Srek!
Kuku-kuku Seruni tumbuh panjang dengan cepat. Bersiap untuk menc@kar Bara. Tatapan Seruni menghu_nus, siap untuk menyer@ng. Namun ….
“Wah, ternyata ada tamu ….” ujar seorang pria paruh baya, membuat Seruni mengurungkan niatnya. Dia yang tak lain adalah Juragan Karta, mendekat, kemudian duduk di sebelah Bara.
Karta memejamkan mata seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Kamu, bukannya anak Wahyudi?”
Seruni mengangguk, “Iya, Pak. Saya anak Bapak Wahyudi,”
“Kau dan Bara ….” Karta mengg@ntung pertanyaannya.
“Kami hanya berteman,” ujar Seruni.
“Sepasang kekasih,” ralat Bara
“Tidak kami hanya berteman,”
“Sepasang kekasih,” Bara tak mau kalah.
Hal itu mampu membuat Karta terkekeh.
“Sudah, sudah, baiklah aku paham. Kalian ini lucu sekali.”
“Baiklah, ayah permisi dulu, mau mengecek perkebunan, kalian, lanjutkan saja mengobrolnya.”
“Iya, Ayah.”
Karta segera bangun dan pergi dari sana, dia harus mengecek para pegawainya yang sedang bekerja.

Seruni dan Bara semakin dekat setiap hari, membuat ibl!s yang berada dalam tu_buh Seruni mend!dih, dia sudah haus akan d@rah manusia.
Namun …. Seruni harus membu_nuh satu persatu mu_suhnya. Perj@njian yang terikat membuat nya semakin nekat. Seruni tak t@kut saat Bara mendekat, dia mencoba meredam am@rah agar Bara tak cur!ga, karena Seruni sudah menyiapkan pembal@san yang mengerik@n.
Amar memperhatikan Seruni dan Bara dari jauh, dia merasa iri terhadap Bos nya dan ingin merasakan gadis itu lagi. Seruni yang merasa di tatap penuh naf_su oleh Amar tersenyum, kemudian mengedipkan sebelah mata.
Jantung Amar bertalu-talu, mendapat respon positif dari Seruni.
“Das@r, gadis n@kal. Ku pikir dia akan b@las dend@m, ternyata bin4l juga. Sudah bosku yang kau dekati, sekarang malah berm@in mata denganku,” Amar menyering@i.
“Baiklah, akan ku ikuti permain@nmu, gadis n@kal,” Amar segera pergi dari sana membiarkan Bosnya leluasa bersama Seruni.
Bara tidur di pangkuan Seruni memandang wajah cantik itu dari bawah, angin berhembus sangat menyejukkan sore itu. Di sebuah gubuk mereka berdua bermesraan bak sepasang kekasih, namun lain yang Seruni rasakan, setiap kali Bara menyen_tuh kulitnya. Dia seakan terb@kar sendiri ingin segera membu_nuh pria itu.
Bara menatap Seruni dengan lekat, kemudian mengusap pipinya dengan lembut, Seruni tersenyum.
“Kang Bara, jangan seperti ini.”
“Kenapa? Kau malu?” Bara bangun, dan langsung terduduk.
Seruni tersenyum, kemudian menyelipkan anak rambut ke daun telinga.
“Aku …. Menyukaimu Runi.” ujar Bara.
Seruni terdiam.
“Lalu bagaimana denganmu?”
“Runi …. Juga menyukai Kang Bara,”
Bara sumringah, dia mendekat hingga menghimpit tu_buh Seruni.
“Kalau begitu, bisakah kita ….“ Bara mengus4p lengan Seruni dengan penuh n4fsu. Seruni segera menep!snya pelan.
“Jangan dulu, Kang. Kita baru saja kenal,”
“Tapi …. Kau sangat mengg0da, Runi,” bisik Bara di telinga. Ujung b!birnya menyen_tuh daun telinga Seruni.
Seruni berbalik, kemudian melingkarkan tangan di le_her Bara, membuat pria itu merasa menang. Dia menaikkan sebelah alisnya.
“Jangan sekarang.” lirih Seruni memanyunkan bi bib!rnya dengan manja.
“Baiklah,”
“Baiklah, Kang. Runi harus pulang dulu, ini sudah lewat jam makan siang, Ibu pasti mengkhaw@tirkanku,” ujar Seruni.
“Pulang lah sayang, sampai jumpa hari esok,”
Seruni mengangguk, kemudian segera pergi dari sana. Dia melambaikan tangan saat Bara masih menatapnya.
***
“Hai, Seruni ….” ujar seseorang menghadang langkah Seruni yang hendak pulang.
Seruni tersenyum kala melihat orang tersebut adalah Amar, anak buah Bara.
“Akang mau apa? Runi mau pulang, Kang.” ucap Seruni.
Amar menyering@i, “Ah kau ini, suka pura-pura, bukankah kau tadi berm@in mata denganku.”
Seruni membu@ng rantang yang ia bawa ke sembarang arah, kemudian mendekati Amar, mem@inkan d@da bidang pria yang berkulit hitam itu dengan jari lentiknya. Seruni maju perlahan, sedang Amar mundur ke belakang tersenyum senang. Suasana terlihat sepi, mereka berada di tempat yang di kelilingi oleh pohon yang tinggi menjulang. Mustahil ada orang yang lewat kecuali para pekerja di perkebunan sawit milik Juragan Karta.
Amar terus mundur, namun tak sengaja menal@brak pohon, Seruni tersenyum menatap Amar dengan lekat.
Brukk!
Amar terkejut saat Seruni mend0rongnya hingga j@tuh ke tanah. Amar tersenyum saat Seruni berjalan mendekat. Kejantan@nnya sudah berdiri tegak.
Mata Seruni berkilat, bola matanya berubah menjadi merah, kuku dan t@ringnya tumbuh begitu cepat panjang dan runc!ng. Seruni menyering@i. Napasnya memburu, dia menatap m@rah pada Amar yang tengah menikmati perm@inan p@nas tangannya.
Seruni menggenggam erat kel4min Amar, kemudian menariknya hingga pu_tus.
BRET!
“Aaaaaaaa!” seketika Amar membuka mata, dia berteri@k dengan kencang.
D@rah bercu_curan dari pangkal p@hanya. Amar mer!ngis kes@kitan.
Seruni menunjukkan kel4min Amar yang telah pu_tus ke hadapannya.
“Lihatalah laki-laki bi@dab! Milikmu telah ku h@ncurkan!” ujar Seruni penuh dengan em0si.
“Kau telah mengh@ncurkan kehidupanku, Kini rasakan kem@tian mu!” Seruni mendekat kemudian mulai menc@bik-c@bik wajah dan perut amar, hingga terbur@i.
Amar tergelet@k di tanah, dia telah tew@s dengan mengen@skan, Seruni memejamkan mata memanggil ibl!s yang berada dalam dirinya, seketika dia menjulurkan lid@h, menyes@p d@rah Amar hingga tak tersisa.
Lalat, semut, kalajengking dan cacing tanah mulai mendekat, dan mengger0goti tu_buh Amar yang telah menjadi b@ngkai.
Seruni bangun, dia merapihkan pak@iannya, namun sebelum itu seruni mengel@p b!birnya yang terdapat n0da d@rah.
Dia mengambil rantang yang tergeletak di tanah, lalu pulang, meninggalkan tu_buh Amar yang telah tew@s.
Seseorang di balik pohon, bergetar, pe_luh ker!ngat memb@njiri pelipisnya. Sejak tadi dia menyaksikan apa yang Seruni lakukan terhadap Amar. Jantungnya berdebar-debar.
“Wanita itu siapa? Tidak, sepertinya dia bukan Seruni.” ucapnya dengan napas terseng@l-seng@l.
“Ternyata benar, mimpiku waktu itu bukan sembarang mimpi, Seruni yang sekarang sangat menyer@mkan.”
Dia menggeleng kuat kemudian pergi dari sana, dengan rasa t@kut luar biasa.
Pria yang tak lain adalah Rustam segera pulang ke rumah, ingin menceritakan kejadian itu pada ibunya, namun ….
SET!
Seseorang menarik tangannya dengan k@sar.
“Kang ….”
“Se—seruni!” ujar Rustam dengan tergagap. Matanya membulat sempurna.