Posted in

SUAMIKU MENYURUH AKU MENJADI TIDAK TERLIHAT DI ACARA PENGHARGAAN PERUSAHAANNYA—HINGGA NAMA PEMENANG UTAMA DIUMUMKAN DAN SEMUA ORANG MENCARI AKU DI RUANGAN”

“Jangan duduk di meja depan.”

Kalimat itu diucapkan Rendra tanpa menatap istrinya.

Alya berdiri di depan ballroom hotel tempat malam penghargaan tahunan perusahaan Rendra digelar.

Semua orang berkilau.

Gaun mahal.

Jam tangan mewah.

Foto-foto media sudah siap.

Dan Rendra, direktur muda paling dibicarakan di industri teknologi, sedang memastikan satu hal sederhana—

Istrinya tidak mengganggu citranya.

“Aku cuma tamu,” kata Alya pelan.

Rendra mengangguk.

“Tapi kamu tamu yang… terlalu sederhana untuk meja utama.”

Kalimat itu tidak keras.

Tapi cukup untuk membuat seseorang mengerti: dia bukan bagian dari dunia itu.

Ibu Rendra mendekat cepat.

“Duduk di belakang saja. Di dekat staf.”

Alya menatap wanita itu sebentar.

Lalu mengangguk lagi.

Tanpa debat.

Tanpa ekspresi.

Dan itu justru membuat mereka merasa menang.

Di dalam ballroom, kamera menyala.

Investor datang.

CEO-CEO besar hadir.

Malam itu adalah malam penting: pengumuman penghargaan inovasi teknologi terbesar tahun ini.

Rendra berdiri di dekat panggung, percaya diri.

Ia sudah hampir pasti akan menang.

Perusahaannya adalah kandidat terkuat.

“Aku akan naik ke stage nanti,” kata Rendra pada asistennya.

“Sudah disiapkan speech?”

“Tentu.”

Ia tersenyum.

Lalu melirik ke arah belakang ruangan.

Alya duduk sendiri di dekat pintu servis.

Tidak terlihat.

Tidak penting.

Seperti yang ia inginkan.

Acara dimulai.

Kategori demi kategori diumumkan.

Sampai akhirnya MC mengambil mikrofon dengan ekspresi sedikit berbeda.

“Dan sekarang… kita masuk ke penghargaan utama malam ini.”

Lampu ruangan meredup.

Rendra merapikan jasnya.

Ini momen dia.

“Best Global Technology Innovator of the Year…”

Hening.

Rendra menarik napas.

“Pemenangnya adalah…”

Tepuk tangan mulai siap.

Lalu MC membaca nama itu.

“AURORA LABS.”

Ruangan langsung berbisik.

“Aurora Labs?”

“Siapa CEO-nya?”

Rendra mengerutkan kening.

“Aneh… itu perusahaan apa?”

Lalu layar besar di belakang panggung menyala.

Logo Aurora Labs muncul.

Dan di bawahnya…

Foto pemenang.

Rendra langsung membeku.

Alya.

Istrinya sendiri.

Seluruh ruangan hening dalam satu detik yang terasa terlalu panjang.

MC tersenyum gugup.

“Dan untuk menerima penghargaan malam ini…”

“Founder dan CEO Aurora Labs…”

“Ms. Alya Wiratama.”

Semua orang langsung menoleh ke belakang ruangan.

Ke arah meja staf.

Ke arah pintu servis.

Ke arah wanita sederhana yang selama ini tidak pernah diperhatikan siapa pun.

Alya tidak langsung berdiri.

Ia hanya menatap panggung beberapa detik.

Lalu berdiri pelan.

Dan seluruh investor otomatis ikut berdiri tanpa sadar.

Rendra menatapnya dari jauh.

Wajahnya kosong.

Tidak percaya.

“Alya…?”

Suara itu nyaris tidak keluar.

Ibu Rendra langsung panik.

“Itu pasti kesalahan…”

Tapi salah satu investor besar di sampingnya berbisik pelan, shock:

“Aurora Labs itu startup AI yang valuasinya tembus puluhan miliar dolar…”

“Dan founder aslinya tidak pernah tampil publik…”

Rendra mulai berjalan cepat ke arah belakang.

“Alya! Tunggu!”

Tapi Alya sudah berjalan melewati lorong menuju panggung.

Langkahnya tenang.

Seolah ini bukan hal baru.

Seolah dunia yang sekarang bergetar… sudah lama ia kuasai.

Di panggung, MC menyerahkan trofi.

Alya menerimanya.

Lampu kamera langsung menyala.

Flash bertubi-tubi.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, seluruh dunia teknologi melihat wajah yang selama ini disembunyikan.

Rendra akhirnya sampai di sisi panggung.

“Nggak mungkin… kamu…”

Alya menatapnya sekilas.

Tatapan yang sama seperti tadi di rumah.

Tenang.

Jauh.

Tidak marah.

Tapi juga tidak lagi hangat.

“Aku sudah bilang dari awal,” kata Alya pelan.

“Kamu cuma tidak pernah benar-benar mendengarkan.”

Rendra menggeleng.

“Kamu siapa sebenarnya?”

Alya menoleh ke arah kamera.

Ke arah seluruh ruangan.

Ke arah dunia yang baru menyadarinya.

“Aku?”

Ia tersenyum tipis.

“Orang yang kamu suruh duduk di belakang.”

Lalu ia naik satu langkah ke podium.

Dan seluruh ruangan berdiri untuknya.

Sementara Rendra…

untuk pertama kalinya sadar bahwa ia baru saja mengabaikan wanita yang ternyata sudah lebih besar dari semua yang ia kejar seumur hidupnya.