Posted in

Aku membiayai kuliahnya sampai dia lulus. Namun di hari wisudanya, dia merayakan kebahagiaan itu dengan perempuan lain.Dan saat itu juga, aku dibuang seperti sam pah.

Aku membiayai kuliahnya sampai dia lulus. Namun di hari wisudanya, dia merayakan kebahagiaan itu dengan perempuan lain.
Dan saat itu juga, aku dibuang seperti sam pah.

*

Enam bulan sudah berlalu sejak Raka membu4ng bunga mawarku ke tempat sampah, tetapi rasanya kejadian menyes4kkan itu masih seperti kemarin. Aku memang sudah berusaha ikhlas, tapi setiap kali teringat, d4daku tetap saja terasa sesak.

Saat aku sedang merapikan barang dagangan di rak, tiba-tiba terdengar seseorang memanggilku. Aku menoleh ke arah sumber suara. Tampak Bu Asti berdiri di depan toko dengan penampilan berbeda. Wajahnya terlihat lebih cerah dan tubuhnya lebih berisi, menandakan hidupnya kini sudah makmur.

Bu Asti tersenyum lebar, seolah tidak pernah ada kejadian di kampus waktu itu. Seolah dia tidak pernah menatapku dengan ji-jik saat aku datang di acara wisuda putranya.

Aku menahan napas, berusaha menata hati yang mendadak berantakan. “Ibu? Ada apa ke sini?”

Tanpa permisi Bu Asti meraih tanganku. “Kamu kok nggak pernah main ke rumah lagi? Ibu kangen sama masakan kamu. Sop buntut buatan kamu itu nggak ada duanya.”

Aku menarik tanganku pelan. “Saya sibuk kerja, Bu.”

“Iya, Ibu lihat kamu makin kurus. Kerja terus sih.”

Bu Asti lalu merogoh sesuatu di dalam tas tangan barunya. Dia mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna keemasan. Kertasnya bertekstur mahal. Ada pita beludru merah marun yang mengikatnya.

“Ibu mau kasih ini. Minggu depan Raka mau nikah,” ucapnya sambil menyodorkan amplop itu. Wajahnya datar, tanpa sedikit pun rasa bersalah. Seolah semua pengorb4nanku untuk putranya selama ini tidak berarti apa-apa.

Dunia di sekelilingku rasanya senyap seketika. Kata itu berdenging di telingaku. Raka benar-benar akan menikahi wanita barunya.

“Maaf sepertinya saya nggak bisa datang, Bu.”

“Lho, kok gitu?” Wajah Ibu Asti berubah memel4s. “Kayla, tolonglah. Kamu itu sudah Ibu anggap keluarga sendiri. Meski kamu sama Raka nggak jodoh, tapi silaturahmi jangan putus dong.”

Ingin rasanya aku tertawa keras di depan wajahnya. Keluarga mana yang dibu4ng saat sudah tidak berguna?

“Saya tidak bisa janji, Bu. Maaf.”

Ibu Asti memegang lenganku lagi. “Tolong diusahakan. Raka juga titip pesan, dia mau kamu datang. Biar nggak ada dendam, katanya. Lagipula, masa kamu tega sama Ibu? Ibu yang minta langsung lho ini.”

Wanita ini luar biasa. Dia menggunakan kebaikanku dulu sebagai senjata untuk memojokkanku sekarang. Dia tahu aku tidak tegaan.

“Datang ya, Kay? Sebentar saja. Makan, salaman, terus pulang. Ibu sediakan suvenir khusus buat kamu nanti.” Wanita itu kembali membujuk saat melihatku hanya diam.

Aku menatap mata tua itu. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di sana. Padahal dulu, setiap kali sakitnya kambuh, akulah yang merawatnya, bahkan membayar biaya dokter dan obatnya. Aku juga yang sering membersihkan rumahnya dan memasak makanan enak setiap kali datang. Mungkin itu sebabnya Raka bilang pada Siska kalau aku suka bantu-bantu di rumahnya.

Dengan perasaan terpaksa, aku menerima amplop itu.

“Nanti saya usahakan,” jawabku akhirnya, hanya agar dia cepat pergi.

“Nah, gitu dong!” Ibu Asti menepuk pipiku pelan. “Ibu pamit ya, masih banyak undangan yang harus disebar. Jangan lupa dandan yang cantik nanti!”

Bu Asti keluar dari toko, masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di pinggir jalan.

Aku berdiri mematung memegang undangan itu. Saat aku hendak berbalik masuk ke toko, suara bisik-bisik dari arah pintu samping terdengar jelas. Dua orang tetangga toko yang sedang belanja sayur.

“Eh, itu tadi Ibunya si Raka kan?”

“Iya, yang anaknya sudah kerja di perusahaan besar itu.”

“Kasihan ya si Kayla. Kurang apa coba? Udah biay4in kuliah, kasih makan, eh pas sukses ditinggal kawin sama anak orang kaya.”

“Namanya juga nasib, Bu. Makanya kalau jadi perempuan jangan b0doh-b0doh amat. Udah habis-habisan, dapatnya cuma capek.”

Kalimat itu terasa memb4kar telingaku. Aku merem4s undangan di tangan. Memang, aku bo-doh karena membiarkan diriku dimanfaatkan lelaki yang kupikir akan menikahiku. Hanya karena status ‘tunangan’, aku rela berkorban dan bekerja keras membi4yai kuliahnya sampai selesai. Aku percaya suatu hari nanti dia akan menepati janji dengan menikahiku. Tapi nyatanya …

Hari itu aku pulang dengan perasaan kacau. Tiba di rumah, aku langsung mengambil celengan ayam dari tanah liat di atas lemari. Itu t4bungan daruratku. U ang yang kukumpulkan receh demi receh untuk berjaga-jaga kalau aku sakit atau berhenti kerja.

Tanpa berpikir dua kali, aku mengangkatnya tinggi-tinggi. Lalu memban-tingnya ke lantai. Celengan itu han-cur berkeping-keping di lantai. U ang receh dan beberapa lembar u ang kertas berhamburan.

Aku memunguti u ang itu dengan tangan gemetar.

“Aku akan datang ke pestamu, Raka,” gumamku sambil mengepal u ang di tangan. “Dan aku nggak akan datang sebagai Kayla si penjual kue yang lusuh.”

Sore itu juga, aku pergi ke pasar untuk membeli baju pesta. U angku tidak banyak, tapi cukup untuk membeli sebuah gaun. Warna merah marun yang menandakan keberanian. Tak lupa membeli tas tangan dan juga heels sederhana.

*

Hari Minggu akhirnya tiba. Aku sudah siap untuk datang ke pesta Raka. Gaun merah marun membalut tubuhku dengan pas. Meski harganya murah, tapi potongannya membuatku terlihat lebih berisi dan tegap. Make-up tipis tapi tegas menutupi lingkaran hitam di mataku.

Sambil menunggu ojek online pesanan, aku melihat-lihat media sosial. Akun Raka yang tidak pernah berani kubuka selama enam bulan ini, muncul di beranda.

Sebuah foto pre-wedding.

Raka dan Siska berpose di sebuah taman bunga. Raka menatap Siska dengan tatapan memuja—tatapan yang dulu hanya milikku.

Kubaca caption-nya.

“Akhirnya, hari ini tiba. Menikahi wanita impianku, masa depanku. Bismillah.”

Air mataku nyaris jatuh, tapi buru-buru mendongakkan kepala. Pantang aku menangis hari ini. Bedakku terlalu mahal untuk luntur oleh air mata buat laki-laki breng-sek seperti dia.

“Wanita impian ya?” bisikku si-nis sambil menatap layar ponsel. “Baiklah, Raka. Mari kita lihat … sekuat apa wanita impianmu itu sanggup mendampingimu.”

Aku menyambar tas, lalu melangkah keluar kamar kos. Aku akan datang ke pesta itu dengan kepala tegak.

*

Judul di KBM App: Dinikahi Bos Mantan
Penulis: Asma Aziz