HARI SERAH TERIMA MANSION MAHARKU, SUAMIKU MEMBAWA SELURUH KELUARGANYA UNTUK MEMILIH KAMAR—TAPI SAAT AKU MENGELUARKAN SERTIFIKAT KEPEMILIKAN, KESOMBONGAN MEREKA LENYAP DALAM SEKETIKA

HARI SERAH TERIMA MANSION MAHARKU, SUAMIKU MEMBAWA SELURUH KELUARGANYA UNTUK MEMILIH KAMAR—TAPI SAAT AKU MENGELUARKAN SERTIFIKAT KEPEMILIKAN, KESOMBONGAN MEREKA LENYAP DALAM SEKETIKA

Bahkan sebelum kunci rumah baru itu benar-benar diputar, mereka sudah seperti menguburku hidup-hidup di dalam maharku sendiri.

Hari itu adalah hari serah terima mansion hadiah dari mamaku sebelum pernikahan. Seharusnya sederhana saja. Hanya aku dan tunanganku. Sedikit melihat-lihat rumah, sedikit merencanakan masa depan, sedikit bermimpi.

Namun saat aku tiba di gerbang kawasan elite di Pondok Indah, suasananya malah seperti pesta keluarga kecil.

Marco ada di sana. Orang tuanya juga ada. Kakak perempuannya datang bersama suami dan anaknya. Adik laki-lakinya juga datang bersama istrinya. Tujuh orang berdiri berjajar di depan rumah seolah merekalah pemilik baru mansion itu.

“Finally!” teriak Marco sambil berlari mendekati mobilku. “Mereka dari tadi excited banget. Aku bilang ini perayaan keluarga!”

Perayaan keluarga.

Aku menggenggam kunci rumah lebih erat. Entah kenapa, dadaku tiba-tiba terasa sesak.

Begitu aku turun dari mobil, ibunya, Nyonya Nena, langsung menyambutku sambil memegang lenganku seolah aku sudah menjadi miliknya sejak lama.

“Lia,” katanya sambil tersenyum tipis, “rumah ini benar-benar lunas, ya? Tidak nyicil? Tidak kredit?”

“Sudah lunas, Tante,” jawabku pendek.

Wajahnya langsung berseri-seri.

“Syukurlah. Bagus sekali.”

Di sampingnya, Cherry—kakak Marco—langsung menyela.

“Ya ampun, keluarga kamu kaya banget sih. Mansion begini harganya pasti puluhan miliar rupiah, kan?”

Aku tidak menjawab. Aku hanya membuka pintu utama.

Dan di situlah pertunjukan sebenarnya dimulai.

Begitu pintu terbuka, mereka langsung masuk beramai-ramai tanpa ragu. Tanpa sopan santun. Tanpa rasa segan. Seolah rumah itu memang sudah menjadi milik mereka.

“Gilaaa!” teriak Cherry sambil menjatuhkan diri ke sofa kulit krem di ruang tamu. “Empuk banget! Ini impor ya?”

Anaknya yang masih memakai sepatu kotor ikut naik ke atas sofa dan melompat-lompat. Dalam hitungan detik, jejak hitam sudah terlihat di sofa putih itu.

Aku langsung mengernyit.

Marco melihatnya, tapi dia hanya tertawa kecil.

“Namanya juga anak kecil, babe. Nanti juga bisa dibersihkan.”

Babe.

Entah kenapa kata itu terasa pahit sekali.

Sementara kami masih di ruang tamu, Nyonya Nena langsung naik ke kamar utama di lantai dua seperti sudah menunggu momen itu sejak lama. Ia duduk di tengah kasur lalu memantul-mantul mencobanya.

“Aduh, empuk banget!” serunya. “Marco! Mama sama Papa nggak biasa pakai kasur selembut ini. Nanti kita ganti yang lebih keras, ya.”

Kita ganti.

Di kamar sebelah, suara adik Marco, Joven, dan istrinya, Mica, sudah terdengar ribut.

“Kamar ini cocok buat nursery,” kata Mica sambil melihat jendela besar. “Terang dan adem.”

“Apa-apaan!” teriak Cherry dari lorong. “Itu buat keluarga kami dong! Kami sudah punya anak, jadi prioritas!”

Mereka mulai bertengkar soal kamar yang bahkan bukan milik mereka.

Di rooftop, ayah Marco berdiri sambil memandang kompleks elite itu.

“Enak juga di sini,” katanya puas. “Kalau Natal nanti kita bikin pesta barbeque besar di rooftop.”

Kita.

Aku hanya berdiri diam di tengah ruang tamu sambil memegang tasku, dan untuk pertama kalinya aku merasa seperti tamu di rumahku sendiri.

Yang lebih menyakitkan, Marco—pria yang dulu berjanji tidak akan pernah mempermalukanku—malah terlihat sangat bangga melihat keluarganya menguasai mansion itu.

Ia menghampiriku dan merangkul pundakku seolah aku adalah trofi kemenangan terbesar dalam hidupnya.

“Lia, lihat,” katanya bangga sambil menunjuk ke seluruh ruangan. “Perfect banget, kan?”

Aku diam.

Dia terus bicara seolah denah rumah itu sudah menjadi miliknya.

“Kamar utama di atas buat Mama dan Papa.”

Aku langsung menoleh menatapnya.

“Kamar tamu yang satu buat Cherry dan keluarganya.”

Dunia terasa berhenti berputar.

“Yang satu lagi buat Joven.”

Dia bahkan tertawa kecil.

“Terus kita tinggal di kamar yang lebih kecil aja di lantai dua. Nggak apa-apa lah. Kita cuma berdua ini.”

Kita cuma berdua.

Mansion maharku. Rumah yang dibangun dari kerja keras mamaku selama puluhan tahun. Tempat yang seharusnya menjadi awal hidup baruku.

Dalam sekejap, dijadikan asrama keluarga besar mereka.

Dan aku… ditempatkan di pilihan “yang penting cukup.”

Pelan-pelan aku melepaskan tangan Marco dari pundakku.

Dia menatapku bingung.

“Kenapa?”

Seluruh rumah mendadak sunyi.

Bahkan suara pertengkaran di lantai atas berhenti.

Semua mata tertuju padaku.

Aku menatap Marco, tetapi dalam hati, aku bahkan sudah tidak yakin apakah aku benar-benar mengenal pria itu.

“Marco,” kataku perlahan, “siapa yang bilang keluargamu akan tinggal di sini?”

Suasana langsung terasa seperti kaca pecah di tengah ruangan.

“Hah?” Marco membeku. “Maksud kamu apa?”

Nyonya Nena buru-buru turun dari tangga.

“Lia, nada bicaramu kenapa begitu?”

Cherry langsung berkacak pinggang.

“Mbak, jangan pelit dong. Kita kan sudah jadi keluarga.”

Tangan Marco tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku. Dia tersenyum, tetapi matanya tajam penuh peringatan.

“Lia,” bisiknya di sela gigi, “jangan bikin malu aku di depan mereka. Bilang kalau kamu cuma bercanda.”

Bercanda?

Jadi semua ini cuma bercanda?

Mereka mengklaim rumahku. Mengatur kamar sesuka hati. Menginjak sofa mahal dengan sepatu kotor. Dan menjadikan maharku sebagai rencana pensiun keluarga mereka.

Aku menatap tangannya yang mencengkeramku.

Lalu perlahan kulepaskan.

“Dan ada satu hal lagi yang harus aku luruskan,” kataku tegas. “Ini bukan rumah kita berdua.”

Pelan-pelan aku mengeluarkan map merah dari dalam tasku.

Semua orang langsung terdiam.

Aku mengangkat map itu di depan mereka.

“Mansion ini,” kataku jelas, “adalah properti pribadi sebelum pernikahan. Sertifikatnya hanya atas namaku.”

Dan tepat pada detik itu, wajah Marco mulai pucat perlahan—

karena masih ada satu dokumen lagi yang akan kukeluarkan… dan itu jauh lebih menghancurkan daripada sertifikat rumah.

Tanganku tidak gemetar sedikit pun saat mengeluarkan dokumen kedua dari dalam map merah itu.

Marco langsung menatapku penuh curiga.

“Apa lagi itu?” tanyanya cepat.

Aku tidak langsung menjawab.

Aku hanya membuka lembar demi lembar dokumen itu di depan semua orang.

Lalu aku mengangkat satu halaman terakhir.

“Perjanjian pranikah.”

Suasana rumah langsung membeku.

Wajah Marco yang tadi masih mencoba terlihat tenang langsung berubah pucat.

“Apa?” suara ibunya meninggi.

Aku menatap Marco lurus-lurus.

“Masih ingat waktu Mama bilang aku harus menandatangani beberapa dokumen persiapan pernikahan di kantor notaris?”

Marco mulai mundur satu langkah.

Aku tersenyum tipis.

“Kamu pikir aku tidak membacanya.”

Aku mengangkat dokumen itu lebih tinggi.

“Di sini tertulis dengan jelas bahwa semua aset atas namaku sebelum menikah tetap menjadi milikku sepenuhnya. Tidak bisa diwariskan, tidak bisa diklaim pasangan, dan tidak bisa ditempati keluarga pihak suami tanpa izin tertulis dariku.”

Cherry langsung berdiri dari sofa.

“Tunggu dulu! Jadi maksudmu kami nggak boleh tinggal di sini?!”

Aku menatap bekas sepatu kotor di sofa putihku.

“Bahkan kalian belum resmi tinggal di sini… tapi sudah merusak rumahku.”

“Rumahmu?!” bentak Nyonya Nena. “Kamu ini calon istri! Harusnya belajar berbagi sama keluarga suami!”

Aku tertawa kecil.

Tapi kali ini… tidak ada kehangatan sedikit pun dalam tawaku.

“Berbagi?” ulangku pelan. “Atau diperas?”

Wajah mereka langsung berubah.

Marco buru-buru mendekat.

“Lia, sayang… kamu jangan berlebihan. Mereka cuma excited.”

“Excited?” Aku menatapnya tajam. “Kamu bahkan sudah membagi kamarku sebelum aku sempat tidur satu malam di rumah ini.”

Dia terdiam.

Dan untuk pertama kalinya sejak hubungan kami dimulai… aku melihat ketakutan di matanya.

Aku melanjutkan.

“Dan ada satu hal lagi yang kalian semua belum tahu.”

Aku mengambil ponselku lalu memutar rekaman suara.

Suara Marco langsung terdengar jelas memenuhi ruang tamu.

“Tenang aja, Ma. Setelah nikah, mansion itu otomatis jadi milik kita juga. Lia itu gampang diatur. Dia terlalu cinta sama aku.”

Lalu suara ibunya menyusul.

“Bagus. Suruh dia cepat punya anak biar makin nggak bisa pergi.”

Ruangan langsung sunyi total.

Marco panik.

“Lia—itu bukan maksudnya begitu—”

“Tapi aku belum selesai.”

Aku memutar rekaman kedua.

Kali ini suara Cherry terdengar tertawa.

“Enak banget ya. Kita tinggal pindah ke rumah miliaran tanpa bayar apa-apa.”

Bahkan Joven ikut terdengar.

“Kalau bisa nanti rooftop-nya disewain buat acara. Lumayan tambahan pemasukan.”

Tubuh Marco langsung lemas.

“Kam… kamu merekam kami?”

Aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Tidak,” jawabku tenang. “CCTV rumah ini yang merekam semuanya.”

Mereka langsung saling menatap panik.

Lalu perlahan aku mengeluarkan satu kunci lagi dari tasku.

“Dan mulai hari ini,” kataku dingin, “akses digital rumah ini sudah aku ubah.”

Klik.

Tiba-tiba seluruh lampu mansion mati sesaat.

Lalu menyala kembali.

Namun kali ini, pintu utama otomatis terkunci.

Suara sistem keamanan terdengar nyaring:

“Owner mode activated.”

Marco menatapku tak percaya.

Aku melangkah mendekati pintu utama lalu membukanya perlahan.

“Aku rasa acara memilih kamar sudah selesai,” kataku tenang.

Tidak ada yang bergerak.

Sampai akhirnya dua petugas keamanan kompleks masuk ke dalam rumah.

“Ada masalah, Bu Lia?” tanya mereka sopan.

Aku tersenyum kecil.

“Tidak ada masalah. Saya hanya ingin semua tamu saya pulang.”

Kata tamu.

Bukan keluarga.

Bukan calon keluarga.

Tamu.

Wajah Nyonya Nena merah padam karena malu.

Cherry menarik anaknya sambil mengomel kesal.

Joven bahkan tidak berani menatapku lagi.

Dan Marco…

Pria yang selama ini merasa sudah memenangkan hidup karena berhasil mendapatkan wanita kaya…

berdiri sendirian di tengah mansion kosong dengan wajah hancur.

Saat semua orang keluar, dia mencoba menahan tanganku.

“Lia… please. Aku cinta kamu.”

Aku menatapnya lama.

Dulu, mungkin aku akan menangis mendengar kalimat itu.

Tapi sekarang tidak lagi.

Karena akhirnya aku sadar—

Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan menjadikan hidupmu sebagai hadiah untuk seluruh keluarganya.

Aku melepaskan tangannya perlahan.

Lalu untuk terakhir kalinya, aku berkata:

“Aku hampir memberimu rumah ini, Marco.”

Aku menatap seluruh mansion megah itu.

“Tapi untungnya… Tuhan memperlihatkan siapa kalian sebelum semuanya terlambat.”

Dan malam itu—

untuk pertama kalinya aku masuk ke mansion impianku seorang diri.

Bukan sebagai wanita yang dimanfaatkan.

Tetapi sebagai pemilik sebenarnya.