LAMPU REDUP. HUJAN DERAS. JANTUNG KEDUANYA BERDEGUP KENCANG.
“KENAPA BAPAK MEMILIH SAYA?” TANYA LINTANG DENGAN SUARA BERGETAR.
REVAN MENGANGKAT WAJAHNYA. ES DI MATANYA AKHIRNYA MENCAIR TOTAL.
^^
Ribuan pohon kelapa sawit berdiri tegak seperti prajurit, daunnya bergoyang pelan ditiup angin tropis yang masih panas. Lintang berjalan menyusuri jalan setapak tanah merah, keranjang anyaman bambu di punggungnya penuh buah-buahan liar dan sayur yang dia petik dari pinggir kebun.
Usianya baru 24 tahun, tapi bahunya sudah terbiasa memikul beban. Ayahnya meninggal dua tahun lalu karena sakit, meninggalkan ibunya yang sakit-sakitan dan adik kecilnya yang masih SD. Satu-satunya penghasilan mereka adalah dari kebun kecil milik keluarga yang kebetulan berada di pinggir lahan milik perusahaan sawit terbesar di wilayah itu—PT. Kalimantan Makmur.
“Lintang! Cepat pulang, nanti gelap!” teriak Mbok Siti dari kejauhan.
“Iya, Mbok!” jawab Lintang sambil tersenyum. Rambutnya yang panjang diikat asal, baju kaos longgar dan celana jeans robek di lutut sudah basah keringat. Wajahnya cantik alami, kulit sawo matang, mata bulat yang selalu penuh harap.
Tiba-tiba suara deru mobil mewah memecah ketenangan sore itu. Sebuah SUV hitam mengkilap melaju pelan di jalan tanah yang biasanya hanya dilewati motor dan truk angkut TBS (Tandan Buah Segar). Mobil itu berhenti tepat di depan Lintang. Pintu belakang terbuka.
Seorang pria tinggi tegap keluar. Jas hitamnya terlihat mahal, meski sudah sedikit berdebu karena perjalanan. Rambutnya rapi, rahang tegas, dan matanya dingin seperti es di tengah hutan tropis.
Revan Pramudya—bos besar PT. Kalimantan Makmur, pemilik ratusan ribu hektar perkebunan sawit di Kalimantan. Usianya 32 tahun, tapi wajahnya selalu datar, tak pernah tersenyum.
Lintang spontan mundur selangkah, hampir menabrak pohon sawit.
“Maaf, Pak…” gumamnya pelan, menunduk.
Revan menatapnya sekilas. Tatapannya tajam, seolah sedang menilai. Di belakangnya, dua orang asisten berpakaian rapi sudah siap dengan tablet dan map.
“Siapa yang mengizinkan warga memetik di area ini?” tanya Revan dengan suara rendah dan dingin, tanpa emosi.
Lintang mengangkat wajahnya. “Ini pinggir kebun milik keluarga saya, Pak. Kami tidak masuk ke lahan perusahaan. Hanya buah-buahan liar di batasnya.”
Salah satu asisten maju. “Bapak Revan, ini area buffer zone. Warga sekitar memang biasa—”
Revan mengangkat tangan, menyuruh asistennya diam. Dia melangkah mendekat satu langkah. Bau parfum mahal bercampur aroma tanah basah tercium oleh Lintang.
“Nama kamu?” tanyanya.
“Lintang, Pak. Lintang Saraswati.”
Revan mengangguk kecil, lalu berbalik tanpa kata lagi. Sebelum masuk mobil, dia berhenti sejenak dan berkata tanpa menoleh:
“Besok pagi datang ke kantor pusat. Ada yang ingin saya bicarakan.”
Mobil itu melaju pergi, meninggalkan debu dan hati Lintang yang berdegup kencang.
Malam itu, di rumah panggung sederhana mereka, Lintang gelisah. Ibu yang sedang batuk-batuk bertanya khawatir, “Kenapa, Nak? Wajahmu pucat.”
“Besok saya dipanggil ke kantor besar, Bu. Bos sawitnya… dingin sekali. Takutnya kami disuruh pindah atau lahan kita diambil.”
Ibu hanya mengelus punggungnya. “Sabarlah. Mungkin Tuhan sedang mengirim jalan.”
Lintang tidak tidur nyenyak. Bayangan mata dingin Revan terus menghantuinya. Dia tidak tahu bahwa pertemuan singkat sore tadi akan mengubah seluruh hidupnya.
Keesokan paginya, dengan baju terbaiknya—kebaya sederhana warna krem yang sudah agak pudar—Lintang naik ojek motor menuju kantor pusat perusahaan yang megah di tengah perkebunan. Gedung kaca modern itu terasa asing di tengah hutan sawit.

Di ruang tunggu, dia duduk gelisah. Beberapa menit kemudian, sekretaris memanggil namanya.
“Pak Revan menunggu di dalam.”
Lintang menarik napas dalam-dalam dan melangkah masuk.
Revan duduk di kursi kebesarannya, memandang keluar jendela yang menghadap lautan hijau perkebunan. Saat pintu tertutup, dia berbalik. Untuk pertama kalinya, ada sedikit perubahan di matanya yang dingin itu—sebuah kilatan rasa ingin tahu.
“Duduk,” katanya singkat.
Lintang duduk di ujung kursi, tangannya saling meremas.
“Saya dengar keluarga kamu kesulitan,” ujar Revan tanpa basa-basi. “Ibu sakit, adik masih sekolah, dan hutang lahan kalian hampir jatuh tempo.”
Lintang terkejut. “Bapak… tahu dari mana?”
Revan tidak menjawab. Dia hanya mendorong sebuah map ke depan Lintang.
“Ada satu tawaran. Kerja di sini, jadi asisten pribadi saya selama satu tahun. Gaji cukup untuk melunasi hutang, biaya pengobatan ibu, dan sekolah adik kamu. Bahkan lebih.”
Lintang membuka map itu dengan tangan gemetar. Angka di situ membuat matanya melebar.
“Tapi… kenapa saya, Pak?”
Revan menatapnya lama, lalu menjawab dengan suara rendah yang membuat udara ruangan terasa lebih berat.
“Karena kamu satu-satunya orang yang berani menatap saya langsung kemarin. Yang lain selalu menunduk.”
Dia bangkit, berdiri di depan Lintang. Tingginya membuat Lintang harus mendongak.
“Pikirkan baik-baik, Lintang. Satu tahun. Setelah itu, kamu bebas.”
Revan mengulurkan tangan untuk menjabat.
“Deal?”
Lintang menatap tangan besar itu. Dingin. Kuat. Dan entah kenapa, ada sesuatu yang membuat jantungnya berdegup tidak karuan.
Dia menggenggam tangan itu.
“Deal, Pak Revan.”
Senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di sudut bibir Revan untuk sesaat, sebelum kembali ke wajah dinginnya.