Selama tiga tahun kami menikah diam-diam. Suamiku, Lucas Pratama, aktor peraih penghargaan “Best Actor” nomor satu di Indonesia, mengikuti tantangan di acara TV terkenal: “Hubungi Orang yang Paling Kamu Cintai.”

Selama tiga tahun kami menikah diam-diam. Suamiku, Lucas Pratama, aktor peraih penghargaan “Best Actor” nomor satu di Indonesia, mengikuti tantangan di acara TV terkenal: “Hubungi Orang yang Paling Kamu Cintai.”

Ponselku tetap sunyi.

Namun ponsel “cinta sejatinya,” Sofia Mahendra, justru berdering.

Saat aku menunduk dan menghapus “pinned chat” kami di WhatsApp, kamera layar raksasa tiba-tiba menyorot ke arah penonton… dan dalam sekejap, wajah Lucas di atas panggung menjadi lebih pucat daripada kertas.

Suamiku adalah aktor ternama, Lucas Pratama.

Di acara populer 《Challenge of the Heart Indonesia》, ia mendapatkan tantangan:

“Hubungi orang yang paling kamu cintai.”

Seluruh studio langsung heboh.

Kamera menyorot wajah tampan sang aktor terkenal itu. Bulu matanya yang panjang sedikit bergetar, menciptakan suasana penuh ketegangan dan romansa.

Host berteriak heboh:

“Wow! Best Actor kita akhirnya kena tantangan cinta! Indonesia penasaran—siapa yang akan dia telepon?”

Di bawah panggung, para fans menjerit histeris:

“Sofia! Sofia Mahendra!”

Sofia duduk di deretan tamu VIP mengenakan gaun putih elegan. Kedua tangannya saling menggenggam di dada, pipinya memerah, matanya penuh harapan seperti putri dalam dongeng.

Sementara aku…

Istri sahnya selama tiga tahun…

Duduk diam di sudut studio yang bahkan tak diperhatikan siapa pun.

Tanganku menggenggam ponsel yang layarnya tetap gelap.

Jari-jariku terasa dingin dan mati rasa.

Di atas panggung, Lucas tersenyum tipis.

Senyum sempurna untuk kamera.

Lembut.

Menawan.

Dan penuh kepalsuan.

Senyum itu terlalu sering kulihat.

Setiap kali ia tertangkap bersama Sofia.

Setiap kali aku harus membereskan skandal hubungan mereka demi menjaga citra publiknya.

Lucas perlahan membuka daftar kontaknya, seolah sedang memilih sesuatu yang suci.

Atau mungkin…

Ia hanya ingin memperkuat citra “pria romantis” demi rating acara.

Akhirnya, ia berhenti.

Menekan tombol panggil.

Dan menyalakan loudspeaker.

“Tuut… tuut…”

Suara sambungan telepon terasa panjang dan menusuk.

Setiap detik seperti menarik jantungku semakin dalam.

Aku tahu kenyataannya.

Aku tahu akhir cerita malam ini.

Tetapi di sudut terdalam hatiku…

Masih ada bagian kecil yang berharap:

Bagaimana kalau kali ini… dia memilihku?

Tiga tahun aku hidup seperti bayangan.

Dia bilang hubungan kami belum boleh diumumkan—aku mengerti.

Dia bilang hubungan dengan Sofia hanya demi pekerjaan—aku bertahan.

Dia bilang aku tak boleh datang ke lokasi syuting—aku percaya.

Namun ponsel di tanganku tetap sunyi.

Tak ada panggilan.

Seluruh studio seakan berhenti bernapas.

Lalu tiba-tiba…

Sebuah nada dering terdengar dari kursi VIP.

Lagu hit milik Sofia Mahendra menggema di seluruh studio seperti racun.

Sorotan lampu langsung jatuh ke tubuh Sofia.

Ia pura-pura terkejut, lalu mengeluarkan ponselnya.

Saat nama “Lucas Pratama” muncul di layar, ia menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca.

Akting yang sempurna.

Host berteriak heboh:

“Ayo angkat, Sofia! Indonesia mau lihat cinta sejati Best Actor kita!”

Sofia mengangkat telepon dengan suara bergetar manja:

“Halo… Lucas?”

Di atas panggung, pria itu tertawa pelan.

“Sofia… aku mengganggumu nggak? Aku cuma ingin dengar suaramu.”

Brak.

Kesabaran terakhir dalam diriku akhirnya putus.

Suara di sekelilingku terasa tenggelam seperti di bawah air.

Jeritan fans.

Candaan host.

Ucapan manis mereka.

Semuanya samar dan jauh.

Aku menunduk menatap ponsel di tanganku.

Tiga tahun.

Aku merawat kedua orang tuanya saat sakit.

Mengurus aset dan bisnis pribadinya.

Menjaga rumah kami seperti hantu yang tak pernah terlihat.

Tapi bahkan satu pengakuan pun…

Tak pernah kudapatkan.

Dulu kupikir itu cinta.

Sekarang aku sadar…

Di matanya aku mungkin hanya alat yang berguna… dan murah.

Dadaku terasa sakit seperti dihantam palu.

Namun aku tidak menangis.

Yang kurasakan hanya dingin.

Dingin yang menyebar dari kaki sampai ke dada.

Aku membuka ponselku.

Mencari chat kami yang selama tiga tahun selalu berada di paling atas.

Dari nama “Sayang”…

Aku mengubahnya menjadi “Lucas Pratama.”

Lalu hanya menjadi “L.”

Foto profilnya adalah potongan foto buku nikah kami, tangan kami saling menggenggam.

Dulu aku memaksanya memakai itu.

Sekarang rasanya seperti lelucon paling memalukan.

Aku menekan lama chat itu.

Delete Chat.

Confirm.

Kontak yang selama tiga tahun menjadi pusat hidupku…

Hilang hanya dalam satu sentuhan.

Dan anehnya…

Aku justru merasa lebih lega.

Aku berdiri hendak pergi.

Namun tiba-tiba—

Kamera layar besar di studio berganti arah.

Secara acak menyorot penonton.

Dan berhenti tepat di depanku.

Close-up layar raksasa itu memperlihatkan jelas momen saat aku menghapus nama Lucas dari ponselku.

Di layar belakang panggung…

Wajah Lucas Pratama langsung berubah.

Tatapan manisnya untuk Sofia hancur seketika.

Ia membeku.

Matanya menatap lurus ke arahku… saat aku menghapus dirinya dari hidupku.

Bibirnya bergetar, tetapi tak ada suara yang keluar.

Seluruh studio tiba-tiba sunyi.

Host mulai panik.

“Haha! Sepertinya Best Actor kita terlalu terharu malam ini! Sofia, lihat dong, dia benar-benar tersentuh olehmu!”

Sofia ikut cemas.

“Lucas? Kenapa diam?”

Lucas tidak menjawab.

Ia hanya menatapku.

Seolah di dunia ini hanya tinggal kami berdua.

Aku mengangkat kepala dan membalas tatapannya.

Lalu aku tersenyum.

Tipis.

Dingin.

Dan tanpa belas kasihan.

Aku berdiri.

Berbalik.

Lalu berjalan keluar studio di tengah tepuk tangan dan jeritan penonton.

Padahal…

Pertunjukan sebenarnya baru saja dimulai.

Lucas Pratama.

Neraka ini…

Akan kubakar dengan tanganku sendiri.

Aku hanya tidak tahu apakah “dewa” sepertimu siap berubah menjadi abu.

Suara high heels-ku di lorong panjang terdengar seperti langkah kematian.

Tegas.

Dingin.

Tanpa emosi.

Di belakangku, studio masih kacau.

Namun suara bisingnya mulai teredam oleh dinding kedap suara.

Aku tidak menoleh.

Aku tak perlu melihat wajah Lucas sekarang.

Pucat.

Panik.

Kehilangan kendali.

Bukan karena cinta.

Tetapi karena…

Ia kehilangan kendali atas diriku.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Marco, asisten pribadinya:

“Ms. Trixie, Pak Lucas minta Anda tunggu di Area Parkir C. Mobil sedang menuju ke sana. Beliau bilang hindari media.”

Nada pesannya terasa familiar.

Perintah.

Meremehkan.

Selama tiga tahun aku hidup sebagai bayangan di belakang panggung.

Tak boleh muncul.

Tak boleh meminta.

Hidup dalam gelap sambil menunggu dipanggil kapan saja.

Aku membaca pesan itu.

Lalu langsung memblokir nomornya.

Setelah itu…

Nomor “L” ikut masuk blacklist.

Aku keluar lewat pintu samping.

Udara malam Jakarta di bulan Oktober terasa dingin.

Aroma parfum mahal studio masih menempel di bajuku.

Namun setiap langkah menjauh membuat napasku terasa lebih ringan.

Aku mengeluarkan “ponsel rahasia” yang hanya diketahui sedikit orang.

Lalu menelepon:

“Atty. Rivera.”

Suara perempuan tegas langsung menjawab:

“Trixie? Kenapa telepon malam-malam? Ada masalah?”

Suaraku tenang.

Bahkan aku sendiri heran.

“Siapkan surat cerai. Malam ini juga. Secepatnya.”

Hening dua detik.

Lalu teriakan keras terdengar dari seberang sana.

“ASTAGA! Akhirnya kamu sadar juga?! Apa yang dilakukan laki-laki sialan itu?! Cepat cerita!”

Aku tertawa kecil.

Pahit.

Tapi melegakan.

“Dia baru saja menyatakan cinta pada Sofia Mahendra… di TV nasional.”

“…APA?!”

“Kalian belum cerai! Dia pikir dia siapa?!”

Aku memotongnya.

“Pernikahan kami rahasia. Tak ada yang tahu.”

“Aku mau 30% saham StarWay Entertainment dan rumah di Menteng. Semua harta bersama dibagi sesuai hukum. Tidak lebih, tidak kurang.”

Dulu aku bertahan karena cinta.

Sekarang…

Aku menagih karena akhirnya sadar.

Atty. Rivera berkata:

“Tenang. Kalau dia nggak kehilangan segalanya, setidaknya hidupnya bakal hancur total! Tapi Trixie… yakin mau bongkar sekarang? Kenapa nggak tunggu film barunya rilis? Nilai sahamnya bisa lebih tinggi.”

Aku menatap lampu-lampu Jakarta dari kejauhan.

Suaraku sedingin es.

“Aku tidak mau menunggu lagi.”

“Tinggal sehari lebih lama di sampingnya saja… terasa terlalu lama.”

“Aku tidak butuh uang tambahan.”

“Aku hanya ingin cepat… dan aku ingin dia merasakan sakit.”

Aku menutup telepon.

Lalu menelepon asistanku sendiri.

“Anya.”

“Ambil semua barangku dari mansion Lucas Pratama.”

“Terutama kotak perhiasan kayu di ruang kerja dan diary-ku di meja samping tempat tidur.”

“Kamu yang urus sendiri.”

“Pindahkan semuanya ke rumah kakek di Bandung.”

full story:👇👇👇👇

Tiga hari setelah episode itu tayang…

Internet Indonesia meledak.

Nama Lucas Pratama dan Sofia Mahendra menduduki trending nomor satu di semua media sosial.

Awalnya publik mengira itu hanyalah momen romantis biasa.

Sampai…

Sebuah dokumen bocor ke internet.

Foto buku nikah.

Tanggal pernikahan.

Tanda tangan resmi.

Dan nama istrinya—

Trixie Adinata.

Seluruh dunia hiburan langsung gempar.

“BEST ACTOR TERNYATA SUDAH MENIKAH SELAMA TIGA TAHUN!”

“SOFIA MAHENDRA DIDUGA JADI ORANG KETIGA!”

“CITRA PRIA SEMPURNA LUCAS PRATAMA HANCUR!”

Media menyerbu rumah produksi.

Brand-brand mulai memutus kontrak.

Fans yang dulu memujanya berubah menjadi kemarahan massal.

Sementara itu…

Lucas seperti orang kehilangan jiwa.

Ia mengurung diri di mansion mewahnya di Menteng.

Tidak tidur.

Tidak makan.

Hanya terus menatap layar CCTV rumah.

Karena di setiap sudut rumah itu…

Masih ada bayangan Trixie.

Cangkir favoritnya.

Selimut yang biasa dipakainya.

Bahkan sandal kecil di dekat taman belakang masih tertata rapi.

Namun orangnya sudah pergi.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Lucas sadar bahwa ketenaran tidak bisa membeli seseorang kembali.

Malam itu, ia akhirnya membuka kotak kayu yang selama ini tak pernah diperhatikannya.

Kotak perhiasan milik Trixie.

Di dalamnya…

Bukan emas.

Bukan berlian.

Melainkan ratusan lembar kecil tulisan tangan.

Catatan harian.

Hari pertama mereka menikah.

Hari saat Trixie menunggu Lucas pulang sampai pagi.

Hari ketika Lucas lupa ulang tahun istrinya demi makan malam dengan Sofia.

Hari ketika Trixie diam-diam menjaga ibunya Lucas di rumah sakit sendirian.

Dan di halaman terakhir…

Tulisan itu membuat tangan Lucas gemetar.

“Aku tidak takut hidup miskin bersamamu.”

“Aku hanya takut suatu hari nanti… aku tidak lagi berarti apa-apa untukmu.”

Air mata Lucas jatuh untuk pertama kalinya di rumah itu.

Bukan air mata aktor.

Bukan tangisan untuk kamera.

Tetapi tangisan seorang pria yang akhirnya sadar bahwa ia telah menghancurkan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.

Lucas mulai mencari Trixie ke mana-mana.

Bandung.

Bali.

Singapore.

Bahkan setiap tempat yang pernah mereka datangi bersama.

Namun Trixie seperti menghilang dari dunia.

Sampai enam bulan kemudian…

Sebuah acara fashion dan beauty terbesar di Asia Tenggara diadakan di Jakarta Convention Center.

Nama yang paling banyak dibicarakan malam itu bukan artis…

Melainkan seorang CEO muda wanita.

Trixie Adinata.

Pendiri brand kecantikan “Étoile.”

Brand lokal yang dalam waktu singkat berhasil menembus pasar internasional.

Saat lampu sorot panggung menyala…

Lucas yang duduk sebagai tamu undangan langsung membeku.

Trixie muncul dari balik layar.

Elegan.

Tenang.

Dan begitu bersinar sampai seluruh ruangan terpaku.

Wanita yang dulu hidup dalam bayangannya…

Kini berdiri lebih tinggi daripada dirinya.

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Namun Lucas hanya bisa menatapnya dengan mata merah.

Acara selesai.

Ia mengejar Trixie sampai ke belakang ballroom.

“Trixie…”

Suara pria itu serak.

Wanita itu berhenti.

Perlahan menoleh.

Tatapannya tenang… tetapi asing.

Lucas merasa dadanya sesak.

Karena akhirnya ia sadar—

Ia tidak lagi mengenali perempuan yang dulu selalu menunggunya pulang.

“Aku salah…” bisiknya.

“Aku kehilangan semuanya.”

“Aku kehilangan kamu.”

Trixie menatapnya beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

Senyum yang sangat indah…

Namun tidak lagi memiliki cinta untuknya.

“Tidak, Lucas.”

“Kamu tidak kehilangan semuanya.”

“Kamu hanya kehilangan satu orang.”

“Tetapi orang itu… adalah satu-satunya yang benar-benar mencintaimu.”

Kalimat itu menghancurkan pertahanan Lucas sepenuhnya.

Matanya basah.

Tangannya gemetar.

Namun Trixie hanya melangkah mendekatinya pelan.

Lalu merapikan sedikit kerah jas pria itu—kebiasaan kecil yang dulu selalu ia lakukan sebagai istri.

Untuk terakhir kalinya.

“Aku pernah mencintaimu lebih dari diriku sendiri.”

“Tapi sekarang…”

“Aku memilih mencintai diriku sendiri.”

Setelah mengatakan itu…

Trixie berbalik.

Melangkah pergi di bawah cahaya lampu ballroom.

Tanpa menoleh lagi.

Dan Lucas hanya bisa berdiri diam di tengah keramaian…

Menyadari bahwa dalam hidup ini ada orang yang akan tetap tinggal meski kita miskin dan hancur.

Tetapi saat orang itu benar-benar pergi…

Seluruh dunia yang kita miliki pun ikut terasa kosong.