Posted in

SEORANG PUTRI YANG HIDUP DI ISTANA MEWAHMEMILIH MENINGGALKAN SEGALANYA.IA KEMBALI KE RUMAH REYOT ORANG TUA KANDUNGNYADENGAN HATI SUCI DAN PENUH CINTA.TAPI DI SANA,IA BUKAN DISAMBUT DENGAN PELUKAN,MELAINKAN DIHANCURKAN OLEH ORANG YANG DISEBUT KELUARGA.

Di dalam kamar mewah rumah keluarga Sito, Yuna berdiri di depan cermin besar sambil memegang sebuah amplop putih tebal. Tangannya sedikit gemetar. Di dalam amplop itu ada surat pengunduran diri dan semua perhiasan yang pernah diberikan keluarga Sito selama sepuluh tahun terakhir.

“Yuna… kamu yakin?” tanya Bi Sumi, pelayan setia yang sudah mengurusnya sejak kecil, suaranya parau.

Yuna tersenyum tipis, matanya yang indah penuh tekad. “Aku sudah berhutang nyawa sama orang tua kandungku, Bi. Mereka melahirkan aku. Kalau bukan karena mereka, aku mungkin sudah mati di panti asuhan. Keluarga Sito sudah sangat baik, tapi… darah lebih kental daripada air.”

Bi Sumi hanya bisa menangis diam-diam. Dia tahu betapa kejamnya dunia di luar sana, terutama bagi seorang gadis yang baru berusia 24 tahun.
Yuna memeluk Bi Sumi erat sebelum menarik koper kecilnya. Malam itu juga dia meninggalkan rumah besar keluarga Sito tanpa memberitahu Tuan dan Nyonya Sito. Hanya meninggalkan surat di meja makan.

Keesokan paginya, Yuna tiba di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Atapnya bocor di beberapa tempat, cat dinding mengelupas, dan halamannya penuh rumput liar. Tapi hatinya berbunga-bunga.
“Ini rumahku yang sebenarnya,” gumamnya pelan sambil tersenyum.

Seorang wanita paruh baya yang kurus membuka pintu. Matanya melebar melihat Yuna.
“Yuna…? Anakku Yuna?” suaranya bergetar.
“Ibu…” Yuna langsung memeluk wanita itu dengan air mata berlinang. “Aku pulang, Bu. Aku sudah tidak di keluarga Sito lagi. Aku mau membalas budi kalian.”

Ibu kandungnya, yang bernama Siti, menangis haru. Tak lama kemudian keluar seorang pria tua dengan wajah lelah — ayah kandung Yuna, Pak Joko. Mereka berdua memeluk Yuna seolah takut gadis itu hilang lagi.

Tapi di balik pintu kamar, seorang gadis cantik seusia Yuna berdiri diam sambil tersenyum sinis. Itu Rita — anak angkat yang sudah tinggal di rumah ini selama delapan tahun.

Malam pertama Yuna di rumah itu terasa hangat. Mereka makan malam bersama, meski makanannya sangat sederhana. Yuna menceritakan segala hal tentang hidupnya di keluarga Sito. Betapa kaya dan berpengaruhnya keluarga itu. Betapa dia dulu hidup seperti putri.
Rita mendengarkan sambil tersenyum manis. “Kak Yuna hebat sekali. Berani ninggalin kemewahan demi orang tua kandung.”

Yuna merasa tersentuh. “Kita keluarga sekarang, Rita. Aku akan kerja keras biar kita semua bisa hidup lebih baik.”

Tiga hari pertama berlalu dengan indah. Yuna membersihkan rumah, memasak, bahkan memberikan sebagian uang tabungannya untuk memperbaiki atap rumah. Ia rela tidur di kamar kecil yang lembab asal bisa dekat dengan orang tua kandungnya.

Namun pada hari keempat, segalanya mulai berubah.

Pagi itu Yuna bangun dan mendapati dompetnya kosong. Uang dua puluh juta yang ia bawa dari rumah Sito hilang. Ia panik mencari ke seluruh rumah.

“Ibu, Ayah… uangku hilang,” katanya dengan suara gemetar.

Siti dan Joko saling pandang. Rita langsung mendekat dengan wajah prihatin.
“Kak, jangan-jangan kamu lupa naruh di mana? Atau… mungkin ada orang luar masuk?”
Malam harinya, Yuna mendengar suara bisik-bisik dari kamar orang tuanya.

“Dia kan sudah biasa hidup mewah… pasti susah beradaptasi di sini,” kata Siti pelan.
“Dia bawa uang banyak, tapi sekarang bilang hilang. Apa dia bohong biar kita kasih dia uang?” balas Joko.

Yuna membeku di balik pintu. Air matanya jatuh tanpa suara.
Keesokan paginya, Rita mendekati Yuna dengan lembut.

“Kak, aku punya teman yang bisa kasih kerjaan di kafe. Gajinya lumayan. Mau coba?”
Yuna mengangguk. Ia butuh uang untuk membantu orang tuanya.

Tapi di kafe itu, Yuna tidak tahu bahwa Rita sudah menyebarkan gosip. Saat Yuna bekerja, beberapa karyawan lain berbisik-bisik:
“Dengar-dengar dia anak pungut dari keluarga kaya, tapi diusir karena nakal.”

“Katanya malah nyuri uang di rumah angkatnya.”
Yuna berusaha keras mengabaikan. Ia pulang setiap malam dengan tubuh lelah, tapi tetap tersenyum di depan orang tuanya.

Satu minggu kemudian, bencana besar datang.
Pak Joko tiba-tiba sakit parah. Harus masuk rumah sakit. Biaya operasi mencapai lima puluh juta. Yuna langsung menawarkan diri untuk menjual perhiasan terakhir yang ia bawa.
Tapi saat ia membuka kotak perhiasan, semuanya sudah kosong.

Rita berdiri di belakangnya dengan senyum dingin yang tidak terlihat oleh orang tua.
“Kak Yuna… kok perhiasannya hilang ya?” tanya Rita dengan suara polos.
Yuna berbalik, matanya memerah. “Rita… kamu yang ambil?”

Rita pura-pura terkejut. “Kak! Kok nuduh aku? Aku kan anak angkat di sini. Kakak yang baru datang malah dituduh.”

Malam itu, untuk pertama kalinya, Siti memandang Yuna dengan tatapan kecewa.

“Yuna… Ibu percaya kamu datang dengan niat baik. Tapi kalau kamu masih menyimpan sifat dari keluarga kaya itu, lebih baik kamu kembali saja.”
Yuna merasa dunia runtuh.

Di sudut ruangan, Rita tersenyum puas sambil memainkan kalung emas Yuna di tangannya.
Yuna mengepalkan tangan. Air matanya jatuh, tapi di dalam hatinya, sesuatu mulai membara.
“Aku meninggalkan segalanya untuk kalian… dan kalian memperlakukanku seperti ini?”

Malam itu, Yuna tidur dengan mata terbuka. Wajahnya yang cantik tampak dingin di bawah cahaya bulan yang masuk lewat celah atap bocor.
Ini baru permulaan.

@penggemar berat
Lanjut? Cek komentar