Posted in

Aku diam-diam menanggung hidup keluarga suamiku selama enam tahun.

Aku diam-diam menanggung hidup keluarga suamiku selama enam tahun.

Tapi saat dia memaksaku menjual restoranku demi biaya pernikahan adiknya…

Aku hanya tersenyum.

Dan keesokan harinya, aku menggantung tulisan “FOR SALE” di depan restoran itu.

Hujan turun deras di Quezon City malam itu.

Suara rintiknya menghantam atap restoran kecilku sementara aku berdiri di dapur, mengaduk semangkuk besar chicken arroz caldo yang masih mengepul panas.

Tiba-tiba ponsel di meja kasir menyala.

Laporan penjualan bulanan.

Aku menghela napas panjang saat melihat angkanya.

Lebih dari Rp220 juta.

Bulan ketiga berturut-turut restoran kami mendapat rating tertinggi untuk kategori family restaurant di seluruh Quezon City.

Aku bahkan belum sempat tersenyum penuh ketika—

Pintu restoran terbuka keras.

Daniel masuk bersama ibunya.

Mereka langsung duduk di meja dekat jendela seolah akan mengadakan rapat serius.

Ibu mertuaku melepas kacamatanya lalu melihat sekeliling restoran.

“Pelangganmu makin banyak sekarang.”

Aku berjalan mendekat dengan tenang.

“Ada perlu apa?”

Daniel berdeham.

“Nanti malam tutup lebih awal. Kita perlu bicara.”

Tanganku berhenti mengusap apron.

“Soal apa?”

Dia menatapku lurus.

“Kita jual restoran ini.”

Waktu seperti berhenti.

Suara minyak mendidih di dapur terdengar semakin keras di telingaku.

Ibu mertuaku langsung ikut bicara.

“Adik Daniel mau menikah.”

“Keluarga calon istrinya meminta dowry besar dan condo di Pasig.”

“Kita keluarga. Harus saling membantu.”

Aku memandangi mereka dalam diam.

“Dan kenapa restoran milikku harus ikut terlibat?”

Daniel mengerutkan dahi seolah aku yang tidak masuk akal.

“Karena ini sumber uang terbesar kita.”

“Kalau dijual, kita bisa dapat miliaran.”

“Lagipula kamu sudah jadi istriku. Uangmu juga uang keluarga kami.”

Aku tertawa kecil.

Enam tahun lalu…

Saat Daniel kehilangan pekerjaan karena perusahaan mereka di Cebu bangkrut…

Akulah yang berutang demi membangun restoran ini.

Aku yang membeli setiap meja.

Setiap kursi.

Setiap peralatan dapur.

Aku juga yang membuat seluruh menu.

Saat restoran belum punya pelanggan, aku membagikan flyer di stasiun MRT meski hujan deras.

Sedangkan Daniel?

Dia bilang tidak berbakat di dapur, jadi hanya membantu beberapa hari sebelum akhirnya berhenti total.

Tapi begitu restoran mulai terkenal…

Dia langsung mengaku kepada semua orang bahwa dialah pemiliknya.

Dan sekarang…

Dia ingin menjualnya.

Demi pernikahan adiknya.

Nada suara Daniel melunak saat melihat aku diam saja.

“Cuma sedikit pengorbanan, sayang.”

“Nanti kalau aku sudah punya tabungan lagi, aku akan buatkan bisnis yang lebih besar untukmu.”

Ibu mertuaku ikut tersenyum.

“Nah, begitu.”

“Istri yang baik memang harus berkorban demi keluarga suami.”

Aku menatap mereka lama.

Lalu perlahan tersenyum.

“Baik.”

Wajah Daniel langsung lega.

Dia memegang bahuku.

“Aku tahu kamu pasti mengerti.”

Aku hanya tersenyum.

Diam.

Malam itu aku baru pulang hampir jam dua pagi.

Aku membuka laci-laci kantor satu per satu.

Struk pembayaran.

Izin usaha.

Catatan bank.

Lalu aku menelepon pengacaraku.

“Attorney Santos, siapkan dokumen transfer kepemilikannya.”

Dia terdengar kaget.

“Kamu yakin benar-benar mau menjualnya?”

Aku melihat dinding kuning restoran itu.

Pada papan nama tua bertuliskan “Lola Nina.”

Nama nenekku.

Wanita yang membesarkanku di Iloilo lewat warung kecil miliknya.

Aku tersenyum pahit.

“Tidak.”

“Aku cuma mau mengambil kembali apa yang memang milikku.”

Keesokan paginya…

Daniel masih tidur ketika orang-orang datang mencopot papan nama restoran.

Jam sembilan pagi—

Sebuah spanduk merah besar tergantung di depan bangunan.

“FOR SALE — PRIME BUSINESS LOCATION”

Semua orang yang lewat langsung berhenti.

Karyawan-karyawanku panik.

“Ma’am Lina… kita benar-benar mau jual restoran ini?”

Aku hanya tersenyum.

“Hari ini restoran tutup dulu.”

Sepuluh menit kemudian—

Ponselku hampir meledak karena telepon dari Daniel.

Tidak kuangkat satu pun.

Sampai akhirnya dia datang sendiri ke restoran.

Baru membuka pintu saja dia sudah berteriak marah.

“Lina! Kamu sudah gila?!”

“Siapa yang menyuruhmu pasang spanduk itu sekarang?!”

Aku duduk santai di meja kasir sambil minum kopi.

Bahkan aku tidak langsung menatapnya.

“Bukannya kamu memang mau menjualnya?”

“Tapi bukan sekarang!”

Dia merobek spanduk itu dan melemparkannya ke lantai.

Wajahnya merah karena marah.

“Keluarga calon istri adikku akan datang hari ini melihat restoran!”

Aku menatapnya perlahan.

“Dan kenapa itu jadi urusanku?”

Daniel langsung terdiam.

Seolah baru pertama kali mendengar nada dingin dari suaraku.

Ibu mertuaku datang beberapa menit kemudian.

Begitu melihat spanduk itu, dia langsung menunjukku.

“Kamu sudah tidak punya malu?!”

“Mau mempermalukan keluarga kami?!”

Aku berdiri tenang.

Lalu mengambil sebuah map tebal dari laci.

Kutaruh di atas meja.

“Kalau kalian mau menjual restoran ini…”

“Ada sesuatu yang harus kalian jelaskan dulu.”

Daniel membuka map itu.

Dan wajahnya langsung pucat.

Isinya seluruh rekening koran selama enam tahun.

Pembayaran utang keluarganya.

Biaya rumah sakit ibunya.

Uang kuliah adiknya.

Pembelian Fortuner miliknya.

Bahkan Rolex yang dia pakai setiap hari…

Semua dibayar dari rekeningku.

Di halaman terakhir—

Ada surat gugatan cerai.

Tangan Daniel mulai gemetar saat menatapku.

“Lina…”

Aku menatapnya lurus.

“Kamu tahu apa yang paling lucu?”

“Selama enam tahun, kamu mengira restoran ini milikmu.”

Aku mengambil satu dokumen lagi dari tasku.

Lalu mendorongnya ke depan Daniel.

“Padahal sejak awal…”

“Bisnis ini tidak pernah atas namamu.”

Seluruh suara di restoran seperti hilang.

Ibu mertuaku buru-buru merebut dokumen itu.

Dan wajahnya langsung memucat.

Hanya ada satu nama di izin usaha.

Lina Castillo.

Dan tepat pada saat itu—

Tiga pria berjas hitam masuk ke restoran.

Salah satu dari mereka langsung menghampiriku lalu sedikit membungkuk.

“Good morning, Ms. Castillo.”

“Kontrak akuisisi dari San Aurelio Food Group untuk pembelian jaringan restoran Anda sudah siap.”

Daniel seperti kehilangan napas.

Ponselnya jatuh ke lantai.

Karena bersamaan dengan itu—

Muncul notifikasi baru di layarnya.

“Saldo rekening Anda tidak mencukupi untuk membayar pinjaman bank yang telah jatuh tempo.”

BAGIAN 2 (Bagian Akhir)

Ibu mertuaku menatap lembaran kertas di tangannya seolah benda itu baru saja berubah menjadi ular berbisa. Wajahnya yang tadinya angkuh kini mendadak pias, kehilangan seluruh rona darahnya.

“Kontrak… akuisisi?” bisik Daniel, suaranya tercekat di tenggorokan. Dia menatapku, lalu beralih menatap perwakilan dari San Aurelio Food Group—konglomerat kuliner terbesar di Filipina. “Lina, apa maksudnya ini?! Kamu menjual restoran ini kepada orang lain?!”

“Tentu saja,” jawabku tenang, sambil meletakkan cangkir kopiku tanpa menimbulkan suara. “Bukankah semalam kamu dan Ibumu yang memohon-mohon agar restoran ini dijual demi gengsi adikmu? Aku hanya mewujudkan keinginan kalian dengan sangat cepat.”

“Tapi uangnya?! Miliaran peso itu harusnya masuk ke rekening kita! Untuk pernikahan dan condo di Pasig!” jerit ibu mertuaku, suaranya melengking frustrasi, tidak lagi memedulikan tatapan tajam dari para eksekutif berjas hitam di sekitar kami.

Aku tersenyum, lalu menatap Attorney Santos yang baru saja melangkah masuk membawa koper dokumen tambahan.

“Silakan jelaskan, Attorney,” ujarku.

Attorney Santos mengangguk formal. “Ms. Lina Castillo tidak menjual tempat ini sebagai aset tunggal. Beliau menjual seluruh hak paten menu, merek dagang ‘Lola Nina’, dan sistem operasionalnya kepada San Aurelio Food Group senilai 45 juta peso (sekitar Rp12 miliar). Namun, seluruh dana tersebut dikirimkan langsung ke rekening pribadi Ms. Lina sebagai pemilik tunggal berbadan hukum.”

Attorney Santos menoleh ke arah Daniel dengan tatapan dingin. “Dan perlu dicatat, kontrak ini juga mencakup pengosongan lahan. Bangunan ini milik pihak ketiga yang disewa atas nama Ms. Lina. Mulai besok, kontrak sewa dihentikan. Tempat ini akan ditutup total untuk renovasi merek baru.”

Kehancuran Skenario Palsu

Daniel mundur selangkah, tubuhnya gemetar hebat. “Lina… kamu tidak bisa melakukan ini padaku. Aku suamimu! Aku yang selama ini membawa nama restoran ini di depan publik!”

“Kamu hanya membawa nama, Daniel, tapi aku yang menumpahkan darah dan keringat,” kataku, berdiri dari kursi kasir. “Enam tahun lalu, saat kamu luntang-lantung di Cebu, aku memohon pinjaman ke sana-kemari. Kamu tahu dari mana modal awal restoran ini? Dari menggadaikan satu-satunya tanah peninggalan nenekku di Iloilo. Kamu tahu di mana kamu saat itu? Kamu sedang tidur di condo sambil meratapi nasibmu.”

Tiba-tiba, pintu restoran kembali terbuka. Kali ini, adik Daniel masuk bersama calon istrinya yang berpakaian sangat modis, lengkap dengan kedua orang tuanya yang tampak elegan. Mereka datang untuk “menginspeksi” restoran mewah yang katanya milik keluarga Daniel.

Namun, pemandangan yang mereka dapati justru sebaliknya: papan nama “Lola Nina” sudah tergeletak di lantai, spanduk For Sale robek berantakan, dan Daniel berdiri dengan wajah sekusut kain pel.

“Daniel? Ada apa ini? Kenapa restorannya berantakan?” tanya calon adik iparku dengan dahi berkerut.

Ibu mertuaku langsung menghampiri besannya dengan panik, mencoba menyelamatkan muka. “Ah, ini… ini cuma kesalahpahaman kecil! Restoran kami sedang mau ekspansi besar-besaran dengan investor baru!”

“Investor baru?” aku memotong kalimatnya dengan tawa renyah. Aku berjalan mendekati keluarga calon istri adiknya. “Maaf, sepertinya kalian salah paham. Pria yang berdiri di sana itu, Daniel, dan adiknya, tidak memiliki sepeser pun saham di tempat ini. Mereka bahkan tidak punya pekerjaan tetap.”

“Lina! Cukup!” bentak Daniel, mencoba membungkamku.

“Kenapa? Takut mereka tahu kalau mobil Fortuner yang kalian pamerkan itu dicicil atas namaku? Takut mereka tahu kalau Rolex di tanganmu itu dibeli pakai uang bonus tahunan restoranku?” Aku menatap calon mertua adiknya yang kini menatap Daniel dengan pandangan curiga dan jijik. “Dan soal condo di Pasig yang kalian janjikan sebagai dowry? Silakan tagih sekarang, karena per hari ini, batas kredit Daniel di bank sudah ditutup akibat jaminan rumahnya—yang sebenarnya atas namaku—telah kucabut.”

Mendengar hal itu, ayah dari calon mempelai wanita langsung berbalik. “Kami rasa pernikahan ini perlu ditinjau ulang. Kami tidak sudi berbesan dengan keluarga penipu.” Mereka berbalik dan pergi begitu saja, mengabaikan teriakan histeris adik Daniel yang mencoba mengejar mereka di koridor luar.

Akhir dari Sebuah Parasit

Restoran mendadak sunyi, hanya menyisakan deru napas Daniel yang kian memburu. Ibu mertuaku terduduk di salah satu kursi kayu, menangis meratapi kehancuran rencana besar mereka.

Daniel menatapku dengan mata merah, penuh amarah sekaligus ketakutan yang mendalam. “Kamu egois, Lina. Kamu menghancurkan masa depan adikku! Kamu menghancurkan keluargaku!”

“Kalian yang menghancurkan diri kalian sendiri dengan menjadi parasit di hidupku selama enam tahun,” kataku tanpa beban. Aku mengambil tas tanganku, lalu menyerahkan map berisi surat gugatan cerai ke dada Daniel. Dia menerimanya dengan tangan yang lemas.

“Tanda tangani itu. Aku sudah mengosongkan seluruh barangku dari rumah. Mulai hari ini, bayar sendiri cicilan mobilmu, bayar sendiri biaya berobat ibumu, dan silakan cari pekerjaan nyata untuk memberi makan harga dirimu yang terlalu tinggi itu.”

Aku berjalan menuju pintu keluar. Sebelum melangkah keluar ke jalanan Quezon City yang mulai cerah setelah hujan, aku berbalik dan menatap para karyawan yang sudah menemaniku sejak awal.

“Teman-teman, jangan khawatir. Mulai bulan depan, kita semua pindah ke cabang baru di Bonifacio Global City (BGC) di bawah naungan San Aurelio. Gaji kalian naik dua kali lipat,” ujarku, yang langsung disambut tangis haru dan sorak-sorai para karyawanku.

Aku melangkah keluar dengan kepala tegak. Di belakangku, Daniel berlutut di lantai meratapi ponselnya yang terus berdering dari pihak penagih utang, sementara ibunya terus memaki dalam penyesalan.

Aku menatap langit Quezon City. Beban berat yang kupikul selama enam tahun akhirnya runtuh. Di atas kertas spanduk “FOR SALE” yang tergeletak di jalan, aku menginjaknya dengan pasti. Aku tidak kehilangan restoranku—aku justru baru saja menjual rantai yang selama ini mengikat hidupku, dan membeli kembali kebebasanku.