Posted in

DIUSIR SEPERTI SAMPAH DARI RUMAH SENDIRI, AKU TERTAWA SAAT MENDATANGI TANAH YANG DIWA RISKAN BAPAK KEPADAKU TERNYATA ….

“Nduk, ayo kita pulang. Sepertinya hujan akan turun, lihat anginnya semakin kencang.”

Bi Nilam, adik dari almarhum Bapak berusaha menarik lenganku pelan. Padahal aku masih betah duduk di dekat pusara Bapak.

“Sebentar, Bi. Sebentar lagi. Aku masih ingin di sini,” lirihku pelan.

Kusapukan pandangan ke arah pemakaman. Beberapa pelayat berangsur pulang. Beberapa orang menghampiriku, mengucapkan bela sungkawa yang menurutku tidak perlu. Andai mereka tahu, untaian kata mereka justru membuat pertahananku perlahan runtuh.

“Ra, ayo. Biarkan Bapakmu beristirahat,” sambung Bi Nilam.

“Ayo, Mbak. Kita pulang. Banyak yang harus kita urus.”

Nadya, adikku satu-satunya tiba-tiba datang dan menarik lenganku.

“Mau ngapain, Nad?”

“Urus penju alan rumah, Mbak. Secepatnya diurus lebih bagus kan? Rumah itu terlalu me wah buat kita berdua. Paj aknya m ahal, biaya perawatannya besar. Lebih bagus kita ju al, lalu ua ngnya kita bagi dua, Mbak,” jawab Nadya tanpa ragu.

Cepet-cepat aku menahan langkah dan menarik lengannya. “Kamu g ila, Nad? Baru empat jam yang lalu Bapak berpulang, dan sekarang kamu sudah mau menj ual rumah?”

Nadya menatapku dengan pandangan jengah. “Mbak, ayolah. Aku hanya berusaha realistis. Kalau ujung-ujungnya bakalan diju al, kenapa harus nunda-nunda? Mumpung keluarga lagi pada kumpul semua. Aku tadi juga udah telfon Om Surya.”

“Apa? Kamu beneran sudah g ila ya, Nad?”

“Sudah, Nduk. Sudah. Jangan ribut. Malu dilihat orang,” bisik Bi Nilam berusaha melerai kami. “Ayo kita pulang dulu, nanti kita bicarakan di rumah.”

Suasana hening sejenak. Angin sore kembali berhembus kencang, membawa bau tanah basah dari pusara Bapak. Aku memutuskan untuk berjalan menuju mobil, begitu pun dengan Nadya dan Bi Nilam. Hanya saja selama perjalanan kami hanya berteman sunyi.

•••

Rumah masih ramai oleh beberapa keluarga yang datang. Bahkan ada tetangga yang masih asyik bercengkrama di teras seolah apa yang baru saja terjadi bukanlah kehilangan yang berarti.

Mataku sembab, tapi aku paksakan untuk membasuh cangkir kotor bekas kopi yang tadi dihidangkan untuk para pelayat.

“Mbak, ayolah. Kita kumpul dulu. Itu mumpung Paman dan Bibi masih ada. Kita utarakan niat kita untuk menju al rumah ini agar tidak terjadi kesalah pahaman.”

Nadya tiba-tiba muncul di belakang. Aku hanya menembuskan napas pelan, berusaha meredam emosi atas tingkahnya.

“Nad, bisakah masalah ini kita urus nanti? Aku masih di masa berkabung, dan aku juga sama sekali tak ada niat menj ual rumah ini. Tempat ini menyimpan banyak kenangan, Nad.”

“Ya elah, Mbak. Kita nggak bisa hidup cuma modal kenangan. Lagian mending kita bagi dua, Mbak. Mbak bisa buat modal usaha katering, aku melanjutkan kuliah di luar negeri,” ujar Nadya antusias.

“Nduk, ada Pak Surya di depan,” kata Bi Nilam yang tiba-tiba datang ke dapur.

“Nah, ayo, Mbak. Kata Om Surya Bapak sempat nulis wasiat, mumpung semua keluarga masih di sini, biar jadi saksi.”

Nadya menarik tanganku yang masih basah. Aku tak berkata apa-apa lagi selain diam mengikuti langkahnya. Di ruang keluarga, sudah duduk Om Surya, notaris keluarga serta sahabat lama almarhum Bapak.

Om Surya membuka tas hitam, dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat. Ia membetulkan letak kacamatanya, dan mulai membacakan surat wasiat.

“Sesuai amanah orang tua kalian, malam ini saya akan membacakan surat wasiat yang dibuat oleh Almarhum Bapak Sanjaya dua bulan yang lalu. Harap semua tenang ya.”

Suasana hening seketika. Aku hanya menunduk tanpa antusias. Hanya saja, hatiku sedikit tenang, saat Rangga; tunanganku masuk dan duduk di sebelahku.

“Pertama, u ang tu nai yang ada dalam reke ning bersama akan dibagi rata kepada kedua putri Pak Sanjaya, yaitu Rania dan Nadya. Namun hanya bisa dicairkan setelah enam bulan terhitung sejak surat wasiat ini dibacakan.”

Nadya tampak bernapas lega. Bahkan sempat kulihat senyum terpatri di b ibirnya.

“Selanjutnya, mengenai aset properti almarhum, rumah besar yang ditempati keluarga ini, beserta seluruh isinya, akan diberikan kepada putri kedua, yaitu Nona Nadya Sanjaya.”

Ruangan mendadak riuh dengan bisik-bisik yang terdengar jelas. Aku hanya mengangkat wajah sebentar, lagi-lagi tak berantusias sama sekali.

“Harusnya Rania yang dapat, dia anak tertua dan sebentar lagi menikah.”

“Kok bisa Nadya yang dapat rumah utama, jadi si Rania dapat apa?”

Om Surya buru-buru menginterupsi dan melanjutkan bacaan. “Adapun aset properti almarhum yang lain, berupa tanah kosong seluas lima hektar di Desa Cigelung, berikut gubuk di atasnya, akan diwariskan kepada putri sulung, Nona Rania Sanjaya.”

“Tanah di desa? Yang tandus itu? Astaga. Nggak sebanding banget dengan rumah ini.”

“Kasihan Rania, padahal selama ini dia yang mengurus Sanjaya. Bisa-bisanya dapat tanah di pelosok yang mungkin nggak bernilai.”

“Dasar Sanjaya. Nggak adil banget dengan anaknya.”

Kembali kasak kusuk terdengar di ruang keluarga. Aku sama sekali tak berniat untuk merespon. Aku terlalu lelah, dan terpu kul.

Nadya melompat kegirangan. “Terima kasih, Bapak.” Kemudian dia berjalan mendekati aku.

“Maaf ya, Mbak. Aku sama sekali nggak menyangka Bapak justru memberikan rumah ini untukku. Harusnya tadi Mbak setuju saat aku bilang sebaiknya kita menjual rumah ini, tapi sayangnya, sekarang rumah ini milikku, Mbak. Milikku. Mbak dapat tanah kosong berlumut di desa, sedangkan aku dapat rumah mewah yang bisa kujual dengan har ga mily aran ru piah.”

Om Surya menyudahi kewajibannya dengan membereskan surat-surat dan menatanya kembali ke dalam tas. “Itulah amanah orang tua kalian. Saya hanya menyampaikan, dan saya harap tidak menjadi masalah di kemudian hari. Kalau begitu saya permisi.”

Aku duduk membeku, menahan sakit kepala yang mendadak menyergapku. Meski tak sepenuhnya sadar, hatiku sakit. Kenapa Bapak tega? Padahal aku yang mengurus Bapak selama Bapak sakit. Aku tidak pernah melewatkan hari tanpa bercengkrama dengan Bapak. Tapi … apa ini?

“Ra, dengarkan aku.” Suara Rangga memecah lamunanku. “Aku … nggak bisa, Ra. Rencana kita adalah menikah dan memulai hidup baru yang mapan. Bahkan Bapakmu bilang akan memberikan aku modal bisnis. Tapi sekarang ….”

Rangga menatapku, kemudian menatap Nadya bergantian.

“Aku nggak bisa membangun masa depan denganmu di tengah lumpur desa itu, Ra. Itu sama sekali bukan masa depan yang aku impikan.”

Aku mendadak membeku. Berusaha mencerna kata demi kata yang terucap dari mulut Rangga. Tapi aku bisa menyimpulkan, selama ini Rangga tak sungguh-sungguh mencintaiku. Rangga hanya mencintai warisan Bapak.

“Maksudmu apa?” tanyaku memastikan.

Kulihat Rangga menarik napas pelan. “Maafkan aku, Ra. Sepertinya aku tidak bisa meneruskan pertunangan ini. Kamu sekarang sudah mis kin, Ra.”