Posted in

Kau Rebut Kekasihku, Kunikahi Istrimu

Kau Rebut Kekasihku, Kunikahi Istrimu

Penulis Asli: ahnafkece-SKMM

Bab 1: Harga yang Harus Dibayar untuk Sebuah Pengkhianatan

“Aku seharusnya bersabar. Aku seharusnya percaya padanya dan menunggunya!” Lisa berteriak dalam hati. “Bodoh sekali aku meninggalkan dia yang old money demi pria ini! Demi pria yang bahkan tidak bisa melindungiku dari hinaan orang lain!”

Lisa menoleh ke Noah, yang masih diam seperti patung, tidak peduli pada isakan istrinya.

“Mas, kamu harus membalasnya! Kita harus balas dendam pada Aruna dan Bima!” desak Lisa, berusaha mengompori Noah, menggunakan logika dangkalnya. “Aruna hanya marah karena cemburu, Mas! Dia marah karena kamu meninggalkannya untuk bulan madu denganku! Dia ingin membuat kamu marah dan cemburu!”

Noah, dengan mata sayu, akhirnya mengeluarkan suara. Suaranya terdengar kering dan serak.

“Dia bukan marah karena cemburu, Lisa,” kata Noah, nyaris tanpa emosi. “Dia melakukan ini karena dia marah padaku karena aku sudah menamparnya. Aku yang salah. Dan sekarang, dia meninggalkanku karena aku telah berlaku kasar padanya.”

“Tapi kenapa, Mas? Kenapa hanya karena Mas menamparnya, dia langsung mengajukan cerai begitu saja! Dia pasti punya alasan lain, Mas. Aku yakin itu. Dan—”

“Aruna tidak punya alasan lain, Lisa,” potong Noah, nadanya tajam. “Dari awal menikah, dia selalu berkata, agar jangan pernah bertingkah kasar padanya. Itu mengingatkannya pada trauma yang dia derita selama dia kecil hingga dewasa karena ayah tirinya, selalu memukulnya dengan sabuk.”

Melihat nyali suaminya yang mulai menciut membuat Lisa kembali membujuk suaminya. “Mas, dengar aku. Aruna itu cinta mati sama kamu, dia hanya marah saja. Sedikit saja permohonan maaf darimu, dia pasti akan luluh dan mau kembali padamu. Kamu harus bergerak cepat sebelum Aruna dan Bima menikah!”

Noah tertawa, sebuah tawa kering yang menggema di dalam ruang tamu yang mewah namun terasa begitu dingin. Ia berbalik menatap Lisa, tatapan matanya tidak lagi menyiratkan kasih sayang, melainkan hanya ada keasingan dan penyesalan yang mendalam.

“Luluh?” gertak Noah, setiap kata yang keluar dari mulutnya bagai pisau yang menusuk keangkuhan Lisa. “Apakah kamu pikir Aruna adalah wanita dangkal seperti dirimu, Lisa? Dia menghargai harga dirinya lebih dari apa pun di dunia ini. Aku telah menyentuh batas suci yang paling dia benci. Dia tidak akan pernah kembali. Batang yang sudah patah tidak akan pernah bisa menyatu!”

Lisa tercengang. Wajahnya yang penuh dengan noda darah dan air mata tampak berkerut karena amarah dan rasa malu. Kenyataannya, dia sedang panik. Pria paruh baya yang berdiri di belakangnya—pria kaya dan berkuasa dengan kalung emas tebalnya—adalah saksi hidup dari kehancurannya saat ini. Pria itu berdiri di sana, menyunggingkan senyum sinis, menikmati drama keluarga murahan ini.

“Tapi Mas…” Lisa mencoba meraih lengan Noah dengan tangan gemetar. “Apakah kamu akan menyerah begitu saja? Bima… pria itu telah merebut segalanya darimu! Dia berani secara terang-terangan melindungi Aruna, berani menghina kita di depan banyak orang! Kamu adalah pria yang punya harga diri, kamu tidak bisa membiarkan mereka menginjak-injak kita seperti ini!”

Noah dengan kasar menghempaskan tangan Lisa. Ia berdiri seketika, merapikan kemeja biru tuanya yang sudah kusut. Tekanan dari calon mertuanya dan kebodohan Lisa membuatnya merasa tercekik.

“Cukup!” bentak Noah. “Siapa sebenarnya yang diinjak-injak di sini? Jika bukan karena keserakanmu, jika bukan karena mulutmu yang selalu menghasutku untuk membuktikan diri di depan Aruna, aku tidak akan kehilangan kendali hingga memukulnya! Kamulah yang telah menjerumuskanku ke dalam jurang ini!”

Pada saat itu, pria paruh baya berjas hitam yang berkuasa melangkah maju. Ia mengetukkan cincin emas besarnya ke sandaran sofa, memotong pertengkaran mereka.

“Sungguh sebuah drama yang menyentuh hati,” ucapnya dengan suara berat yang penuh ancaman. “Noah, kamu menikahi putriku dengan janji akan memberinya kehidupan yang bergelimang harta. Tapi lihat sekarang? Kamu hanyalah seorang pria yang tidak punya apa-apa lagi, diceraikan oleh mantan istrimu, dan ditekan oleh keluarga old money milik Bima hingga tidak bisa mengangkat kepala. Aku tidak sudi berinvestasi pada seorang pecundang.”

Lisa menatap ayahnya, lalu kembali menatap Noah. Ia menyadari posisinya telah berubah total. Noah bukan lagi pelampung keselamatan yang berkilau. Pria itu hanyalah sebuah bidak catur yang telah disudutkan oleh Aruna dan Bima ke ujung jalan kematian.

Di sudut ruangan, wanita yang mengenakan gaun hijau tua yang elegan—istri pertama sang mafia—tampak menutup mulutnya sambil tersenyum mengejek. Tatapan matanya yang tertuju pada Lisa penuh dengan penghinaan, seolah ingin berkata: “Kamu pikir kamu bisa memanjat kedudukan setinggi ini? Dasar anak haram murahan!”

Tiba-tiba, ponsel Noah bergetar. Itu adalah notifikasi dari pengacara pribadinya.

Pesan: “Mohon maaf Pak Noah, pihak kuasa hukum Ibu Aruna telah menyelesaikan berkas gugatan cerai sepihak dengan bukti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Di saat yang sama, korporasi milik Tuan Bima telah mengakuisisi 51% saham perusahaan Anda. Anda secara resmi dicopot dari jabatan direktur utama.”

Lutut Noah melemas dan ia langsung berlutut di lantai. Seluruh dunianya runtuh seketika. Ia telah kehilangan Aruna—wanita yang selalu berdiri diam di belakangnya, bertahan dan mendukungnya. Dan kini, ia juga kehilangan kariernya di tangan Bima, pria yang pernah bersumpah: “Kamu merebut mantan kekasihku (Lisa), maka aku akan menikahi istrimu (Aruna) dan mengambil semua hal yang kamu miliki.”

Menyaksikan hal itu, keserakahan dan keegoisan di dalam diri Lisa kembali bangkit. Dia tidak bisa hidup menderita. Jika Noah sudah hancur, dia harus mencari jalan keluar untuk dirinya sendiri.

“Mas…” Suara Lisa tiba-tiba berubah menjadi dingin, tidak ada lagi kelembutan di dalamnya. “Jika kamu sudah tidak berguna lagi seperti ini… maka pernikahan ini tidak ada artinya lagi. Aku tidak bisa hidup bersama seorang pecundang.”

Noah mendongak, menatap wanita yang membuatnya tega mengkhianati Aruna. Ia tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa kegilaan dari seorang pria yang baru menyadari harga mati yang harus dibayar atas sebuah pengkhianatan.

Bab 2: Abu dan Rencana Balas Dendam

“Apa katamu?” Noah merangkak bangkit, matanya yang memerah menatap tajam ke arah Lisa. “Tidak berguna? Pecundang? Berani-beraninya kamu mengucapkan kata-kata itu setelah semua yang telah kulakukan demi dirimu?!”

Tawanya langsung terhenti, digantikan oleh keheningan yang mencekam. Ia melangkah perlahan mendekati Lisa, yang kini mulai menyusut ketakutan di balik punggung ayahnya.

Pria paruh baya, sang mafia dengan kalung emas besar itu, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Ia hanya mencibir penuh hinaan. “Putriku benar, Noah. Kamu sudah tidak memiliki nilai guna lagi. Pria bernama Bima itu tidak hanya merebut Aruna, tapi juga menelan habis perusahaanmu. Dia telah menghancurkanmu, dan sekarang, dia menang. Sementara kamu… kamu hanyalah makhluk malang, puing-puing dari sebuah dinasti yang telah runtuh.”

“Semua ini… karena Anda!” Noah mendesis di sela-sela giginya, mengalihkan pandangannya pada pria itu. “Anda yang menghasutku untuk menggunakan perusahaan sebagai umpan agar Aruna kembali! Anda yang bilang bahwa dengan bantuan Anda, aku akan menang! Dan sekarang, Anda berdiri di sana menertawakan kekalahanku?!”

“Aku tidak pernah ‘menghasut’ siapa pun, Noah,” sang mafia tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggema di ruang tamu. “Kamu sendiri yang serakah. Kamu menginginkan segalanya: Aruna, Lisa, perusahaanmu, dan pengakuan dariku. Aku hanya memberimu sebuah alat. Kamu yang salah menggunakannya hingga senjata itu makan tuan. Itu salahmu sendiri. Kamu bertaruh… dan kamu kalah.”

Lisa, yang kini telah kembali menguasai dirinya, menatap Noah dengan pandangan jijik. “Aku salah karena mengira kamu adalah pria yang bisa melindungiku, Mas. Kamu hanya tahu cara menyakiti orang lain, dan saat semuanya berantakan, kamu hanya bisa menyalahkan orang lain. Aku tidak akan tinggal di sini untuk ikut menanggung kegagalanmu.”

Noah terpaku. Kata-kata Lisa bagai belati yang menghujam tepat di jantungnya. Ia menatap wanita yang dulu ia bela hingga tega mengkhianati Aruna, wanita yang ia kira adalah cinta sejatinya. Kini, wanita itu menatapnya seolah melihat makhluk asing yang menjijikkan.

Kemarahan dan keputusasaan di dalam diri Noah tiba-tiba berubah menjadi sebuah emosi yang sangat dingin dan kejam. “Lisa,” ucapnya dengan suara sedingin es. “Kamu ingin pergi? Aku tidak akan menahanmu. Tapi kamu tidak akan pergi sendirian.”

“Apa… apa yang mau kamu lakukan?” Lisa ketakutan, melangkah mundur.

Noah tersenyum, sebuah senyuman kelam yang penuh dengan niat jahat. Ia berbalik menatap sang mafia. “Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, Tua Bangka. Perusahaan sudah hilang, Aruna pun sudah pergi. Tapi aku masih memegang satu hal.”

“Apa itu?” Sang mafia mengernyitkan dahi.

“Sebuah cerita,” ujar Noah, suaranya menggema tegas. “Sebuah cerita tentang bagaimana seorang mafia properti, yang selalu membanggakan integritasnya di dunia bisnis, ternyata ikut terlibat dalam konspirasi busuk untuk merebut perusahaan orang lain. Sebuah cerita tentang bagaimana dia menjanjikan bantuan lalu berkhianat. Dan sebuah cerita tentang bagaimana putrinya… Lisa… menjadi bagian dari semua kebusukan ini.”

Sorot mata sang mafia seketika meredup dan menjadi sangat gelap. Ia tahu persis apa yang sedang diancamkan oleh Noah. Bantuan finansial dan taktik kotor yang ia berikan kepada Noah adalah rahasia hitam. Jika cerita ini sampai bocor ke publik atau ke telinga otoritas, reputasi dan seluruh bisnisnya akan hancur dalam semalam.

“Kau berani…” gertak sang mafia.

“Kenapa tidak?” Noah tersenyum menyeringai. “Aku sudah berada di dasar jurang. Bima dan Aruna mungkin mengira mereka telah menang, tapi mereka bukan satu-satunya yang harus membayar harga di sini. Kita semua… harus ikut menanggungnya.”

Lisa berdiri terpaku, tubuhnya gemetar karena syok. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Noah, yang dia kira hanyalah bidak catur tak berdaya yang bisa dibuang kapan saja, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang sangat mengerikan. Pria itu kini mengancam tidak hanya dirinya, melainkan juga ayahnya yang berkuasa.

Istri pertama yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan tiba-tiba meledak dalam tawa—sebuah tawa yang dingin dan penuh kepuasan. “Menarik sekali,” ucapnya, matanya menatap Noah dengan binar ketertarikan. “Sudah kubilang, gadis sialan ini tidak tahu dengan siapa dia bermain. Sekarang, dia telah menyeret kita semua ke dalam kubangan lumpur.”

“Cukup!” bentak sang mafia. Ia menatap Noah dengan pandangan penuh kebencian, namun di dalamnya juga terselip sedikit rasa hormat atas keberanian pria itu. “Kamu punya cerita yang bagus, Noah. Tapi aku punya kekuasaan. Aku tidak akan membiarkanmu membocorkan apa pun.”

“Aku juga tidak berniat membocorkannya ke publik,” sahut Noah, suaranya memenuhi ruang tamu yang mewah namun terasa mati itu. “Aku tidak butuh eksposur. Yang kuinginkan… adalah sebuah kesepakatan.”

“Kesepakatan apa?” tanya sang mafia sambil menyipitkan mata.

“Sebuah kesepakatan,” ulang Noah. “Aku tidak butuh lagi perusahaan itu. Aku juga tidak menginginkan Aruna kembali. Yang kuinginkan… hanyalah kehancuran total.”

“Kehancuran untuk siapa?” sang mafia bertanya kembali.

Noah tersenyum, sebuah senyuman yang begitu kelam dan sarat akan kekejaman. “Kehancuran untuk kita semua,” jawabnya. “Untuk Aruna. Untuk Bima. Untukmu, Lisa. Untuk Anda, sang mafia yang terhormat. Bahkan untuk istri pertama Anda. Untuk setiap orang yang telah membuat hidupku menjadi sehancur ini. Aku ingin kalian semua… merasakan penderitaan yang sama.”

Semua orang di ruang tamu itu seketika terbungkam. Noah, pria yang telah kehilangan segalanya, kini telah menjelma menjadi monster yang sesungguhnya. Dia tidak sedang mencari bantuan. Dia tidak sedang meminta belas kasihan. Dia hanya menginginkan… abu dari sebuah pembakaran.

“Dan aku sudah menyiapkan rencananya,” lanjut Noah, suaranya berbisik namun terdengar begitu nyata di dalam keheningan. “Sebuah rencana yang akan menghancurkan hidup kalian satu per satu. Sebuah rencana yang akan memastikan kalian membayar setiap tetes pengkhianatan, keserakan, dan keegoisan ini. Aku akan memastikan… kita semua berakhir menjadi abu.”