Posted in

Mertuaku selalu menghinaku udik dan melarangku duduk di sofa mahalnya. Dia tak tahu, mal tempatnya arisan dan berfoya-foya hari ini adalah milik keluargaku. Saat aku berdiri di belakangnya, kasir menolak semua kartunya….

Mertuaku selalu menghinaku udik dan melarangku duduk di sofa mahalnya. Dia tak tahu, mal tempatnya arisan dan berfoya-foya hari ini adalah milik keluargaku. Saat aku berdiri di belakangnya, kasir menolak semua kartunya. Dengan panik dia menelpon suamiku, tanpa tahu bahwa hari ini aku sudah memutus semua…

“Jangan berani-berani menempelkan pakaian dekilmu di sofa kulit asliku! Harga satu bantalnya saja tidak akan mampu dibayar oleh keluargamu yang udik itu walau mereka memeras keringat sampai mati!”

Aku menahan napas, perlahan menarik tubuhku dari ujung sofa ruang tamu.

Bu Lidia, mertuaku, menatapku dengan mata melotot penuh gurat jijik, seolah aku baru saja membawa wabah penyakit ke dalam rumah megahnya.

Dengan saputangan sutranya, ia mengelap kasar permukaan sofa yang baru saja kududuki sebentar karena kakiku kram setelah mengepel seluruh rumah tiga lantai ini.

“Maaf, Ma. Rania cuma numpang duduk sebentar, kaki Rania—”

“Siapa yang mengizinkanmu memanggilku Mama?!” potongnya melengking, membetulkan letak kalung berlian di lehernya.

“Sampai kapan pun, aku tidak sudi punya menantu gembel dari desa sepertimu! Kalau bukan karena Oki dulu kasihan padamu, kau pasti sudah memulung di jalanan!”

Aku melirik ke arah meja makan. Oki, suamiku, laki-laki yang setahun lalu berlutut memohon cintaku dengan janji manis, hanya menyesap kopi hitamnya tanpa menoleh sedikit pun.

“Udahlah, Ma, nggak usah buang energi marahin dia,” ucap Oki santai sambil menatap layar tabletnya.

“Biarin aja Rania duduk di karpet. Orang udik kayak dia kan memang habitat aslinya lesehan di lantai.”

Hatiku yang selama setahun ini kuredam rapat-rapat, perlahan mendingin.

Aku menunduk, bukan untuk menyembunyikan tangis, melainkan untuk menyembunyikan senyum sinis yang mulai terbentuk di sudut bibirku.

Kasihan padaku?

Mertua dan suamiku ini benar-benar buta huruf dalam membaca realita.

Mereka tidak tahu bahwa perusahaan rintisan Oki yang tiba-tiba mendapat suntikan dana raksasa triliunan rupiah itu bukan karena kejeniusannya.

Mereka juga tidak tahu dari mana asal usul keistimewaan black card yang selalu dibanggakan Lidia ke teman-teman sosialitanya.

“Minggir! Jangan halangi jalanku, udara di dekatmu bau kemiskinan!” Bu Lidia menyenggol bahuku kasar sambil menenteng tas edisi terbatasnya.

“Aku mau pergi arisan dan berbelanja di Grand Emerald. Kamu, sikat seluruh lantai garasi sampai mengkilap!”

Tanpa menunggu jawabanku, wanita paruh baya yang merasa dirinya ratu dunia itu melenggang pergi.

Oki pun segera berangkat ke kantor, meninggalkanku sendirian di rumah besar yang sepi.

Begitu deru mesin mobil mereka menjauh, postur tubuhku yang membungkuk langsung tegak. Wajah submisif dan ketakutan itu menguap tak berbekas.

Aku merogoh saku celemekku, mengeluarkan ponsel satelit khusus yang sudah berbulan-bulan tidak kuaktifkan.

Aku menekan panggilan cepat nomor satu. Terdengar nada sambung sedetik sebelum suara berat seorang pria menyapa dengan penuh hormat dari seberang.

“Nona Muda. Akhirnya Anda menghubungi kami. Apa masa penyamaran Anda sudah selesai?”

“Sudah cukup main-mainnya, Bram,” ucapku dingin, berjalan mendekati sofa mahal milik mertuaku dan menghempaskan tubuhku tepat di tengahnya.

“Cabut seluruh aliran dana investasi di perusahaan Oki. Bekukan semua kartu kredit dan rekening yang terhubung dengan aset keluarga kita.”