“Aku ini cuma ibu rumah tangga kampungan,” kata suamiku dengan nada menghina. Jadi aku diam-diam mengganti pakaian, menggendong anakku, lalu pergi… tetapi saat pria yang turun dari mobil mewah di lobby itu muncul, wajah suamiku langsung pucat pasi…

“Aku ini cuma ibu rumah tangga kampungan,” kata suamiku dengan nada menghina. Jadi aku diam-diam mengganti pakaian, menggendong anakku, lalu pergi… tetapi saat pria yang turun dari mobil mewah di lobby itu muncul, wajah suamiku langsung pucat pasi…

Seluruh apartemen mewah di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, mendengar suara gelas pecah dari unit milik Joanna dan Marco Wijaya di lantai dua belas.

“Coba lihat dirimu di cermin! Dengan penampilan seperti itu, masih mau dihormati?”

Bentakan Marco Wijaya menggema di ruang tamu luas dengan pemandangan lampu kota Jakarta di malam hari.

Bau bir dan rokok bercampur memenuhi udara.

Joanna hanya berdiri diam di samping meja makan. Sup asam yang ia masak sejak sore sudah dingin. Anak mereka yang berusia empat tahun sedang demam dan tertidur di kamar, sementara Joanna masih mengenakan kaus lama penuh noda susu dan bubur.

Tiga tahun lalu, Joanna adalah salah satu makeup artist paling terkenal di Jakarta.

Ia memiliki banyak klien VIP.

Bahkan sering diundang untuk menangani pemotretan iklan besar di kawasan SCBD.

Namun setelah melahirkan, Marco berkata:

“Berhenti kerja saja. Aku bisa menafkahimu.”

Dan Joanna mempercayainya.

Ia mempercayainya sampai memutus semua kontraknya dan bahkan menjual perlengkapan makeup mahalnya demi membantu modal bisnis logistik Marco.

Sekarang…

Perusahaan Marco berkembang pesat.

Ia punya mobil baru.

Jam tangan Rolex.

Dan pesta minum bersama klien-klien kaya di rooftop Senopati hampir setiap malam.

Sedangkan Joanna?

Ia hanya menjadi bayangan di dalam apartemen mewah itu… sampai dirinya sendiri pun hampir tak mengenali siapa dirinya dulu.

“Kecilkan suaramu. Anak kita sedang demam,” kata Joanna pelan sambil menahan emosi.

Marco tertawa sinis.

“Anak lagi, anak lagi.”

Tiba-tiba ia mendekat dan menarik rambut Joanna dengan kasar.

“Lihat dirimu. Kau seperti perempuan yang dibuang dunia. Jujur saja, kalau kuberdirikan kau di tengah Jalan Sudirman, tak akan ada satu pun pria yang melirik.”

Air mata Joanna jatuh karena sakit.

Namun Marco belum selesai.

Ia melempar ponsel Joanna ke lantai sambil mengejek.

“Aku tantang kau.”

“Coba keluar sana.”

“Kita lihat masih ada pria yang tertarik padamu atau tidak.”

“Atau jangan-jangan orang malah mengira kau cuma pengasuh anak.”

Mendadak suasana menjadi sunyi.

Hanya suara AC yang terdengar.

Joanna perlahan mengambil ponselnya.

Layar ponselnya retak.

Sama seperti hatinya yang akhirnya benar-benar hancur.

Namun kali ini…

Ia tidak menangis.

Ia hanya menatap Marco dengan sangat tenang.

Tatapan itu membuat Marco tiba-tiba terdiam.

Tak ada lagi rasa takut.

Tak ada lagi permohonan.

Hanya tatapan dingin yang membuat Marco mendadak gelisah.

“Ingat semua kata-katamu tadi.”

Joanna berbalik dan masuk ke kamar.

Marco menyeringai sambil membuka bir lagi.

“Ngambek lagi. Paling nanti juga minta uang susu.”

Tetapi lima menit kemudian…

Pintu kamar terbuka.

Marco langsung terpaku.

Joanna keluar seperti orang yang berbeda.

Rambutnya diikat rapi.

Ia mengenakan dress hitam elegan yang sudah lama tak pernah dipakai.

Aura seluruh ruangan langsung berubah.

Makeup-nya tipis, tetapi sangat anggun dan memukau.

Mata yang tadi terlihat lelah kini berubah dingin dan indah.

Bahkan Marco sulit percaya bahwa wanita di depannya adalah istrinya sendiri.

Joanna menggendong anak mereka.

Mengambil handbag.

Lalu menarik koper kecil.

Marco mengernyit.

“Drama apa lagi ini?”

Joanna membuka pintu.

Bahkan tidak menoleh sedikit pun.

“Aku akan membuktikannya padamu.”

Pintu tertutup keras.

Marco tertawa meremehkan sambil kembali meminum birnya.

Namun tepat pada saat itu…

Sebuah Porsche abu-abu berhenti di depan apartemen.

Semua satpam lobby langsung berdiri tegak.

Seorang pria dengan setelan hitam turun dari mobil itu.

Tinggi.

Berwibawa.

Auranya dingin seperti para miliarder yang sering muncul di majalah Forbes Indonesia.

Pria itu menatap lurus ke arah lantai dua belas sebelum bertanya pada satpam:

“Apakah Joanna Wijaya sudah turun?”

Tubuh Marco langsung dingin meski masih memegang kaleng bir.

Karena ia mengenal pria itu.

Damian Santoso.

CEO perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia.

Dan mantan klien VIP yang hampir selama setahun mengejar Joanna… sebelum Joanna memilih menikahi Marco.

Dan sebelum Marco sempat memahami apa yang terjadi…

Ponselnya tiba-tiba bergetar tanpa henti.

Pesan-pesan dari kantor bermunculan.

“Pak Marco… ada masalah besar.”

“Semua kontrak dari Santoso Group baru saja dibatalkan mulai besok…”

Bersamaan dengan itu…

Di lobby apartemen…

Damian Santoso dengan tenang membukakan pintu mobil untuk Joanna.

Dan Joanna…

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Tidak lagi menoleh pada suaminya…

Mobil itu melaju meninggalkan apartemen mewah yang selama ini terasa seperti penjara bagi Joanna.

Sepanjang perjalanan, Damian tidak banyak bicara.

Ia hanya sesekali melihat Joanna melalui kaca spion.

Sementara Joanna memeluk putrinya yang tertidur di kursi belakang.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Ia merasa bisa bernapas lagi.

Damian akhirnya memecah keheningan.

“Aku sudah menunggu hari ini sangat lama.”

Joanna tersenyum tipis.

“Aku terlalu bodoh dulu.”

Damian menggeleng pelan.

“Bukan bodoh. Kau hanya terlalu mencintai orang yang salah.”

Kalimat itu membuat mata Joanna perlahan memerah.

Namun kali ini bukan karena sakit.

Melainkan karena akhirnya… ada seseorang yang melihat pengorbanannya.

Malam itu Damian membawa Joanna dan anaknya ke sebuah penthouse pribadi di kawasan Menteng.

Hangat.

Tenang.

Dan jauh dari teriakan Marco.

Keesokan paginya…

Seluruh hidup Marco mulai runtuh.

Satu per satu klien menarik kerja sama.

Investor mulai panik.

Bahkan beberapa karyawan penting memilih resign.

Dalam dua minggu saja…

Perusahaan logistiknya hampir bangkrut.

Marco yang biasanya dipenuhi teman-teman pesta mendadak sendirian.

Tak ada lagi undangan makan malam mewah.

Tak ada lagi teman minum.

Semua orang perlahan menjauh.

Barulah saat itu ia sadar…

Selama ini yang membuat hidupnya terlihat sempurna bukan uangnya.

Melainkan Joanna.

Sementara itu…

Dengan bantuan Damian, Joanna kembali bekerja sebagai makeup artist.

Namun kali ini…

Namanya justru menjadi lebih besar dari sebelumnya.

Video transformasi makeup buatannya viral di media sosial.

Artis-artis terkenal mulai memanggilnya lagi.

Dalam waktu kurang dari setahun…

Joanna berhasil membuka brand kosmetiknya sendiri bernama “Aurielle”.

Sebuah nama yang berarti cahaya setelah kegelapan.

Peluncuran brand itu diadakan di hotel bintang lima Jakarta.

Media datang.

Influencer hadir.

Lampu kamera berkedip di mana-mana.

Dan di tengah kemewahan malam itu…

Marco muncul.

Penampilannya jauh berbeda.

Wajahnya kusut.

Tubuhnya lebih kurus.

Bahkan jas yang dipakainya terlihat murahan dibanding dulu.

Ia berdiri di depan Joanna dengan mata penuh penyesalan.

“Jo…”

Suara pria itu bergetar.

“Aku salah.”

Joanna hanya diam sambil menatapnya tenang.

Marco menunduk.

“Aku kehilangan semuanya.”

“Perusahaanku hancur.”

“Semua orang pergi…”

“Dan baru sekarang aku sadar… satu-satunya orang yang benar-benar selalu ada buatku adalah kamu.”

Air mata mulai jatuh dari matanya.

“Aku mohon… pulanglah.”

Suasana ballroom mendadak sunyi.

Semua orang memandang Joanna.

Menunggu jawabannya.

Namun Joanna hanya tersenyum kecil.

Senyum yang lembut… tetapi asing bagi Marco.

“Dulu,” katanya pelan, “aku rela menghancurkan mimpiku demi membangun hidupmu.”

“Tapi saat aku jatuh… kau malah menghancurkan harga diriku.”

Marco menangis.

Namun Joanna melanjutkan:

“Perempuan yang dulu mencintaimu mati pada malam saat kau menyebutnya wanita kampungan.”

Marco langsung membeku.

Dan saat itulah…

Seorang anak kecil berlari memeluk kaki Joanna.

“Mama…”

Joanna langsung mengangkat putrinya sambil tersenyum hangat.

Tak jauh dari sana, Damian berdiri menunggu dengan tatapan tenang.

Bukan memaksa.

Bukan menguasai.

Melainkan memberi rasa aman yang selama ini tidak pernah Joanna miliki.

Joanna menatap Marco untuk terakhir kalinya.

“Aku memaafkanmu.”

“Tapi aku tidak akan kembali.”

Setelah itu…

Ia berjalan meninggalkan ballroom bersama putrinya.

Damian membuka pintu mobil untuk mereka.

Dan kali ini…

Joanna tidak pergi sebagai seorang istri yang diusir.

Ia pergi sebagai perempuan yang akhirnya menemukan kembali dirinya sendiri.

Sementara Marco hanya bisa berdiri diam di bawah gemerlap lampu hotel…

Menyadari bahwa ada kehilangan yang terlambat disesali…

Karena beberapa perempuan…

Sekali hatinya benar-benar hancur…

Tak akan pernah kembali lagi.