Posted in

“Kamu ini hanya orang asing, Tara. Tidak ada kewajiban Rendi untuk menafkahimu,” ucap Mama mertua.

Ucapan Mama mertua seperti belati yang menu suk jant ungku.

Aku lantas bicara, “Aku memang orang asing, Ma. Itu sebelumnya tapi sekarang aku sudah menikah dengan Mas Rendi jadi tugas Mas Rendi juga harus menafkahiku.”

Mama mertua memutar bola mata malas mendengar perkataanku, “ Ya, itu benar. Tapi Rendi adalah anak laki-laki di rumah ini jadi dia yang berkewajiban untuk menafkahi keluarganya.”

“Mama benar, Ra,” ucap Mas Rendi.

“Jadi aku tidak penting dan kamu tidak mau menafkahiku sebagai istrimu, Mas?” tanyaku kepada Mas Rendi.

“Bukan begitu, Tara. Tentu saja aku harus menafkahimu karena itu suatu kewajibanku sebagai suamimu tapi aku anak laki-laki di rumah ini, berbeda denganmu. Seorang perempuan akan menjadi tanggung jawab suaminya setelah menikah, sedangkan seorang laki-laki walaupun ia sudah menikah, tetap akan menjadi milik orang tuannya,” ucap Mas Rendi.

“Dengar itu, Mbak. Telinga di buka lebar-lebar supaya dengar,” ucap Nia.

Gadis satu ini benar-benar tidak ada sopan santun sama sekali bicara kepada orang yang lebih tua dan juga istri dari kakaknya. Rasanya aku benar-benar ingin menyu mpal mulutnya yang tidak tahu sopan santun.

“Ya, aku dengar. Aku lapar. Aku mau makan dulu,” ucapku pada akhirnya, tinggal di rumah mertua toxic dengan ipar-ipar toxic, aku harus kebal.

“Rendi lihat Tara, dia membeli banyak makanan seperti itu padahal di rumah banyak makanan. Apa tidak boros itu namanya?” Mama mertua mengadu kepada Mas Rendi.

“Tara kamu kenapa harus membeli makanan, sehabis acara Papa bersama dengan teman-temannya bukankah ada banyak makanan? Seharusnya kamu memakan makanan yang ada saja dan juga makanan itu enak-enak,” ucap Mas Rendi.

“Tentu saja enak, kan aku yang masak sendiri, Mas,” jawabku santai.

“Kamu jangan bicara seperti itu, Ra. Kamu memang pintar memasak tapi Mama, Nia dan Mbak Bunga juga membantu kamu memasak,” tukas Mas Rendi, sepertinya ia merasa tidak enak kepada Mama dan Nia dengan apa yang aku katakan barusan.

“Kamu kan tid ur dan bangun jam sembilan, Mas. Jadi mana tahu siapa yang bekerja dan tidak,” ucapku dengan mata melirik Mama dan Nia.

“Kami ikut membantu Mbak Tara memasak kok, Mas,” ucap Nia.

“Tuh kan Nia bilang sendiri, kamu jangan mengada-ngada dan berbohong kalau kamu memasak makanan sebanyak itu untuk jamuan sendirian, Tara,” ucap Mas Rendi.

Aku rasa menjelaskan seperti apa pun, Mas Rendi tetap tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Mas Rendi sangat percaya kepada keluarganya ini. Keluarga toxic.

“Tara, lain kali kalau banyak makanan tidak usah membeli, mubazir makanan yang ada di rumah, tidak di makan,” ucap Mas Rendi.

“Aku kelaparan dan tidak ada makanan memang aku harus gitu menahan lapar? Kalau aku sakit gara-gara menahan lapar bagaimana, Mas?”

“Tara, maksud kamu apa? Tadi kamu Mama tawari opor ayam tpi tidak mau dan lebih memilih membeli makanan di luar,” ucap Mama mertua.

“Sudah telat, Ma. Aku sudah terlanjur membeli makanan di aplikasi. Sebelum aku memesan makanan, tidak ada satu pun makanan di meja makan dan Mama sendiri bilang kalau tidak mau bekerja jangan harap bisa makan di rumah ini,” jelasku.

“Rendi, kamu punya istri kenapa suka menje lek-jelekkan Mamamu ini. Mama salah apa sama istrimu, Nak?” Mama menitikkan air mata.

Mulai lagi dramanya. Air mata palsu mulai beraksi. Terserah lah, aku tidak peduli. Aku kembali memakan makanan yang ada di atas meja karena memang sudah sangat lapar.

“Mbak Tara malah asyik makan sendiri, Mas,” ucap Nia.

“Kamu mau? Ambil lah kalau mau,” tukasku.

“Tentu saja, kamu kan membeli makanan ini dari u ang Mas Rendi, Mbak,” ucap Nia.

Nia mengambil semua makanan yang ada di meja. Bahkan makanan yang sedang aku makan, “Ambil boleh tapi jangan semua. Secukupnya saja,” tukasku.

“Kamu membeli semua makanan ini habis berapa, Tara?” tanya Mas Rendi.

“Lima ratus ribu.”

“Gila, kamu menghabiskan lima ratus ribu untuk membeli makanan ini, Mbak?” tanya Nia.

“Hem, aku sudah bilang kalau aku lapar,” jawabku dengan penuh penekanan.

“Rendi jangan suruh Tara memegang u ang. Dia boros sekali,” ucap Mama mertua.

“Loh, aku membeli semua ini dengan uan gku sendiri, Ma. Suka-suka Tara mau beli apa saja yang Tara inginkan. Tanya Mas Rendi apa dia memberi aku u ang selama ini,” tukasku.