Posted in

AKU TERLAMBAT DATANG KE REUNI, JADI AKU DUDUK DI DEKAT PINTU. KUPIKIR MEREKA MEREMEHKANKU — TAK KUSANGKA TEMPAT ITU JUSTRU MEMBUATKU MELIHAT PERTUNJUKAN BESAR

AKU TERLAMBAT DATANG KE REUNI, JADI AKU DUDUK DI DEKAT PINTU. KUPIKIR MEREKA MEREMEHKANKU — TAK KUSANGKA TEMPAT ITU JUSTRU MEMBUATKU MELIHAT PERTUNJUKAN BESAR

Menjelang akhir tahun, lampu-lampu kota di tepi pantai berkilauan. Gerimis tipis jatuh di atap seng dan di atas mobil-mobil yang hampir tidak bergerak karena macet. Udara dingin dan lembap, jenis cuaca yang membuat orang ingin cepat pulang, makan malam hangat, lalu bersembunyi di balik selimut.

Namaku Miguel.

Sudah tujuh tahun berlalu sejak kami lulus kuliah. Dalam tujuh tahun itu, aku tetap menjadi pegawai kantor biasa. Jabatanku tidak tinggi, gajiku juga tidak besar. Aku pun tidak punya kehidupan yang mengagumkan untuk diceritakan di acara kumpul-kumpul. Setiap hari hidupku berjalan sama: pagi berdesakan pergi kerja, malam pulang ke kamar kontrakan kecilku, dan saat akhir pekan menelepon ibuku untuk menanyakan kabarnya.

Karena itu, ketika tiba-tiba ada pesan masuk di grup angkatan kami:

“Yuk reuni akhir tahun! Harus lengkap biar seru!”

Aku menatap layar cukup lama.

Di grup, satu per satu nama yang familiar mulai bermunculan. Ada yang bercerita baru membuka toko baru. Ada yang bilang sekarang sudah jadi manajer. Ada yang bertanya restoran mana yang cukup mewah agar “sesuai level” reuni. Pesan terus berdatangan, penuh tawa dan semangat, tapi bagiku terasa begitu jauh.

Awalnya aku ingin diam saja dan melewatkannya.

Namun seorang teman lama mengirim pesan pribadi:

“Ikut aja, Miguel. Sudah lama kita nggak ketemu. Cuma makan dan ngobrol kok.”

Hatiku melunak.

Bagaimanapun, dulu kami pernah duduk di ruang kelas yang sama. Pernah makan mi instan bersama di asrama. Pernah begadang menyelesaikan tugas kelompok. Aku berpikir, mungkin malam itu aku bisa sedikit merasakan kembali masa muda yang dulu pernah kami bagi.

Malam itu, aku terlambat pulang dari kantor.

Seorang klien mengirim dokumen beberapa menit sebelum jam pulang, dan supervisorku langsung menyuruhku menyelesaikannya. Saat akhirnya keluar dari kantor, langit sudah gelap. Jalanan macet karena gerimis. Mobil bergerak pelan sekali. Aku duduk di mobil online sambil berkali-kali melihat jam di ponsel dan menghela napas.

Ketika tiba di restoran, acara sudah berjalan hampir satu jam.

Restoran itu berada di kawasan ramai kota. Dari luar, lampu-lampu kuning hangat menggantung indah. Dari balik kaca, aku bisa melihat bayangan orang-orang bergerak di dalam ruang privat. Suara tawa dan obrolan terdengar sampai ke lorong.

Aku merapikan polo yang kusut karena seharian bekerja, menarik napas panjang, lalu mendorong pintu masuk.

Semua langsung menoleh kepadaku.

“Wah, Miguel! Akhirnya muncul juga!”

Yang bicara adalah Dario, mantan ketua kelas kami. Dulu dia sederhana dan ramah. Tapi sekarang auranya berbeda. Rambutnya tertata rapi, polonya tampak mahal, dan jam tangan di pergelangannya berkilau.

Beberapa orang langsung bertepuk tangan sambil bercanda.

“Telat, harus dihukum!”

“Pasti sibuk tanda tangan kontrak besar ya?”

“Kami kira kamu sudah lupa sama teman-teman lama!”

Aku hanya tersenyum.

“Maaf, ada kerjaan mendadak di kantor. Macet juga parah.”

Aku melihat sekeliling.

Dua meja bundar besar hampir penuh. Kursi-kursi di tengah, dekat orang-orang paling ramai, sudah ditempati. Meja dipenuhi makanan, gelas, tisu, tas, dan ponsel. Semua tampil lebih formal daripada yang kubayangkan. Para pria memakai polo mahal, jam tangan, sepatu kulit. Para wanita berdandan rapi, makeup mereka sempurna, tas branded diletakkan di samping kursi seolah itu bagian dari pertunjukan.

Hanya tersisa satu kursi kosong.

Letaknya di ujung meja, dekat pintu dan jalur keluar-masuk pelayan. Setiap kali pintu dibuka, angin dingin dari lorong pasti masuk. Karena dekat jalan lewat, tak ada yang mau duduk di sana.

Dario melihat kursi itu, lalu menatapku sambil tersenyum bercanda.

“Maaf ya, Miguel. Kursi bagus sudah habis. Tahan dulu di situ.”

Aku mengangguk.

“Nggak apa-apa. Di sini juga oke.”

Aku menarik kursi dan duduk.

Seorang teman wanita di dekatku bertanya pelan:

“Sekarang kerja di mana?”

Aku belum sempat menjawab ketika tawa keras tiba-tiba meledak dari tengah meja.

Semua langsung menoleh ke sana.

Pertanyaan untukku pun terputus.

Aku juga tidak mengulang jawabannya.

Aku duduk di ujung meja, diam-diam menuang air dan mengambil sedikit makanan. Awalnya aku merasa canggung. Tapi setelah sekitar sepuluh menit, aku sadar kursi ini sebenarnya tidak buruk.

Di sini, hampir tidak ada yang memperhatikanku.

Aku bisa makan perlahan, mendengar secukupnya, melihat secukupnya, dan tidak perlu ikut masuk ke obrolan yang tak tahu bagaimana harus kutanggapi.

Di tengah meja, reuni itu perlahan berubah menjadi panggung pertunjukan.

Tokoh utamanya adalah Ramon.

Dulu di kampus, Ramon biasa saja. Tidak terlalu pintar, juga bukan orang aktif organisasi. Tapi malam ini dia seperti orang berbeda. Memakai jas gelap, rambut tertata rapi, dan setiap kata yang keluar penuh percaya diri.

Dia terus bercerita tentang bisnisnya.

“Kalau bisnis sekarang, harus berpikir jauh. Apa sih artinya toko kecil? Aku sedang siap buka beberapa cabang di lokasi besar. Kalau kontrak berikutnya jadi, keuntungan tahun depan bakal gila.”

Orang-orang di sekitarnya langsung kagum.

“Gila! Ramon sekarang benar-benar big boss!”

“Dari dulu memang kelihatan punya potensi!”

“Kalau ada peluang, jangan lupa sama teman-teman lama ya!”

Ramon tertawa santai, tapi aku melihat dia sering melirik sekeliling diam-diam, seperti memastikan semua mata tertuju padanya.

Di samping Ramon duduk Clara, gadis yang dulu dianggap paling cantik di kelas.

Gaunnya elegan, rambutnya bergelombang lembut, dan gelang di pergelangan tangannya berkilau. Setiap kali bicara, tangannya seolah tak sengaja menyentuh tas mahal di sampingnya.

Dia mulai menceritakan hidupnya setelah menikah.

“Bukan mau pamer sih, tapi suamiku selalu bilang perempuan harus hidup nyaman. Rumah baru kami memang agak besar, jadi capek juga bersihinnya. Untung ada ART.”

Seseorang langsung bertanya:

“Di kompleks elite ya?”

Clara tersenyum tipis.

“Biasa aja kok. Lingkungannya tenang, security bagus, ada kolam renang, ada playground buat anak-anak.”

Suara kagum kembali memenuhi ruangan.

Lalu obrolan mulai berputar pada hal-hal yang sangat berbeda dari masa kuliah dulu.

Siapa yang beli mobil baru.

Siapa yang punya apartemen.

Anaknya sekolah di mana.

Siapa yang sudah beberapa kali liburan ke luar negeri.

Siapa yang kerja di perusahaan besar.

Siapa yang punya pasangan sukses.

Sekilas terdengar seperti obrolan biasa antar teman lama. Tapi di balik tiap kalimat, ada tusukan halus. Semua tersenyum, tapi mata mereka saling membandingkan. Semua berkata “biasa aja,” tapi sengaja menekankan bagian paling mahal.

Ada yang bertanya pada seorang teman yang kini jadi guru:

“Gaji guru stabil ya? Tapi mungkin nggak terlalu banyak sisanya?”

Ada juga yang bertanya pada seorang ibu rumah tangga:

“Nggak bosan di rumah terus? Masih harus minta uang ke suami dong?”

Nada mereka bercanda, tapi yang ditanya hanya bisa tersenyum kaku.

Aku duduk di ujung meja, diam memperhatikan semuanya.

Anehnya, tak ada lagi yang bertanya tentang diriku.

Mungkin karena aku datang terlambat, berpakaian sederhana, dan duduk dekat pintu seperti tamu yang tidak penting. Di mata mereka, mungkin aku memang tidak layak dibandingkan dengan mereka.

Dan anehnya, itu membuatku lega.

Aku tidak perlu mengarang kesuksesan.

Aku tidak perlu berpura-pura hidupku luar biasa.

Aku tidak perlu menjelaskan kenapa aku masih jadi pegawai biasa, masih mengontrak, dan belum punya sesuatu untuk dibanggakan.

Aku hanya diriku sendiri.

Miguel yang biasa saja, duduk di ujung meja, diam-diam menonton pertunjukan yang begitu ramai.

Acara makan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.

Pesanan terus bertambah. Seafood, daging panggang, dan hidangan spesial restoran keluar satu per satu. Ramon melambaikan tangan dengan santai.

“Pesan aja terus! Jarang-jarang kita kumpul, ngapain pelit?”

Dario ikut menimpali:

“Betul! Nikmati aja malam ini!”

Awalnya beberapa orang masih sungkan. Tapi lama-lama mereka makin bebas. Apa pun yang ingin dimakan langsung dipesan. Bahkan ada yang meminta bungkus untuk dibawa pulang sambil bercanda:

“Biar anak-anak di rumah ikut ngerasain.”

Aku sedikit mengernyit.

Bukan karena sayang uang, tapi karena aku tahu kesenangan tanpa batas sering berakhir buruk.

Namun aku tidak berkata apa-apa.

Aku hanya makan bagianku dan sesekali berbincang dengan Alma, teman sekelas yang duduk dekatku. Sekarang dia bekerja di apotek kecil. Dia masih sama seperti dulu: pendiam dan baik hati. Dia juga tidak ikut dalam lomba saling pamer itu. Dia hanya tersenyum tipis dan makan pelan-pelan.

Alma mendekat sedikit lalu berbisik:

“Aku nggak nyangka mereka berubah sejauh ini.”

Aku menjawab:

“Hidup orang memang beda-beda.”

Dia melihat ke tengah meja, tempat Ramon sedang bercerita tentang proyek bisnis besar, lalu menghela napas.

“Iya. Tapi ada orang yang berubah jadi melelahkan untuk dilihat.”

Aku tertawa kecil.

Akhirnya ada juga yang berpikiran sama denganku.

Hampir tengah malam ketika acara mulai selesai.

Beberapa sudah lelah, beberapa terus melihat ponsel. Pelayan beberapa kali masuk bertanya apakah masih ada tambahan pesanan, tapi dari gerak-geriknya terlihat jelas mereka sedang memberi tanda bahwa restoran hampir tutup.

Dario berdiri dan bertepuk tangan.

“Oke, cukup kali ya. Seru banget malam ini. Next time lagi!”

Saat itulah staf masuk membawa tagihan.

Suasana ruangan langsung berubah lebih sunyi.

Ramon, yang sejak tadi paling keras suaranya, langsung berdiri dan tertawa santai.

“Sini, aku yang urus malam ini.”

Semua langsung bertepuk tangan.

“Gila, Ramon keren banget!”

“Memang beda level!”

“Mulai sekarang harus panggil Sir Ramon!”

Ramon menerima bill dengan satu tangan, tampak sangat tenang.

Namun beberapa detik kemudian, senyumnya membeku.

Karena duduk dekat pintu, aku melihatnya dengan jelas.

Tatapan Ramon berhenti di angka paling bawah di kertas itu. Jarinya sedikit kaku. Bibirnya bergerak tipis. Wajahnya yang tadi merah karena semangat perlahan memucat.

Dario mendekat.

“Ada apa?”

Ramon cepat tersenyum lagi.

“Nggak. Cuma kaget ternyata kita pesan banyak juga.”

Seseorang bercanda:

“Big boss mah kecil begitu doang!”

Semua tertawa lagi.

Ramon ikut tertawa, tapi terdengar kering.

Dia mengeluarkan dompet dan menyerahkan kartu. Staf membawanya pergi.

Satu menit kemudian, pelayan itu kembali dan berkata pelan:

“Maaf, Pak. Kartunya tidak bisa diproses.”

Udara di ruangan langsung terasa berat.

Ramon mengernyit.

“Mungkin mesin kalian bermasalah. Coba lagi.”

Dicoba lagi.

Tetap gagal.

Ramon mengeluarkan kartu lain.

Juga gagal.

Saat itulah beberapa orang mulai saling berpandangan.

Ramon mengambil ponsel dan pura-pura membuka aplikasi bank. Jarinya terus menekan layar, tapi wajahnya malah makin buruk.

“Mungkin sistem bank lagi maintenance,” katanya sambil berusaha tenang. “Aku telepon asistanku buat transfer.”

Seseorang tertawa canggung.

“Wah, punya asisten juga ya?”

Ramon tidak menjawab.

Dia menelepon satu nomor, tak diangkat. Menelepon lagi, kedua, ketiga, tetap tak ada jawaban.

Dan saat itu juga, pertunjukan mewah tadi mulai retak.

Clara, yang sejak tadi paling memuji Ramon, tiba-tiba menunduk dan merapikan tasnya. Seorang teman lain pura-pura pergi ke toilet dan tidak kembali. Ada yang sibuk melihat ponsel seolah punya urusan sangat penting.

Dario mengusap keringat di dahinya.

“Mungkin… kita patungan aja. Namanya juga reuni.”

Sebenarnya usulan itu normal.

Masalahnya, jumlah tagihannya sangat besar.

Karena sepanjang malam semua memesan tanpa pikir panjang. Ketika Ramon bilang dia yang bayar, semua makin bebas. Sekarang kalau dibagi rata, tiap orang harus membayar jumlah yang tidak sedikit.

Langsung ada yang protes.

“Bukannya tadi Ramon bilang dia yang traktir?”

“Aku makannya sedikit kok, kenapa harus sama rata?”

“Aku masih ada kebutuhan di rumah, bisa transfer nanti aja?”

“Aku nggak makan menu itu.”

“Yang takeout harus bayar sendiri dong!”

Ruangan yang tadi penuh tawa kini berubah seperti pasar kecil.

Dario mencoba menenangkan semua, tapi makin kacau. Ada yang mabuk, ada yang pura-pura tak dengar, ada yang menghitung tiap potong makanan yang mereka makan. Pelayan berdiri di samping dengan senyum sopan yang makin terlihat dipaksakan.

Karena aku duduk paling dekat pintu dan kasir, tiba-tiba Dario menoleh padaku.

“Miguel, kamu paling sadar di sini. Bisa bantu kumpulin uang? Transfer atau cash ke kamu dulu, nanti kamu yang bayar ke kasir biar cepat selesai.”

Aku sedikit terkejut.

Sepanjang malam hampir tak ada yang memperhatikanku. Tapi begitu ada pekerjaan merepotkan, mereka langsung ingat aku ada di situ.

Meski begitu, aku mengangguk.

“Oke. Tapi harus jelas siapa bayar berapa.”

Dario menghela napas lega.

“Iya, iya. Catat aja.”

Aku membuka notes di ponsel, mengambil piring kosong, lalu mulai berkeliling mengumpulkan uang.

Awalnya kupikir ini cuma kerepotan kecil.

Tapi semakin lama, semakin terasa ada yang salah.

Ada yang bayar penuh.

Ada yang transfer kurang lalu bilang, “Nanti aku tambah.”

Ada yang bilang tidak bawa cash dan aplikasi bank error.

Ada yang meletakkan beberapa lembar uang kecil di piring sambil berkata:

“Aku makan sedikit kok, segini aja ya.”

Aku tidak berdebat.

Aku hanya mencatat.

Nama masing-masing.

Jumlah yang diberikan.

Siapa yang kurang.

Siapa yang belum bayar.

Siapa yang janji transfer nanti.

Saat sampai di Clara, dia tersenyum manis.

“Miguel, aku nggak pakai rekening ini buat transfer kecil. Nanti aku suruh suamiku kirim ya.”

Aku menatapnya.

“Berarti aku tulis dulu Clara belum bayar.”

Senyumnya langsung sedikit kaku.

“Harus ditulis begitu? Kita kan teman.”

Aku menjawab tenang:

“Justru karena teman, harus jelas supaya nggak ada salah paham.”

Dia tidak suka, tapi tetap membuka dompet dan mengeluarkan uang. Masalahnya, jumlahnya bahkan tidak sampai setengah tagihannya.

Aku menulis nominal sebenarnya.

Tatapannya langsung tajam.

Aku pura-pura tidak melihat.

Saat sampai pada Ramon, dia duduk diam dengan wajah keras. Jas mahal yang tadi tampak begitu mewah kini terlihat seperti beban berat di tubuhnya.

Aku bertanya:

“Bagianmu?”

Dia menatapku lalu tersenyum dingin.

“Aku masih urus transfer. Nanti kekurangannya kukirim.”

Aku mengangguk.

“Oke. Kutulis dulu Ramon belum bayar.”

Dia langsung berkata pelan:

“Miguel, perlu banget ya kamu lakukan itu di depan semua orang?”

Aku menatapnya.

“Karena tagihannya memang belum lunas.”

Suaraku tidak keras, tapi cukup terdengar oleh beberapa orang di sekitar.

Rahang Ramon mengeras.

Dario buru-buru menarik lenganku.

“Udah, udah. Catat aja dulu.”

Setelah hampir dua puluh menit kekacauan, akhirnya terkumpul sejumlah uang. Tapi ketika kuhitung, masih jauh dari cukup.

Kasir mendekat ke pintu dan berkata sopan:

“Maaf, Pak, tagihan harus diselesaikan malam ini.”

Udara semakin berat.

Dario menoleh ke semua orang.

“Masih kurang. Ada yang bisa nombokin dulu?”

Tak ada yang menjawab.

Orang-orang yang tadi bicara soal rumah mewah, mobil baru, proyek besar, dan penghasilan tinggi mendadak sangat diam.

Aku menatap piring penuh uang di tanganku, lalu melihat tagihan itu.

Tiba-tiba aku ingin tertawa.

Bukan karena mereka tidak punya uang.

Tapi karena semua orang ingin mempertahankan citra mengilap mereka, sementara tak ada yang mau bertanggung jawab atas harga dari citra itu.

Saat itulah pintu terbuka.

Masuk seorang pria berkaus polo putih dengan name tag manager. Di belakangnya ada dua petugas keamanan restoran.

Manager itu melihat sekeliling sebelum berhenti pada Ramon.

“Maaf mengganggu. Apakah Anda Pak Ramon?”

Ramon sedikit terkejut.

“Iya. Kenapa?”

Manager itu meletakkan tablet di meja.

“Kami sudah mengecek detail reservasi. Acara malam ini dipesan atas nama Anda, termasuk permintaan private premium room dan special set menu. Selain bill tadi, ada paket reservasi awal dan service charge terpisah yang belum dimasukkan staf.”

Suasana ruangan langsung mati.

Mata Dario membesar.

“Ada tambahan lagi?”

Manager itu mengangguk.

“Iya, Pak. Totalnya lebih besar daripada tagihan awal.”

Beberapa orang langsung berdiri.

“Nggak bisa begitu!”

“Kami nggak tahu soal itu!”

“Kalau Ramon yang pesan, dia yang bayar!”

Wajah Ramon memucat.

“Tunggu dulu, aku cuma pesan ruangan. Siapa bilang kalian boleh nambah seenaknya?”

Manager itu tetap sopan.

“Dalam pesan konfirmasi, Bapak sendiri yang menyetujui paket spesial. Semua percakapan tersimpan.”

Lalu dia menunjukkan tablet ke semua orang.

Di layar terlihat percakapan reservasi.

Nama Ramon.

Nomor Ramon.

Dan sebuah pesan yang jelas:

“Siapkan yang terbaik. Aku ingin reuni ini terlihat mewah.”

Ruangan langsung sunyi.

Ramon tampak membeku.

Clara perlahan mundur sedikit, seolah takut ikut terseret.

Dario menatap Ramon tidak percaya.

“Ramon, apa ini? Kamu yang pesan paket mahal, lalu mau dibagi rata ke kami?”

Mulut Ramon terbuka, tapi sebelum dia sempat bicara, ponselku bergetar.

Masuk notifikasi transfer.

Pengirim: Ramon.

Jumlahnya: hanya sebagian kecil dari kekurangannya.

Lalu muncul pesan pribadi:

“Miguel, tolong bilang ke mereka aku sudah bayar penuh. Sisanya kukirim nanti. Jangan bikin aku malu.”

Aku menatap pesan itu.

Lalu menatap seluruh ruangan yang menunggu jawabanku.

Kasir berdiri di sampingku.

Dario bertanya:

“Miguel, Ramon sudah transfer? Sudah lunas?”

Ramon menatapku. Di matanya ada permohonan… sekaligus ancaman.

Semua orang melihat ke arahku.

Perlahan aku mengangkat ponselku.

Layar terang itu menyala di tengah ruangan yang sunyi.

Dan saat semua orang melihat jumlah transfer yang baru saja dikirim Ramon… wajahnya langsung pucat pasi.

Ramon langsung membuang muka, tak sanggup menatap layar ponselku yang kini menjadi saksi bisu kebohongannya. Angka yang tertera di sana sangat jauh dari kata “lunas”.

“Miguel…” suara Ramon bergetar, terdengar parau dan kehilangan semua keangkuhan yang ia pamerkan sejak awal malam. “Bisa kita bicarakan ini berdua?”

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Retakan pada topeng kemewahan malam itu kini pecah sepenuhnya.

Clara, yang sejak tadi duduk anggun bak ratu, langsung berdiri dengan anggun yang dipaksakan. “Oh, astaga, suamiku sudah menjemput di depan. Aku harus duluan ya. Miguel, uang yang kurang tadi anggap saja kontribusiku, aku tidak ikut urusan paket tambahan ini.” Tanpa menunggu jawaban, ia menyampirkan tas branded-nya dan melangkah cepat keluar pintu, bahkan hampir menyenggol pelayan.

Langkah Clara memicu efek domino. Satu per satu dari mereka yang tadi menyombongkan aset dan jabatan mulai mencari seribu alasan untuk melarikan diri.

“Anakku terbangun di rumah, aku harus pulang.” “Aplikasi bank-ku benar-benar error, besok aku transfer ke Dario.” “Aku tadi cuma makan cumi dua potong, rasanya tidak adil kalau harus menanggung ini.”

Dalam waktu kurang dari lima menit, ruang privat yang tadinya bising oleh tawa riuh kini menyusut. Tersisa aku, Alma, Dario yang tampak frustrasi memegangi kepalanya, dan Ramon yang terduduk lemas di kursinya, menatap meja yang penuh dengan sisa makanan mahal yang tak lagi terasa nikmat.

Manager restoran berdeham, memecah kesunyian yang mencekam. “Jadi, bagaimana penyelesaiannya, Pak?”

Dario menatap Ramon dengan amarah yang tertahan. “Mon, keterlaluan kamu. Kalau memang bisnis cabangmu itu belum jalan, atau kalau kamu cuma mau pamer, jangan tumbalkan kami. Kami datang ke sini untuk reuni, bukan untuk jadi penjamin gengsimu!”

Ramon hanya diam, menunduk dalam-dalam. Bahunya merosot. Di hadapan tagihan nyata dan dua petugas keamanan yang berdiri tegap di dekat pintu, seluruh cerita suksesnya menguap layaknya embun pagi.

Aku menghela napas panjang, merapikan catatan di ponselku, lalu berdiri. Aku menyerahkan piring berisi tumpukan uang tunai yang berhasil kukumpulkan tadi kepada kasir.

“Ini uang yang terkumpul dari teman-teman yang sudah bayar,” kataku tenang. Aku lalu menatap Ramon dan Dario. “Sisa kekurangannya adalah bagian Ramon, ditambah paket khusus yang dia pesan sendiri. Dan Dario, sebagai ketua kelas yang mengoordinasi, kurasa kamu harus tinggal di sini sebentar untuk membantu Ramon menyelesaikannya dengan pihak manajemen.”

Dario menatapku dengan tatapan campur aduk—antara malu, bersalah, dan tak berdaya. “Miguel… maafkan kami ya. Tadi kami…”

“Nggak apa-apa,” potongku sambil tersenyum tipis. “Aku duluan. Udah kemalaman.”

Aku menoleh ke arah Alma yang sejak tadi setia diam di sampingku. “Mau pulang bareng, Alma? Searah kan?”

Alma mengangguk cepat, tampak sangat lega bisa keluar dari ruangan yang menyesakkan itu. “Mau, Miguel. Yuk.”

Aku melangkah keluar dari ruangan, melewati pintu yang sejak awal menjadi tempat dudukku. Saat melintasi pembatas ruangan, aku sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di dalam sana, lampu gantung yang mewah masih bersinar terang, namun tidak ada lagi kehangatan di bawahnya. Yang tersisa hanyalah dua orang pria yang sibuk berdebat dengan pihak restoran, dikelilingi oleh sisa-sisa kemewahan palsu yang runtuh dalam semalam.

Begitu keluar dari restoran, udara malam yang dingin dan sisa gerimis tipis langsung menyambut wajahku. Rasanya begitu segar.

Aku memakai jaket, membuka payung, dan berjalan beriringan dengan Alma menuju tepi jalan untuk mencari taksi. Hidupku mungkin masih sama besok pagi: berdesakan di kereta, menjadi pegawai biasa dengan gaji yang pas-pasan, dan pulang ke kontrakan kecil.

Namun malam ini, dari atas kursi di dekat pintu yang sempat mereka remehkan, aku belajar satu hal berharga. Aku tidak perlu memalsukan apa pun demi pengakuan orang lain. Hidup yang biasa-biasa saja namun tenang dan jujur, ternyata jauh lebih mewah daripada panggung sandiwara yang harganya tak mampu kita bayar.