Aku Baru Pergi Kerja Sebentar, Tiba-Tiba ART-ku Membawa Seluruh Keluarganya untuk Berpesta di Kondominium Mewah Milikku…

Aku Baru Pergi Kerja Sebentar, Tiba-Tiba ART-ku Membawa Seluruh Keluarganya untuk Berpesta di Kondominium Mewah Milikku…

Di sebuah kondominium mewah di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, aku sedang duduk tenang di depan laptop sambil menyelesaikan proposal investasi untuk klien besar ketika ART baruku, Marni Pratiwi, tiba-tiba datang dan meletakkan segelas air dengan keras di meja.

“Non Alina, hidup kayak gini tuh nggak benar.”

Aku menoleh menatapnya.

Marni berdiri sambil berkacak pinggang, matanya menyapu seluruh isi apartemen.

“Setiap hari cuma pegang HP sama laptop. Nggak bisa masak. Nggak pernah nyuci. Semua pakai laundry.”

“Gimana mau dapat suami yang baik kalau begini terus?”

Aku tertawa kecil.

“Justru aku mempekerjakan kamu untuk urus pekerjaan rumah, kan?”

“Kalau aku masih harus masak, nyuci, dan bersih-bersih sendiri… buat apa aku bayar kamu?”

Wajahnya langsung berubah kesal.

“Saya ngomong begini demi kebaikan Non. Di Indonesia, perempuan mau sekaya apa pun tetap ujung-ujungnya harus ngurus suami dan keluarga.”

“Kalau terlalu manja dan gengsi begitu, nggak ada laki-laki yang tahan.”

Aku menutup laptop perlahan lalu menatapnya dingin.

“Marni, kamu itu ART-ku. Bukan ibuku. Apalagi calon mertuaku.”

“Jadi jangan ikut campur soal cara hidupku.”

Ruang tamu langsung hening.

Marni manyun sambil bergumam pelan.

“Anak muda sekarang memang nggak mau dengar nasihat orang tua…”

Aku malas berdebat lagi, jadi langsung pindah ke meja makan.

Sup iga yang dimasaknya memang harum sekali.

Dan harus kuakui, dia memang pintar memasak.

Selain itu, aku juga sering sibuk di kantor kawasan SCBD, jadi jarang bertemu dengannya di rumah.

Sampai malam itu tiba.

Saat sedang makan, Marni melirik kotak oranye di sofa.

“Non Alina, beli apa itu?”

“Tas.”

“Berapa harganya?”

Awalnya aku malas menjawab, tapi akhirnya tetap kujawab.

“Hampir satu miliar rupiah.”

Sendok di tangan Marni langsung jatuh ke meja.

“Satu miliar?!”

“Astaga… Non sudah gila apa?”

“Di kampung saya di Garut, uang segitu bisa buat bangun beberapa rumah!”

“Jujur aja ya, nggak ada laki-laki yang tahan sama perempuan boros begini.”

Saat itu juga kesabaranku habis.

Aku meletakkan sendok dengan keras.

“Aku nggak butuh laki-laki untuk menghidupiku.”

“Aku menghasilkan uang sendiri. Aku memakai uangku sendiri. Memangnya kenapa?”

“Dan kamu nggak punya hak mengatur hidupku.”

Marni langsung cemberut.

“Kalau sudah nikah nanti, uang suami ya uang suami. Tapi uang istri juga tetap uang suami…”

Aku langsung kehilangan selera makan.

Pas sekali anjing Alaskan Malamute kesayanganku, Choco, datang dan menyandarkan kepalanya ke pahaku.

Aku mengusap bulunya yang tebal.

Sudah enam tahun Choco bersamaku.

Dia bukan sekadar anjing peliharaan.

Dia keluarga.

Karena tubuhnya besar dan perlu jalan-jalan panjang setiap hari, aku memang membutuhkan ART di rumah.

Aku berdiri dan berjalan menuju ruang kerja.

“Rapikan semuanya. Jangan ganggu aku dulu.”

Begitu masuk kamar, aku langsung menelepon agen penyalur ART.

“Saya butuh pengganti.”

“Secepatnya.”

Awalnya aku masih berniat bertahan beberapa hari demi Choco.

Tapi aku tidak menyangka…

Keesokan paginya, aku terbangun karena suara tawa laki-laki yang keras dari ruang tamu.

Aku keluar kamar sambil mengernyit.

Lalu tubuhku langsung membeku.

Ada seorang laki-laki asing tidur santai di sofaku sambil menonton TV.

Dia memakai kaus buntung, perutnya terbuka, dan sepatu kotornya bahkan diletakkan di atas meja kaca Italia yang baru kubeli bulan lalu.

Melihatku keluar, Marni muncul dari dapur sambil tersenyum.

“Oh, Non sudah bangun.”

“Mau kenalin anak saya — namanya Juned.”

“Dia dengar Non masih single, jadi pengin kenalan.”

Aku sampai merasa salah dengar.

Dari atas sampai bawah, Juned menatapku dengan kurang ajar.

Lalu dia menyeringai.

“Lumayan juga aslinya.”

“Cuma agak tua sedikit…”

“Tapi kalau nurut sih masih oke.”

Tubuhku langsung dingin karena marah.

“Siapa yang kasih izin kalian membawa orang masuk ke rumahku?”

Marni cepat-cepat menyela.

“Aduh Non Alina, jangan salah paham.”

“Saya cuma khawatir sama Non. Umur tiga puluh dua tapi belum menikah.”

“Juned itu anak baik.”

Juned langsung tersenyum lebar.

“Iya.”

“Nanti kalau kita nikah, Non nggak usah kerja lagi.”

“Biar saya yang pegang semua uang Non.”

Aku sampai tertawa karena terlalu kaget.

“Pegang uangku?”

“Perusahaanku menghasilkan miliaran rupiah setiap bulan. Kamu mau pegang apa?”

Wajah Juned langsung merah.

Dia berdiri dengan kasar.

“Maksudnya ngerendahin saya?”

“Saya kasih tahu ya, perempuan mau sekaya apa pun tetap harus nurut sama laki-laki.”

“Perempuan kayak kamu perlu diajarin.”

Aku malas meladeni lagi.

Aku langsung mengambil ponsel.

“Keluar dari rumahku sekarang juga.”

“Kalau tidak, aku telepon polisi.”

Marni panik dan memegang lenganku.

“Non Alina, jangan begitu!”

“Niat kami baik—”

Namun tiba-tiba ponselku berbunyi.

Sekretaris kantorku menelepon.

“Bu Alina, investor dari Singapura sudah datang.”

Aku langsung melihat jam.

Ya Tuhan.

Hari ini jadwal penandatanganan kontrak.

Aku sudah tidak punya waktu berdebat dengan mereka.

Sebelum pergi, aku menunjuk Marni dengan tajam.

“Kalau saat aku pulang kalian masih ada di sini…”

“…aku akan datang bersama polisi.”

Setelah itu aku langsung pergi.

Karena meeting yang bertubi-tubi di kantor, aku hampir melupakan kejadian tadi pagi.

Sampai malam harinya.

Saat sedang beristirahat di ruang konferensi, aku membuka CCTV apartemen lewat ponsel.

Dan tepat saat layar muncul…

darahku seperti membeku.

Ternyata bukan cuma Marni dan Juned yang ada di apartemenku.

Ada hampir sepuluh orang lainnya di dalam rumah.

Makan-makan.

Minum-minum.

Tertawa keras.

Seolah apartemen itu milik mereka.

Seorang wanita tua bahkan sedang mencoba kalung berlianku sambil tertawa terbahak-bahak.

“Wah Marni, kamu beruntung banget!”

“Kalau dia jadi menantu kamu, seluruh keluarga kita bakal naik derajat!”

Seorang pria lain sibuk membuka walk-in closet milikku berulang kali.

“Gila… semuanya barang branded!”

“Isi kamar ini kayak harga satu kampung!”

Marni duduk di tengah mereka dengan wajah penuh kesombongan.

“Makanya saya bilang apa.”

“Perempuan itu memang galak, tapi kaya raya.”

“Kalau nanti jadi istrinya Juned, uangnya juga jadi uang kita.”

Sementara itu Juned rebahan santai di sofaku sambil makan dan menyeringai.

“Tenang aja.”

“Banyak perempuan yang akhirnya nurut sama saya.”

“Kalau sudah nikah nanti, saya tahu cara ngontrol dia.”

Tawa mereka makin keras memenuhi ruangan.

“Cepat kasih cucu buat Marni!”

“Jangan lupa bantu semua saudara juga!”

Tanganku gemetar menahan marah sambil menggenggam ponsel.

Namun di detik berikutnya…

aku melihat sesuatu di CCTV yang membuat napasku berhenti.

Juned keluar ke balkon sambil membawa botol bir.

Di sana ada Choco yang sedang tidur nyenyak.

Dan tanpa peringatan…

dia menendang Choco dengan keras.

Tubuh Choco menghantam pagar kaca sambil meraung kesakitan.

Dan setelah itu…

Juned malah tertawa.

“Anjing sialan. Badannya gede banget, bikin ganggu aja.”

Baca kelanjutan ceritanya di bagian komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk melihat lanjutan cerita…👇

Malam itu juga aku langsung meninggalkan ruang meeting.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen, tanganku terus gemetar karena marah.

Bukan karena mereka memakai rumahku.

Bukan karena mereka menyentuh barang-barang mahal milikku.

Tapi karena Juned berani menyakiti Choco.

Saat mobilku berhenti di basement apartemen, aku langsung menelepon security gedung.

“Pak, tolong naik ke unit penthouse sekarang juga.”

“Ada orang asing masuk tanpa izin.”

Nada suaraku begitu dingin sampai petugas security langsung mengiyakan tanpa banyak tanya.

Begitu pintu lift terbuka di lantai penthouse…

suara musik dangdut langsung menghantam telingaku.

Aku melangkah masuk.

Dan pemandangan di depanku membuat darahku mendidih.

Lantai marmer putihku penuh noda makanan dan tumpahan bir.

Sofa impor dari Italia terkena abu rokok.

Beberapa orang bahkan tidur sembarangan di karpet bulu Persia milikku.

Sedangkan Choco…

Choco meringkuk di sudut balkon sambil gemetar ketakutan.

Matanya basah.

Begitu melihatku, dia langsung berlari tertatih ke arahku.

Hatiku langsung hancur.

Aku berlutut dan memeluknya erat.

“Maaf… Mama terlambat pulang…”

Suasana ruang tamu langsung hening.

Marni berdiri panik.

“Non Alina… dengerin dulu—”

“DIAM.”

Suaraku menggema di seluruh ruangan.

Semua orang langsung membeku.

Aku berdiri perlahan sambil mengusap bulu Choco.

Lalu aku menatap satu per satu wajah mereka.

“Lima menit.”

“Kalian punya lima menit untuk keluar dari rumahku.”

Juned malah tertawa meremehkan.

“Galak banget sih.”

“Kalau nanti udah jadi istri gue, sikap lo harus diubah tuh.”

Aku menatapnya tanpa ekspresi.

Lalu…

aku mengeluarkan ponsel dan memutar rekaman CCTV tadi di depan semua orang.

Suara mereka sendiri memenuhi ruangan.

“Kalau dia jadi istrinya Juned, uangnya jadi uang kita.”

“Saya tahu cara ngontrol dia.”

“Anjing sialan.”

Wajah mereka langsung pucat.

Juned buru-buru berdiri.

“Itu cuma bercanda—”

Belum selesai dia bicara…

BRUK!

Dua petugas security masuk bersama polisi.

Aku sudah menelepon mereka di perjalanan.

“Pak Polisi,” kataku tenang, “semua orang di sini masuk tanpa izin ke properti pribadi saya.”

“Saya juga punya rekaman CCTV pengrusakan barang dan kekerasan terhadap hewan peliharaan.”

Ruangan langsung kacau.

Beberapa orang mulai panik mengambil tas.

Ada yang mencoba kabur.

Ada yang menangis.

Marni langsung bersimpuh di lantai sambil memegang kakiku.

“Non… maafin saya…”

“Saya khilaf…”

Aku menatapnya dingin.

“Kamu bukan khilaf.”

“Kamu cuma kecewa karena gagal menguasai hidupku.”

Wajah Marni langsung pucat.

Sementara Juned mulai marah-marah ke polisi.

“Saya calon suaminya!”

“Saya keluarga sendiri!”

Salah satu polisi malah menatapnya heran.

“Calon suami dari mana? Yang punya rumah saja tidak mengakui.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Akhirnya satu per satu mereka digiring keluar.

Sebelum pergi, Juned masih sempat menunjukku dengan marah.

“Perempuan kayak lo bakal kesepian seumur hidup!”

Aku menatapnya datar.

Lalu tersenyum kecil.

“Lebih baik hidup sendiri…”

“…daripada dikelilingi parasit.”

Pintu apartemen akhirnya tertutup.

Sunyi.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku bisa bernapas lega.

Aku duduk di lantai sambil memeluk Choco.

Anjing besar itu terus menempel padaku seolah takut aku pergi lagi.

Air mataku akhirnya jatuh.

Bukan karena sedih.

Tapi karena sadar…

selama ini terlalu banyak orang merasa berhak mengatur hidup perempuan hanya karena dia hidup sendiri dan sukses.

Mereka pikir perempuan mandiri pasti kesepian.

Mereka pikir uang perempuan bisa direbut lewat pernikahan.

Mereka pikir perempuan harus takut hidup tanpa laki-laki.

Padahal kenyataannya…

yang paling menakutkan bukan hidup sendirian.

Melainkan memberi tempat bagi orang-orang salah di hidup kita.

Seminggu kemudian, agency datang meminta maaf secara resmi.

Marni di-blacklist permanen.

Kerusakan apartemen dan barang-barang yang hilang juga diganti penuh lewat jalur hukum.

Sedangkan aku?

Aku mengambil cuti tiga hari.

Aku membawa Choco menginap di resort tepi pantai di Bali.

Pagi itu, saat matahari terbit dan Choco berlari bahagia di pasir putih…

aku akhirnya tersenyum tulus.

Aku sadar satu hal.

Aku tidak kekurangan apa pun.

Aku punya hidup yang kubangun sendiri.

Aku punya kebebasan.

Aku punya harga diri.

Dan aku punya rumah yang damai… tanpa orang-orang yang mencoba mengambil kendali atas hidupku.

Sementara orang-orang seperti Marni dan Juned…

akan selamanya sibuk berharap bisa hidup dari milik orang lain.