Saat Aku Kembali ke Apartemen yang Kubeli Sebelum Menikah, ART-ku Tidak Mengizinkanku Masuk—Dan Saat Itulah Aku Mengetahui Ada Perempuan Lain, Seorang Anak, dan Rencana Merebut Hidupku

Saat Aku Kembali ke Apartemen yang Kubeli Sebelum Menikah, ART-ku Tidak Mengizinkanku Masuk—Dan Saat Itulah Aku Mengetahui Ada Perempuan Lain, Seorang Anak, dan Rencana Merebut Hidupku

Hari itu, aku berdiri membeku di ruang tamu apartemenku sendiri.

Wanita itu berdiri dari sofaku dengan tenang.

Memakai cardigan beige miliknya.

Memegang mug favoritku.

Dan di sampingnya…

seorang anak laki-laki kecil memeluk kaki Gabriel sambil memanggilnya,

“Papa…”

Dunia rasanya berhenti berputar.

Aku menatap Gabriel.

Wajahnya pucat.

Namun bukan wajah pria yang ketahuan berselingkuh.

Melainkan wajah seseorang yang takut rahasianya akhirnya runtuh.

“Anakmu?” tanyaku pelan.

Bibir Gabriel bergerak pelan.

“Iya…”

Jawaban itu terasa seperti pisau yang ditusukkan perlahan ke dadaku.

Wanita itu tersenyum tipis.

“Namaku Mara.”

“Aku dan Gabriel sudah bersama sebelum kalian menikah.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Tapi karena kalau aku tidak tertawa…

aku mungkin akan menghancurkan seluruh isi apartemen itu.

“Jadi selama ini…” suaraku pelan, “kalian tinggal di rumahku?”

Mara tidak terlihat malu sedikit pun.

“Gabriel bilang apartemen ini nantinya juga akan jadi milik keluarga kami.”

Keluarga kami.

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada pengakuan perselingkuhan mereka.

Aku perlahan menoleh ke arah Gabriel.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…

aku melihat suamiku sebagai orang asing.


Malam itu aku tidak berteriak.

Tidak menangis.

Tidak membuat keributan.

Justru itu yang membuat mereka bingung.

Aku hanya berkata tenang,

“Semua keluar dari kamar tidurku.”

Lalu aku masuk, mengunci pintu, dan duduk di lantai sambil memandangi seluruh isi ruangan.

Tas kerja yang kubeli sendiri.

Lemari yang kubayar dengan bonus pertamaku.

Apartemen itu kubeli saat usia dua puluh delapan tahun.

Sebelum Gabriel hadir di hidupku.

Sebelum aku cukup bodoh untuk percaya bahwa cinta membuat seseorang aman.

Tanganku gemetar saat menghubungi Patricia.

“Aku benar,” kataku lirih.

Patricia langsung menjawab dingin.

“Bagus.”

Aku hampir tertawa lagi.

“Bagus?”

“Ya,” jawabnya tenang. “Karena sekarang kamu berhenti meragukan instingmu sendiri.”


Tiga hari berikutnya…

aku berpura-pura tidak tahu apa-apa.

Aku tetap sarapan bersama mereka.

Tetap diam saat Aling Rosa berjalan seperti nyonya rumah.

Tetap tersenyum pada anak kecil itu yang sebenarnya tidak bersalah.

Namun diam-diam…

aku mengumpulkan semuanya.

Rekaman CCTV.

Dokumen pergantian lock apartemen.

Bukti akses fingerprint-ku dihapus.

Rekaman suara Gabriel yang meminta building management mengganti data penghuni utama.

Dan yang paling membuat darahku dingin…

salinan draft surat yang ditemukan Patricia dari notaris kenalannya.

Surat pengalihan hak properti.

Dengan tanda tanganku yang dipalsukan.

Tanganku sampai dingin saat membacanya.

Mereka bukan hanya selingkuh.

Mereka sedang mencoba mengambil hidupku perlahan.

Apartemenku.

Asetku.

Bahkan identitasku sebagai pemilik sah.


Seminggu kemudian, Gabriel mengadakan makan malam keluarga besar di apartemen.

Katanya untuk ulang tahun ibunya.

Aku datang memakai dress putih sederhana.

Tersenyum.

Tenang.

Sampai semua orang duduk di meja makan.

Lalu Gabriel berdiri sambil mengangkat gelas wine.

“Aku juga mau mengumumkan kabar baik malam ini…”

Mara langsung tersenyum malu-malu.

Sedangkan Aling Rosa terlihat bangga luar biasa.

Aku hampir kasihan melihat mereka begitu percaya diri.

“Mulai bulan depan,” lanjut Gabriel, “apartemen ini akan direnovasi sedikit untuk keluarga kami yang lebih besar.”

Keluarga kami lagi.

Beberapa keluarga mulai bertepuk tangan.

Dan saat itulah…

aku berdiri.

“Bagus sekali,” kataku sambil tersenyum.

“Aku juga punya pengumuman.”

Semua langsung menoleh padaku.

Aku menekan remote kecil di tanganku.

TV besar di ruang tamu langsung menyala.

Dan satu per satu…

semua bukti muncul di layar.

Rekaman penghapusan fingerprint-ku.

Dokumen lock replacement.

Draft surat pemalsuan tanda tangan.

Rekaman Gabriel berkata:

“Kalau Amara tanda tangan dokumen itu, apartemen langsung aman atas nama kita.”

Ruangan langsung sunyi total.

Wajah Gabriel berubah putih.

“M-Amara, kita bisa jelaskan—”

“Belum selesai.”

Aku menampilkan foto Mara tinggal di unitku selama aku dinas ke luar kota.

Lalu rekaman dari lobby saat Gabriel membawa mereka masuk diam-diam berbulan-bulan.

Ibunya langsung gemetar.

“Apa ini, Gabriel?!”

Mara mulai panik.

Sedangkan Aling Rosa perlahan duduk karena wajahnya sudah pucat.

Aku menatap seluruh keluarga Soriano satu per satu.

Lalu berkata pelan,

“Apartemen ini sepenuhnya milikku sebelum pernikahan.”

“Dan selama berbulan-bulan…”

“…kalian semua hidup nyaman di sini sambil merencanakan cara mengambilnya dariku.”

Tidak ada yang berani bicara.

Gabriel mencoba mendekat.

“Aku khilaf—”

Aku langsung mundur.

“Tidak.”

“Orang khilaf itu sekali.”

“Kamu membangun kebohongan ini sedikit demi sedikit.”

Sunyi.

Lalu aku mengeluarkan map merah dari tasku.

Surat gugatan cerai.

Dan laporan polisi.

Wajah Gabriel langsung hancur.

“Kamu laporin aku?”

Aku menatapnya dingin.

“Kamu mencoba memalsukan dokumen propertiku.”

“Itu bukan lagi urusan rumah tangga.”

“Itu kejahatan.”


Dua bulan kemudian…

aku kembali tinggal sendirian di apartemenku.

Lock pintu sudah kembali menggunakan fingerprint-ku.

Tidak ada lagi suara orang asing.

Tidak ada lagi aroma parfum wanita lain di kamarku.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

aku merasa rumah ini benar-benar milikku lagi.

Suatu sore, Patricia datang sambil membawa kopi.

“Kamu menyesal?” tanyanya.

Aku memandang langit Jakarta dari balkon.

Lalu tersenyum kecil.

“Dulu aku pikir kehilangan suami adalah akhir hidupku.”

Aku menatap pantulan diriku di kaca balkon.

“Ternyata…”

“…kehilangan orang yang salah justru menyelamatkan hidupku.”

Enam bulan setelah perceraian itu…

hidupku berubah jauh lebih tenang.

Aku tidak lagi pulang ke rumah dengan perasaan harus waspada.

Tidak lagi memeriksa nada suara seseorang untuk mencari kebohongan.

Tidak lagi merasa seperti tamu di rumah yang kubeli dengan kerja kerasku sendiri.

Apartemen itu akhirnya kembali menjadi rumah.

Tanaman di balkon tumbuh lagi.

Coffee beans favoritku kembali memenuhi dapur dengan aroma hangat setiap pagi.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun…

aku bisa tidur tanpa rasa cemas.

Namun hidup memang aneh.

Tepat saat luka mulai benar-benar sembuh…

masa lalu biasanya datang mengetuk sekali lagi.

Malam itu hujan deras di Jakarta.

Aku baru selesai meeting online ketika interkom apartemen berbunyi.

“Ma’am Amara,” suara petugas lobby terdengar ragu, “ada seorang anak kecil di bawah mencari Anda.”

Aku mengernyit.

“Siapa?”

“Dia bilang namanya Mateo.”

Tubuhku langsung diam.

Beberapa detik kemudian…

aku turun ke lobby.

Dan di sana, duduk di sofa dekat pintu kaca…

Mateo kecil sedang memeluk tas sekolahnya.

Sepatu kecilnya basah terkena hujan.

Begitu melihatku, dia langsung berdiri.

“Aunty Amara…”

Dadaku terasa sesak.

Karena bagaimanapun…

anak itu tidak pernah bersalah.

Aku berlutut di depannya.

“Kamu sendirian?”

Dia mengangguk pelan.

“Papa sama Mama sering berantem…”

Suara kecilnya bergetar.

“Nenek juga pergi ke rumah saudara.”

Aku menahan napas.

“Terus kamu ke sini naik apa?”

“Naik taksi online.”

Aku hampir panik mendengarnya.

Anak sekecil itu datang sendirian di tengah hujan.

“Kamu tahu alamat sini?”

Mateo mengangguk lagi.

“Aku hafal…”

“…karena Papa selalu bilang ini rumah kita nanti.”

Kalimat itu menusuk aneh di dadaku.

Aku memejamkan mata sebentar.

Lalu menggenggam tangan kecilnya yang dingin.

“Mau makan dulu?”

Matanya langsung berbinar kecil.

Dan malam itu…

untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan itu…

aku makan malam bersama anak dari wanita yang pernah mencoba merebut hidupku.

Aneh.

Tapi tidak terasa salah.


Satu jam kemudian, Gabriel datang ke apartemen.

Wajahnya panik.

Kemejanya kusut.

Begitu melihat Mateo aman di dalam rumahku, bahunya langsung lemas.

“Terima kasih…”

Itu saja yang keluar dari mulutnya.

Aku hanya mengangguk.

Mateo saat itu sudah tertidur di sofa sambil memeluk bantal.

Hening cukup lama.

Lalu Gabriel berkata pelan,

“Mara pergi.”

Aku tidak terkejut.

“Membawa semua barang?”

Dia tertawa pahit.

“Dan semua uangku yang tersisa.”

Sunyi lagi.

Aku memandang hujan di luar balkon.

Dulu, mungkin mendengar itu akan membuatku puas.

Tetapi sekarang…

aku hanya merasa lelah.

Karena pada akhirnya, kebohongan memang selalu memakan pemiliknya sendiri.

“Aku kehilangan semuanya, Mar…”

Suaranya serak.

“Keluarga, rumah, reputasi…”

Aku menatapnya perlahan.

“Kamu tidak kehilangan semuanya dalam satu hari, Gabriel.”

“Kamu kehilangan semuanya sedikit demi sedikit setiap kali memilih berbohong.”

Air matanya jatuh.

Dan anehnya…

aku tidak lagi ikut hancur melihatnya.

Karena aku sudah terlalu jauh berjalan untuk kembali menjadi perempuan lama yang selalu memaafkan.


Sebelum pergi malam itu, Gabriel berhenti di depan pintu.

“Aku tahu aku nggak pantas minta apa-apa…”

“…tapi terima kasih karena tetap baik sama Mateo.”

Aku menatap anak kecil yang masih tertidur pulas di sofa.

Lalu berkata pelan,

“Anak tidak seharusnya membayar dosa orang dewasa.”

Gabriel menunduk.

Dan untuk pertama kalinya…

aku melihat penyesalan yang benar-benar nyata di matanya.

Bukan karena dia ketahuan.

Tetapi karena akhirnya sadar apa yang sudah dia hancurkan.


Setelah pintu tertutup…

aku berjalan ke balkon apartemen.

Hujan Jakarta mulai reda.

Lampu kota memantul indah di kaca-kaca gedung tinggi.

Aku memegang secangkir kopi hangat sambil memandang rumah yang dulu hampir direbut dariku.

Rumah ini pernah menjadi tempat aku menangis diam-diam.

Tempat aku mempertanyakan harga diriku sendiri.

Tetapi sekarang…

tempat ini menjadi bukti bahwa aku berhasil bertahan.

Bahwa aku tidak kehilangan hidupku.

Aku justru mendapatkannya kembali.

Dan malam itu aku akhirnya sadar—

kadang Tuhan membiarkan seseorang menghancurkan hati kita…

agar kita berhenti menyerahkan kunci hidup kita kepada orang yang salah.