Aku tak marah. Namun detik itu juga aku mendeklarasikan perang. “Mulai malam ini tak ada sepeserpun untukmu, Bu!”
Sebenarnya, menjatuhkan Mbak Rika itu semudah membalikkan telapak tangan bagiku. Aku punya followers yang banyak. Cukup membuat caption yang menyentuh, yang menarik simpati audiens, lalu men-tag akunnya. Kupastikan dia akan viral.
Aku tau dia juga aktif di sosmed dengan konten joget-jogetnya itu. Pengikutnya juga sudah lumayan. Tapi kupikir itu terlalu berlebihan, meskipun sebetulnya tidak terlalu berlebihan untuk ukuran kejahatan yang dia lakukan.
[Mbak, aku berubah pikiran. Nggak jadi lapor polisi.]
[Ya jelas nggak berani! Sadar diri juga kamu akhirnya!] balasnya cepat.
[Nggak jadi lapor polisi, tapi aku mau up di sosial mediaku saja. Nama akun TikTok Mbak Rika itu… Rika_Centil, kan? Aku tag ya, Mbak. Biar pengikutmu tahu kelakuan aslimu yang suka pakai barang orang tanpa izin. Izin viral ya, Mbak…]
[KURANG AJAR KAMU, INAYA!!]
Aku tersenyum puas menatap layar ponsel. Makanya, kalau mau cari masalah itu, ukur dulu kemampuan lawan.
Dalam sekejap pintu kam ar digedor berulang kali.
“Buka, Inaya! Buka pintu ini sekarang!” teriak Mbak Rika kasar dari balik pintu ka mar. Gedorannya begitu kuat, seolah ingin merubuhkan kayu jati ini.
Aku menarik napas panjang, bangkit dari tepian ran jang dengan gerakan tenang. Kubuka kunci pintu dan menarik daunnya perlahan. Begitu terbuka, Mbak Rika langsung merangsek masuk dan langsung menutup pintu kembali dengan ban tingan keras.
Wajah Mbak Rika merah padam, napasnya memburu. Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Dia takut setengah m ati, kalau sampai Mas Maman tahu soal akun joget-jogetnya itu yang masih eksis itu, maka tamatlah sudah. Bukannya dulu mereka hampir cerai gara-gara itu?
“Sialan kamu, Inaya! Hapus nggak?” bentaknya tepat di depan wajahku. Matanya melotot, tangannya menunjuk-nunjuk hidungku.
“Nggak! Aku nggak sudi gamis mahalku kamu pakai untuk pamer, apalagi kamu mengambilnya seperti pencuri dari lemariku,” balasku tegas tanpa berkedip sedikit pun.
“Terus maumu apa sekarang, hah?” tantang Mbak Rika, suaranya melengking tinggi namun tertahan, takut terdengar sampai ke telinga Mas Maman di luar.
“Minta maaf. Dan ganti rugi,” jawabku singkat.
Mbak Rika tertawa meremehkan. “Minta maaf? Sorry ya, In. Aku nggak sudi! Kamu itu cuma menantu yang nggak punya har ga diri, bisanya cuma numpang di rumah ini! Kamu tahu nggak kalau kami dulu ikut patungan buat bangun rumah ini? Bisa saja aku minta ganti rugi atas tumpanganmu selama ini. Kami ‘kan nggak pernah!”
“Aku membalas tatapannya dengan dingin. “Aku nggak peduli, Mbak. Kalian patungan bangun rumah ini pas aku belum ada, kan? Itu urusanmu sama Ibu. Lagian, aku juga nggak sudi tinggal di sini. Kalau bukan karena menghargai Mas Ridwan, aku sudah pindah ke rumah yang lebih mewah sejak dulu!”
“Cih, lagakmu! Suami gaji pas-pasan saja belagu!”
“Nggak usah melebar, Mbak. Kita bikin gampang saja. Kalau Mbak nggak sudi minta maaf, aku posting sekarang. Biar satu Indonesia tahu siapa Mbak Rika sebenarnya. Mau jadi artis dadakan dengan judul: ‘Menantu Kota Pencuri Baju Adik Ipar’?”

Mbak Rika terkekeh pelan. “Viral, viral. Kamu pikir gampang bikin sesuatu jadi viral? Nggak usah ikut-ikutan trend-lah kalau nggak paham caranya. Kamu itu cuma ibu rumah tangga kuper, Inaya!”
“Soal viral itu gampang buatku, Mbak. Nggak percaya?”
Jemariku bergerak cepat di atas layar ponsel. Caption pedas yang sudah kusiapkan sejak tadi langsung ku-salin. Tanpa ragu, aku menekan tombol post.
“Apa yang kamu lakukan, Inaya?!” pekik Mbak Rika panik saat melihat kilat lampu layar ponselku.
“Aku mau membuktikan ucapanku, Mbak. Lihat saja.”
Dalam sekejap, konten itu terposting di akun TikTok-ku. Hanya butuh satu menit, ponselku mulai bergetar beruntun. Notifikasi like dan komentar membanjiri layar seperti air bah yang jebol.
“Lihat, Mbak!” Kutunjukkan layar ponselku tepat di depan matanya. “Lihat angkanya. Terus bertambah, kan? Ini baru dua menit, lho.”
Mbak Rika mendadak bungkam. Matanya melotot sempurna melihat angka yang tertera di profilku. Wajahnya yang tadi merah karena marah, kini memucat seketika bak seputih kertas.
“Tiga koma dua juta followers? Ini… ini akun kamu, In?” suaranya mencicit, nyaris tak terdengar.
“Iya, dong?” ucapku dengan nada sedikit angkuh. Biarlah, toh dia sendiri yang memulai peperangan ini. “Nggak apa-apa kan? Katanya aku nggak paham trend?”
“Hapus, Inaya! Hapus sekarang juga! Kalau sampai teman-temanku atau keluarga kita melihat, aku bisa malu besar!” Mbak Rika mulai memelas, tangannya mencoba meraih ponselku dengan gerakan frustrasi.
“Nggak bisa! Minta maaf dulu, dan ganti rugi enam ju ta rupiah sekarang juga!”
“Enam jut a? Aku nggak punya uan g segitu, In!”
“Gamis itu limited edition. Dan di sana sudah ada noda kuning. Mbak mau aku lanjut live biar makin ramai dan muka Mbak masuk di layar ponsel jutaan orang?” ancamku lagi.
Mbak Rika tampak menelan ludah berkali-kali. Harga dirinya yang setinggi langit itu kini runtuh berkeping-keping di depan menantu yang selalu ia hina sebagai pengangguran.
“Oke… oke, aku minta maaf. Aku mengaku salah, Inaya. Tidak seharusnya aku menggeledah ka marmu,” ucapnya dengan suara yang sangat rendah, nyaris berbisik. “Sebutkan nomor rekebningmu sekarang.”
Aku tersenyum puas. Dalam sekejap, aku menyebutkan deretan angka rekeningku. Tak lama kemudian, sebuah notifikasi muncul di ponselku.
Dana masuk: Rp6.000.000,00.
Good!
“Oke,” ucapku sambil mengubah privasi konten tersebut menjadi setelan pribadi (hanya saya) .
Mbak Rika menghela napas panjang, bahunya merosot lemas seolah seluruh energinya habis tersedot. Wajah sinisnya hilang entah ke mana, berganti dengan sorot mata yang penuh rasa penasaran yang menggelitik. Ia menggeser posisinya, duduk mendekat ke arahku dengan gerakan yang dipaksakan ramah.
“Followers-mu sebanyak itu, In… kamu pasti dapat banyak ua ng dari sana setiap bulannya,” gumam Mbak Rika. Tatapannya berubah menjadi penuh selidik sekaligus takjub.
“Ya… begitulah, Mbak. Cukuplah untuk beli rendang tanpa harus ribut soal siapa yang nyumbang berapa ru piah,” sindirku telak.
Mbak Rika tidak marah kali ini. Ia justru menyentuh lenganku pelan, sebuah gestur yang tak pernah ia lakukan selama bertahun-tahun aku jadi adik iparnya. “In… ajari Mbak supaya bisa dapat cuan dari sana juga, dong. Please, Inaya. Mbak pengen banget bisa punya penghasilan tambahan kayak kamu.”
Aku menatap wajahnya yang kini memelas. Ternyata, uang dan popularitas adalah bahasa yang paling cepat dipahami oleh manusia macam Mbak Rika.
Aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi , lalu menyilangkan kaki dengan elegan sembari menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
Kutatap Mbak Rika dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menilai, seolah dia hanyalah butiran debu yang baru saja kutepis dari bahuku. Dia yang dulu selalu merasa paling ‘kota’, paling bergaya, dan paling hebat, kini justru bersimpuh di hadapanku, si menantu yang selalu ia anggap remeh. Ternyata, gelar ‘juragan kelontong’ yang ia banggakan itu tak ada apa-apanya dibanding kuasa yang kugenggam di layar ponsel ini.
Aku merasa jauh lebih tinggi dibanding dirinya yang tak lebih dari sekadar konten kreator amatir yang tak akan pernah sampai ke levelku.
“Boleh saja kalau mau belajar, Mbak. Tapi ada satu syarat yang harus Mbak lakukan hari ini juga.”
“Apa syaratnya, In? Mbak lakukan apa saja asal diajari!”
Aku tersenyum misterius, sebuah rencana licik terlintas di otakku. “Syaratnya adalah…”