Posted in

“SUAMIKU MEMINTAKU TURUN DARI MOBIL AGAR TIDAK MEMPERMALUKANNYA DI DEPAN KLIEN—HINGGA KLIEN ITU MALAH MEMBUKAKAN PINTU UNTUKKU DAN MEMANGGILKU ‘MADAM PRESIDENT’”

“Kamu turun di sini aja.”

Arvin mengucapkannya tanpa rasa bersalah sambil menghentikan mobil di seberang gedung restoran mewah tempat makan malam bisnis berlangsung.

Naura menoleh perlahan.

“Hujan.”

“Aku tahu.”

Arvin tetap menatap lurus ke depan.

“Tapi klien malam ini penting.”

Kalimat itu menggantung beberapa detik sebelum akhirnya Naura memahami maksud sebenarnya.

Ia menatap dress krem sederhana yang dipakainya malam itu.

Tidak mewah.

Tidak penuh berlian.

Hanya elegan dan bersih.

Tetapi bagi Arvin…

Tidak cukup untuk berdiri di samping direktur muda sepertinya.

“Aku cuma ikut makan malam,” kata Naura pelan.

“Aku nggak mau mereka salah paham.”

“Salah paham tentang apa?”

Arvin akhirnya menoleh.

Tentang fakta bahwa istrinya terlalu biasa untuk dunia yang sekarang sedang ia kejar.

“Mereka semua datang sama pasangan yang… lebih cocok.”

Lebih cocok.

Dua kata yang terdengar lebih menghina daripada bentakan.

Hujan turun makin deras di luar kaca mobil.

Naura tersenyum kecil.

Senyum tipis yang justru membuat Arvin tidak nyaman.

“Oke.”

Ia membuka pintu mobil sendiri.

Tanpa marah.

Tanpa drama.

Dan itu entah kenapa terasa lebih buruk.

Arvin langsung mengembuskan napas lega lalu menjalankan mobil menuju valet utama.

Sementara Naura berdiri di trotoar sambil terkena percikan hujan malam.

Gaun kremnya sedikit basah.

Namun ekspresinya tetap tenang.

Dulu Arvin tidak seperti ini.

Tujuh tahun lalu mereka makan mi instan berdua di apartemen sempit sambil tertawa karena listrik mati.

Saat itu Arvin selalu bilang—

“Kalau suatu hari aku sukses, aku bakal jadi orang pertama yang bangga nunjukkin kamu ke dunia.”

Lucunya…

Semakin tinggi posisi Arvin sekarang, semakin sering ia menyembunyikan istrinya sendiri.

Di dalam restoran, para pebisnis elite mulai berdatangan.

Arvin tersenyum percaya diri sambil berjabat tangan.

Malam itu penting.

Perusahaannya sedang mencoba mendapatkan kontrak besar dari grup investasi luar negeri.

“Mr. Arvin!”

Seorang direktur menyambutnya hangat.

“Katanya petinggi utama Zenith Capital juga datang malam ini.”

Arvin langsung tegang sekaligus bersemangat.

Zenith Capital adalah perusahaan investasi global yang terkenal sangat selektif.

Mereka tidak pernah mengirim perwakilan sembarangan.

Dan siapa pun yang berhasil mendapat dukungan mereka…

Kariernya bisa melesat dalam semalam.

“Sudah datang?” tanya Arvin cepat.

“Belum. Tapi katanya presidennya sendiri yang hadir.”

Ruangan langsung riuh.

Presiden Zenith Capital terkenal misterius.

Tidak pernah muncul di media.

Tidak pernah diwawancarai.

Bahkan foto wajahnya hampir tidak ada.

Lalu pintu restoran terbuka.

Seluruh staff langsung menunduk hormat.

Manajer restoran sendiri buru-buru berlari ke arah pintu sambil membawa payung besar.

Arvin ikut menoleh.

Dan detik berikutnya…

Jantungnya seperti berhenti.

Naura masuk perlahan dari tengah hujan.

Gaun krem sederhananya masih sama.

Rambutnya sedikit basah.

Namun seluruh ruangan mendadak berdiri.

Seorang pria asing bule berusia sekitar lima puluh tahun berjalan cepat menyambutnya.

Wajahnya penuh hormat.

“Madam President.”

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Arvin merasa tenggorokannya kering.

Pria asing itu bahkan membukakan kursi utama untuk Naura sendiri.

“Kami sudah menunggu kedatangan Anda.”

Direktur-direktur lain ikut berdiri tegang.

Salah satu dari mereka berbisik panik—

“Itu dia…”

“Presiden Zenith?”

“Bukan…”

“Itu pemilik Zenith.”

Arvin membeku.

Tatapannya perlahan jatuh ke arah istrinya.

Naura.

Wanita yang tadi ia turunkan di tengah hujan agar tidak mempermalukannya.

Wanita yang selama ini selalu pulang naik taksi sendiri setelah menghadiri acaranya.

Wanita yang sering ia tinggalkan sendirian di meja pojok saat pesta perusahaan.

Kini duduk di kursi paling penting di ruangan itu.

Manajer restoran membungkuk hormat.

“Kami sudah menyiapkan private floor khusus untuk Madam President.”

Naura mengangguk kecil.

Lalu matanya akhirnya bertemu dengan Arvin.

Tatapan tenang.

Tidak marah.

Tidak juga sedih.

Dan justru itu yang membuat dada Arvin terasa makin sesak.

Ia buru-buru mendekat.

“Naura… kamu—”

“Lucu ya,” potong Naura pelan.

Suasana langsung hening lagi.

“Tadi kamu takut aku bikin malu.”

Arvin membuka mulut.

Namun tidak ada kata yang keluar.

Karena untuk pertama kalinya…

Ia sadar dunia yang selama ini mati-matian ia kejar…

Ternyata adalah dunia milik istrinya sendiri.

Naura berdiri perlahan.

Seluruh investor otomatis ikut berdiri bersamaan.

“Pak Arvin.”

Nada suaranya tetap lembut.

Tetap seperti wanita yang dulu menemaninya dari nol.

“Ternyata yang salah paham dari awal…”

“Bukan mereka.”

Lalu ia berjalan melewati suaminya begitu saja.

Dan Arvin hanya bisa berdiri diam…

Saat semua orang yang tadi ingin ia buat terkesan malah membungkuk hormat kepada wanita yang baru saja ia tinggalkan di tengah hujan.