Posted in

Suamiku pura-pura m!skin dan lvmpvh selama ini. Sampai aku mengantar pizza ke sebuah rumah mewah, dan di sana, aku mendengar dia tertawa— “Gue yang menang taru-hannya ya!”

“Mas, tolong masak nasi ya. Setelah mengantar pesanan terakhir ini, aku pulang,” ucapku seraya menjepit ponsel di antara bahu dan telinga, sementara tanganku masih sibuk mengikat kotak pesanan terakhir malam ini.

Hujan sudah turun sejak satu jam lalu. Jalanan licin, jaketku setengah basah, dan perutku kosong karena belum sempat makan sejak siang.

Di seberang sana, suamiku tidak langsung menjawab.

“Mas?” Aku mengulang, sedikit lebih keras.

“Aku lagi di luar,” jawabnya akhirnya, suaranya terdengar datar, tanpa beban. “Nggak bisa masak.”

Aku berhenti bergerak.

“Di luar? Bukannya tadi kamu bilang di rumah?”

“Iya… tadi. Sekarang keluar bentar.” Nada bicaranya berubah cepat, seperti orang yang malas menjelaskan.

“Ya sudah, nggak apa-apa. Nanti aku yang masak. Aku sudah beli bakakak ayam. Kita makan bareng di rumah, ya? Hari ini—”

“Listrik ma-ti.” Kalimat itu memotong ucapanku begitu saja.

Aku mengerjap.

“Hah?”

“Token listrik habis. Beras juga habis. Mau masak apa?”

Aku menghela napas pelan. Entah kenapa, rasanya seperti ada yang jatuh pelan di dalam da-da.

“Ya sudah, nanti aku isi token kalau sudah pulang.”

“Jangan nanti. Gelap ini.” Nada suaranya berubah jadi sedikit mendesak. “Tran-sfer saja sekarang. Biar aku beli sekalian.”

Aku diam sebentar. Lalu tanganku membuka aplikasi mobile banking. Sudah jadi kebiasaan. Setiap kali dia bilang butuh sesuatu, aku langsung kirim.

Tanpa banyak pikir, aku bertanya, “Berapa?”

“Seratus lima puluh.”

“Ya sudah, tunggu.”

Jempolku bergerak cepat. Ini adalah uwang yang kudapatkan setelah semalaman ini mengantar pesanan makanan. Kali ini harus kurelakan kembali sal-do di reke-ningku untuk kebutuhan rumah.

“Sudah aku tran-sfer,” kataku setelah notifikasi muncul. Kulihat sal-do terakhir hanya tinggal beberapa rupiah saja.

“Hmm.”

Hanya itu. Tidak ada ucapan terima kasih.

“Mas… Aku nanti bawa ayam, ya. Kita makan bareng. Sekalian ngerayain kecil-kecilan.”

“Rayain apa?”

Aku terdiam sepersekian detik.

“Ulang tahunku,” jawabku pelan.

Sunyi. Hanya suara di ujung sana yang terdengar samar.

“Oh.”

Satu kata. Seolah tidak ada arti apa-apa. Dadaku seperti dir-emas pelan.

“Ya sudah. Cepat pulang saja. Jangan lama-lama,” lanjutnya, lalu sambungan terputus.
Tut.

Aku menurunkan ponsel perlahan. Beberapa detik, aku hanya berdiri diam di pinggir jalan, membiarkan hujan menetes di ujung helmku.

Aku tidak tahu kenapa, tapi setelah setahun terakhir ini, aku merasa lelah. Ada banyak hal yang kukorbankan dalam hidupku karena pernikahan ini. Pernikahan karena kecelakaan.

Notif dari aplikasi memecah lamunanku.

[Pesanannya cepat antarkan! Atau saya batalkan sekarang!]

Aku menghela napas, lalu menarik jaket lebih rapat. Lokasinya cukup jauh dari sini. Sebuah perumahan elit.

Motor tua yang kupakai meraung pelan saat aku menyalakannya.

Air hujan membelah jalan, lampu-lampu kendaraan memantul di aspal basah.

Di dalam tas delivery-ku, empat kotak pizza dan sepuluh botol minuman bersoda, juga ayam bakakak yang kubeli tadi masih hangat.

Aku membayangkan setelah pulang, aku dan suamiku duduk di teras, makan berdua, tertawa bahagia. Meskipun di hatiku belum ada rasa cinta tapi aku berusaha membuatnya merasa dihargai.

Perjalanan hampir tiga puluh menit. Ketika sampai, aku sempat memastikan alamatnya dua kali.

Rumah itu besar dan mewah. Pagar tinggi, lampu taman terang, dan mobil-mobil sport terparkir rapi di halaman.

Aku reflek berdecak kagum.

“Alamatnya benar..” gumamku. Aku melihat ulang aplikasi.

Belum sempat aku turun dari motor, seorang satpam menghampiri.

“Mbak, yang mau antar pesanan, ya?”

“Iya, Pak.”

“Masuk saja. Yang pesan ada di dalam. Bay-arnya cash.”

Aku mengangguk pelan.

“Masuk ke dalam, Pak?”

“Iya. Silakan.”

Gerbang terbuka.

Aku mendorong motorku masuk dengan hati-hati. Kuparkir dekat pos satpam. Lalu berjalan melewati taman yang luas. Sepatu yang kupakai sudah basah, langkahku terasa berat saat menapak lantai marmer yang licin.

Dari dalam rumah, terdengar suara musik dan tawa. Dan percakapan yang terpotong-potong.
Aku berdiri di depan pintu, ragu untuk mengetuk.

“Permisi…” suaraku pelan.

Tidak ada jawaban.

Aku mengetuk lagi, sedikit lebih keras.

“Permisi…”

Pintu tidak terkunci dan sedikit terbuka. Aku mendorongnya perlahan. Dan suara dari dalam langsung menyambarku.

“…gue bilang juga apa, dia bakal percaya!”

“Tuh kan, setahun lebih lo bisa mainin dia.”

“Tapi serius sih, lo niat banget pura-pura misk-in.”

Tawa pecah.

Aku membeku di tempat. Tanganku erat memegang kotak pizza. Jantungku mulai berdetak lebih cepat, entah kenapa.

“…ya gimana, taru-han itu nggak bisa setengah-setengah.”

Suara itu. Aku kenal suara itu.

“…terus sekarang gimana? Mau lo tinggalin atau lanjut?”

“Liat nanti lah. Gue masih belum pu-as ‘mainin’ dia.”

“Awas lu jatuh cinta.”

“Dih, amit-amit!”

Aku melangkah masuk tanpa sadar. Satu langkah. Dua langkah. Dan ketika aku sampai di ruang tengah, semua suara tiba-tiba seperti berhenti.

“Kurir ya? Gimana sih main masuk-masuk aja. Nggak sopan banget!” sentak seorang perempuan di antara mereka.

“Maaf, tadi saya sudah panggil-panggil tapi tidak ada yang menjawab. Jadi terpaksa saya masuk.” Aku menjelaskan agar tak dituduh macam-macam.

“Alasan!” Perempuan tadi mendecih tak percaya.

“Ini pesanan pizzanya, Kak. Pembay-arannya mau cash?” Aku tak mau berbasa-basi lagi.

“Sayaaang, ba-yarin pesananku!” pekiknya seraya mengambil kasar plastik berisi pizza dan minuman dari kedua tanganku.

“Berapa total pesanannya?” sahut seorang laki-laki yang kukenal baik suaranya.

Mataku langsung menangkap sosok itu. Dia duduk di sana sedang mengambil d0mpet dari saku celananya. Pakaiannya rapi dan terlihat mahal. Wajahnya tampan, tidak kuyu dan terlihat lemah seperti yang biasa kulihat. Dan tak ada kursi roda di sisinya. Kursi roda yang selama setahun ini tak pernah lepas darinya.

“Elvan?” gumamku tak percaya.

Lelaki itu juga melihatku. Aku melihat ekspresi terkejut di wajahnya.

“Mas Elvan…” Suaraku nyaris tidak terdengar.
Ruangan mendadak sunyi.

Semua mata tertuju padaku.

Lalu seseorang tiba-tiba tertawa.

“Wah… jadi kamu Nayanika?” tanya perempuan tadi memastikan. “Baru setahun nggak ketemu, aku sampai nggak ngenalin kamu,” lanjutnya lagi.

Aku menatap perempuan di depanku yang tadi merebut kotak pizza dengan ka-sar dari tanganku. Setelah kuteliti perempuan berwajah menor itu adalah Lyona, pesaingku saat di kampus dulu.

Apa hubungan Elvan dan Lyona?

Siapa sebenarnya Elvan?

Mendadak kepalaku berputar pening.

*

Baru mulai udah seruuu 

🔥

Lanjuuut??

Judul: SUAMIKU PURA-PURA M!SKIN
Penulis: Nisrina Nafisah

Baca marathon GRAT1S part1-10 tinggal klik l1nk di kolom komentar