Ayahku dan istri barunya—Tante Rina—bahkan belum genap satu bulan menikah.
Tetapi di tengah makan malam…
dia sudah mengajukan permintaan itu.
Tante Rina meletakkan sepotong semur daging ke piring Ayah sambil tersenyum manis.
“Gerry, minggu depan Jojo datang dari Surabaya,” katanya lembut. “Sejak kecil dia belum pernah tinggal di rumah bagus… aku kepikiran… mungkin kamar Hannah yang di sebelah master bedroom bisa dipakai dulu untuk dia?”
Tanganku langsung berhenti di udara.
Kamar itu…
dirancang sendiri oleh Ibuku sebelum meninggal.
Tirai merah muda.
Rak buku putih.
Dan di dekat jendela ada kasur kecil yang dijahit sendiri oleh Ibu untukku.
Setiap sudut ruangan itu adalah kenangan.
Aku diam.
Ayah juga diam.
Tante Rina tersenyum tipis lalu melanjutkan,
“Hannah kan sudah besar. Gudang di lantai tiga dibersihkan sedikit juga bisa dipakai tidur. Jojo laki-laki, dia butuh kamar yang layak.”
Gudang.
Dia ingin memindahkanku ke gudang.
Aku perlahan menaruh sendok dan menatap Ayah.
Tetapi Ayah tetap makan tenang seolah tidak mendengar apa pun.
Malam itu aku tidak melanjutkan makan.
Aku kembali ke kamar, duduk di dekat jendela, menyentuh kasur buatan Ibu…
dan tidak tidur sampai pagi.
Keesokan harinya, saat turun ke ruang tamu…
ada sebuah map di atas meja.
Ayah duduk di sofa sambil merokok.
Asbak di depannya penuh puntung rokok.
“Hannah, sini.”
Aku mendekat.
Ia mendorong map itu ke arahku.
Dokumen sertifikat rumah.
Rumah mewah senilai Rp21 miliar itu…
sudah atas namaku.
“Mulai hari ini rumah ini milikmu,” kata Ayah tenang. “Tidak ada yang boleh menyentuh barang-barangmu.”
Dari dapur terdengar suara Tante Rina memasak.
Aku tidak tahu apakah dia mendengarnya.
Tetapi pesan Ayah sangat jelas:
Di rumah ini…
aku yang punya keputusan terakhir.
Saat Tante Rina keluar membawa makanan dan melihat map itu, senyumnya langsung membeku.
“Gerry… ini apa?”
“Rumah Hannah,” jawab Ayah singkat. “Jangan ulangi pembicaraan tadi malam.”
Ekspresi Tante Rina berubah sesaat sebelum akhirnya memaksakan senyum.
“Aduh, aku cuma ngomong begitu saja kok… serius amat.”
Ia kembali ke dapur.
Tetapi aku sempat melihat tangannya mengepal kuat di balik celemek.
Malam itu, sebelum tidur…
aku mendengar suara Tante Rina berbicara pelan lewat telepon di dapur.
“…Tenang aja. Anak itu nggak bakal bisa ngapa-ngapain…”
Aku mengunci pintu kamar perlahan.
Dan untuk pertama kalinya…
aku mulai merasa rumah ini tidak lagi aman.
Tiga hari kemudian, Jojo datang lebih cepat dari rencana.
Tanpa pemberitahuan.
Saat aku pulang kuliah, seorang pria asing sudah duduk di sofa ruang tamu.
Umurnya sekitar dua puluh enam tahun.
Memakai jersey basket.
Kakinya naik ke sofa kulit favorit Ibuku sambil bermain game di ponsel.
Sepatunya masih dipakai.
Aku berhenti di depan pintu.
“Sapatu.”
Jojo mengangkat kepala perlahan.
“Hah?”
“Sepatumu di atas sofa.”
Dia tertawa mengejek tetapi tidak menurunkan kaki.
“Oh, maaf ya. Kebiasaan.”
Tante Rina langsung keluar dari dapur sambil tersenyum.
“Jojo, turunkan kaki kamu. Hannah, maaf ya, Kakakmu capek perjalanan.”
Aku tidak menjawab dan langsung naik ke atas.
Tetapi saat di tangga…
aku mendengar Jojo berbisik:
“Rumah sebesar ini cuma ditempati anak itu doang? Sayang banget.”
Tante Rina menjawab pelan,
“Pelan suaramu.”
“Kenapa? Bukannya rumah ini punya Om Gerry?”
“Sekarang atas nama Hannah.”
Dua detik hening.
Lalu suara Jojo meninggi.
“APA?!”
Aku masuk kamar dan langsung mengunci pintu.
Hari ketiga tinggal di rumah, Jojo mulai membawa teman-temannya.
Mereka merokok di ruang tamu.
Minum bir.
Main kartu.
Asap rokok memenuhi rumah.
Anggrek peninggalan Ibuku didorong ke pojok dan dijadikan tempat menaruh bungkus rokok.
Aku berdiri mematung di depan pintu.
Jojo melambaikan tangan seenaknya.
“Hannah! Ambilin minum dong!”
Temannya yang botak menatapku sambil tersenyum nakal.
“Cantik juga adik lu.”
Aku berjalan ke meja.
Mengambil bungkus rokok dari atas pot anggrek.
Lalu membawa tanaman itu ke lantai atas tanpa mengatakan apa pun.
Di belakangku terdengar suara tawa.
“Mukanya galak juga tuh anak.”
Malam itu aku menelepon Ayah.
“Pa… pulang cepat ya.”
“Ada masalah?”
Aku diam beberapa detik.
“Nggak.”
Tetapi Ayah tetap pulang lebih awal.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Tante Rina—
Ayah benar-benar melihat apa yang sedang terjadi di rumah kami.
Saat makan malam, Tante Rina mulai lagi.
“Gerry… kasihan Jojo. Mungkin kamu bisa kasih dia kerja di perusahaan?”
Ayah diam lama.
Lalu menjawab singkat,
“Nanti dibahas.”
Tante Rina tersenyum manis.
“Dia kan sekarang juga anak kamu…”
Ayah langsung mengangkat kepala.
“Bukan.”
Suasana meja makan langsung membeku.
“Marga dia bukan Santiago.”
Tidak ada yang berani bicara setelah itu.
Tetapi semuanya benar-benar berubah seminggu kemudian.
Aku pulang kuliah lebih cepat.
Dan menemukan pintu kamarku terbuka.
Lemari berantakan.
Laci terbuka.
Kotak perhiasan Ibuku kosong.
Di tengah kamar…
Jojo sedang berdiri sambil memegang kalung terakhir peninggalan Ibuku.
“Bagus juga ini,” katanya santai.
Darahku langsung mendidih.
“Itu punya Ibuku.”
Jojo malah tersenyum mengejek.
“Sekarang kan semua di rumah ini keluarga.”
Aku berjalan mendekat dan merebut kalung itu dari tangannya.
Dia langsung mencengkeram pergelangan tanganku keras.
“Galak banget sih?”
Dan saat itulah—
suara berat Ayah terdengar dari pintu.
“Lepaskan tangan anak saya.”
Jojo langsung membeku.
Di belakang Ayah…
ada dua pria bersetelan jas hitam.
Pengacara keluarga kami.
Wajah Tante Rina langsung pucat.
Ayah masuk perlahan ke kamar.
Tatapannya dingin sekali.
“Aku sudah cukup diam.”
Ia melempar sebuah map ke atas tempat tidur.
Foto-foto.
Rekaman CCTV.
Dan bukti transfer uang.
Ternyata selama ini Tante Rina diam-diam memakai kartu tambahan Ayah untuk membayar utang Jojo.
Jumlahnya hampir Rp4 miliar.
Tubuh Jojo langsung lemas.
Tante Rina mulai menangis.
“Gerry, aku bisa jelasin—”
“Tidak perlu.”
Suara Ayah tenang.
Tetapi jauh lebih menakutkan daripada teriakan.
“Kalian pergi malam ini juga.”
“Tapi—”
“Aku sudah siapkan mobil untuk mengantar kalian.”
Tante Rina menangis histeris.
Jojo mencoba marah.
Tetapi tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan.
Karena untuk pertama kalinya…
mereka sadar bahwa rumah ini tidak pernah benar-benar menjadi milik mereka.
Saat koper mereka dibawa keluar malam itu, aku berdiri di balkon kamar sambil memegang kalung Ibuku erat.
Dan di bawah sana…
Tante Rina menoleh ke arah rumah dengan wajah penuh kebencian.
Tetapi Ayah bahkan tidak melihat ke arahnya lagi.
Ia hanya berdiri di sampingku setelah mobil pergi.
Lalu berkata pelan,
“Maaf karena Ayah terlambat sadar.”
Aku menatap kamar yang dulu dibuat Ibuku untukku.
Masih sama.
Masih utuh.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya setelah Ibu meninggal—
rumah itu terasa menjadi rumahku lagi.

Malam setelah Tante Rina dan Jojo pergi…
rumah itu terasa sangat sunyi.
Tidak ada lagi suara tawa kasar dari ruang tamu.
Tidak ada asap rokok.
Tidak ada langkah kaki orang asing yang membuatku merasa seperti tamu di rumah sendiri.
Hanya ada suara angin malam…
dan aroma samar bunga melati dari taman yang dulu dirawat Ibu.
Aku duduk di lantai kamar sambil memegang kalung peninggalan Ibu.
Dan untuk pertama kalinya sejak beliau meninggal…
aku menangis sejadi-jadinya.
Bukan karena takut.
Tetapi karena lelah.
Lelah berpura-pura kuat.
Lelah menjaga rumah ini sendirian.
Lelah menahan marah setiap kali orang lain mencoba menghapus kenangan tentang Ibu sedikit demi sedikit.
Tiba-tiba pintu kamarku diketuk pelan.
Ayah masuk membawa dua cangkir cokelat hangat.
Sama seperti yang dulu selalu dibuat Ibu saat aku sedih.
Ayah duduk di sampingku tanpa bicara.
Rambutnya sudah jauh lebih putih dibanding tiga tahun lalu.
Dan malam itu…
ia terlihat sangat tua.
“Ayah gagal menjaga rumah ini,” katanya pelan.
Aku langsung menggeleng.
“Tapi Ayah akhirnya melindungiku.”
Ia tersenyum tipis, tetapi matanya memerah.
“Ayah cuma takut…” suaranya serak. “Setelah Ibumu pergi, Ayah pikir kalau menikah lagi mungkin rumah ini tidak akan terasa kosong.”
Aku diam mendengarkan.
“Tapi ternyata…” ia menatap sekeliling kamar. “Orang yang salah bisa membuat rumah terasa lebih sepi daripada saat sendirian.”
Dadaku langsung sesak.
Karena aku tahu…
selama ini Ayah juga sama kesepiannya denganku.
Malam itu kami duduk lama di dekat jendela.
Tanpa pertengkaran.
Tanpa suara orang lain.
Hanya ayah dan anak yang sama-sama kehilangan seseorang yang paling mereka cintai.
Beberapa minggu kemudian…
pengacara keluarga datang membawa kabar baru.
Ternyata sebelum meninggal, Ibu meninggalkan surat khusus untukku.
Surat itu selama ini disimpan dan baru boleh diberikan saat aku berusia dua puluh satu tahun.
Tanganku gemetar saat membuka amplop putih itu.
Tulisan tangan Ibu masih sama cantiknya.
“Untuk Hannah kecilku,
Kalau kamu membaca surat ini, berarti Mama sudah tidak bisa menemanimu lagi.
Mama minta maaf karena harus pergi lebih cepat.
Tapi ingat satu hal:
Rumah ini bukan berharga karena mahal.
Rumah ini berharga karena di dalamnya ada cinta yang kita bangun bersama.
Kalau suatu hari ada orang yang mencoba membuatmu merasa kecil di rumahmu sendiri…
jangan menyerah.
Karena Mama membangun tempat ini agar kamu selalu punya tempat untuk pulang.”
Air mataku jatuh ke kertas.
Di bagian bawah surat ada kalimat terakhir.
“Dan Hannah…
jangan membenci Ayahmu terlalu lama.
Dia mungkin terlihat kuat, tapi sebenarnya dia paling takut kehilangan kalian.”
Aku menutup surat itu perlahan sambil menangis diam-diam.
Di luar kamar, aku mendengar suara Ayah sedang menyiram tanaman Ibu di taman.
Untuk pertama kalinya…
aku tidak lagi merasa marah padanya.
Enam bulan kemudian, rumah itu berubah lagi.
Tetapi kali ini dengan cara yang baik.
Tidak ada lagi kamar yang diperebutkan.
Tidak ada lagi bisikan penuh niat buruk.
Ayah mulai lebih sering pulang cepat.
Kami makan malam bersama setiap hari Jumat.
Dan kadang-kadang kami bahkan tertawa lagi di meja makan.
Suatu sore, saat matahari masuk lewat jendela ruang tamu…
Ayah memanggilku.
“Hannah.”
“Hm?”
Ia menyerahkan sebuah kunci kecil.
“Kunci apa ini?”
“Kantor arsitek pertama kamu.”
Aku langsung membeku.
Ayah tersenyum kecil.
“Bukannya kamu mau jadi arsitek hebat?”
Mataku langsung berkaca-kaca.
“Pa…”
“Ibumu pasti bangga.”
Aku memeluk Ayah erat malam itu.
Dan di tengah rumah besar yang dulu hampir direbut orang lain…
aku akhirnya mengerti sesuatu:
Kadang warisan terbesar dari orang tua bukan rumah…
bukan uang…
bukan harta.
Tetapi keberanian untuk mempertahankan tempat yang penuh cinta—
meski dunia mencoba merebutnya dari kita.