Haahhh?
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu terperanjat mendengar apa yang baru saja kuucapkan. Tapi aku tak peduli. Karena menurutku inilah saatnya aku bicara. Menjelaskan semuanya. Agar mereka yang selama ini buta, bisa melek dan dapat melihat sebuah realita besar yang harus mereka tahu.
“Rin, apa yang kau lakukan? Taruh kembali mangkuk itu. Arimbi mau makan!” teriak Mas Panji sambil berusaha menarik tanganku dan meraih mangkuk yang sedang kupegang, tapi dengan cepat segera kutangkis menghalangi niatnya itu.
“Enak saja! Pakai uang siapa yang membelinya? Pakai uangku kan?” ucapku keras dan penuh dendam.
“Uhuukk! Ngaku-ngaku dia!” Marisa terbatuk setelah itu meledekku.
“Hee’eh, mana mungkin, dia punya uang untuk memberi ibu buat membeli daging ini. Jadi jelas, Panji yang memberinya,” tandas Mbak Lira ikut-ikutan.
“Ji, istrimu ini memang kebangetan. Nggak punya sopan!” ucap ibu mertua, sambil melotot bergantian mengarahkan pandangannya padaku dan Mas Panji.
“Orang seperti ibu tak pantas bicara soal adab, sebab hewan saja lebih beradab daripada ibu!” Tanpa rasa takut, kulawan ucapannya. Saat ini kesabaranku sudah benar-benar habis.
“Setan apa yang merasuki kamu, Rin?” bentak Mas Panji sambil menggebrak meja makan.
Tapi sedikitpun aku tak takut. Bagiku itu hanya sebuah teguran kecil yang harus kuabaikan. Tanganku semakin kuat mencengkram mangkuk berisi rendang itu.
“Setan di rumah ini! Setan angkuh dan suka pilih kasih!” ucapku ketus sambil menarik tangan Syifa mengajaknya beranjak dari ruangan itu. Karena udara di dalam ruangan ini sudah semakin panas.
Sedetik kemudian…
Kudengar ada suara langkah kaki mengejar langkah kakiku dan Syifa.
“Kembalikan rendangnya Rin!”
“Malu lah mau nguasai rendang, padahal tak punya andil menyumbang!”
“Sudahlah, Bu… malu nanti didengar tetangga. Kita harus banyak mengalah kalau berurusan dengan orang kurang waras seperti dia.”
Suara-suars orang-orang toxic itu masih bisa kudengar dengan jelas. Hatiku bertambah sakit, tapi kutahan, karena aku ingin mengamankan Syifa ke dalam kamar terlebih dahulu agar tak berada dalam situasi negatif tadi, karena bagiku, seorang anak kecil tak baik melihat pertengkaran orang dewasa. Apa lagi melihat ibunya, diserang oleh beberapa orang yang ada di sana.
Kresek!
Braaakkk!
Sesampainya di depan kamar, pintu langsung kubuka, lalu segera kututup kembali dengan cara membantingnya dengan sangat keras sekali.
Tak lama…
Pintu tersebut terbuka kembali.
“Rin, jangan bikin malu aku dengan membawa rendang itu ke dalam kamar. Ini lebaran pertama, jadi jangan bikin ribut. Aku malu dengan keluargaku.”
Ternyata Mas Panji.
“Bikin malu? Siapa yang bikin malu Mas? Aku atau ibumu?” tanyaku geram. Gigi gigiku gemeretak menahan amarah yang belum benar-benar berhasil kuhapus.
“Ka–”
“Ibumu kan? Bikin malu dengan tidak memperbolehkan Syifa mengambil rendang ini. Padahal, jelas-jelas untuk membeli daging dan perbumbuannya pakai uangku. Bahkan semua makanan yang tersaji di atas meja makan itu pun kupastikan pakai uangku untuk membelinya. Jadi, kok, seenaknya saja dia melarang aku dan Syifa untuk memakan rendang ini.”

Mulut lelaki yang ada di hadapanku ini kembali terbuka siap meluncurkan kata-katanya.
Namun, dengan cepat kuserobot.
“Mulai detik ini, tak serupiahpun uangku akan kuberikan kepada ibumu dan yang lainnya. Pasti, selama ini mereka mengira uang yang masuk ke dalam rekening mereka setiap bulannya adalah uangmu, Mas! Preeettt! Uang gajimu mana cukup untuk memenuhi kerakusan mereka!”
Mas Panji tersentak.
Kaget sekaligus panik.
Karena melihat aku serius dengan ucapanku.
Tak biasanya aku seperti ini. Keras dan berani, jauh dari sifat asliku yang biasanya selalu lembut dan polos. Semua ini karena luka hati yang baru saja tergores karena perlakuan mereka pada Syifa, saat tangan putri semata wayangku dipukul dengan keras oleh ibu mertua hanya karena dianggap lancang ingin mengambil rendang yang ternyata disiapkan untuk Arimbi dan Rizky, cucu-cucu kesayangannya.
Sebenarnya ada satu mangkuk lagi rendang daging di atas meja makan itu, tapi sudah ludes dimakan oleh mulut-mulut rakus yang ada disana sebelum aku dan Syifa sempat mengambilnya.
Jelas aku tak terima. Sebagai ibu yang anaknya yang sedang disakiti, sebenarnya aku ingin langsung membalasnya jika saja wanita itu seumuran denganku, tapi faktanya dia seumuran dengan ibuku. Jadi aku harus bisa menahan diri dan mencari cara paling tepat dan elegan untuk membalas rasa sakit hati ini.
Dan, baru saja aku menemukan caranya.
“Apa maksudmu Rin?”
“Akan kucabut secara total subsidi untuk mereka. Termasuk pembayaran cicilan rumah ini dan motor baru Marisa! Aku berhenti jadi donatur tetap mereka!”
“Rin, dengarkan aku dulu! Jangan gegabah memutuskan sesuatu! Mereka itu orang orang yang sangat kucinta.” Muka Mas Panji terlihat pucat sekali, bagaikan mayat hidup.
“Bodo amat! Apa peduliku…” seruku tajam.
Setelah menidurkan Syifa, aku akan segera keluar menemui mereka. Aku kubuat mereka semua jantungan.