapi rasa tidak enak di dadaku semakin besar.

Aku akhirnya mengambil cuti kerja dan mengirim video ke Dr. Carlo Wijaya, dokter hewan reptil dari klinik veteriner universitas.

Beberapa menit kemudian dia menelepon.

“Lia… dengarkan aku baik-baik.”

Suaranya pelan.

Tegang.

“Kalau ular besar berhenti makan lalu mulai tidur lurus menempel ke tubuh pemiliknya…”

Dia berhenti bicara beberapa detik.

“Itu biasanya karena dia sedang bersiap menelan mangsa besar.”

Tubuhku langsung dingin.

“Maksudmu… aku?”

“Biasanya mereka mengukur apakah ukuran tubuh target cukup untuk ditelan.”

Tanganku mulai gemetar.

Aku menoleh ke arah terrarium.

Lakan diam menatapku dari balik kaca.

Malamnya…

aku pulang dengan jantung berdebar tidak karuan.

Lakan tetap tidak makan.

Dia hanya memperhatikanku.

Lama sekali.

Lalu perlahan keluar dari terrarium dan bergerak ke arah tempat tidurku.

Lurus.

Berat.

Dingin.

Menempel di samping tubuhku.

Tapi kali ini…

aku tidak tidur.

Diam-diam aku membuka kamera ponsel untuk merekamnya.

Dan saat itulah…

semuanya berubah.

Tubuh Lakan mulai bergetar hebat.

Bukan gerakan biasa.

Sisiknya mulai rontok satu per satu seperti abu terbakar.

Aku langsung bangkit berdiri.

“L-Lakan?!”

Suara retakan aneh memenuhi kamar.

KRAK…

KRAK…

Tubuh ular itu mulai bergerak tidak normal.

Seperti ada sesuatu di dalamnya yang sedang memaksa keluar.

Matanya yang biasanya hitam pekat…

perlahan berubah merah.

Lalu—

aku mendengar suara.

Bukan desisan.

Tapi suara manusia.

Pelan.

Serak.

“Lia…”

Tubuhku membeku total.

Karena suara itu…

adalah suara mantan pacarku.

Rendy.

Pria yang hilang misterius dua tahun lalu tanpa jejak.

Air mataku langsung jatuh.

“Rendy…?”

Tubuh ular itu terus bergetar sambil menatapku.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…

aku melihat sesuatu yang tidak mungkin.

Dari balik sisik yang mulai rontok…

terlihat potongan kulit manusia.

Aku mundur sampai menabrak meja kecil di samping tempat tidur.

Ponselku jatuh ke lantai.

Tubuh Lakan terus bergetar hebat.

Sisik-sisiknya rontok satu per satu seperti kulit yang terbakar.

Dan di balik tubuh ular itu…

aku mulai melihat sesuatu yang membuat napasku berhenti.

Kulit manusia.

Pucat.

Berlendir.

Perlahan muncul dari balik sisik.

“Lia…”

Suara itu terdengar lagi.

Lemah.

Menyakitkan.

Air mataku langsung jatuh.

Karena aku mengenali suara itu.

Rendy.

Mantan pacarku yang hilang dua tahun lalu tanpa jejak.

Pria yang paling kucintai sebelum hidupku berubah berantakan.

Semua orang mengira dia kabur meninggalkanku.

Bahkan polisi menghentikan pencarian setelah beberapa bulan.

Tapi sekarang…

suaranya keluar dari tubuh ular peliharaanku sendiri.

“Rendy… ini nggak mungkin…”

Tubuhku gemetar hebat.

Lakan—atau apa pun makhluk itu sekarang—bergerak mendekat perlahan.

Lalu aku melihat wajah manusia mulai muncul di antara sisik yang terbuka.

Setengah wajah Rendy.

Matanya penuh air mata.

“Maaf…”

Aku langsung menjerit.

Tetangga apartemen mulai mengetuk pintu karena mendengar suaraku.

Tapi aku tidak bisa bergerak.

Tubuhku seperti mati rasa.

Dan saat itu…

Rendy mulai bicara dengan suara terputus-putus.

“Aku… tidak pernah pergi…”

Darahku terasa dingin.

Dia menceritakan semuanya malam itu sambil tubuhnya terus berubah mengerikan di depanku.

Dua tahun lalu…

Rendy ternyata bekerja diam-diam untuk membongkar sindikat perdagangan satwa ilegal di Jakarta.

Sindikat itu menyelundupkan reptil langka ke luar negeri.

Dan salah satu orang yang terlibat…

adalah pemilik toko reptil tempat aku membeli Lakan dulu.

Saat identitas Rendy terbongkar…

mereka menculiknya.

Menyiksanya.

Lalu melakukan ritual aneh menggunakan ular Burmese python sebagai “wadah.”

Aku bahkan tidak benar-benar membeli ular biasa.

Aku memelihara Rendy selama enam tahun…

tanpa mengetahuinya.

Tangisku pecah saat mendengar semuanya.

“Kenapa kamu nggak bilang…”

Rendy tersenyum lemah.

“Aku nggak bisa…”

Tubuhnya kembali kejang hebat.

“Aku cuma bisa sadar penuh saat naluri ularnya mulai melemah…”

Baru saat itu aku sadar.

Kenapa Lakan tidak pernah menyerangku.

Kenapa dia selalu dekat denganku.

Kenapa dia tidur lurus di samping tubuhku.

Bukan untuk memakanku.

Tapi…

untuk melawan naluri ular di dalam dirinya setiap malam.

Dia sedang berusaha mengendalikan dirinya sendiri agar tidak menyakitiku.

Air mataku jatuh tanpa henti.

“Maaf aku terlambat mengenalimu…”

Rendy menatapku lama.

Tatapannya masih sama seperti dulu.

Hangat.

Lembut.

Meski tubuhnya sudah bukan manusia sepenuhnya.

“Aku cuma mau lihat kamu sekali lagi…”

Suara retakan kembali terdengar dari tubuhnya.

KRAK…

KRAK…

Tubuh ular itu mulai pecah semakin parah.

Dr. Carlo yang akhirnya datang bersama petugas penyelamat reptil langsung membeku melihat kondisi itu.

“Astaga…”

Rendy menoleh ke arahku untuk terakhir kali.

“Lia…”

Aku langsung menggenggam bagian tangannya yang mulai muncul dari balik sisik.

Dingin.

Lembap.

Tapi itu benar-benar tangannya.

“Aku takut…” bisikku sambil menangis.

Dia tersenyum kecil.

“Aku juga…”

Lalu perlahan…

tubuh ular itu berhenti bergerak.

Sisiknya hancur seperti debu hitam.

Dan tepat di depan mataku…

yang tersisa hanyalah tubuh manusia Rendy yang kurus penuh luka.

Dia akhirnya kembali.

Tapi napasnya sudah sangat lemah.

Aku memeluknya sambil menangis histeris.

Untuk pertama kalinya setelah dua tahun…

aku bisa menyentuhnya lagi sebagai manusia.

Rendy mengangkat tangannya perlahan lalu menyentuh pipiku.

“Aku selalu pulang ke kamu…”

Dan detik berikutnya…

tangannya jatuh pelan.

Monitor jantung dari alat medis darurat berbunyi panjang.

Tubuhku langsung hancur.

Aku memeluknya erat sambil menangis sampai suaraku habis.

Malam itu…

aku kehilangan Rendy untuk kedua kalinya.

Namun setidaknya sekarang…

aku tahu satu hal.

Dia tidak pernah meninggalkanku.

Dia bertahan hidup dalam tubuh monster selama bertahun-tahun…

hanya untuk tetap berada di sisiku.