Kami kembar identik. Hampir tidak ada yang bisa membedakan wajah kami… tapi akulah yang dikurung selama delapan tahun di rumah sakit jiwa.
Dan saat melihat lebam di tubuh kakakku, aku memutuskan untuk keluar—dan akulah yang akan kembali ke rumah itu menggantikannya.
Namaku Amihan Valderama. Saudari kembarku bernama Althea. Kami mirip dalam setiap detail, tetapi hidup seperti sengaja menempatkan kami di dua dunia yang berbeda.
Selama delapan tahun, aku dikurung di San Isidro Mental Care Center, di luar Laguna—tidak terlalu jauh dari Manila, tapi cukup jauh untuk memisahkanku dari hiruk-pikuk dunia. Sementara itu, Althea menghabiskan delapan tahun yang sama dengan mati-matian berusaha menjaga hidupnya agar tidak benar-benar hancur di tengah tagihan dan pernikahan yang rusak.
Para dokter bilang aku memiliki impulse control disorder. Mereka menggunakan kata-kata rumit—unstable, unpredictable, prone to outbursts.
Tapi bagiku, kenyataannya jauh lebih sederhana:
Aku hanya merasakan semuanya terlalu dalam.
Kebahagiaan terasa seperti api yang membakar dada.
Ketakutan seperti tangan yang mencekik leher.
Dan kemarahan…
Kemarahan membuatku berubah menjadi seseorang yang lain—lebih cepat, lebih berani, dan tidak pernah membiarkan siapa pun menginjakku.
Kemarahan itulah yang membawaku ke tempat ini.
Saat umurku tujuh belas tahun, aku melihat seorang pria menyeret Althea ke belakang sekolah kami di Quezon City. Aku tidak ingat semua yang terjadi setelah itu. Aku hanya ingat suara besi menghantam tulang, jeritannya, dan tatapan ketakutan orang-orang di sekitar.

Tak seorang pun peduli pada apa yang pria itu lakukan pada saudara kembarku.
Mereka hanya menatapku.
“Gila.”
“Berbahaya.”
“Monster.”
Orang tua kami ketakutan. Begitu juga seluruh lingkungan sekitar. Dan saat ketakutan menguasai manusia, belas kasihan adalah hal pertama yang hilang.
Mereka membawaku ke sini—katanya demi “membantuku” dan “melindungi orang lain.”
Delapan tahun berlalu di antara dinding putih dingin, di dunia dengan aturan yang jelas dan tanpa kepura-puraan.
Aku belajar mengendalikan napas.
Mengendalikan tubuh.
Mengendalikan setiap ledakan emosi.
Setiap hari aku berlatih—push-up, pull-up, sit-up—sampai kemarahanku berubah menjadi disiplin.
Tubuhku menjadi satu-satunya hal yang benar-benar kumiliki.
Kuat.
Kokoh.
Terkendali.
Anehnya, aku tidak merasa sedih di sini.
San Isidro sunyi.
Tidak ada orang yang berpura-pura mencintaimu lalu menghancurkanmu setelahnya.
Sampai hari itu datang.
Aku tahu ada sesuatu yang salah bahkan sebelum melihatnya.
Udara terasa berbeda.
Berat.
Seperti badai yang akan datang.
Dan saat pintu ruang kunjungan terbuka lalu Althea masuk, aku terpaku selama beberapa detik.
Aku hampir tidak mengenalinya.
Tubuhnya jauh lebih kurus.
Bahunya membungkuk seperti memikul sesuatu yang tak terlihat.
Dia memakai baju lengan panjang meski matahari Juni sedang terik.
Make-up pun tidak bisa menyembunyikan lebam di pipinya.
Dia tersenyum, tapi bibirnya gemetar.
Dia duduk di depanku dan meletakkan sekantong kecil buah—mangga yang mulai memar, pisang yang hampir terlalu matang.
Persis seperti dirinya.
“Bagaimana kabarmu, Mihan?” tanyanya lirih.
Aku tidak menjawab.
Aku langsung meraih pergelangan tangannya. Dia sedikit tersentak mundur.
“Apa yang terjadi dengan wajahmu?”
“Aku cuma jatuh di tangga,” jawabnya cepat.
Aku melihat tangannya.
Jari-jarinya bengkak.
Sendi-sendinya merah.
Itu bukan tangan orang yang jatuh.
Itu tangan orang yang melawan.
“Althea, katakan yang sebenarnya.”
“Aku baik-baik saja.”
Aku menarik lengan bajunya sebelum dia sempat mencegahku.
Dan saat itu sesuatu di dalam diriku bangkit kembali—sesuatu yang sudah lama tertidur.
Lengannya penuh lebam.
Ada yang lama.
Ada yang baru.
Bekas cengkeraman tangan.
Bekas sabuk.
Seperti peta rasa sakit yang digambar di atas kulitnya.
“Siapa yang melakukan ini?” tanyaku pelan.
Matanya langsung dipenuhi air mata.
“Aku sudah tidak kuat…”
“Siapa?”
Dia tiba-tiba menangis.
Seolah nama itu telah lama tersangkut di tenggorokannya.
“Rafael,” bisiknya. “Dia menyiksaku. Sudah lama. Ibunya dan adiknya juga memperlakukanku seperti pembantu. Dan… dan Luna juga dia sakiti.”
Aku membeku.
“Luna?”
Dia mengangguk sambil menangis.
“Dia baru empat tahun, Mihan. Suatu malam Rafael mabuk setelah kalah judi sabung ayam… dia menampar anak itu. Aku mencoba menghentikannya, tapi dia mengunciku di kamar mandi. Aku pikir dia akan membunuhku.”
Semua suara menghilang.
Dunia seperti mengecil.
Di depanku ada saudara kembarku yang hancur sepenuhnya—dan seorang anak kecil yang sedang belajar takut pada rumahnya sendiri.
Aku berdiri perlahan.
“Kamu tidak datang ke sini untuk berkunjung,” kataku.
Dia menatapku bingung.
“Hah?”
“Kamu datang untuk meminta tolong. Dan aku akan menolongmu. Kamu yang akan tinggal di sini. Aku yang akan keluar.”
Wajahnya langsung pucat.
“Tidak bisa. Mereka akan tahu. Kamu tidak tahu dunia luar lagi. Kamu tidak—”
“Aku bukan Amihan yang dulu,” potongku. “Kamu masih berharap mereka berubah. Aku sudah tidak.”
Aku memegang bahunya dan memaksanya menatapku.
“Kamu orang baik. Tapi aku… aku tahu cara menghadapi monster.”
Bel kunjungan berbunyi—jam besuk selesai.
Kami saling menatap.
Wajah yang sama.
Darah yang sama.
Tapi hanya satu dari kami yang siap masuk ke neraka itu tanpa rasa takut.
Kami bergerak cepat.
Dia mengenakan seragam abu-abu pasien.
Aku memakai pakaiannya—blouse sederhana dan jeans—lalu mengambil tas serta ID miliknya.
Saat pintu dibuka, perawat tersenyum padaku.
“Pulang sekarang, Ma’am Valderama?”
Aku sedikit menunduk, meniru suaranya.
“Iya.”
Pintu besi itu tertutup di belakangku.
Sinar matahari menghantam wajahku.
Panas.
Berat.
Nyata.
Delapan tahun.
Aku menarik napas panjang dan mulai berjalan tanpa menoleh lagi.
“Rafael De Castro…” bisikku pelan.
“Waktumu sudah habis.” …
BAGIAN 2 (Bagian Akhir)
Aku mencengkeram tali tas kulit Althea yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Di dalamnya, ada kunci rumah, dompet dengan sisa beberapa lembar uang peso, dan sebuah ponsel murahan yang layarnya retak seribu.
Begitu aku melangkah keluar dari gerbang San Isidro, ponsel itu bergetar hebat. Sebuah pesan teks masuk dari nomor tanpa nama.
“Di mana kamu, sialan? Jam segini belum masak? Ibu dan Toni sudah lapar. Kalau sampai aku pulang kerja dan meja makan masih kosong, kamu tahu apa yang akan terjadi.”
Darahku berdesir. Itu dia. Rafael De Castro.
Aku tidak membalas. Aku naik ke atas jeepney menuju terminal bus, lalu melanjutkan perjalanan kembali ke Quezon City. Sepanjang jalan, aku menatap pantulan wajahku di kaca jendela. Selama delapan tahun, Althea menatap wajah ini dengan ketakutan di depan cermin. Mulai malam ini, wajah yang sama akan menjadi teror terbesar bagi keluarga De Castro.
Selamat Datang di Neraka, Althea
Aku tiba di depan sebuah rumah dua lantai yang tampak tidak terawat di kawasan pemukiman padat. Baru saja aku melangkah masuk ke ruang tamu, sebuah daster usang dilemparkan tepat ke wajahku.
“Lama sekali kamu! Dari mana saja?!” bentak seorang wanita tua dengan rambut disanggul asal-asalan. Ibu mertua Althea. Di sofa, seorang pria muda—Toni, adik Rafael—sedang asyik bermain game di ponselnya tanpa memedulikan kehadiranku.
“Aku… ada urusan sebentar, Ibu,” kataku, sengaja merendahkan volume suaraku, meniru nada bicara Althea yang selalu ketakutan.
“Urusan apa?! Kamu itu cuma menumpang di sini! Cepat ke dapur, masak! Dan bersihkan kamar Toni!” perintah wanita itu lagi sambil berlalu.
Aku berjalan menuju dapur, tapi langkahku terhenti saat melihat sesosok anak kecil perempuan duduk meringkuk di sudut bawah meja makan. Luna. Anak Althea. Matanya yang besar menatapku dengan tatapan kosong, penuh trauma yang mendalam untuk anak seusianya. Ada bekas merah di lengan kecilnya.
Jantungku berdenyut ngilu. Aku berlutut di depannya, lalu tersenyum selembut mungkin. “Luna…”
Dia tersentak, mengira aku akan memarahinya. Tapi saat aku memeluknya, dia merasakan pelukan yang berbeda. Pelukan yang tidak lagi gemetar.
“Mami…” bisiknya lirih.
“Mami di sini, Sayang. Mulai sekarang, tidak akan ada lagi yang berani menyakitimu. Mami janji,” bisikku di telinganya. Sesuatu yang dingin dan mematikan mengeras di dalam dadaku. Disiplin yang kulatih selama delapan tahun di dalam sel rumah sakit jiwa kini siap kutumpahkan.
Makan Malam yang Berdarah
Jam delapan malam, pintu depan didobrak kasar. Rafael masuk dengan bau alkohol yang menyengat dan wajah masam. Dia langsung membanting jaketnya ke lantai.
“Althea! Ambilkan minum!” teriaknya.
Aku berjalan dari dapur, membawakannya segelas air. Begitu gelas itu berpindah tangan, Rafael menatapku dengan mata menyipit. “Kenapa kamu menatapku seperti itu?”
“Tidak ada, Rafael,” jawabku datar.
Plak!
Tanpa peringatan, dia menepis gelas itu hingga pecah berantakan di lantai, lalu melayangkan tamparan keras ke pipiku. Kekuatan pukulannya cukup besar untuk membuat Althea yang asli tersungkur menangis.
Tapi aku? Kepala beralih sedikit, meredam momentum, lalu aku kembali menatapnya lurus. Tanpa air mata. Tanpa ringisan.
Rafael tertegun. “Kamu menantangku?!” Dia bersiap melayangkan pukulan kedua, mencengkeram kerah bajuku.
Saat itulah, Amihan yang asli keluar dari persembunyiannya.
Aku menangkap pergelangan tangannya di udara. Cengkeramanku begitu kuat, diperkeras oleh ratusan push-up dan latihan fisik setiap hari di San Isidro. Aku bisa mendengar bunyi bising dari sendi tangannya yang tertekan.
“A-apa yang…” Rafael membelalak kaget. Dia mencoba menarik tangannya, tapi tubuhku tak bergeming sedikit pun.
“Delapan tahun, Rafael,” bisikku, suaranya begitu rendah dan dingin hingga membuat bulu kuduk pria di depanku berdiri. “Delapan tahun kamu menyiksa saudari kembarku.”
Sebelum dia sempat mencerna kalimatku, aku melayangkan satu hantaman lutut tepat ke ulu hatinya.
Bugh!
Rafael tertekuk, memuntahkan cairan alkohol dari mulutnya. Dia jatuh berlutut, memegangi perutnya yang serasa dihantam godam besi.
Ibu mertua dan Toni yang mendengar keributan langsung berlari ke ruang tamu. “Toni! Pukul jalang ini!” teriak ibunya panik melihat anaknya tersungkur.
Toni maju, mencoba menerjangku. Dengan satu gerakan sidestep yang terukur, aku menghindari pukulannya, menangkap kepalanya, dan menghantamkannya ke tepi meja kayu dengan keras. Toni langsung ambruk tak sadarkan diri di lantai, darah mengalir dari hidungnya.
Wanita tua itu menjerit histeris, mundur ketakutan ke sudut ruangan, menatapku seolah melihat hantu.
Pembalasan Amihan
Rafael mencoba bangkit, wajahnya dipenuhi ketakutan yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Dia menatap wajahku—wajah Althea—tapi sorot matanya… sorot mata itu milik seorang predator yang siap mengoyak mangsanya.
“K-kamu… kamu bukan Althea…” bisiknya terbata-bata, merangkak mundur.
“Namaku Amihan,” kataku, berjalan mendekatinya perlahan, memungut salah satu pecahan kaca gelas di lantai. “Aku dikurung di rumah sakit jiwa karena orang-orang bilang aku monster. Dan malam ini, aku pulang untuk merawat monster seperti kalian.”
Aku mencengkeram rambut Rafael, menarik kepalanya ke belakang, dan menempelkan pinggiran tajam pecahan kaca itu tepat di bawah rahangnya. Dia menangis, tubuhnya gemetar hebat, memohon ampun dengan suara serak.
“Jangan bunuh aku… tolong… jalang gila, jangan bunuh aku!”
“Membunuhmu terlalu mudah, Rafael,” bisikku tajam di telinganya. “Aku ingin kamu merasakan apa yang Althea rasakan setiap hari. Ketakutan saat mendengar langkah kaki. Kecemasan saat matahari terbenam.”
Aku melepaskannya dengan sentakan kasar, membuat wajahnya menghantam lantai. Aku mengambil ponsel lama milik Althea, lalu mendesak ibunya untuk menyerahkan semua dokumen penting—sertifikat rumah, kartu identitas, dan tabungan yang selama ini mereka rampas dari hasil kerja keras Althea.
“Besok pagi, kalian bertiga angkat kaki dari rumah ini. Jika aku melihat salah satu dari wajah kalian lagi di Quezon City, atau jika kalian mencoba mencari Althea ke Laguna…” Aku menunjuk ke arah Toni yang masih pingsan. “…aku akan memastikan kalian tidak akan bisa berjalan lagi seumur hidup.”
Dunia Baru
Keesokan harinya, rumah itu kosong. Tiga parasit itu pergi sebelum fajar menyingsing, terlalu ketakutan untuk sekadar mengemas seluruh pakaian mereka.
Aku berdiri di halaman depan, menggendong Luna yang kini tersenyum tipis sambil memegang boneka beruangnya. Udara pagi terasa bersih.
Ponsel di kantongku bergetar. Sebuah panggilan dari San Isidro Mental Care Center. Aku mengangkatnya.
“Halo? Ma’am Valderama?” suara perawat terdengar di seberang sana. “Kami ingin mengabarkan bahwa… saudari kembar Anda, Amihan, mendadak menjadi sangat tenang hari ini. Dia memakan seluruh makanannya dan mengikuti terapi tanpa ada ledakan emosi sama sekali. Obat barunya tampaknya bekerja dengan sangat baik.”
Aku menatap langit biru, tersenyum tipis. “Syukurlah. Tolong jaga dia baik-baik di sana. Berikan dia kedamaian yang layak dia dapatkan.”
Aku menutup telepon. Di dalam sel San Isidro yang sunyi, Althea akhirnya bisa beristirahat tanpa rasa takut, menikmati makanan yang teratur dan perlindungan dinding batu yang kokoh. Sementara di dunia luar yang kejam ini, Amihan sudah kembali. Dan tidak akan ada lagi yang berani menyentuh keluargaku.