Posted in

Dinda! Keluar! Bayar ut a n gmu atau rumah ini kami buat rata!” suara pria di luar menggelegar….

“Dinda! Keluar! Bayar ut a n gmu atau rumah ini kami buat rata!” suara pria di luar menggelegar, disusul tendangan ke pagar besi yang memekakkan telinga.

Raka yang baru pulang kerja gemetar di balik gorden. Ia menutup telinga, wajahnya hancur. Ibu Ratna hanya menangis diam di pojok sofa sejak kejadian kemarin.

Aku sedang bersiap membawa perhiasan dan sertifikat rumah ke bank untuk disimpan di safe deposit box. Aku tak ingin aset itu tetap di rumah dalam situasi seperti ini.

Kotak beludru merah dan map cokelat berisi sertifikat sudah kumasukkan ke tas di meja rias ketika Naya menangis kencang dari ruang keluarga. Tangisnya tak biasa. Aku panik dan berlari tanpa sempat mengunci kamar atau membawa tas.

“Mas! Tolong lihat Naya!” teriakku.

Kami menenangkan Naya yang jarinya terjepit mainan. Sepuluh menit kemudian ia tenang.

“Mas, tolong gendong Naya sebentar. Aku ambil tas di kamar. Kita harus berangkat,” kataku.

Aku melangkah ke lorong, Raka mengikutiku. Langkahku terhenti saat melihat pintu kamar terbuka lebar. Aku ingat hanya menutupnya separuh.

Dinda muncul dari dalam kamar. Wajahnya pias, napasnya tersengal. Tangannya mendekap map cokelat dan kotak beludru merah milikku. Ia hendak menuju pintu belakang, namun membeku saat melihat kami.

Raka mematung. Aura dingin menjalar dari tu bu hnya.

“Dinda?” suaranya rendah. “Apa yang kamu lakukan? Dan apa itu?”

Dinda tersentak. “Aku… cuma mau pinjam sebentar, Mas. Buat jaminan. Aku janji balikin kalau sudah punya u a n g.”

“Pinjam?” ulangku dingin. Aku merebut map dan kotak itu. “Masuk kamar orang tanpa izin dan ambil surat berharga itu namanya mencuri.”

Aku menoleh ke Raka. “Ini adik yang selalu kamu bela. Dia bukan cuma menghancurkan namamu dengan utang, sekarang dia mau merampas satu-satunya atap tempat a n a k mu berteduh.”

Raka memejamkan mata. Dinda jatuh terduduk, menangis histeris.

Suasana ruang tamu berubah. Tak ada lagi teriakan, hanya isak putus asa. Ibu Ratna merangkak turun dari sofa lalu bersimpuh di depanku.

“Amara, Ibu mohon… jangan laporkan Dinda. Tolong jangan buat dia dipenjara,” ratapnya.

Raka ikut berlutut di samping ibunya. “Aku menyerah, Ra. Lakukan apa saja, asal Dinda tidak dipenjara.”

Aku menatap tanpa emosi. “Kalian ingin aku diam? Ada harga yang harus kalian bayar.”

Aku menarik napas panjang. “Hari ini juga Ibu dan Dinda kemasi barang. Angkat kaki dari rumah ini. Dan Mas Raka, besok kamu ikut aku ke notaris untuk pengalihan sisa asetmu sebagai dana perlindunganku dan Naya. Kalau menolak, laporan polisi dan percobaan pencurian berjalan bersamaan.”

Dinda mengangguk pasrah. Ibu Ratna berdiri lemas menuju kamar.

Saat ia melewati meja dengan tas kulit besar, aku melihat tasnya tak tertutup rapat. Aku menyambarnya.

“Apa lagi ini? Ibu sudah mau pergi!” katanya lemah.

Aku membongkar isinya. Sebuah buku tabungan biru terjatuh. Kubuka. Saldo terakhir menunjukkan dua ratus lima puluh juta rupiah.

“Balikin!” Ibu Ratna mencoba merebut, tapi Raka lebih dulu mengambilnya.

“Dua ratus lima puluh juta? Ibu punya u a n g sebanyak ini?” suaranya bergetar.

“Itu simpanan hari tua, Raka!”

“Ibu biarkan Dinda dikejar penagih? Ibu biarkan aku bersujud di kaki Amara seperti a n j i n g demi menyelamatkan Dinda? Ibu punya u a n g tapi diam?” suaranya naik, penuh luka.

Aku melipat tangan di d a d a, menatapnya tajam. “Ternyata Ibu lebih b u s u k dari yang kukira. Ibu punya u a n g, tapi biarkan a n a k laki-laki Ibu bersujud demi a n a k kesayangan Ibu. Mas Raka, lihat siapa yang paling menghancurkan hidupmu.”

Raka menjatuhkan buku tabungan itu. Ia mundur perlahan, menatap ibunya seperti orang asing.

“Pergi,” desisnya. “Pergi kalian semua sekarang juga.”

Judul: Kumiskinkan Suami dan Mertua Toxic
Penulis: Fayre Valen