Posted in

SUAMIKU SELALU PULANG TENGAH MALAM

“Fat, bangun! Udah siang ini, kok belum bangun juga? Hani udah mau berangkat ke sekolah …!” Omelan Ibu yang terus menggedor pintu kamar membuat mataku mengerjap.

Aku menguap dan merentangkan kedua tangan. Kulihat ke sebelah. Bang Jamal sudah tidak ada lagi. Tapi aku sedikit senang bisa ditemani olehnya semalam. Entah itu mimpi atau tidak, semua terasa begitu nyata.

“Fat …!!” Lagi-lagi Ibu teriak.

Aku menyugar rambut dan membukakan pintu sedikit.

“Ada apa, Bu?” Aku masih malas-malasan.

“Hani mau ke sekolah tuh, kamu jam segini kok masih molor. Hidup terus berlanjut ada dia atau tidak!”

Aku menemui Hani yang tengah sarapan nasi tumpeng semalam.

“Bu, nasinya kok kayak basi gini, ya? Bau lagi,” keluhnya yang hanya menyuapi sesendok ke mulutnya.

“Itu bekas ayahmu,” jawabku asal sambil menggigit bibir.

Hani hanya mendelik. Aku langsung mengalihkan perhatiaannya.

“Makan nasi yang putih saja. Biar Ibu goreng telur dadar untukmu, ya.” Aku ke dapur menggoreng sebutir telur untuk Hani sarapan.

Aduh, hampir saja dia curiga. Kata bang Jamal jangan memberitahukan pada siapa-siapa tentang dia.

“Bu,” panggil Hani membawa piringnya.

Telur yang sudah matang kutaruh diatas piring. Kami kembali duduk di meja makan. Tak sengaja mataku tertuju pada bunga kantil di bawah kaki meja.

“Apa itu, Fat?” Ibu mengagetkan-ku.

Aku menunjukkan bunga kantil yang layu itu padanya.

“Astagfirullah …” mata Ibu terbelalak sambil membekap mulut. Aku dan Hani tercengang melihat ekspresinya.

“Buang jauh-jauh itu, Fatmi!” titah Ibu.

“Memangnya kenapa, Bu?”

“Cepat buang!” hardik Ibu.

Aku akhirnya membuang bunga itu asal ke halaman belakang dan kembali ke dalam. Dahi Ibu mengerut dan cemas. Ia mondar mandir.

“Ada apa, sih, Bu?”

“Sebaiknya kamu tinggal di rumah Ibu.”

“Aku gak mau, Bu. Lagian aku punya rumah.”

“Jangan keras kepala kamu, Fat!”

“Nek, ini rumah kami. Meski ayah udah ga ada, kami akan tetap tinggal di sini,” ucap Hani.

Ibu menghela napas dan meninggalkan kami. Hani pun berpamitan ke sekolah. Tinggal aku yang harus membereskan rumah dan mandi.

Aku sangat bersemangat pagi ini. Kuambil dompet dan berbelanja ke warung. Beberapa pasang mata menjadikan aku pusat perhatian. Aku jadi gugup karena terus diperhatikan.

“Eh, Fat. Dengar-dengar kamu hamil, ya?” seru salah seorang pelanggan lain.

“Iya, Bu,” jawabku sambil memilih sayur.

“Fat, kamu kan masih muda, mending digugurin aja.”

Yang lain mengiyakan ucapan wanita paruh baya itu. Dia memang terkenal biang gosip di kampung. Tapi tidak seharusnya ia bicara di depan semua orang begitu. Kucoba menahan amarah meski emosi sudah di ubun-ubun.

“Lagian, ayahnya sudah gak ada. Nanti dikira orang kamu gak bener,” celetuk yang lain.

Aku heran, kenapa pikiran orang-orang tentang janda yang ditinggal mati suaminya tengah berbadan dua menjadi stigma negatif di masyarakat.

“Mending kamu kerja, cari yang lain lagi. Hehehe …”

Aku berbalik badan kepada orang-orang yang menjadikan aku bahan olokkan mereka.

“Memang kenapa kalau aku hamil? Ini anak bang Jamal. Bukan anak orang lain! Lucu, ya, kalian sesama wanita harusnya berempati padaku, bukan malah mengejek.”

“Kami ga mengejekmu, Fat. Kami cuma ngasih sudut pandang. Kan untuk kamu juga. Tau sendiri kan kampung kita kayak gimana. Ada kabar begini langsung rame. Kehamilan kamu juga masih muda. Orang udah pasti nyangka kamu berbuat yang tidak-tidak kalau perut kamu itu akan semakin membesar nantinya.” Dia terus mencari pembenaran untuknya. Aku yang jadi cibiran orang banyak.

Semangatku langsung hilang seketika. Gegas kutinggalkan warung sayur itu dan pulang dengan kesal.

Kuatur napas sebisa mungkin. Kenapa sulit sekali tanpa suami? Semua yang terjadi padaku jadi pusat perhatian orang lain.

Sungguh, aku sudah berada di titik paling jenuh. Jiwaku terguncang menghadapi semua orang. Mungkin aku harus ke sana. Cuma bang Jamal yang bisa mengerti aku.

Tapi mulai dari mana? Setelah sampai di gunung itu. Lantas apa yang harus kulakukan?

Aku berganti pakaian dan mantap untuk ke gunung kila sebelum matahari tepat berada di atas kepala. Bermodalkan pakaian di badan, aku nekat meninggalkan rumah dan pergi ke gunung kila. Itu pun tanpa sepengetahuan ibu dan Hani.

Aku naik becak untuk sampai di pinggiran jalan yang ditumbuhi semak-semak belukar. Pinggiran yang menjadi dasar dari gunung tersebut.

Sunyi tak ada siapa pun. Hanya ada jalan setapak yang menjadi penghubung untuk mencapai ke atas sana. Peluh terus bercucuran. Tapi dorongan dalam hati supaya bertemu sang kekasih menjadi semangat tersendiri untukku.

Aku berjalan menyusuri jalan yang semakin keatas semakin curam. Haus dan keringnya tenggorokan membuat aku semakin tersengal. Yang terdengar di sekitar gunung hanyalah bunyi kicauan burung. Jujur, baru kali ini aku menaiki gunung yang terkenal akan keangkerannya.

Aku duduk diatas akar dari pohon besar sambil mengatur napas. Mengelap keringat yang terus membanjir.

“Kemana tujuanku selanjutnya?” gumamku sambil mengedarkan pandangan kesekeliling.

Kembali aku berjalan. Meski kaki sudah terasa pegal tak karuan. Jantung terus berpacu lebih cepat. Sampai aku lemas. Langit mulai berubah hitam pekat. Sepertinya akan turun hujan lebat. Aku juga tidak tahu tujuannya ke mana. Yang aku tahu, aku harus berjalan sampai menemukan sesuatu dari atas sana.

Gerimis halus dan semakin lama disertai hujan lebat. Suasana semakin gelap dan mencekam. Aku tak tahu harus berteduh di mana.

Air mata luruh, ada rasa ketakutan sambil memutar badan mencari tempat untuk beristirahat.

Tapi di ujung sana kulihat sebuah cahaya. Aku mempercepat langkah menembus derasnya hujan. Tak peduli kakiku tertusuk ranting. Meski terseok-seok aku terus memaksakan diri untuk mencapai cahaya itu. Aku yakin ada seseorang di sana.

Senyum semakin mengambang di wajah. Akhirnya aku sampai di depan sebuah gubuk reyot beratapkan daun rumbia. Pintunya yang terbuat dari bambu itu tertutup rapat. Aku berlari menuju gubuk itu.

“Permisi …” teriakku.

“Permisi … ada orang di dalam?” tanyaku lagi cukup keras.

Kreeeekk …
Pintu terbuka lebar tanpa ada orang yang menyambutku. Perlahan kakiku melangkah masuk dengan tubuh gemetar karena kedinginan.

Bugh!

Pintu tertutup dengan sendirinya. Tidak ada yang istimewa di dalam sana. Guci besar dan sebuah peti besar terletak di pojokan. Lampu dari obor-obor yang di pajang di sudut dinding membuat terang. Di dalam ada sebuah ruang yang disekat dinding berbahan pilah bambu.

Aroma menyan dan sesekali tercium aroma bunga kantil yang cukup mengganggu rongga hidungku dari dalam sana.

“Apa ada orang di dalam?” tanyaku lagi.

Bugh … bugh … bugh ….

Sontak aku kaget bukan kepalang. Peti besar itu seperti dipukul-pukul dari dalam. Walau takut, rasa penasaran yang berlebihan nyatanya mengalahkan ketakutan.

Peti itu terus dipukul semakin keras. Tanganku memegang atas peti itu. Lalu membukanya sedikit dan mengintip.

Huaaahh …
Tubuhku terpelanting ke dinding karena kaget. Ada sepasang manusia di dalam sana dengan wajah yang hancur tak berbentuk tapi matanya melotot merah. Tangannya berlipat ke dada.

Aku berusaha bangkit berlari menuju pintu bermaksud keluar dari sana. Namun, pintu itu seperti dikunci dari luar.

Peti terbuka sempurna. Satu tangan dengan kuku panjang hitam menjulur keluar. Tubuhku melorot ke bawah tak sadarkan diri.

Baca yuk di KBM aplikasi
Klik link berikut

Penulis Yus Yusni