Posted in

Mobil hitam itu melaju tenang mem be lah jalanan kota yang mulai padat.

Aku bersandar di kursi kulit yang em puk, mataku menatap kosong ke arah luar jendela.

Pemandangan perumahan e lit keluarga Pratama pen ja ra ber ke dok istana itu perlahan menghilang dari pandanganku, digantikan oleh jajaran gedung tinggi yang men ca kar langit.

Di sampingku, Mas Reyhan mengemudi dengan ra hang yang masih me nge ras.

Aku bisa merasakan ama rah nya yang tertahan melalui cara jemarinya men ceng ke ram kemudi.

“Kamu mau ke rumah sakit dulu, Lila? Pipimu le bam,” suara Mas Reyhan terdengar parau.

Aku me nyen tuh pipiku yang berdenyut perih. “Tidak perlu, Mas. Rasa sakit ini yang akan mengingatkanku kenapa aku harus berdiri tegak besok pagi. Kita langsung ke kantor saja.”

“Tapi kamu belum makan sejak semalam, kan?” po tong Mas Reyhan. “Mas sudah siapkan bubur ayam kesukaanmu di meja kerja. Dan draf kontrak Grand Jaya, Mas sudah tambahkan poin yang kamu minta semalam.”

Aku tersenyum. “Poin tentang pembatalan sepihak jika kontraktor memiliki catatan perilaku bu ruk?”

“Tepat,” jawabnya singkat namun penuh arti.

Setengah jam kemudian, mobil berhenti di sebuah bangunan ruko tiga lantai yang tampak modern dengan fasad kayu yang artistik.

Di depannya, sebuah papan nama kuningan yang elegan berkilau tertimpa cahaya matahari pagi.

DANIA DESIGN & INTERIOR STUDIO.

Inilah kantor yang dibangun Mas Reyhan selama satu tahun terakhir.

Kantor yang didirikan dari tetes keringatnya dan hasil paten material coating kayu anti-api buatanku.

Selama aku di sik sa di dapur mertuaku, Mas Reyhan bekerja bagai kuda di lapangan untuk mewujudkan mimpi yang kupikir sudah ma ti.

Aku melangkah masuk, lima orang staf kantor berdiri menyambutku dengan hormat yang tulus.

“Selamat pagi, Bu Lila,” sapa Anita, sekretarisku.

Aku mengangguk. “Pagi, Anita. Siapkan berkas PT Pratama Jaya untuk pertemuan besok. Saya mau lihat laporan ke ua ngan mereka yang terakhir.”

Aku masuk ke ruang kerjaku yang luas di lantai dua.

Di atas meja, tergeletak sebuah map biru. Aku membukanya perlahan, menatap profil perusahaan Mas Adrian.

“Kasihan sekali kamu, Mas,” gumamku sinis. Mataku membelalak saat membaca laporan ut ang perusahaan Mas Adrian yang ternyata sudah mencapai angka mi li a ran. “Ternyata PT Pratama Jaya hanya sebuah istana pasir yang sedang menunggu ombak besar untuk runtuh.”

Selama ini, Mas Adrian menutupi ke bu su kan fi nan si al perusahaannya dengan gaya hidup me wah.

Perhiasan yang ia be li kan untuk ibunya ternyata hanya kamuflase dari ua ng pin ja man yang menumpuk.

Proyek Hotel Grand Jaya adalah satu-satunya napas buatan untuknya. Dan untuk memenangkan itu, dia mutlak membutuhkan sertifikasi material eksklusif milik Dania Design. Milikku.

Mas Reyhan masuk membawa secangkir teh hangat. “Lila, Mas sudah cek jadwal. Besok jam sembilan pagi, Adrian Pratama akan datang ke sini. Dia mengira akan bertemu denganku, karena aku sengaja mencantumkan namaku di struktur awal.”

Aku menyesap teh itu, membiarkan kehangatannya mengalir ke da da ku yang mulai tenang. “Bagus. Biarkan dia tetap berpikir begitu. Aku ingin melihat wa jah nya saat ia menyadari bahwa pe la yan yang ia buang adalah satu-satunya orang yang memegang tali nya wa nya.”

“Lalu bagaimana dengan Risma?” tanya Mas Reyhan.

“Risma hanya pion, Mas. Dia pikir dia menang karena mendapatkan Adrian. Dia tidak tahu kalau dia sebenarnya sedang me me luk bo m waktu yang siap meledak di pe lu kan nya,” jawabku dingin.

Sore itu, aku benar-benar me man ja kan diri.

Aku pergi ke salon, membiarkan rambut dan kulitku dirawat setelah dua tahun terabaikan. Aku membeli setelan blazer berwarna navy yang membalut tu buh ku dengan sempurna.

Saat malam tiba, aku berdiri di balkon kantor.

Aku mengeluarkan ponsel, menatap nomor Adrian yang masih tersimpan. Ada satu pesan masuk darinya yang dikirim setengah jam lalu.

[Lila, jangan berani-berani kamu bicara ke orang-orang soal rahasia itu! Kalau kamu sampai buka mu lut, aku akan laporkan kakakmu ke polisi atas tuduhan pen cu ri an material di gudang kantorku dulu! Cam kan itu!]

Aku tertawa, Adrian benar-benar bo doh. Dia bahkan tidak tahu bahwa material di gudangnya dulu adalah sampel gagal yang sengaja kutinggalkan sebagai jebakan untuk menutupi riset asliku.

Aku tidak membalas.

Tanpa ragu, aku me ma ti kan ponsel itu dan melem par nya ke dalam tong sam pah. Ponsel retak itu adalah simbol masa laluku yang hancur. Besok, aku akan lahir kembali.

“Besok adalah hari pem ba lasan, Mas Adrian,” bisikku pada gelapnya malam. “Kamu meng hi na ku karena har ta. Kamu men ce rai kan ku karena menganggapku beban. Maka besok, aku akan membiarkanmu melihat bagaimana rasanya kehilangan segalanya di tangan orang yang paling kamu ben ci.”

Keesokan paginya, pu kul 08.45 WIB.

Sebuah mobil sedan putih milik Adrian berhenti di depan kantor.

Aku menatap dari balik kaca gelap lantai atas. Mas Adrian ke luar dengan langkah ang kuh, merapikan dasinya sambil tersenyum pada Risma yang menemaninya.

“Lihat kantor ini, Risma. Berkelas sekali. Kalau kita bisa kerja sama dengan mereka, pernikahan kita bulan depan akan jadi pesta paling me wah di kota ini!” suaranya sayup-sayup terdengar bangga.

Adrian melangkah masuk ke lobi dengan da da mem bu sung.

Dia sama sekali tidak tahu, bahwa di atas sini, aku sedang menantinya dengan vo nis ke han cu ran.

“Permainan dimulai, Adrian. Mari kita lihat seberapa tinggi kepalamu bisa menengadah sebelum aku paksa menunduk.”

Bersambung ….

Bab 7

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App

Judul : Ku be li Hi na an mu, Mas
Penulis: Ratna