Di layar kamera nomor tujuh, Hector melihat sesuatu yang membuat napasnya berhenti.
Itu Paula.
Istrinya sendiri.
Dengan tenang berjalan ke laundry room sambil membawa diamond bracelet yang sebelumnya ia laporkan hilang.
Tidak ada panik.
Tidak ada pencarian.
Tidak ada pencuri.
Paula melihat ke kanan dan kiri…
lalu membuka tas milik Rosalie.
Dan memasukkan gelang itu ke dalamnya.
Tubuh Hector langsung membeku.
Tangannya gemetar di atas mouse.
“Tidak…” bisiknya pelan.
Namun video belum selesai.
Ia membuka kamera berikutnya.
Kamera nomor sembilan.
Dan di sanalah semuanya berubah menjadi lebih mengerikan.
Paula sedang menelepon seseorang.
Wajahnya dingin.
Bahkan tersenyum.
“Besok perempuan itu pasti ditangkap,” katanya santai sambil meminum wine. “Setelah dia keluar dari rumah ini, aku akan lebih mudah mengurus anak-anak.”
Suara pria di telepon terdengar samar.
Paula tertawa kecil.
“Hector terlalu bodoh untuk sadar. Dia pikir nanny itu malaikat.”
Jantung Hector berdegup keras.
Lalu Paula melanjutkan—
dan kalimat berikutnya menghancurkan seluruh hidup Hector.
“Kalau Rosalie masih di rumah ini, anak-anak lebih sayang dia daripada aku. Aku capek melihat mereka memanggilnya saat menangis.”
“Dan lagi… Sean hampir bilang sesuatu minggu lalu.”
Wajah Hector berubah pucat.
Sean?
Anaknya?
“Aku tidak bisa ambil risiko,” lanjut Paula dingin. “Anak itu melihatku mendorong pengasuh lama di tangga tahun lalu.”
Tubuh Hector langsung lemas.
Pengasuh lama.
Angela.
Wanita yang “mengundurkan diri” mendadak setahun lalu setelah mengalami cedera serius.
Saat itu Paula bilang Angela terpeleset.
Namun sekarang—
semuanya terasa berbeda.
Hector membuka arsip lama CCTV.
Malam itu.
Tanggal ketika Angela jatuh dari tangga.
Kamera memperlihatkan Angela sedang membawa cucian.
Kemudian Paula muncul dari belakang.
Mereka bertengkar.
Tidak ada suara, tapi gerakan tubuh Paula penuh amarah.
Lalu—
dorongan.
Angela jatuh berguling dari tangga.
Dan Paula…
tidak menolongnya.
Ia hanya berdiri.
Menatap dingin tubuh Angela yang kesakitan di bawah tangga.
Air mata Hector jatuh tanpa sadar.
Wanita yang tidur di sampingnya selama delapan tahun…
adalah monster.
Dan yang paling menyakitkan—
anak-anaknya hidup bersama ketakutan itu setiap hari.
Tiba-tiba terdengar ketukan kecil di pintu kantor.
Hector buru-buru mematikan layar.
Sean berdiri di sana sambil memeluk boneka kecilnya.
“Daddy…”
Hector langsung memeluk putranya erat.
Tubuh kecil itu gemetar.
Sean menangis pelan di dadanya.
“Aku takut sama Mommy…”
Kalimat itu membuat hati Hector benar-benar hancur.
“Kenapa kamu tidak bilang ke Daddy?” suara Hector bergetar.
Sean menunduk.
“Mommy bilang… kalau aku cerita… Nana Rosalie akan pergi selamanya…”
Hector menutup mata.
Rasa bersalah menghantamnya seperti badai.
Rosalie menangis memohon tadi siang.
Dan dia…
diam saja.
Malam itu juga, Hector menelepon pengacaranya, polisi, dan tim keamanan pribadinya.
Sementara Paula sedang menghadiri gala dinner mewah di Makati, Hector mengirim seluruh rekaman CCTV ke pihak berwenang.
Kurang dari dua jam kemudian—
sebuah telepon masuk ke ponselnya.
Suara Paula terdengar panik.
“Hector?! Apa yang kamu lakukan?! Polisi ada di hotel!”
Namun untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun…
Hector tidak takut pada istrinya.
Ia menjawab dingin:
“Orang yang seharusnya diborgol sejak awal… akhirnya tertangkap.”
Dan telepon itu langsung dimatikan.
Keesokan paginya, iring-iringan mobil polisi berhenti di depan mansion keluarga Santos.
Tetangga-tetangga menyaksikan Paula Santos—
sosialita terkenal yang selalu tampil sempurna—
dibawa keluar dengan tangan diborgol.
Wajahnya hancur oleh amarah dan ketakutan.
Sementara di sisi lain halaman…
Rosalie berdiri memeluk kedua anak itu.
Menangis.
Sean dan Matt memeluknya erat seolah tak mau melepaskan lagi.
Hector berjalan perlahan mendekati Rosalie.
Matanya merah.
“Saya gagal melindungi kalian…” suaranya serak. “Maafkan saya.”
Rosalie hanya menangis.
Lalu Matt kecil menggenggam tangan Hector dan berkata pelan:
“Daddy… boleh Nana tetap tinggal di rumah?”
Hector menatap wanita yang selama empat tahun menjaga anak-anaknya dengan penuh kasih.
Kemudian ia berlutut sejajar dengan kedua putranya.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama…
ia merasa rumah besar itu kembali hangat.
“Bukan cuma tinggal,” bisiknya pelan.
“Mulai sekarang… dia keluarga kita.”

Malam itu, setelah polisi pergi dan mansion akhirnya kembali sunyi…
Rosalie duduk sendirian di dapur.
Tempat yang selama empat tahun menjadi dunianya.
Tangannya masih gemetar saat memegang cangkir teh hangat.
Semuanya terasa seperti mimpi buruk.
Pagi tadi dia masih dianggap pencuri.
Beberapa jam kemudian—
wanita yang memfitnahnya justru dibawa pergi dengan borgol.
Pelan-pelan, air matanya jatuh lagi.
Bukan karena takut.
Tapi karena lelah.
Sangat lelah.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki kecil.
Sean dan Matt berdiri di pintu dapur memakai piyama yang sama.
Mata mereka sembab karena menangis.
“Nana…” bisik Matt.
Rosalie langsung membuka tangan.
Dan kedua anak itu berlari memeluknya erat.
“Kami takut kamu pergi…” suara Sean pecah.
Rosalie memejamkan mata sambil memeluk mereka.
“Tidak apa-apa… Nana di sini…”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
ada seseorang yang memeluknya seolah dia benar-benar berarti.
Di ambang pintu, Hector berdiri diam memperhatikan mereka.
Dadanya terasa sesak.
Ia teringat semua malam ketika Rosalie terbangun hanya karena salah satu anaknya batuk kecil.
Semua sarapan yang ia siapkan.
Semua ulang tahun yang sebenarnya Rosalie yang urus.
Dan sementara itu…
ia terlalu sibuk menjadi miliarder.
Terlalu sibuk percaya bahwa uang bisa menjaga keluarganya tetap utuh.
Padahal orang yang benar-benar menjaga rumah itu…
adalah wanita sederhana yang hampir ia biarkan hancur.
Keesokan harinya, berita tentang Paula Santos menyebar di seluruh Jakarta dan Singapura.
Sosialita terkenal.
Istri miliarder.
Ternyata terlibat fitnah, kekerasan, dan manipulasi.
Nama keluarga Santos menjadi bahan pembicaraan media.
Namun Hector tidak peduli lagi.
Yang penting baginya hanya dua anaknya…
dan memperbaiki semua yang sudah rusak.
Seminggu kemudian, Hector mengadakan makan malam kecil di taman belakang mansion.
Tidak ada tamu penting.
Tidak ada wartawan.
Tidak ada pesta mewah.
Hanya dia.
Anak-anak.
Dan Rosalie.
Lampu taman menyala hangat.
Sean dan Matt tertawa sambil bermain gelembung sabun.
Rosalie berdiri canggung karena merasa dirinya tidak pantas berada di sana.
Lalu Hector berjalan mendekatinya.
Ia menyerahkan sebuah map putih.
Rosalie bingung membukanya.
Dan matanya langsung membesar.
Sebuah sertifikat rumah.
Atas namanya.
“Aku tidak mengusirmu,” kata Hector pelan. “Aku memberimu tempat yang memang pantas kamu miliki.”
Rosalie langsung menggeleng panik.
“Sir… saya tidak pernah menjaga anak-anak demi uang…”
“Aku tahu.”
Suara Hector serak.
“Itulah kenapa kamu pantas mendapatkannya.”
Rosalie mulai menangis.
Namun Hector belum selesai.
Ia berlutut di depan kedua putranya.
“Mulai hari ini,” katanya lembut, “tidak akan ada lagi orang yang membuat kalian takut di rumah ini.”
Matt kecil menatapnya.
“Termasuk Mommy?”
Hector terdiam beberapa detik.
Lalu ia mengusap rambut anaknya perlahan.
“Termasuk siapa pun.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
Sean bisa tidur tanpa mimpi buruk.
Matt tidak lagi menangis diam-diam.
Dan Rosalie—
wanita yang dulu datang hanya sebagai pengasuh—
akhirnya duduk di meja makan…
bukan sebagai pembantu.
Tetapi sebagai seseorang yang benar-benar dicintai oleh keluarga itu.