Saat Aku Menerima Surat Kelulusanku di Universitas Indonesia, Tiba-Tiba Konvoi Lexus Hitam Masuk ke Gang Sempit dan Banjir di Kawasan Penjaringan untuk Mencari Anak Mereka yang Hilang

Saat Aku Menerima Surat Kelulusanku di Universitas Indonesia, Tiba-Tiba Konvoi Lexus Hitam Masuk ke Gang Sempit dan Banjir di Kawasan Penjaringan untuk Mencari Anak Mereka yang Hilang

Aku hanyalah bayi yang ditemukan ayah tiriku di tumpukan sampah dekat Kali Ciliwung.

Tahun itu, Jakarta diterjang banjir besar.

Air sungai meluap, penuh sampah dan lumpur hitam.

Ayah tiriku, Ramon Santoso, bekerja sebagai pemulung di pinggir kali. Larut malam itu, ia mendengar tangisan kecil dari sebuah kardus basah yang tersangkut di bawah jembatan.

Ia menarik kardus itu perlahan.

Di dalamnya ada seorang bayi perempuan, dibungkus selimut merah muda dan hampir tidak bernapas.

Bayi itu adalah aku.

Saat Ramon membawaku pulang ke rumah petak sempit kami di Penjaringan, istrinya, Gloria, langsung marah besar.

“Kamu gila?! Mana tahu anak siapa itu?!”

“Kalau ternyata anak penjahat bagaimana?!”

Ramon terus menjelaskan bahwa aku hanyalah bayi terlantar yang ia selamatkan.

Tapi Gloria tidak pernah percaya.

Di matanya, aku adalah pembawa sial yang akan menghancurkan hidup mereka.

Sejak kecil, aku sudah terbiasa dengan tatapan dinginnya.

Saat makan, anak-anak kandungnya mendapat lauk.

Sedangkan aku hanya nasi dan kuah.

“Dia bukan darah daging kita.”

Kalimat itu sering diucapkannya di depan tetangga.

Ramon tidak pernah membalas.

Ia hanya diam-diam memindahkan bagian lauk miliknya ke piringku.

Aku tahu ia menyayangiku.

Tetapi di tempat seperti Penjaringan, kasih sayang saja tidak cukup melawan kerasnya hidup.

Di sanalah aku tumbuh.

Di lingkungan yang anak-anaknya terbiasa mendengar teriakan, suara tembakan, dan bau got.

Namun aku pintar.

Sangat pintar sampai para suster di sekolah patungan membelikanku buku.

Saat lulus SMA, aku menjadi peringkat pertama se-Jakarta Utara.

Dan ketika hasil penerimaan universitas keluar…

aku mendapatkan beasiswa penuh di Universitas Indonesia.

Seluruh gang langsung heboh saat surat kelulusan itu datang.

Tetangga berkumpul di depan rumah kami.

Bahkan ada yang berkata,

“Anak ini pasti jadi orang besar nanti.”

Untuk pertama kalinya…

Gloria memelukku di depan semua orang.

“Ini anak saya.”

Aku hanya diam.

Karena aku tahu…

kalau bukan karena beasiswa itu, ia tidak akan pernah mengakuiku sebagai anak.

Malamnya, Ramon membelikanku ayam goreng dari KFC.

“Anakku bakal jadi mahasiswa.”

Matanya merah saat mengatakan itu.

Aku pikir itulah awal hidup baruku.

Sampai hari itu datang.

Tiga mobil Lexus hitam berhenti di depan gang kami.

Anak-anak langsung berlari mendekat.

Pintu mobil pertama terbuka.

Seorang pria turun.

Kemeja putihnya sederhana, tetapi aura kekuasaan dan kekayaan begitu jelas terlihat.

Di belakangnya turun seorang wanita dengan gaun mahal dan kalung berlian tipis di lehernya.

Tatapannya langsung terpaku padaku.

Lama sekali.

Begitu lama sampai seluruh gang mendadak sunyi.

Lalu dengan suara gemetar ia berkata,

“Isabella…”

Aku membeku.

Namaku bukan Isabella.

Namaku Maria Santoso.

Pria itu mendekat perlahan.

“Maria… kami mencarimu selama sembilan belas tahun.”

Ia mengeluarkan foto lama.

Seorang bayi perempuan di ruang nursery rumah sakit.

Dengan tanda lahir berbentuk kupu-kupu di belakang telinga kiri.

Persis seperti milikku.

“Aku ayah kandungmu.”

“Aku Alejandro Wijaya.”

Seluruh gang langsung gempar.

Keluarga Wijaya.

Bahkan orang miskin di Penjaringan pun mengenal nama itu.

Mereka salah satu keluarga terkaya dan paling berpengaruh di Jakarta Selatan.

Sayur di tangan Gloria langsung jatuh.

“Apa?!”

Wanita itu mendekat sambil menangis.

“Aku ibumu. Celina Wijaya.”

“Kamu diculik dari rumah sakit saat masih bayi.”

“Kami tidak pernah berhenti mencarimu.”

Aku malah tertawa kecil.

Bukan karena bahagia.

Tetapi karena semuanya terasa seperti lelucon.

Sembilan belas tahun aku hidup di tempat ini.

Memungut botol bekas demi membantu Ramon.

Dipanggil anak liar, anak haram, dan pengemis.

Lalu sekarang mereka bilang aku sebenarnya lahir dari keluarga konglomerat?

Celina mencoba menyentuh tanganku.

Aku mundur.

Tangannya menggantung di udara sambil gemetar.

“Maria… maafkan kami…”

Tiba-tiba Gloria berteriak.

“Tunggu dulu!”

“Bagaimana kalau kalian penipu?!”

Alejandro dengan tenang menyerahkan map tebal.

“Hasil DNA dari tiga rumah sakit.”

“Termasuk catatan dari Kepolisian Republik Indonesia.”

Begitu Gloria membuka dokumen itu, wajahnya langsung pucat.

Lalu ia menoleh ke Ramon.

“Ramon… kamu sudah tahu dari dulu?!”

“Kamu sengaja menyembunyikan dia untuk cari uang nanti?!”

“CUKUP!”

Itu pertama kalinya aku mendengar Ramon berteriak.

Ia keluar dari rumah.

Pakainya lusuh dan tubuhnya masih berbau oli dan sungai.

Di samping Alejandro Wijaya…

ia tampak seperti berasal dari dunia lain.

Ia menatapku lama sekali.

Lalu berkata serak,

“Kalau kamu mau ikut mereka… pergilah.”

Hanya itu.

Ia berbalik masuk ke rumah.

Beberapa detik kemudian…

terdengar suara benda jatuh dari dalam.

Alejandro berbicara pelan.

“Maria… kami tahu ini berat untukmu.”

“Tapi rumahmu ada bersama kami.”

“Kami tidak pernah mengubah kamarmu selama sembilan belas tahun.”

Celina menangis semakin keras.

“Aku menyimpan semua mainanmu…”

Akhirnya aku bicara.

“Aku sebentar lagi daftar ulang di UI.”

“Aku tidak punya waktu untuk semua ini.”

Celina buru-buru berkata,

“Dari Jakarta Selatan ke Depok dekat—”

“Aku bilang aku tidak punya waktu.”

Aku langsung masuk ke rumah dan membanting pintu.

Di luar, suara bisik-bisik tetangga masih terdengar.

Aku duduk di ranjang lamaku.

Di bawah bantal ada kaleng kecil tua.

Ramon sudah lama menyimpannya untukku.

Katanya, benda itu ditemukan bersamaku di sungai dulu.

Aku membuka kaleng itu.

Di dalamnya ada kalung emas putih tua.

Dengan simbol keluarga kecil.

Saat kubalik…

terukir tulisan kecil:

“Untuk Isabella Wijaya.”

Namun tepat saat itu—

terdengar teriakan dari luar.

“Polisi! Kenapa ada polisi?!”

Lalu suara dingin terdengar:

“Siapa Maria Santoso?”

“Kami dari Bareskrim Polri.”

“Kami perlu bicara dengannya tentang kasus penculikan sembilan belas tahun lalu.”

Dan ketika aku keluar dari kamar…

aku melihat seorang pria lain berdiri di belakang polisi.

Ia berdiri di ujung gang gelap.

Menatapku tanpa berkedip.

Seperti seseorang yang sudah sangat lama menunggu untuk melihatku lagi.

Baca kelanjutan kisahnya di bagian komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk melihat lanjutan cerita… 👇

Malam itu…

aku tidak bisa tidur.

Suara hujan yang menetes di atap seng rumah kami bercampur dengan suara langkah polisi di luar gang.

Semua tetangga masih berkumpul.

Beberapa mengintip dari jendela.

Beberapa lagi berbisik seolah hidupku sudah berubah menjadi tontonan.

Aku berdiri di depan pintu rumah sambil menggenggam kalung kecil bertuliskan nama “Isabella Wijaya”.

Sedangkan pria asing di ujung gang itu…

masih menatapku.

Tatapannya membuat tengkukku dingin.

Bukan karena marah.

Tetapi karena terasa terlalu mengenal.

Salah satu polisi akhirnya membuka suara.

“Saudari Maria…”

“…kami perlu meminta keterangan tentang tersangka penculikan Anda sembilan belas tahun lalu.”

Alejandro Wijaya langsung menegang.

“Bukankah pelakunya belum ditemukan?”

Polisi itu saling berpandangan.

Lalu berkata pelan,

“Kami baru mendapatkan saksi baru dua minggu lalu.”

Dadaku mendadak sesak.

Celina menggenggam lenganku erat.

“Siapa penculiknya?”

Polisi belum sempat menjawab ketika suara berat tiba-tiba terdengar dari belakang mereka.

“Aku.”

Semua orang langsung menoleh.

Pria di ujung gang itu akhirnya maju perlahan ke bawah cahaya lampu jalan.

Usianya sekitar lima puluh tahun.

Wajahnya lelah.

Matanya merah seperti orang yang sudah lama hidup dengan rasa bersalah.

Dan saat melihat wajahnya…

tubuh Ramon langsung membeku.

“Diosdado…”

Suara Ramon hampir tidak terdengar.

Pria itu tersenyum pahit.

“Sudah lama, Mon.”

Aku menatap mereka bergantian.

Tidak mengerti.

Polisi kemudian berkata pelan,

“Namanya Diosdado Rivera.”

“Dulu dia bekerja sebagai sopir keluarga Wijaya.”

Celina langsung pucat.

Alejandro mengepalkan tangan.

“Kamu…”

Diosdado menunduk.

Air matanya jatuh sebelum ia bicara.

“Aku bukan orang yang menculik Isabella…”

“…aku orang yang menyelamatkannya.”

Gang sempit itu langsung sunyi total.

Bahkan suara hujan pun terasa menghilang.

Diosdado mulai bercerita dengan suara gemetar.

Malam sembilan belas tahun lalu…

rumah sakit tempat aku lahir ternyata mengalami kebakaran kecil di area belakang.

Dalam kekacauan itu, seorang wanita mencoba membawa kabur bayi keluarga Wijaya untuk dijual ke sindikat perdagangan anak.

Diosdado yang saat itu melihat kejadian itu langsung mengejar mobil mereka.

Terjadi perkelahian.

Mobil pelaku tergelincir dekat sungai saat hujan deras.

Wanita itu melarikan diri.

Sedangkan aku yang masih bayi tertinggal dalam kardus di pinggir sungai.

“Aku mencoba menyelamatkan bayi itu…” suara Diosdado pecah.

“Tapi aku juga terluka.”

“Aku takut polisi mengira aku pelakunya…”

“Aku takut keluarga Wijaya menghancurkan hidupku karena gagal melindungi anak mereka…”

Ia menatap Ramon.

“Lalu Ramon menemukannya lebih dulu.”

Air mata Ramon jatuh perlahan.

“Aku tidak tahu bayi itu anak siapa…”

“Aku cuma tahu kalau dia akan mati kalau ditinggal di sungai.”

Diosdado mengangguk.

“Aku melihat semuanya dari jauh.”

“Aku mau muncul…”

“…tapi waktu itu aku miskin, tidak punya kuasa, dan sudah dianggap tersangka.”

“Aku pengecut.”

Suara Celina langsung pecah dalam tangisan.

Alejandro memejamkan mata sambil menahan emosinya.

Sedangkan aku…

aku hanya berdiri diam.

Karena tiba-tiba seluruh hidupku terasa terlalu besar untuk kupahami.

Aku bukan anak buangan.

Aku bukan anak haram.

Aku bukan pembawa sial seperti yang selama ini dikatakan Gloria.

Aku hanyalah bayi kecil yang hilang dalam kekacauan dunia orang dewasa.


Malam semakin larut.

Tetangga mulai pulang satu per satu.

Polisi juga pergi setelah mengambil pernyataan.

Sebelum masuk mobil, Alejandro mendekat kepadaku.

“Maria…”

“…atau Isabella…”

Ia berhenti sebentar.

“Aku tahu kami tidak berhak meminta apa pun darimu.”

“Tapi bisakah kami diberi kesempatan mengenalmu lagi?”

Aku tidak langsung menjawab.

Sebaliknya…

aku menoleh ke rumah kecil reyot di belakangku.

Ke tempat yang membesarkanku.

Tempat aku pernah lapar.

Pernah menangis.

Pernah merasa tidak diinginkan.

Tetapi juga tempat pertama yang memberiku kasih sayang.

Ramon masih berdiri di depan pintu rumah dengan mata merah.

Tubuhnya terlihat kecil di bawah lampu jalan.

Aku berjalan perlahan menghampirinya.

Lalu tanpa berkata apa pun…

aku memeluknya erat.

Tubuhnya langsung gemetar.

“Aku bukan ayah yang baik…” bisiknya parau.

Aku menggeleng sambil menangis.

“Tidak.”

“Papa adalah satu-satunya alasan aku bisa bertahan hidup sampai hari ini.”

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…

Ramon menangis seperti anak kecil.


Tiga bulan kemudian…

aku resmi menjadi mahasiswi Universitas Indonesia.

Media sempat ramai memberitakan “anak hilang keluarga Wijaya yang ditemukan di kawasan kumuh Jakarta.”

Tetapi aku menolak semua wawancara.

Aku tidak ingin hidupku menjadi hiburan publik.

Alejandro dan Celina membelikanku apartemen mewah dekat kampus.

Namun aku menolaknya dengan halus.

Aku memilih tetap tinggal bersama Ramon.

Sebagai gantinya…

keluarga Wijaya membantu memperbaiki seluruh gang tempat kami tinggal.

Saluran air dibangun ulang.

Anak-anak mendapat beasiswa.

Dan untuk pertama kalinya…

Penjaringan tidak hanya dikenal sebagai tempat banjir dan kemiskinan.

Tetapi juga tempat seorang anak perempuan berhasil mengubah nasibnya.

Suatu malam, Celina bertanya pelan kepadaku,

“Kamu masih marah karena kami terlambat menemukanmu?”

Aku memandang langit Jakarta dari balkon rumah kecil kami.

Lalu tersenyum tipis.

“Dulu iya.”

“Tapi sekarang aku sadar…”

“…kalau malam itu Papa Ramon tidak menemukanku di sungai…”

“…aku mungkin tidak akan hidup cukup lama untuk bertemu kalian lagi.”

Aku menggenggam kalung kecil bertuliskan “Isabella Wijaya.”

Lalu menatap Ramon yang sedang tertidur di kursi bambu depan rumah.

Dan saat itu aku akhirnya mengerti—

darah mungkin menentukan dari mana kita berasal…

tetapi cinta menentukan siapa yang benar-benar pantas kita panggil keluarga.