“Ngapain ponselku kamu ambil?” protes Saras.
Arfan tidak menjawab. Dia malah meletakkan punggung tangannya di dahi Saras.
“Nggak sepanas tadi. Kalau belum ngantuk, aku mau kamu lihat ini.”
Arfan mengambil laptopnya. Dia naik ke tempat ti dur dan duduk di samping Saras.
“Kamu pilih gaun mana yang cocok untuk Audi.”
Saras melihat layar laptop di mana gambar gaun pengantin berjejeran. Dia melihat satu per satu hingga dia berhenti di sebuah gambar.
“Aku rasa ini cocok dengannya.”
“Aku nggak suka!”
Saras melihat lagi gambar yang lain dan menunjuk sebuah gambar.
“Nggak.”
Saras kesal, tapi dia diam. Dia menunjuk gambar lain lagi.
“Nggak cocok.”
“Pilih aja sendiri! Turun dari tempat ti durku. Aku mau ti dur!” Saras mendo rong Arfan. Dia langsung berba ring.
“Aku akan ti dur di sini kalau kamu nggak pilih malam ini.”
“Udah aku pilih, tapi kamunya yang nggak mau. Emang yang mau nikah aku? Sana, tanya Audi, dia maunya yang mana, bukan tanya ke aku.”
Arfan berba ring. Saras kesal, dia segera duduk. Arfan akhirnya ikut duduk.
“Pilih lagi. Kali ini pilih yang kamu suka, bukan yang cocok untuk Audi.”
Saras melihat lagi gambar-gambar itu. Dia berhenti di sebuah gambar kebaya pengantin putih lengkap dengan mahkota. Untaian kuncup melati tersusun rapi.
“Aku setuju.”
Saras menatapnya.
“Kamu pilih itu, ‘kan?”
Saras mengangguk pelan.
“Sekarang liat dekorasinya. Kamu sukanya konsep yang gimana?”
“Kalau aku sukanya yang sederhana. Nggak perlu me wah, nggak perlu banyak undangan. Kamu sanggup pernikahanmu dan Audi sesederhana itu?”
“Boleh juga. Nggak masalah.”
“Maunya akad di rumah, masjid atau langsung di ho tel aja?”
“Di rumah.”
“Baiklah. Bisa diatur.”
“Udah selesai, ‘kan? Sekarang kamu keluar. Aku mau ti dur.”
“Ti dur aja.”
“Gimana aku bisa ti dur kalau kamu ada di sini?”
Arfan mengambil bantal guling dan meletakkannya di tengah mereka.
“Udah bisa tenang sekarang? Lagian aku nggak akan lakuin macam-macam. Kalau kamu masih nggak terima, teriak aja. Minta tolong sama tetangga.”
Saras memunggungi Arfan yang membuatnya kesal setengah ma ti. Kalau Saras yang dulu, dia akan ma ti kegirangan karena Arfan mau ti dur dengannya, tapi sekarang tidak lagi. Kesenangan itu sudah hilang.
Semalaman, mereka ti dur satu ran jang. Arfan bahkan tidak bisa ti dur dengan nyenyak. Dia sering terbangun dan segera mera ba dahi Saras.
“Bikin repot aja.”
Dia kembali berba ring dan ti dur sampai pagi. Kalau pintu tidak diketuk dari luar, dia mungkin masih ti dur.
Arfan bergegas buka pintu. Audi menatapnya ta jam.
“Ngapain pintunya dikunci? Kenapa baru bangun? Semalam kalian ti dur sama-sama? Arfan, kamu ….”
“Nggak usah marah-marah. Berisik tahu! Dua hari lagi kita menikah, di sini, di rumah ini. Persiapkan dirimu.”
Audi yang semula kesal langsung tersenyum.
“Beneran?”
“Nggak mau?”
“Ya maulah.”
“Ya udah, turun duluan. Nanti aku nyusul.”
Arfan menutup pintu. Dia mengambil handuk dan pergi ke ka mar man di seolah ka mar itu ka marnya sendiri. Padahal dulu dia hanya masuk jika ada maunya saja.
Saras buka mata. Dia bergegas turun dan pergi ke ka mar man di. Saat membuka pintu, dia langsung berteri ak saat melihat Arfan ada di dalam. Dia segera berbalik.
“Kenapa pintunya nggak dikunci?”
Saras berlari ke tempat ti dur. Arfan hanya tersenyum melihat Saras yang terkejut dan berlari seperti melihat hantu.
“Sana masuk! Makanya kalau masuk ketuk pintunya dulu.”
Arfan berdiri dengan handuk di ping gangnya. Rambutnya basah. Apalagi tu buhnya yang terlihat menggo da iman kaum hawa.
Saras berjalan menunduk. Dia tidak ingin melihat tu buh yang dulu selalu menggo danya. Di kamar man di, dia baru bisa tenang. Dia mengunci pintu rapat.
Sepuluh menit kemudian, dia keluar. Arfan masih ada di sana. Dia sudah terlihat rapi bahkan terci um parfum yang terasa manis.
“Nggak usah turun, nanti bik Lela yang bawain sarapan ke sini. Nggak usah keluar dari ka mar. Dua hari lagi aku dan Audi akan menikah. Jangan lakuin yang macam-macam.”
“Baiklah.”
Arfan melihat sikap Saras yang biasa saja. Dia kesal karena hanya begitu saja reaksi Saras.
Selama dua hari, Saras hanya di ka mar. Dari jendela, dia melihat persiapan yang dilakukan wedding organizer. Semua sudah rampung.
“Kamu pakai ini.” Arfan meletakkan sebuah kotak di atas tempat ti dur.
“Ingat, jangan buat aku malu. Posisiskan dirimu sebagai istri pertamaku yang merestui pernikahan keduaku. Sebentar lagi tamu-tamu akan datang. Kamu harus mendampingi Audi seolah adikmu sendiri yang menikah. Mengerti?”
Saras mengangguk. Arfan keluar untuk bersiap-siap. Saras mengambil kotak dan melihatnya. Dia tersenyum getir.
“Dia pasti sengaja lakuin ini padaku.”
Di depan cermin, Saras menatap dirinya. Kebaya pengantin putih yang dia pilihkan kini melekat di tu buhnya, tanpa mahkota dan untaian kuncup melati seolah Arfan sedang mengejeknya.
Saras tidak hilang ak al. Dia menyanggul rambutnya dan meletakkan tu sukan rambut yang menjuntai. Riasan yang sederhana memperlihatkan wa jahnya yang cantik dan natural.
Suara MC terdengar. Sebentar lagi akadnya akan dimulai. Saras keluar dari ka mar. Dengan langkah anggun, dia menuruni tangga. Semua mata langsung tertuju padanya. Begitu pun dengan Arfan yang sudah duduk di depan meja untuk akad.

“Apa itu pengantinnya?” tanya penghulu.
Arfan tidak bisa menjawab. Dia membeku. Dia menyuruh Saras memilih gaun, tapi tidak pernah dalam mimpi terliarnya Saras akan benar-benar memakainya dan terlihat begitu cantik. Saat ini bukan Audi yang bersinar, tapi Saras.
“Pak Arfan, yang mana pengantinnya? Kenapa ada dua pengantin?”
Arfan melihat Saras mendampingi Audi saat keluar dari ka mar, tapi anehnya dia hanya menatap Saras, bukan Audi.
“Si al! Kenapa cuma dia yang aku lihat?”