Posted in

PEMILIK PEGADAIAN YANG SOMBONG ITU MELEMPAR CINCIN SEORANG WANITA TUA KE TEMPAT SAMPAH—TANPA SADAR BAHAWA RAHASIA DI BALIK CINCIN ITU AKAN MEMBUAT SELURUH TOKONYA TERDIAM

PEMILIK PEGADAIAN YANG SOMBONG ITU MELEMPAR CINCIN SEORANG WANITA TUA KE TEMPAT SAMPAH—TANPA SADAR BAHAWA RAHASIA DI BALIK CINCIN ITU AKAN MEMBUAT SELURUH TOKONYA TERDIAM

Hujan turun deras sore itu, dan suara kendaraan serta orang-orang hampir menenggelamkan gang sempit di pasar yang ramai.

Di dalam sebuah pegadaian kecil, perlahan masuklah Bu Rosa. Wajahnya terlihat sangat lelah. Ujung gaun lamanya basah kuyup sementara tangannya menggenggam erat saputangan kecil yang membungkus sebuah cincin emas tua.

Itu adalah satu-satunya kenangan yang tersisa dari pernikahannya.

Suaminya sedang dirawat di rumah sakit dan membutuhkan obat mahal secepatnya. Jika tidak, mungkin pria itu tidak akan bertahan sampai pagi.

“Ma’am… saya mohon,” kata Bu Rosa lirih dengan suara gemetar sambil meletakkan cincin itu di atas meja kaca. “Berapa pun nilainya tidak apa-apa. Saya hanya ingin menyelamatkan suami saya.”

Di balik meja berdiri pemilik pegadaian. Ia mengenakan pakaian mahal dan kalung mutiara, tetapi tatapannya lebih dingin daripada hujan di luar.

Wanita itu mengambil cincin tersebut dan memeriksanya sekilas sebelum tersenyum sinis.

“Ini?” katanya keras-keras agar semua pelanggan mendengar. “Kamu pikir aku akan memberimu uang banyak untuk barang murahan seperti ini?”

Wajah Bu Rosa langsung pucat.

“Itu bukan palsu, Bu. Itu cincin pernikahan saya dan suami saya. Kami menjaganya selama lima puluh tahun.”

Namun wanita itu hanya mencibir.

“Walaupun kamu simpan seribu tahun lagi, tetap saja tidak ada nilainya.”

Dan sebelum Bu Rosa sempat berkata apa-apa, wanita itu tiba-tiba melempar cincin tersebut ke lantai.

“Klang!”

Bu Rosa memejamkan mata sementara tangannya gemetar karena takut dan sedih.

Ia buru-buru membungkuk untuk mengambilnya, tetapi pemilik pegadaian lebih cepat. Wanita itu menginjak cincin tersebut dengan hak sepatu runcingnya sebelum menendangnya ke arah tempat sampah.

“Keluarkan wanita tua ini,” perintahnya dingin kepada satpam. “Dia hanya membuang waktuku.”

“Tolong… itu kenangan terakhir kami…” kata Bu Rosa sambil menangis.

Namun tak seorang pun mendengarkan.

Satpam menyeretnya keluar sementara orang-orang yang mengantre mulai berbisik dan mengeluh. Seorang wanita akhirnya tidak tahan dan berteriak marah:

“Dia sudah tua, masih juga kau permalukan! Tidak punya belas kasihan sama sekali?”

Tetapi pemilik pegadaian tidak peduli.

“Ini bisnis,” jawabnya dingin. “Bukan yayasan amal.”

Di luar pegadaian, Bu Rosa jatuh terduduk di trotoar semen yang basah sambil memeluk dirinya sendiri erat-erat. Hujan bercampur dengan air matanya sementara ia terus menyebut nama suaminya.

Di dalam toko, seorang pegawai muda melirik ke arah tempat sampah. Diam-diam ia mengambil cincin itu lalu membersihkan kotorannya.

Namun tiba-tiba ia membeku.

Ada ukiran aneh di bagian dalam cincin tersebut.

Wajahnya makin pucat saat memperhatikannya di bawah cahaya lampu.

Lalu ia cepat-cepat menoleh kepada pemilik toko.

“Ma’am…” katanya dengan suara gemetar. “Sepertinya ini bukan cincin biasa.”

Pemilik toko mengernyit.

“Maksudmu apa?”

Baru saja pegawai itu mengangkat cincin ke bawah cahaya, pintu pegadaian tiba-tiba terbuka.

Seorang pria berjas hitam masuk bersama dua pengacara dan seorang dokter yang membawa map tebal.

Tatapannya langsung tertuju pada cincin itu.

Lalu dengan suara dingin namun berat, ia bertanya:

“Dari mana kalian mendapatkan cincin itu?”

Pria berjas hitam itu melangkah maju. Langkah kakinya yang berat bergaung di dalam toko yang mendadak sunyi. Di dadanya, tersemat sebuah pin emas berbentuk lambang keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota itu—Keluarga Baskoro.

Pemilik pegadaian yang tadinya angkuh, seketika mengenali pin tersebut. Wajahnya yang semula penuh kepuasan kini berubah tegang. Ia memaksakan senyum ramah, mencoba mengambil alih situasi.

“Selamat sore, Tuan,” sapa pemilik toko dengan suara yang dibuat-buat semanis mungkin. “Cincin ini? Ah, ini hanya barang rongsokan yang baru saja dibuang oleh seorang wanita tua penipu. Kami baru mau membersihkannya untuk—”

“Diam!” bentak pria berjas hitam itu. Suaranya tidak keras, tetapi sanggup membuat seluruh ruangan membeku.

Ia merebut cincin itu dari tangan sang pegawai muda dengan sangat hati-hati, seolah-olah benda itu adalah kaca yang mudah pecah. Ia membalik cincin tersebut, menatap ukiran aneh di bagian dalamnya di bawah lampu, lalu membaca baris kalimat rahasia yang tertera di sana.

Mata pria itu berkaca-kaca, sebelum berubah menjadi kilatan amarah yang mengerikan.

“Barang rongsokan, kamu bilang?” Pria itu menatap pemilik toko dengan pandangan membunuh. “Ini adalah Cincin Warisan Utama Keluarga Baskoro. Cincin yang telah dicari oleh seluruh keturunan Baskoro selama tiga puluh tahun setelah putri sulung kami memilih pergi demi cinta sejatinya.”

Dokter yang berdiri di belakang pria itu ikut melangkah maju dan membuka map tebal yang dibawanya. “Kami melacak keberadaan Nyonya Besar Rosa melalui sistem rumah sakit tempat suaminya dirawat. Beliau adalah pemilik sah dari separuh aset properti dan perbankan di kota ini.”

Mendengar hal itu, lutut pemilik pegadaian langsung lemas. Wajahnya yang tebal dengan makeup mahal kini seputih kertas.

“Dan kamu…” Pengacara di samping pria berjas hitam itu angkat bicara dengan nada dingin, “…baru saja menghina, menganiaya, dan merampas hak milik pewaris tunggal yang sah. Tindakanmu membuang cincin ini ke tempat sampah bukan lagi sekadar masalah bisnis, melainkan penghinaan berat terhadap Keluarga Baskoro.”

“T-tunggu… saya tidak tahu! Saya bersumpah saya tidak tahu!” Pemilik toko itu panik, tangannya bergetar hebat hingga kalung mutiaranya bergemerincing. Ia menoleh ke arah satpamnya. “Cepat! Cepat cari wanita tua tadi! Bawa dia kembali ke dalam!”

“Tidak perlu,” kata pria berjas hitam itu sambil mengangkat tangannya. “Petugas kami sudah menyelamatkan Nyonya Rosa di luar. Dokter terbaik kami juga sudah dikirim ke rumah sakit untuk menangani suaminya.”

Pria itu kemudian menoleh ke arah pengacaranya. “Segel tempat ini. Batalkan seluruh izin usahanya malam ini juga. Dan pastikan wanita ini merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya dalam satu hari.”

“Baik, Tuan.”

Pemilik pegadaian itu jatuh berlutut di lantai tokonya sendiri. Semua barang mewah yang dipajangnya di dalam etalase kaca mendadak kehilangan kililaunya. Para pelanggan yang menyaksikan kejadian itu hanya diam, menatap puas pada runtuhnya keangkuhan seorang wanita yang tidak punya belas kasihan.

Di luar, hujan masih turun deras, tetapi di dalam mobil mewah yang terparkir di depan toko, Bu Rosa akhirnya bisa menangis lega. Cincin pernikahan yang sempat terbuang di tempat sampah itu kini telah kembali ke tangannya—membawa kembali kehormatan, cinta, dan keselamatan bagi suaminya yang sedang berjuang di ambang maut.