Di tengah ballroom hotel mewah di Jakarta Selatan, semua orang masih terpaku ketika Nikolai Petrov meletakkan kotak cincin itu di tangan Sofia.

Di tengah ballroom hotel mewah di Jakarta Selatan, semua orang masih terpaku ketika Nikolai Petrov meletakkan kotak cincin itu di tangan Sofia.

Angela langsung berdiri dengan wajah pucat.

— “Ini lelucon, kan?”

Tidak ada yang tertawa.

Cassandra Villanueva hampir menjatuhkan gelas sampanyenya.

— “Mr. Petrov… pasti ada kesalahpahaman.”

Namun Nikolai tetap menatap Sofia seolah hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu.

Sofia sendiri bahkan belum mampu bernapas dengan normal.

Seumur hidupnya, ia selalu menjadi bayangan di rumah itu.

Yang disuruh mengalah.
Yang disuruh diam.
Yang tidak pernah dipilih.

Dan sekarang…
pria paling berkuasa di ruangan itu justru memilih dirinya.

Ayahnya akhirnya bersuara dengan nada tegang:

— “Tuan Petrov, Angela adalah putri yang sudah kami siapkan untuk perjodohan ini.”

Nikolai perlahan mengalihkan pandangan.

Tatapannya dingin.

— “Saya tidak pernah bilang saya menginginkan Angela.”

Sunyi.

Lalu dengan tenang ia melanjutkan:

— “Saya meminta keluarga Villanueva menyerahkan putri yang paling jujur.”

Jantung Sofia berdetak keras.

Angela langsung tertawa kecil, meski suaranya bergetar.

— “Maksud Anda Sofia? Dia bahkan tidak tahu cara bicara dengan kalangan elite.”

Nikolai menoleh padanya.

— “Dan justru itu alasan saya memilihnya.”

Wajah Angela membeku.

Semua tamu mulai berbisik.

Karena semua orang tahu…
Nikolai Petrov bukan tipe pria yang membuat keputusan emosional.

Jika ia memilih Sofia, berarti ada sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.

Cassandra buru-buru menarik Sofia ke samping.

Kuku ibunya mencengkeram pergelangan tangannya terlalu keras.

— “Jangan macam-macam.”
— “Kakakmu yang seharusnya berada di posisi itu.”
— “Serahkan cincin itu sekarang.”

Namun sebelum Sofia menjawab, Nikolai berbicara lagi:

— “Kalau ada yang menyentuh calon istri saya sekali lagi…”

Suara pria itu rendah.

Tapi seluruh ruangan langsung tegang.

— “…maka kerja sama ini selesai malam ini juga.”

Seketika wajah ayah Sofia berubah pucat.

Mereka tidak punya pilihan.

Karena tanpa keluarga Petrov…
dalam tiga minggu lagi keluarga Villanueva akan bangkrut total.

Sofia perlahan menatap cincin di tangannya.

Tangannya gemetar.

— “Kenapa saya?”

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Nikolai berubah sedikit lebih lembut.

Ia mengeluarkan sebuah amplop tua dari saku jasnya.

Dan ketika Sofia melihat isinya…

napasnya terhenti.

Itu foto dirinya.

Foto lama.

Saat ia masih berusia tujuh belas tahun.

Memakai seragam sekolah sederhana dan sedang membagikan makanan kepada anak-anak korban banjir di pinggir Sungai Pasig saat program relawan sekolah dulu.

Sofia membelalak.

— “Dari mana Anda mendapat ini…?”

— “Saya ada di sana waktu itu,” jawab Nikolai pelan.

Mata Sofia bergetar.

Ia mulai mengingat.

Hari hujan besar.
Posko bantuan.
Seorang pria asing terluka di dekat mobil hitam yang mogok.

Pria yang ia beri payung dan makanan tanpa tahu siapa dirinya.

Pria yang ia bantu meski seluruh teman relawannya takut mendekat.

Nikolai menatapnya dalam.

— “Semua orang di sekitar saya selalu mendekat karena kekuasaan.”
— “Hanya satu orang yang pernah membantu saya tanpa tahu siapa saya.”

Ruangan kembali sunyi.

Angela perlahan mundur.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

ia kalah dari Sofia.

Bukan karena kecantikan.
Bukan karena status.
Bukan karena uang.

Tapi karena hati yang selama ini diremehkan keluarganya sendiri.

Air mata mulai memenuhi mata Cassandra.

Namun kali ini bukan karena haru.

Melainkan penyesalan.

Karena baru malam itu ia sadar…

anak yang selalu ia sembunyikan di dekat dapur…
justru adalah satu-satunya yang mampu menyelamatkan nama keluarga mereka.

Nikolai kemudian mengulurkan tangannya pada Sofia.

— “Kalau kamu tidak mau, saya tidak akan memaksa.”

Seluruh ballroom menahan napas.

Sofia menatap pria itu lama.

Lalu perlahan…

ia meletakkan tangannya di telapak Nikolai.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun hidupnya…

tidak ada seorang pun yang meminta Sofia untuk mengalah lagi.

Malam itu menjadi awal kehancuran keluarga Villanueva…

dan awal kehidupan baru bagi Sofia.

Namun tidak ada yang tahu…

bahwa badai sesungguhnya baru saja dimulai.


Dua minggu setelah pesta pertunangan itu, seluruh Jakarta gempar.

Saham perusahaan Villanueva tiba-tiba anjlok.

Beberapa media bisnis membocorkan bahwa keluarga itu memiliki utang miliaran rupiah yang selama ini disembunyikan.

Para investor mulai panik.

Telepon di mansion Villanueva tidak berhenti berdering.

Dan untuk pertama kalinya…

Angela merasakan bagaimana rasanya diabaikan.

Gaun mewahnya tak lagi menarik perhatian.
Teman-teman sosialitanya mulai menjaga jarak.
Bahkan beberapa brand yang dulu mati-matian ingin bekerja sama dengannya diam-diam membatalkan kontrak.

Sementara itu…

Sofia tinggal di penthouse Nikolai dengan perasaan yang masih campur aduk.

Ia belum terbiasa dengan kehidupan itu.

Setiap pagi ia masih refleks membantu pelayan membawa piring.
Masih meminta izin sebelum duduk di meja makan panjang.
Masih terbangun tengah malam karena takut semua ini hanyalah mimpi.

Suatu malam, saat hujan turun deras di balik jendela kota Jakarta, Sofia akhirnya memberanikan diri bertanya:

— “Kenapa kamu benar-benar memilih aku?”

Nikolai yang sedang membuka laptop perlahan berhenti bekerja.

Ia menatap Sofia lama.

Lalu berkata pelan:

— “Karena waktu semua orang ingin menjadi dekat dengan nama Petrov…”

— “Kamu bahkan tidak peduli siapa saya.”

Sofia menunduk.

Nikolai berjalan mendekat.

— “Dan karena selama bertahun-tahun…”
— “Saya terus mencari perempuan yang sama seperti gadis di foto itu.”

Air mata Sofia akhirnya jatuh.

Bukan karena sedih.

Tetapi karena untuk pertama kalinya…

ada seseorang yang melihat dirinya.

Bukan sebagai cadangan.
Bukan sebagai bayangan.
Bukan sebagai anak yang harus mengalah.

Melainkan sebagai seseorang yang pantas dicintai.


Namun malam paling menyakitkan datang tiga hari kemudian.

Sofia pulang ke mansion keluarganya untuk mengambil barang-barang lamanya.

Rumah besar itu kini jauh lebih sepi.

Tidak ada musik.
Tidak ada pesta.
Tidak ada tawa palsu.

Saat Sofia masuk ke kamar lamanya…

ia menemukan ibunya duduk sendirian di sana.

Cassandra Villanueva tampak jauh lebih tua.

Di tangannya ada sebuah kotak kecil.

— “Aku menyimpan ini selama bertahun-tahun,” katanya lirih.

Di dalam kotak itu…

ada puluhan gambar masa kecil Sofia.

Foto-foto yang tak pernah dipajang di rumah.

Foto Sofia saat ulang tahun.
Saat menang lomba sekolah.
Saat tertidur di sofa sambil memeluk buku.

Tangan Sofia gemetar.

— “Kalau Ibu menyimpan semua ini…”
— “kenapa Ibu selalu memperlakukanku seperti orang asing?”

Cassandra menangis untuk pertama kalinya di depan putrinya.

— “Karena setiap kali melihatmu…”
— “Ibu teringat versi diriku yang dulu miskin dan lemah.”

— “Angela mengingatkanku pada kehidupan yang ingin Ibu capai.”
— “Tapi kamu… mengingatkan Ibu pada siapa diri Ibu sebenarnya.”

Tangis Sofia pecah.

Bukan karena marah.

Tetapi karena beberapa luka ternyata berasal dari orang yang bahkan tidak tahu cara mencintai dirinya sendiri.

Cassandra lalu menggenggam tangan putrinya.

— “Maafkan Ibu…”
— “karena baru sadar nilai seorang anak setelah hampir kehilangan semuanya.”

Sofia menangis dalam diam.

Namun kali ini…

ia tidak lagi merasa sendirian.


Beberapa bulan kemudian…

di sebuah gala besar perusahaan Petrov Group di Singapura, semua orang berdiri ketika Sofia memasuki ballroom bersama Nikolai.

Gaun hitam sederhana yang ia kenakan jauh lebih elegan daripada semua kemewahan di ruangan itu.

Para pebisnis terkenal mendatanginya satu per satu.

Kini mereka mengenalnya bukan sebagai “adik Angela Villanueva”.

Tetapi sebagai Sofia Petrov.

Wanita yang dipilih sendiri oleh Nikolai Petrov.

Di tengah pesta, Nikolai membungkuk sedikit dan berbisik di telinganya:

— “Masih takut jadi pusat perhatian?”

Sofia tertawa kecil.

Lalu menatap seluruh ruangan megah itu sebelum akhirnya menjawab:

— “Tidak lagi.”

Karena akhirnya…

setelah seumur hidup diminta untuk berdiri di belakang…

Sofia belajar bahwa bunga yang paling sering diabaikan…

kadang justru yang paling sulit dilupakan.