Setelah menikah, aku tidak pernah sekali pun memberitahu perusahaan bahwa aku adalah istri CEO.
Bukan karena aku ingin menyembunyikannya.
Dulu Rafael hanya berkata:
“Aku tidak ingin orang memandangmu berbeda. Jalani saja pekerjaan yang kamu suka.”
Aku mempercayainya.
Selama tiga tahun, aku bekerja seperti semua orang—datang paling pagi, lembur sampai malam, mengejar klien, begadang demi menyelesaikan proposal. Selain cincin pernikahan yang selalu kusimpan di dalam tas, tidak ada seorang pun yang tahu hubungan kami.
Sampai hari terakhir tahun itu.
Semua orang di departemen sales sudah menerima bonus tahunan.
Hanya aku yang tidak.
—
“Namamu dicoret.”
Staf HR mendorong daftar itu ke depanku dengan suara dingin.
Aku menunduk melihatnya.
Di bagian bonus akhir tahun, nama Maya Santos dicoret tebal dengan tinta merah.
Di sampingnya tertulis:
“Tidak lulus evaluasi.”
Aku tertawa sinis.
“Tidak lulus?”
“Akulah yang mendapatkan tiga klien terbesar tahun ini.”
“Lebih dari setengah penjualan departemen berasal dari proyek yang kutangani.”
“Di bagian mana aku tidak lulus?”
Staf HR mengangkat bahu.
“Perintah atasan.”
“Aku hanya menjalankan tugas.”
Aku belum sempat bertanya lagi ketika pintu tiba-tiba terbuka.
Seorang wanita muda masuk.
Rambutnya sedikit bergelombang, mengenakan dress warna krem, dan membawa kopi mahal di tangannya.
Ekspresi semua orang di kantor langsung berubah.
“Oh, Miss Bianca sudah datang.”
“Resi belanja Anda kemarin sudah kami proses.”
“Oh ya, hadiah akhir tahun untuk condo Anda juga sudah dikirim.”
Aku menatap tumpukan resi di tangannya.
Tas desainer.
Kosmetik mahal.
Spa.
Dinner party.
Semuanya bertanda dibayar oleh perusahaan.
Bianca dela Cruz melirikku dan tersenyum tipis.
“Ada masalah?”
Aku menoleh pada staf HR.
“Perusahaan menyetujui semua pengeluaran ini?”
Dia langsung mengerutkan dahi.
“Bukan urusanmu.”
“Itu fasilitas untuk orang dekat pemilik perusahaan.”
Aku terdiam.
“…Orang dekat pemilik?”
Dia tertawa kecil.
“Kamu tidak tahu?”
“Satu kantor sudah tahu.”
“Miss Bianca itu wanita di sisi CEO.”
“Tidak kelihatan bagaimana Sir Rafael sangat memanjakannya?”
Dadaku perlahan terasa dingin.
Wanita di sisi CEO?
Aku menggenggam ponselku erat.
Sudah tiga hari suamiku pergi business trip.
Pesan terakhirnya masih terpampang di layar.
【Begitu aku pulang, kita makan malam bersama.】
Aku menatap lama kalimat itu.
Lalu perlahan mematikan layar ponselku.
—
Sore harinya, aku dipanggil ke kantor department manager.
Dia melempar sebuah map ke atas meja.
“Mulai bulan depan, kamu tidak lagi menangani proyek utama.”
Aku mengangkat kepala.
“Maksudnya?”
“Ada penyesuaian tenaga kerja di perusahaan.”
“Aku yang menangani proyek itu selama enam bulan.”
“Klien hanya berhubungan langsung denganku.”
Dia bersandar di kursi dengan nada penuh kejengkelan.
“Kamu pikir perusahaan tidak bisa jalan tanpa dirimu?”
“Jangan terlalu tinggi menilai diri sendiri.”
Aku melihat surat mutasi di meja.
Dari posisi sales team leader.
Dipindahkan menjadi admin support.
Mengurus dokumen.
Mencatat inventaris hadiah.
Bahkan mejaku dipindahkan ke ujung lorong dekat toilet.
Barang-barangku dimasukkan begitu saja ke dalam kardus.
Tanaman kecil yang kurawat hampir dua tahun patah satu cabangnya.
Rekan-rekan kerja yang lewat hanya melirik diam-diam.
Tak ada yang berani bicara.
Seorang pegawai senior mendekat dan berbisik pelan:
“Bertahan saja dulu.”
“Kudengar kamu membuat Miss Bianca kesal.”
“Sekarang hampir semua keinginannya dituruti.”
“Bahkan CEO pun selalu mengikuti maunya.”
Aku diam sambil memungut dokumen yang berserakan di lantai.
Kuku-kuku jariku menancap ke telapak tangan sendiri.
Aku benar-benar ingin tahu…
Pria yang setiap malam menelepon hanya untuk mengingatkanku makan tepat waktu.
Pria yang menunggu semalaman di depan ruang operasi saat ibunya menjalani operasi.
Berapa banyak wajah lain yang belum pernah kulihat darinya?
—
Malam itu, jam pulang kerja hampir tiba.
Tiba-tiba seluruh kantor heboh.
“Mobil CEO sudah kembali!”
“Katanya dari bandara langsung ke sini!”
“Miss Bianca sedang ada di ruang meeting!”
Aku sedang membawa dua kotak hadiah akhir tahun melewati lorong ketika seseorang tiba-tiba menabrakku dari belakang.
Troli yang kubawa miring.
Kotak-kotak jatuh berhamburan.
Salah satu gift set kaca di dalamnya pecah.
Terdengar tawa mengejek di depanku.
“Makanya hati-hati.”
Bianca berdiri di dekat lift sambil melipat tangan dan menatapku.
Di sampingnya ada HR manager dan department manager.
Mereka memandangku seolah aku bahan lelucon.
“Memang ada orang yang cocoknya cuma angkat barang.”
“Aku heran dulu dia dapat keberanian dari mana sampai merasa hebat.”
Aku menahan tubuhku dengan tangan untuk berdiri.
Pecahan kaca menggores telapak tanganku.
Darah mengalir dari pergelangan tanganku ke lantai dingin.
Dan tepat saat itu—
Pintu lift terbuka.
Barisan pria bersetelan jas keluar lebih dulu.
Seluruh lorong langsung sunyi.
Orang terakhir yang keluar adalah pria yang paling kukenal.
Dia bahkan belum melepas coat hitamnya.
Tatapan dinginnya menyapu seluruh karyawan.
“CEO…”
Wajah Bianca langsung berubah.
Dia buru-buru mendekat dengan suara manja.
“Kamu sudah kembali.”
Rafael Villar bahkan tidak meliriknya.
Tatapannya berhenti di tanganku.
Pada darah yang menetes ke lantai.
Seluruh lorong menahan napas.
Aku menatapnya.
Dia juga menatapku.
Beberapa detik kemudian, perlahan dia melepas sarung tangan kulitnya dan melemparkannya pada asistennya di belakang.
Lalu selangkah demi selangkah dia berjalan ke arahku.
Wajah Bianca langsung pucat.
“Sir… Sir Rafael…”
Rafael berhenti tepat di depanku.
Suaranya rendah dan menakutkan.
“Siapa yang melakukan ini padamu?”…
BAGIAN 2 (Bagian Akhir)
Suara Rafael bergema di lorong yang sunyi. Dingin, tajam, dan sarat akan ancaman yang membuat bulu kuduk semua orang meremang.
Bianca, yang mengira kemarahan Rafael ditujukan kepadaku karena merusak barang perusahaan, buru-buru melangkah maju dengan senyum manis yang dipaksakan.
“Sir Rafael, maafkan kekacauan ini,” ujar Bianca sambil melirikku dengan jijik. “Karyawan admin ini sangat ceroboh. Dia tidak hati-hati membawa troli sampai memecahkan gift set kaca mahal untuk klien penting kita. Saya baru saja ingin menegurnya.”
Department manager dan HR manager di belakangnya langsung mengangguk penuh semangat, ikut melempar minyak ke dalam api.
“Betul, Sir. Maya Santos ini memang belakangan menunjukkan kinerja yang sangat buruk. Kami bahkan sudah memutasinya ke bagian admin karena dia tidak kompeten,” tambah sang department manager, berusaha mencari muka.
Rafael tidak berkedip. Dia sama sekali tidak menoleh pada Bianca ataupun para manajer itu. Tatapannya terpaku pada telapak tanganku yang terus meneteskan darah ke lantai marmer.
Perlahan, Rafael menanggalkan coat hitam panjangnya. Namun, alih-alih memberikannya kepada asisten, dia berlutut di depanku—di atas lantai yang kotor oleh pecahan kaca.
Seluruh lorong seketika kehilangan suara. Lapisan udara di sekitar kami mendadak membeku.
Dengan sangat hati-hati, seolah aku adalah barang paling rapuh di dunia, Rafael meraih tanganku yang terluka. Saputangan sutra dari saku kemejanya dia keluarkan untuk membalut luka di telapak tanganku dengan gerakan yang sangat lembut.
“Sakit?” bisiknya, suaranya bergetar. Keangkuhan sang CEO runtuh total, digantikan oleh rasa bersalah yang teramat dalam.
Aku menatapnya datar, menarik tanganku perlahan dari genggamannya. “Lebih sakit tiga tahun bekerja keras seperti orang bodoh, sementara kantormu memperlakukanku seperti sampah.”
Kebenaran di Balik “Wanita Sisi CEO”
Rafael berdiri, wajahnya berubah menjadi monster yang siap mengoyak siapa saja. Dia berbalik menatap Bianca, lalu ke arah dua manajer yang kini gemetar ketakutan di tempat mereka berdiri.
“Siapa yang memberimu hak untuk menyentuhnya?” desis Rafael pada Bianca.
Bianca tergagap, wajahnya pucat pasi. “S-Sir… saya… saya sepupu Anda! Anda bilang sendiri pada paman bahwa saya bisa belajar bekerja di sini—”
“Belajar bekerja?” Rafael tertawa sumir, sebuah tawa yang terdengar mengerikan. “Belajar bekerja dengan cara memalsukan tanda tanganku untuk mencairkan anggaran perusahaan demi gaya hidupmu? Belajar bekerja dengan menyebarkan rumor menjijikkan bahwa kamu adalah ‘wanitaku’?”
Pernyataan Rafael membuat seluruh karyawan yang menguping di lorong terperangah. Jadi, Bianca bukan kekasih simpanan sang CEO, melainkan hanya sepupu jauh yang memanfaatkan nama besar keluarga Villar untuk bertingkah semena-mena.
Rafael beralih menatap HR manager. “Dan kamu. Atas dasar apa kamu mencoret nama Maya Santos dari daftar bonus tahunan? Atas dasar apa kamu memutasinya tanpa persetujuan tertulis dariku?!”
“M-Miss Bianca yang meminta, Sir… katanya itu atas perintah Anda…” jawab HR manager dengan suara mencicit, keringat dingin membasahi dahinya.
“Aku memintamu menjaga privasi istriku agar dia bisa bekerja dengan tenang tanpa tekanan status, bukan memberimu ruang untuk menindasnya!” terhampar sudah kebenaran itu. Kata ‘istriku’ keluar dari mulut Rafael seperti hantaman petir yang meruntuhkan dinding-dinding kepalsuan di kantor itu.
Bianca hampir kehilangan keseimbangan. Department manager yang tadi memindahkan mejaku ke dekat toilet langsung berlutut di lantai.
“I-Istri…?” Bianca menatapku dengan mata membelalak horor. “Dia… dia istrimu, Rafael?!”
Akhir dari Kepura-puraan
Aku melangkah maju, berdiri di samping Rafael. Aku membuka tas kerjaku, mengambil sebuah kotak beludru kecil, dan mengeluarkan cincin pernikahan bertahtakan berlian yang selama tiga tahun ini sengaja kusembunyikan. Aku menyematkannya kembali ke jari manisku.
“Fasilitas condo, tas desainer, dan makan malam mewah yang kamu nikmati menggunakan uang perusahaan itu… semuanya dipotong dari dividen pribadi milik suamiku,” kataku, menatap Bianca dengan pandangan dingin. “Dan proyek utama yang kamu rebut dariku? Klien-klien itu menandatangani kontrak karena mereka percaya padaku, bukan pada nama keluarga Villar yang kamu agungkan.”
Aku menoleh pada Rafael. “Kamu bilang kamu ingin melindungiku dengan menyembunyikan statusku. Tapi kenyataannya, idemu ini justru membuatku menjadi sasaran empuk manusia-manusia parasit seperti mereka.”
Rafael menundukkan kepalanya, penuh penyesalan. “Maafkan aku, Maya. Ini kesalahanku. Aku akan menyelesaikannya sekarang.”

Rafael berbalik dan menatap asisten pribadinya. “Telepon tim hukum. Laporkan Bianca dela Cruz atas dugaan penggelapan dana perusahaan dan penipuan. Kumpulkan semua resi belanjanya, pastikan dia mengembalikan setiap peso yang dia gunakan, atau jebloskan dia ke penjara.”
“Rafael! Aku sepupumu! Paman tidak akan tinggal diam!” jerit Bianca histeris saat dua petugas keamanan menyergap lengannya dan menyeretnya menjauh dari lift.
“Pamanmu akan menjadi orang berikutnya yang kupecat dari dewan komisaris jika dia berani membelamu,” jawab Rafael tanpa belas kasihan.
Tatapannya kemudian beralih pada HR manager dan department manager yang masih bersujud. “Kalian berdua, kemasi barang kalian malam ini juga. Surat pemecatan tidak hormat kalian akan keluar besok pagi, lengkap dengan catatan hitam yang memastikan kalian tidak akan pernah bisa bekerja di perusahaan mana pun di negara ini.”
Memilih Jalan Sendiri
Lorong itu kembali sunyi. Rekan-rekan kerja yang selama ini mendiamkanku kini menunduk, tak berani menatap mataku karena rasa bersalah dan malu.
Rafael mencoba meraih tanganku lagi. “Mari kita ke rumah sakit, Maya. Lukamu harus diobati. Setelah itu, kita akan pindahkan ruanganmu ke lantai atas, di samping ruanganku. Tidak akan ada lagi yang berani—”
“Tidak perlu, Rafael,” potongku pelan namun tegas.
Aku berjalan menuju meja admin pendukung di ujung lorong, mengambil kardus berisi barang-barangku, termasuk tanaman kecilku yang patah.
“Aku mencintai pekerjaan ini, aku mencintai dunia sales. Tapi aku menyadari satu hal… aku tidak perlu bersembunyi di bawah bayang-bayang namamu hanya untuk membuktikan kemampuanku,” kataku sambil menatapnya lurus.
Aku mengeluarkan ID karyawan milikku, lalu meletakkannya di atas troli yang rusak.
“Aku mengundurkan diri. Tiga tahun ini sudah cukup membuktikan bahwa aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri tanpa bantuan status ‘Istri CEO’. Besok, aku akan membangun firma konsultan penjualanku sendiri.”
Rafael terpaku, matanya menyiratkan rasa takut akan kehilangan diri ku. “Maya, tolong… jangan tinggalkan aku.”

“Aku tidak meninggalkan pernikahan kita, Rafael. Aku hanya meninggalkan perusahahanmu,” aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang bebas dan penuh kemenangan. “Obati lukaku di rumah, sebagai suamiku. Bukan sebagai bosku.”
Aku berjalan melewati kerumunan karyawan yang membungkuk hormat, melangkah masuk ke dalam lift dengan kepala tegak. Di belakangku, Rafael bergegas mengejarku, meninggalkan takhta CEO-nya malam itu demi mengejar wanita yang mengajarinya bahwa harga diri tidak bisa dibeli dengan jabatan.
Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir (BAGIAN 2) dari cerita tersebut:
BAGIAN 2 (Bagian Akhir)
Suara Rafael bergetar rendah, mengirimkan gelombang hawa dingin yang seketika membekukan seisi lorong. Keheningan yang mencekam menyelimuti kami, membuat suara tetesan darahku yang mengenai lantai marmer terdengar begitu nyata.
Bianca, yang mengira kemarahan Rafael ditujukan kepadaku karena kekacauan ini, langsung memasang wajah panik yang dibuat-buat. Dia melangkah maju, mencoba meraih lengan Rafael.
“Sir Rafael, maafkan kelalaian bagian admin,” ujar Bianca dengan nada manja yang memuakkan, sambil melirikku sinis. “Karyawan rendahan ini sangat ceroboh saat membawa kotak hadiah untuk klien. Dia menabrak saya, menjatuhkan barang-barang, dan sekarang malah mengotori lantai. Saya baru saja ingin menegurnya.”
Mendengar hal itu, department manager dan HR manager di belakangnya langsung mengangguk kompak, berebut mencari muka di depan sang pemilik takhta tertinggi perusahaan.
“Benar, Sir. Dia ini Maya Santos dari bagian umum,” potong department manager dengan nada menghina. “Kinerjanya belakangan ini memang sangat buruk dan bermasalah, makanya baru saja kami mutasi ke posisi admin support. Kami akan segera mengurus pemecatannya agar tidak mengganggu kenyamanan kantor.”
Rafael tidak berkedip. Dia sama sekali tidak menoleh ke arah Bianca, apalagi mendengarkan celoteh kedua manajer itu. Sepasang matanya hanya tertuju pada telapak tanganku yang terluka.
Perlahan, Rafael melepas coat hitam panjangnya. Namun, alih-alih menyerahkannya kepada asisten, dia berlutut di atas lantai yang dingin—tepat di depan kakiku, mengabaikan pecahan kaca yang berserakan.
Seluruh karyawan yang menyaksikan hal itu langsung menahan napas. Wajah Bianca seketika pias, kehilangan seluruh warnanya.
Dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah aku adalah sesuatu yang paling berharga dan rapuh, Rafael meraih tanganku yang bersimbah darah. Dia mengeluarkan saputangan sutra putih dari saku kemejanya, lalu membalut luka di telapak tanganku dengan tangan yang gemetar menahan amarah.
“Sakit, Sayang?” bisiknya lirih. Suaranya penuh dengan rasa bersalah yang teramat dalam, sangat kontras dengan sosok CEO dingin yang ditakuti semua orang.
Aku menatapnya lurus, membiarkan keheningan menjawabnya sebelum akhirnya aku menarik tanganku perlahan dari genggamannya. “Tidak seberapa sakit dibandingkan melihat kantormu memperlakukanku seperti sampah selama kamu pergi.”
Kebenaran di Balik “Wanita Sisi CEO”
Rafael berdiri tegak. Ketika dia berbalik menghadap Bianca dan kedua manajer itu, wajahnya telah berubah menjadi sosok predator yang siap menghancurkan siapa saja.
“Siapa yang memberimu hak untuk menyentuhnya, Bianca?” desis Rafael. Suaranya begitu tenang, namun sarat akan ancaman mematikan.
Bianca tergagap, langkahnya mundur selangkah. “S-Sir… Rafael… saya hanya… dia yang menabrak saya! Lagi pula, paman bilang saya boleh mengatur beberapa hal di kantor ini—”
“Mengatur hal di kantor dengan menggunakan namaku untuk membiayai gaya hidup mewahmu?” Rafael tertawa sinis, sebuah suara yang membuat HR manager di sampingnya mendadak berkeringat dingin. “Mengatur kantor dengan menyebarkan rumor murahan bahwa kamu adalah ‘wanita di sisiku’ demi menindas karyawan lain? Aku membiarkanmu magang di sini karena menghormati ibumu, bukan untuk memberi ruang bagi parasit seperti dirimu!”
Kata-kata Rafael bergema ke setiap sudut lorong. Seluruh karyawan yang menonton dari balik kubikel terperangah. Kebenaran akhirnya terungkap—Bianca bukanlah kekasih simpanan sang CEO, melainkan hanya kerabat jauh yang memanfaatkan posisinya untuk bertingkah semena-mena.
Rafael kemudian beralih menatap HR manager dan department manager. Tatapannya seolah bisa menguliti mereka hidup-hidup.
“Dan kalian berdua. Atas dasar apa nama Maya Santos dicoret dari daftar bonus tahunan? Atas dasar apa kalian memutasinya ke dekat toilet tanpa persetujuan tertulis dariku?!”
“M-Miss Bianca yang memberi perintah, Sir…” jawab HR manager dengan suara mencicit, lututnya lemas. “Dia bilang… dia bicara atas nama Anda…”
“Aku memintamu merahasiakan identitas istriku agar dia bisa bekerja dengan tenang tanpa tekanan status, bukan untuk memberi kalian celah untuk menyiksanya saat aku tidak ada!”
Kata ‘istriku’ meluncur dari mulut Rafael seperti hantaman guntur.
Brak!
Department manager yang tadi memindahkan mejaku langsung berlutut di lantai, tubuhnya bergetar hebat. Bianca menggelengkan kepalanya berkali-kali, matanya membelalak horor menatapku yang masih berdiri dengan tangan terbalut saputangan Rafael.
“I-Istri…?” Bianca menatapku seolah melihat hantu. “Dia… perempuan miskin ini istrimu, Rafael?!”
Akhir dari Kepura-puraan
Aku melangkah maju, berdiri tepat di samping Rafael. Aku membuka tas kerjaku yang usang, merogoh bagian dalamnya, dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. Di hadapan semua orang, aku mengeluarkan cincin pernikahan bertahtakan berlian yang selama tiga tahun ini kusembunyikan demi menghormati permintaannya.
Aku menyematkannya kembali ke jari manisku. Kilau berlian itu seolah menampar wajah semua orang yang ada di lorong.
“Fasilitas condo, tas desainer, dan semua resi mewah yang kamu klaim ke perusahaan…” aku menatap Bianca dengan pandangan dingin yang kosong. “Semuanya dipotong langsung dari dividen pribadi milik suamiku. Dan tiga proyek besar yang kamu klaim sebagai hasil kerjamu bulan ini? Klien-klien itu menandatanganinya karena mereka percaya pada proposalku, bukan pada nama keluarga yang kamu pamerkan.”
Aku menoleh ke arah Rafael, menatap suamiku yang kini menunduk penuh penyesalan. “Kamu bilang kamu ingin melindungiku dari pandangan berbeda orang-orang. Tapi idemu ini justru membuatku jadi target empuk bagi orang-orang yang tidak tahu diri.”
“Maafkan aku, Maya… aku salah. Aku akan menyelesaikan semuanya malam ini juga,” kata Rafael, suaranya tercekat. Dia berbalik menatap asisten pribadinya. “Panggil tim hukum sekarang. Laporkan Bianca dela Cruz atas dugaan penggelapan dana perusahaan, pemalsuan dokumen, dan penipuan. Pastikan dia mengembalikan setiap peso yang dia pakai, atau jebloskan dia ke penjara.”
“Rafael! Aku sepupumu! Paman tidak akan tinggal diam!” jerit Bianca histeris saat dua petugas keamanan menyergap lengannya dan menyeretnya paksa menuju lift.
“Pamanmu akan menjadi orang berikutnya yang aku tendang dari dewan komisaris jika dia berani membuka suara untuk membelamu,” jawab Rafael tanpa belas kasihan sedikit pun.
Pandangannya lalu jatuh pada dua manajer yang masih bersujud di lantai. “Kalian berdua, kemasi barang-barang kalian sekarang. Surat pemecatan tidak hormat akan selesai dalam sepuluh menit, lengkap dengan tuntutan hukum atas penyalahgunaan wewenang dan pencemaran nama baik. Aku akan memastikan tidak akan ada satu pun perusahaan di negara ini yang mau menerima sampah seperti kalian.”
Memilih Jalan Sendiri
Lorong kantor mendadak sunyi senyap. Teman-teman satu departemen yang seharian tadi mendiamkanku kini menunduk dalam-dalam, tak ada satu pun yang berani menatap mataku karena rasa malu dan bersalah.
Rafael berbalik padaku, mencoba meraih pundakku dengan rapuh. “Maya, ayo kita ke rumah sakit. Lukamu harus diobati. Setelah itu, aku akan memindahkan seluruh barangmu ke lantai atas. Ruanganmu akan berada tepat di samping ruanganku. Tidak akan ada lagi yang berani—”
“Tidak perlu, Rafael,” potongku pelan namun tegas.
Aku berjalan menuju ujung lorong dekat toilet, mengambil kardus berisi barang-barangku yang sempat terbuang, termasuk tanaman kecilku yang patah. Aku memeluk kardus itu erat-erat.
“Aku mencintai pekerjaan ini, aku mencintai dunia sales karena kemampuanku sendiri,” kataku sambil menatap suamiku lurus-lurus. “Tapi tiga tahun ini sudah cukup membuktikannya. Aku tidak perlu bersembunyi lagi di bawah bayang-bayang namamu ataupun kemewahan perusahaanmu hanya untuk diakui.”
Aku meletakkan kartu identitas karyawan milikku di atas meja lorong.
“Aku mengundurkan diri dari perusahaan ini. Besok, aku akan membangun firma konsultan penjualanku sendiri. Aku membuktikannya pada dunia bahwa aku sukses karena namaku, Maya Santos, bukan karena statusku sebagai istri dari seorang Rafael Villar.”
Rafael terpaku di tempatnya berdiri, matanya menyiratkan ketakutan terbesar dalam hidupnya—ketakutan akan kehilangan diriku. “Maya, tolong… jangan tinggalkan aku.”
“Aku tidak meninggalkan pernikahan kita, Rafael. Aku hanya meninggalkan kantormu,” aku tersenyum tipis, sebuah senyuman bebas tanpa beban yang sudah lama tidak kurasakan. “Obati lukaku di rumah, sebagai suamiku. Bukan sebagai bosku.”
Aku membalikkan badan, melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka dengan kepala tegak. Di belakangku, Rafael bergegas berlari mengejarku, meninggalkan semua kemegahan takhta CEO-nya malam itu demi mengejar wanita yang baru saja mengajarinya apa arti harga diri yang sesungguhnya.