Kupikir Penjemputannya di Bandara Soekarno-Hatta Setelah Sepuluh Tahun Adalah Lamaran—Tapi Saat Teman-Temannya Tertawa, Aku Baru Sadar Bahwa Aku Hanya Taruhan Demi Hadiah Ulang Tahun Neneknya

Kupikir Penjemputannya di Bandara Soekarno-Hatta Setelah Sepuluh Tahun Adalah Lamaran—Tapi Saat Teman-Temannya Tertawa, Aku Baru Sadar Bahwa Aku Hanya Taruhan Demi Hadiah Ulang Tahun Neneknya

Pesawat GA520 baru saja mendarat di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta ketika aku melihatnya.

Adrian Wijaya.

Pria yang sudah kucintai selama sepuluh tahun… tapi bahkan sekali pun tidak pernah menjemputku di bandara.

Ia berdiri di tengah area kedatangan, memegang buket besar mawar impor dari Ekuador, mengenakan kemeja putih lengan panjang yang dulu pernah kupuji, dan di tangannya… sebuah kotak beludru kecil.

Di dalamnya, cincin berlian berkilau terkena cahaya.

Seolah seluruh suara bandara mendadak berhenti.

Beberapa penumpang menoleh. Ada yang langsung mengeluarkan ponsel. Seorang wanita di belakangku bahkan berbisik pelan,

“Ya ampun… itu mau melamar ya?”

Jari-jariku langsung dingin di gagang koper.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun aku menunggu… berharap setidaknya sekali saja, Adrian memilihku dengan terang-terangan.

Bukan di balik makan malam keluarga elitnya.

Bukan di condo mewah kawasan SCBD yang selalu terasa seperti tempat singgah.

Bukan di malam-malam saat aku yang selalu menelepon lebih dulu setelah kami bertengkar.

Tapi di depan banyak orang.

Tanpa malu.

Tanpa ragu.

Adrian berjalan mendekat.

Di matanya ada kelembutan yang sudah lama tidak kulihat.

“Marielle,” katanya pelan.

Napasaku tertahan.

Lalu… ia berlutut.

Orang-orang di sekitar langsung berseru heboh. Bahkan ada yang melambaikan tangan ke petugas keamanan agar kami tidak dipindahkan. Cahaya lampu bandara memantul di cincin itu, dan untuk sesaat… aku membiarkan diriku percaya.

Mungkin akhirnya dia mengerti.

Mungkin semua rasa sakit, kecewa, penantian, dan lelah selama sepuluh tahun… akan berakhir dengan kata “kita.”

Ia membuka kotak cincin itu.

“Will you marry me?”

Ia tidak menyebut nama lengkapku.

Tidak mengatakan betapa ia mencintaiku.

Tapi karena dia Adrian… aku sudah terbiasa menganggap hal-hal kecil sebagai bukti cinta.

Jadi aku tersenyum.

Dan dengan suara gemetar aku berkata,

“Adrian… kita…”

Aku bahkan belum selesai bicara.

Karena tiba-tiba ia tertawa.

Bukan tawa bahagia.

Bukan tawa gugup.

Tapi tawa seseorang yang baru saja menang taruhan.

Ia berdiri, menoleh ke kanan, lalu menyeringai sombong.

“Udah kubilang kan? Dia pasti bilang iya. Gue menang. Sekarang kasih lukisannya.”

Rasanya seperti disiram air es.

Dari belakang kerumunan penumpang, terdengar ledakan tawa keras.

Satu per satu teman-temannya mendekat—anak-anak konglomerat dari kawasan Menteng dan Pondok Indah, dengan aroma parfum mahal dan alkohol impor bahkan di siang bolong.

Di paling depan ada Bianca Hartono.

Perempuan yang sejak dulu didorong keluarga Wijaya untuk menjadi pasangan Adrian. Perempuan yang selalu disebut Adrian hanya sebagai “teman masa kecil.” Perempuan yang selalu muncul setiap kali kami bertengkar.

Bianca tertawa sambil memegangi perutnya.

“Ya ampun, Adrian, gue kalah lagi,” katanya sambil menghapus air mata karena terlalu banyak tertawa. “Udah gue bilang, mau didorong sejauh apa pun, dia pasti balik lagi ke lo. Kalau gue punya anjing sesetia itu, gue juga nggak bakal buang.”

Seorang pria dengan jaket designer mendekat dan menyorotkan kamera ke wajahku.

“Guys, lihat mukanya. Dia kira beneran dilamar.”

“Miss Marielle,” tambah yang lain sambil tertawa, “jangan baper dong. Ini cuma game. Masa setelah sepuluh tahun sama Adrian, lo belum sadar kalau lo itu hiburan kita?”

Aku mendengar napasku sendiri.

Pelan.

Berat.

Aku menatap Adrian.

Aku menunggu sesuatu—kemarahan untuk mereka, rasa bersalah, malu, atau setidaknya satu kalimat sederhana:

“Sudah, jangan keterlaluan.”

Tapi wajahnya dingin.

Bahkan terlihat sedikit kesal… seolah aku yang merusak suasana.

“Minggu depan ulang tahun nenek gue,” jelasnya santai, seakan semua ini normal. “Dari dulu gue cari lukisan lama karya Affandi yang dia mau. Bianca menang lelang bulan lalu. Jadi kita taruhan. Kalau gue berhasil bikin lo bilang iya, lukisan itu jadi punya gue.”

Aku menunduk melihat cincin di jariku.

Sedikit longgar.

Aku bahkan harus menggenggam tangan agar cincin itu tidak jatuh.

Begitu rupanya hubungan kami.

Memang tidak pernah benar-benar pas.

Aku saja yang terus memaksa menggenggamnya agar tidak lepas.

Perlahan aku mengangkat tangan.

Melepas cincin itu.

Lalu menjatuhkannya ke lantai bandara.

Ting.

Suara kecil.

Tapi cukup membuat beberapa orang di sekitar mendadak diam.

“Lain kali,” kataku pelan, “kalau kamu nggak mampu beli lukisan sendiri, bilang saja. Harga lukisan itu nggak seberapa dibanding sepuluh tahun hidupku yang terbuang sia-sia buat kamu.”

Wajah Adrian langsung berubah.

“Marielle.”

Aku tidak mundur.

“Dan jangan pakai manusia buat menang taruhan. Memalukan.”

Aku menatap matanya.

“Bukan buat aku. Buat kamu.”

Bianca tertawa lagi, tapi kali ini terdengar lebih kaku.

“Duh serius banget sih. Pantes aja Adrian nggak nikahin lo walau udah sepuluh tahun.”

Dulu… kata-kata seperti itu akan membuatku gemetar.

Dulu… aku akan minta maaf bahkan ketika aku yang disakiti.

Dulu… saat ulang tahun Adrian, mereka mengoleskan seluruh kue ke rambutku sambil tertawa dan bilang itu cuma “tradisi.” Aku pulang dengan krim menempel di telinga dan gula lengket di rambut sampai akhirnya harus memotong rambut panjang yang kurawat bertahun-tahun.

Dan waktu itu… aku masih yang meminta maaf.

Karena kupikir aku harus diterima teman-temannya agar Adrian bisa mencintaiku sepenuhnya.

Tapi sekarang, berdiri di tengah bandara dengan koper di tangan… semuanya mendadak jelas.

Aku bukan sulit dicintai.

Aku hanya terlalu lama memaksa mencintai orang yang salah.

Aku menarik koperku dan berbalik pergi.

Tidak ada yang mengejar.

Tidak ada yang memanggil.

Hanya suara Bianca yang masih terdengar di belakangku.

“Biarkan aja. Besok atau lusa juga balik lagi ke condo Adrian.”

Aku tidak menoleh.

Aku langsung pergi ke townhouse lama Adrian di kawasan Senopati—tempat yang dulu pernah kusebut rumah.

Aku mengemas sisa barang-barangku: beberapa buku, dua coat, satu kotak foto lama, dan music box kecil hadiah darinya di tahun ketiga hubungan kami.

Di taman belakang, aku melihat ayunan kayu yang dulu dibuat Adrian sendiri untukku.

Miring.

Kasar.

Jelas sekali tangannya tidak terbiasa memakai palu.

Tapi dulu… itu pertama kalinya aku percaya dia mencintaiku.

Karena suatu malam aku pernah jatuh di tangga saat menunggunya pulang. Ia tidak memelukku. Tidak menenangkanku. Ia hanya berkata,

“Makanya jangan nungguin.”

Seminggu kemudian… ayunan itu muncul di depan rumah.

Adrian memang pria pendiam.

Kupikir begitulah caranya mencintai.

Tapi sekarang aku sadar…

Cinta yang harus ditebak setiap hari bukanlah cinta.

Itu hukuman.

Aku mengirim pesan singkat.

Kita selesai, Adrian.

Tiga menit kemudian, ia membalas.

Terserah.

Dua kata.

Dan untuk pertama kalinya… aku tidak merasa sakit lagi.

Keesokan harinya, aku menerima tawaran lama dari kantorku: penugasan tiga tahun di Singapura.

Di hari terakhir clearance, sahabatku Celina menelepon.

“Sebelum lo pergi, main billiards dulu yuk di The Silver Cue SCBD. Buat perayaan.”

Aku sempat ragu.

The Silver Cue adalah tempat nongkrong Adrian dan teman-temannya.

Tapi setelah semua yang terjadi… aku lelah terus menghindar.

Saat aku tiba, Celina sudah memegang cue stick.

“Gue kira lo bakal kelihatan kayak kucing kehujanan,” katanya sambil tersenyum. “Tapi sekarang lo malah kelihatan kayak perempuan yang siap menang.”

Aku tersenyum kecil.

Billiards adalah olahraga pertama yang diajarkan ayahku.

Katanya, sebesar apa pun kekacauan di hati… tangan harus tetap tenang.

Aku meninggalkan permainan itu bertahun-tahun lalu karena Adrian pernah bilang aku terlihat “terlalu dingin” saat bermain.

Namun ketika aku membungkuk dan memukul bola kuning… bola itu langsung masuk sempurna ke pocket.

Dan tepat saat itu—

Pintu lounge terbuka.

Adrian masuk bersama Bianca dan seluruh kelompoknya.

“Oh, wow,” seru pria yang dulu merekamku di bandara. “Ternyata mantan pacar ada di sini juga. Udah gue bilang, dia nggak bakal tahan jauh dari Adrian.”

Mereka tertawa.

“Miss Marielle,” tambahnya, “kalau mau balikan sama Adrian, tinggal ngomong aja. Nggak usah pura-pura main billiards.”

Aku bisa merasakan Adrian berdiri di belakangku.

Ia diam.

Tapi aku tahu… ia menunggu.

Seperti biasa.

Menunggu aku yang mendekat.

Aku yang tersenyum.

Aku yang pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Aku memukul bola merah terakhir.

Masuk.

Lalu aku meletakkan cue stick di atas meja dan menoleh pada Adrian.

“Mau main?” tanyaku tenang.

Seluruh ruangan langsung sunyi.

“Satu rack,” kataku. “Kalau kamu menang, aku akan mengaku kalau aku datang ke sini buat ngejar kamu.”

Bianca mengangkat alis.

“Dan kalau Adrian kalah?”

Aku menatapnya lurus.

“Kalau dia kalah…”

“…dia harus berlutut di depan semua orang di sini dan bilang apa yang sebenarnya terjadi malam waktu kalian mempermalukanku di pesta ulang tahunnya.”

Seluruh ruangan langsung hening.

Bahkan suara musik pelan dari speaker lounge terasa seperti ikut berhenti.

Adrian menatapku beberapa detik.

Lalu tertawa kecil sambil memutar cue stick di tangannya.

“Kamu serius?”

Aku menarik kursi dan duduk santai.

“Sangat serius.”

Teman-temannya langsung bersorak kecil.

Karena mereka tahu satu hal:

Adrian Wijaya terkenal hebat bermain billiards.

Ia sering bermain dengan para pengusaha besar dan klien-klien elit di klub eksklusif Jakarta.

Dan selama sepuluh tahun…

Aku selalu sengaja kalah darinya.

Karena setiap kali aku menang, Adrian akan diam seharian dan bilang aku membuatnya malu di depan orang lain.

Jadi perlahan aku belajar mengecilkan diriku sendiri… agar egonya tetap nyaman.

Namun malam itu—

Aku sudah lelah menjadi kecil.

“Fine,” katanya akhirnya. “One rack.”

Bianca tersenyum sinis.

“Nanti jangan nangis lagi ya.”

Aku tidak menjawab.

Permainan dimulai.

Adrian melakukan break pertama.

Dua bola langsung masuk.

Teman-temannya bersorak.

“Gampang.”

“Cepat selesai ini.”

Aku berdiri tenang di samping meja.

Mengamati posisi bola satu per satu.

Tenang.

Persis seperti yang diajarkan Papa dulu.

“Kalau hati kamu kacau,” katanya dulu, “jangan biarkan tanganmu ikut kacau.”

Adrian memasukkan bola ketiga.

Keempat.

Kelima.

Lalu—

Tok.

Bola putih memantul terlalu keras.

Scratch.

Giliran berpindah.

Beberapa orang mulai tersenyum santai.

Mereka pikir aku akan gugup.

Sama seperti dulu.

Aku maju perlahan.

Menunduk sedikit.

Lalu—

Tok.

Satu bola masuk.

Tok.

Dua.

Tok.

Tiga.

Suasana mulai berubah.

Tawa perlahan hilang.

Aku tidak bicara sedikit pun.

Tanganku stabil.

Tatapanku tenang.

Dan satu demi satu bola masuk ke pocket seperti tidak pernah salah arah.

Adrian mulai menegang.

Karena untuk pertama kalinya…

Ia melihat diriku yang sebenarnya.

Bukan perempuan yang selalu mengalah.

Bukan perempuan yang terus meminta diterima.

Tapi perempuan yang selama ini sengaja menyembunyikan kemampuannya demi menjaga harga diri pria yang dicintainya.

Tersisa bola hitam terakhir.

Seluruh lounge sunyi.

Aku menarik napas pelan.

Lalu memukul bola itu dengan tenang.

Tok.

Bola hitam meluncur lurus.

Masuk sempurna.

Game selesai.

Tidak ada yang bersorak.

Tidak ada yang tertawa.

Yang terdengar hanya bunyi pelan bola terakhir di dalam pocket.

Bianca langsung berdiri.

“Ini cuma permainan!”

Aku menatapnya datar.

“Benar.”

“Sama seperti waktu kalian mempermainkan hidupku di bandara.”

Wajah Adrian langsung mengeras.

Aku berdiri perlahan lalu berkata,

“Sekarang giliranmu.”

Ia diam.

Aku mengangkat alis sedikit.

“Atau ternyata keluarga Wijaya cuma berani mempermalukan perempuan?”

Beberapa orang mulai saling pandang gelisah.

Karena sekarang…

Mereka tidak lagi terlihat seperti kelompok elit yang keren.

Mereka terlihat seperti sekumpulan pengecut.

Rahang Adrian menegang keras.

Namun akhirnya…

Ia melangkah maju.

Dan perlahan berlutut di depan meja billiards.

Seluruh lounge langsung gempar.

Aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Ucapkan.”

Ia mengepalkan tangan.

Lalu dengan suara rendah berkata,

“Waktu ulang tahunku…”

“…kami sengaja mempermalukan Marielle.”

Ruangan makin sunyi.

“Kue itu bukan tradisi.”

“Itu ide Bianca.”

Wajah Bianca langsung pucat.

“Adrian!”

Namun ia melanjutkan.

“Dan aku membiarkannya terjadi.”

Dadaku terasa sesak.

Karena walaupun aku sudah tahu kenyataannya…

Mendengarnya langsung tetap terasa menyakitkan.

Adrian mengangkat wajah menatapku.

Matanya merah.

“Aku pikir kalau aku terus bikin kamu bertahan…”

“…berarti kamu benar-benar cinta sama aku.”

Air mataku hampir jatuh.

Betapa egoisnya cinta seperti itu.

Ia tidak ingin kehilangan aku.

Namun juga tidak pernah benar-benar menjagaku.

Malam itu, setelah semua orang pergi, Adrian mengejarku sampai parkiran.

Gerimis mulai turun.

“Marielle!”

Aku berhenti sebentar tanpa menoleh.

“Apa lagi?”

Napasnya berat.

Untuk pertama kalinya sejak kami bersama…

Aku melihat ketakutan di wajahnya.

“Aku salah.”

Aku tersenyum kecil.

“Akhirnya kamu sadar juga.”

“Aku serius.”

Suaranya pecah.

“Aku nggak pernah berpikir kamu bakal benar-benar pergi.”

Aku menutup mata beberapa detik.

Lalu tertawa lirih.

“Itu masalahnya, Adrian.”

“Kamu terlalu yakin aku akan selalu tinggal.”

Ia langsung diam.

Hujan mulai membasahi bahuku.

“Aku cinta kamu,” katanya pelan.

Air mataku akhirnya jatuh.

Karena dulu…

Kalimat itu adalah satu-satunya hal yang paling ingin kudengar darinya.

Namun sekarang semuanya terasa terlambat.

“Aku juga pernah sangat mencintaimu.”

Aku menatapnya untuk terakhir kali.

“Sampai aku lupa cara mencintai diriku sendiri.”

Wajahnya langsung hancur.

Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun…

Aku tidak lagi ingin memeluknya.

Tiga bulan kemudian.

Aku pindah ke Singapura.

Apartemen baru.

Pekerjaan baru.

Hidup baru.

Awalnya sepi.

Sangat sepi.

Namun perlahan aku mulai menemukan diriku sendiri lagi.

Aku memotong rambut pendek.

Mulai bermain billiards lagi setiap akhir pekan.

Mulai tertawa tanpa takut dianggap terlalu dingin.

Dan yang paling penting—

Aku berhenti meminta cinta dari orang yang hanya tahu menerima… tapi tidak pernah benar-benar memberi.

Suatu malam setelah meeting besar dengan investor internasional, Celina mengirim screenshot berita bisnis Indonesia.

Di foto itu terlihat Adrian menghadiri gala keluarganya sendirian.

Judul artikelnya:

“Pewaris Wijaya Group Membatalkan Pertunangan dengan Bianca Hartono.”

Di bawah berita ada satu kutipan kecil dari wawancara wartawan.

Saat ditanya alasannya, Adrian hanya berkata:

“Ada seseorang yang saya sakiti terlalu dalam.”

Aku menatap layar cukup lama.

Lalu mematikannya perlahan.

Tidak ada rasa menang.

Tidak ada dendam.

Hanya rasa tenang.

Karena akhirnya…

Aku tidak lagi menunggu seseorang memilihku.

Aku sudah memilih diriku sendiri terlebih dahulu.

Setahun kemudian, aku kembali ke Jakarta untuk urusan pekerjaan.

Saat berjalan melewati area kedatangan Bandara Soekarno-Hatta—tempat semuanya pernah hancur—

Aku berhenti sebentar.

Mengingat malam proposal palsu itu.

Mengingat bagaimana dulu aku berdiri sambil gemetar, berharap dicintai.

Dan kini…

Aku tersenyum kecil pada diriku sendiri.

Karena perempuan yang dulu menangis demi cinta seorang pria…

Sudah tidak ada lagi.

Yang tersisa sekarang adalah wanita yang akhirnya mengerti:

Cinta sejati tidak akan pernah menjadikanmu taruhan hanya demi memenangkan hadiah orang lain.