RUMAHKU, BUKAN RUMAH IBUMU
Plak!
Suara ta mp aran itu menggema di ruang makan yang mendadak sunyi. Nirwana terhuyung ke samping, tangannya mencengkeram pinggiran meja jati agar tidak tersungkur. Rasa panas menjalar di pipi kirinya, disusul denyut nyeri yang menyentak hingga ke kepala.
“Apa kamu nunjuk-nunjuk aku? Nggak so pan!” bentak Satya. Napas adik iparnya itu memburu, wajahnya merah padam karena am a rah yang tidak masuk akal.
Nirwana tidak membalas. Ia menoleh ke arah Darma, suaminya. Pria itu masih duduk tenang, tangannya stabil memegang sendok, menyuap nasi ke mulut seolah-olah ta m paran barusan hanyalah suara lalat yang lewat. Darma menunduk, fokus pada piringnya tanpa ada niat sedikit pun untuk berdiri atau sekadar menegur adiknya.
“Om Satya jah at! Jangan pukul Mama!”
Jeritan melengking itu datang dari Aruna. Gadis kecil itu berlari menghampiri Nirwana, memeluk kaki ibunya dengan tub uh gemetar hebat. Tangisnya pec ah, meny ayat keheningan yang menyesakkan itu.
“Papa, tolong Mama! Papa!” Aruna menatap Darma dengan mata sembap, memohon perlindungan dari sosok yang seharusnya menjadi pahlawan baginya.
Darma menghela napas panjang, lalu meletakkan sendoknya dengan pelan. Ia tidak menatap Nirwana. Ia justru menatap Aruna dengan sorot mata dingin.
“Mama kamu memang perlu didikan agak keras, Aruna. Papa terlalu memanjakannya selama ini. Dia jadi nggak tahu tata krama pada keluarga Papa,” ucap Darma datar. Suaranya tenang, namun setiap kata yang keluar terasa seperti bel ati yang mengiris ulu hati Nirwana.
“Mas… kamu bilang apa?” suara Nirwana bergetar, nyaris tidak terdengar.
Darma akhirnya mendongak, menatap istrinya tanpa sedikit pun rasa bersalah. “Dengar kata Satya! Kamu nggak so pan. Ke kamar dan bersihkan wajahmu, lalu istirahat. Jangan mempermalukan diri sendiri di depan an ak.”
Nirwana terpaku. Sa kit di pipinya tidak sebanding dengan rasa ha ncur yang menghantam da danya. Sa kit, tetapi tak berda ra h. Ia melihat Satya yang kini tersenyum puas, seolah baru saja memenangkan sebuah trofi.
“Dengar itu, Mbak Wana? Mas Darma saja setuju,” ejek Satya. Ia kembali duduk dan meraih gelas minumnya. “Hei, Mbak Wana. Ingat satu hal. Ini rumah Mamasku, itu berarti ini juga rumah ibuku, dan tentu saja juga rumahku. Bukan rumahmu. Jadi terserah aku dan Ibu mau bagaimana di sini. Kamu itu cuma orang asing yang kebetulan dinikahi Mas Darma.”
Nirwana memejamkan mata. Benaknya berputar pada kenyataan pahit yang selama ini ia tutupi dengan rapi. Rumah ini, perabotan ini, bahkan biaya hidup Satya dan ibunya, semuanya berasal dari pundi-pundinya. Namun, di mata mereka, ia hanyalah pelayan yang menumpang.
Tanpa sepatah kata pun, Nirwana menggendong Aruna. Ia melangkah menjauh dari meja makan, mengabaikan tawa kecil Satya dan keacuhan Darma yang melanjutkan makannya dengan lahap.
Di dalam kamar, Nirwana mengunci pintu. Ia menurunkan Aruna ke atas tem pat tid ur.
“Aruna jangan na ngis lagi, ya? Kita harus cepat-cepat,” bisik Nirwana sambil menghapus air mata di pipi putrinya.
“Kita mau ke mana, Ma?” Aruna sesenggukan, matanya ketak utan.
“Kita pulang, Sayang. Ke rumah yang sebenarnya.”
Nirwana menarik koper besar dari bawah tempat tidur. Ia bergerak cepat. Tanpa ragu, ia memasukkan baju-baju Aruna, lalu bajunya sendiri. Tidak ada ruang untuk ragu. Sikap zalim Darma barusan adalah garis batas yang tidak boleh dilanggar. Menunggu Darma berubah adalah sia-sia. Pria itu tidak punya tulang punggung.
Hampir tiga puluh menit Nirwana berkutat dengan pakaian dan dokumen-dokumen penting yang ia simpan di brankas kecil dalam lemari. Ia memastikan paspor, akta lahir Aruna, dan surat-surat berharga lainnya sudah masuk ke dalam tas jinjingnya.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Nirwana lupa mengunci. Darma berdiri di ambang pintu, masih memasang wajah yang sama. Matanya tertuju pada koper yang terbuka lebar di atas tempat tidur.
“Apa-apaan ini, Wana?” tanya Darma, suaranya naik satu oktav.
Nirwana tidak menoleh. Ia terus melipat pakaiannya. “Aku pergi.”
Darma tertawa pendek, tawa meremehkan yang sangat akrab di telinga Nirwana. “Pergi? Kamu mau ke mana malam-malam begini? Jangan kek an ak-ka na kan. Cuma karena masalah kecil tadi kamu mau kabur?”
“Masalah kecil?” Nirwana berbalik, menatap Darma dengan sorot mata yang belum pernah dilihat pria itu sebelumnya. Tajam dan penuh kebencian. “Adikmu men am parku di depan matamu sendiri, dan kamu bilang aku perlu dididik dengan keras? Kamu bukan suami, Darma. Kamu peng ecut.”
Wajah Darma mengeras. Ia melangkah maju, mencoba meraih lengan Nirwana, namun Nirwana menghindar dengan cepat.
“Jangan sentuh aku!” sentak Nirwana.
“Oh, sudah berani melawan?” Darma berkacak pinggang. “Dengar ya, Nirwana. Kamu keluar dari rumah ini, kamu nggak punya apa-apa. Kamu itu cuma ibu rumah tangga. Siapa yang akan kasih kamu makan? Siapa yang mau menampung jan da seperti kamu?”
Nirwana menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang meluap. “Aku nggak butuh ua ngmu, Darma. Karena sejujurnya, kamu yang selama ini hidup dari ua ngku.”
Darma terbahak. “Uan gmu? Ua ng yang mana? Jangan halusinasi. Sudahlah, taruh lagi baju-baju itu. Minta maaf sama Satya dan Ibu besok pagi, maka aku akan memaafkan tingkahmu malam ini.”
Nirwana menutup kopernya dengan paksa, lalu menarik pegangannya. Ia menggendong tas jinjing dan menggandeng tangan Aruna.
“Ayo, Aruna!”
“Wana! Aku bicara sama kamu!” Darma menghadang di depan pintu kamar, tubuhnya yang tinggi besar berusaha mengintimidasi.
“Minggir!”
“Kamu melangkah keluar dari pintu rumah ini, jangan pernah harap bisa kembali lagi!” bentak Darma, telunjuknya mengarah tepat ke wajah Nirwana. “Aku tak akan menerimamu lagi, bahkan jika kamu bersujud di kakiku. Kamu akan jatuh dan merangkak memohon ampun padaku!”
Nirwana menatap suaminya untuk terakhir kalinya. Bukan tatapan sedih, melainkan tatapan kasihan. “Aku memang tidak akan pernah kembali. Tapi bukan aku yang akan merangkak.”
Nirwana menyentak bahu Darma, mendorong pria itu agar memberi jalan. Ia melangkah mantap menyusuri lorong rumah menuju pintu depan. Satya dan ibunya menonton dari ruang tengah dengan senyum mengejek.
“Beneran pergi tuh, Mas! Biarin, paling besok juga balik nangis-nangis di depan gerbang!” teriak Satya provokatif.
Nirwana tidak menoleh. Ia membuka pintu depan, merasakan angin malam menerpa wajahnya yang memar. Di bawah lampu jalan yang temaram, ia menuntun Aruna keluar dari halaman rumah yang selama ini ia anggap surga, namun ternyata neraka.
Nirwana berhenti tepat di gerbang, ia berbalik menatap rumah itu sebentar. Darma berdiri di teras dengan tangan bersedekap, wajahnya penuh kemenangan.
“Ingat kata-kataku, Nirwana! Jangan pernah berani ketuk pintu ini lagi!” teriak Darma sekali lagi.
Nirwana hanya tersenyum tipis, lalu merogoh ponselnya. Untuk memesan taksi online. Kemudian ia pun menelepon Pak Gunawan, pengacara keluarga mereka.
“Halo, Pak Gunawan. Besok pagi atau paling lama lusa, rumah ini harus sudah terpasang papan dijual. Bila perlu sudah laku! Sekalian besok pagi ke rumah Papa untuk mengurus semua berkas rumah ini!”
—-