Posted in

SEBELUM PERNIKAHAN, AKU MENEMUKAN BAHWA KELUARGA CALON SUAMIKU INGIN MENJADIKANKU PENANGGUNG UTANG MEREKA

SEBELUM PERNIKAHAN, AKU MENEMUKAN BAHWA KELUARGA CALON SUAMIKU INGIN MENJADIKANKU PENANGGUNG UTANG MEREKA

Bab 1

Sahabat terbaikku pernah berkata:

“Jangan pernah menikah sebelum kamu tahu utang apa yang disembunyikan keluarganya.”

Dulu aku hanya tertawa. Aku pikir dia terlalu curiga.

Aku tidak menyangka, tiga hari sebelum pernikahan, kalimat itu justru akan menyelamatkanku.

Malam itu, aku pergi ke rumah tunanganku untuk makan malam. Ibunya memasak banyak makanan, bahkan dia sendiri yang mengambilkan ayam ke piringku.

Dia tersenyum begitu ramah.

“Mara, setelah menikah nanti, kamu resmi menjadi bagian dari keluarga ini. Ada sedikit dokumen yang perlu kamu tanda tangani untuk Mama.”

Dia meletakkan sebuah map tebal di depanku.

Aku menunduk dan membaca halaman pertamanya.

Di sana tertulis: Perjanjian Tanggung Jawab Bersama atas Utang Setelah Pernikahan.

Tanganku langsung terasa dingin.

Aku menatap Daniel, pria yang akan kunikahi.

Dia menunduk. Bahkan tidak berani menatap mataku.

Senyum ibunya tetap terpasang.

“Jangan khawatir, Nak. Ini hanya utang lama keluarga dari bisnis. Setelah kalian menikah, kalian menjadi satu. Kamu hanya perlu tanda tangan supaya bank tenang.”

Aku meletakkan sendokku.

“Berapa jumlah utangnya?”

Seluruh ruangan langsung hening.

Adik Daniel yang duduk di depanku berdeham pelan.

Ibunya terpaksa tersenyum.

“Tidak terlalu besar, Nak. Hanya sekitar dua miliar rupiah.”

Jantungku seperti jatuh.

Dua miliar rupiah.

Delapan tahun aku bekerja, tapi belum pernah sekalipun memegang uang sebesar itu.

Akhirnya Daniel bicara.

“Mara, aku sebenarnya mau memberitahumu setelah menikah. Aku tidak ingin kamu khawatir.”

Aku menatapnya, dan tiba-tiba pria di depanku terasa seperti orang asing.

Tiga tahun kami bersama. Dia selalu bilang keluarganya memang sederhana, tapi tidak punya utang. Dia bilang ingin memberiku rumah tangga yang tenang. Dia bilang ibunya menyayangiku seperti anak sendiri.

Ternyata sejak lama atap rumah itu sudah bocor.

Dan mereka hanya menungguku masuk supaya aku yang menutup lubangnya.

Bab 2

Aku berusaha menjaga suaraku tetap tenang.

“Kenapa baru sekarang kalian memberitahuku hal sebesar ini?”

Ibu Daniel menghela napas seolah aku yang tidak mengerti.

“Mara, Nak, semua keluarga pasti melewati masa sulit. Daniel tidak menikahimu hanya untuk hidup nyaman. Dia menikahimu supaya kalian bisa bangkit bersama.”

Aku bertanya:

“Bagaimana kalau aku tidak mau tanda tangan?”

Wajahnya langsung berubah.

“Tidak mau tanda tangan? Undangan sudah disebar. Gaun pengantin sudah siap. Gereja sudah dipesan. Kamu mau mempermalukan Daniel di depan seluruh keluarga besarnya?”

Daniel memegang tanganku.

“Mara, aku janji akan membalas semuanya. Kami hanya butuh tanda tanganmu. Utangnya memang atas nama keluargaku, tapi kalau ada tanda tanganmu, bank akan setuju memperpanjang cicilan.”

Aku menarik tanganku.

“Kamu benar-benar ingin menikahiku… atau hanya membutuhkan tanda tanganku?”

Wajah Daniel pucat.

Saat itu juga ponselku berbunyi.

Itu sahabatku.

Begitu kuangkat, dia langsung bicara cepat:

“Mara, kamu ada di rumah Daniel, kan? Dengarkan aku. Aku baru cek detailnya. Itu bukan utang bisnis biasa.”

Aku menggenggam ponselku erat.

“Lalu apa?”

Suaranya terdengar berat.

“Itu pinjaman gadai berisiko tinggi. Dan di dokumen tambahannya, namamu sudah dicantumkan sebagai calon penjamin sejak bulan lalu.”

Aku langsung berdiri.

Daniel panik.

“Mara, biarkan aku menjelaskan!”

Aku menatapnya. Tenggorokanku terasa kering.

Sebulan lalu.

Itu hari saat dia melamarku.

Aku kira dia berlutut karena cinta.

Ternyata dia berlutut karena membutuhkan seseorang untuk menanggung utangnya.

Bab 3

Ibu Daniel langsung merebut map itu dari meja.

“Mara, jangan dengarkan omongan orang lain. Kamu sebentar lagi jadi istri anakku. Yang harus kamu percaya adalah calon suamimu sendiri!”

Aku tersenyum dingin.

“Percaya pada calon suami? Atau percaya pada pria yang menyembunyikan utang, menyembunyikan dokumen, dan menunggu aku menandatanganinya sebelum menikah?”

Daniel mendekat. Matanya memerah.

“Aku tidak punya jalan lain. Kalau kamu tidak tanda tangan, kami akan kehilangan semuanya. Mama akan diusir dari rumah ini. Camille tidak bisa berangkat kerja ke luar negeri. Aku hanya ingin menyelamatkan keluargaku.”

Aku menatapnya.

“Lalu bagaimana denganku?”

Dia terdiam.

Aku mengucapkan setiap kata dengan jelas:

“Kamu ingin menyelamatkan keluargamu dengan mendorongku masuk ke jurang?”

Tidak ada yang menjawab.

Di luar jendela, hujan mulai turun. Suara tetesannya di atap seng terasa seperti genderang di dadaku.

Aku mengambil tasku.

“Pernikahan ini batal.”

Ibu Daniel langsung berteriak:

“Mara! Kalau kamu keluar dari pintu itu, besok seluruh kampung akan tahu kalau kamu perempuan matre yang meninggalkan tunanganmu saat keluarganya sedang susah!”

Aku menoleh kepadanya.

“Kalau begitu, besok seluruh kampung juga akan tahu bahwa keluarga kalian mencoba menipu calon menantu untuk menandatangani utang sebelum pernikahan.”

Wajahnya langsung kaku.

Saat aku hampir sampai di pintu, Daniel tiba-tiba bicara dari belakangku:

“Mara, kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja?”

Aku berhenti.

Perlahan dia mengambil sebuah amplop cokelat dari laci.

Di dalamnya ada salinan KTP-ku, slip gajiku, dan contoh tanda tanganku.

Dia menatapku dengan mata merah.

“Kalau kamu tidak mau tanda tangan secara sukarela, besok dokumen ini tetap akan diproses.”

Seluruh tubuhku membeku.

Daniel meletakkan amplop itu di meja. Suaranya serak.

“Pilih, Mara. Menjadi istriku… atau menjadi orang yang sendirian menanggung utang.”

Aku mengepalkan tangan begitu erat hingga kuku-kukuku memutih. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa begitu menyesakkan, lebih dingin daripada badai hujan di luar.

Pria yang selama tiga tahun ini memelukku dengan kehangatan palsu, kini berdiri di sana dengan tatapan mengancam. Slip gaji dan salinan KTP-ku—yang sebulan lalu kuminta dia simpan untuk keperluan berkas administrasi pernikahan di pencatatan sipil—kini beralih fungsi menjadi senjata untuk menodongku.

“Kamu… mau memalsukan tanda tanganku?” suaraku bergetar, bukan karena takut, melainkan karena rasa muak yang teramat sangat.

Ibu Daniel kembali duduk tenang, bahkan menyesap tehnya seolah-olah putranya baru saja memenangkan sebuah argumen yang cerdas. “Kami tidak berniat jahat, Mara. Ini hanya cara agar kamu membuat keputusan yang benar. Kalau dari awal kamu penurut, kita tidak perlu sampai seperti ini.”

Daniel melangkah mendekat, mencoba menyentuh bahuku dengan sisa-sisa manipulasi terakhirnya. “Mara, ikut saja alurnya. Kita menikah, cicilan diperpanjang, dan semua akan baik-baik saja. Jangan paksa aku melakukan hal yang akan menghancurkan masa depanmu.”

Aku mundur selangkah, menghindari sentuhannya seolah dia adalah wabah penyakit. Aku menatap Daniel, lalu beralih ke ibunya, dan terakhir ke adiknya yang pura-pura sibuk dengan ponselnya.

“Kamu pikir aku sebodoh itu, Daniel?” kataku dengan suara yang kini sepenuhnya tenang. Ketenangan yang lahir dari keputusan yang sudah bulat.

Aku mengangkat ponselku yang layarnya masih menyala. Panggilan dengan sahabatku ternyata belum terputus sejak tadi.

“Kamu dengar semuanya, kan?” tanyaku pada ponselku.

Dari pengeras suara, suara sahabatku terdengar begitu lantang dan tegas, memecah keheningan ruangan: “Aku dengar semuanya, Mara. Dan bukan cuma aku, pengacaramu juga sedang mendengarkan lewat sambungan ini. Rekaman percakapan ini sudah otomatis tersimpan di server awan.”

Wajah Daniel yang semula penuh kemenangan instan memucat.

Aku menatap Daniel lurus-lurus. “Kamu lupa kalau sahabatku bekerja di firma hukum? Sejak dia memberi tahu soal keganjilan berkas pinjamanmu sebulan lalu, aku sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk. Tapi aku masih punya secercah harapan kalau kamu akan jujur malam ini. Ternyata, kamu bahkan lebih rendah dari yang kukira.”

Aku merogoh tas, mengeluarkan sebuah kartu memori kecil dan meletakkannya di atas meja, tepat di samping amplop cokelat itu.

“Di dalam sini ada rekaman CCTV dari kafe tempat kita bertemu sebulan lalu, saat kamu meminta berkas-berkas pribadiku dengan alasan untuk urusan pernikahan. Ditambah rekaman suara malam ini di mana kamu mengancam akan memproses dokumen utang dengan memalsukan tanda tanganku,” ujarku dingin. “Dalam hukum, itu sudah memenuhi unsur perencanaan penipuan dan pemalsuan dokumen otentik.”

Ibu Daniel langsung berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang. “Mara! Kamu berani menjebak calon suamimu sendiri?!”

“Dia bukan suamiku, dan tidak akan pernah menjadi suamiku!” bentakku, melepaskan seluruh amarah yang kutahan sejak awal. “Kalian yang menjebakku lebih dulu! Kalian ingin mengorbankan hidupku demi membayar taruhan judi, gaya hidup, atau apa pun alasan utang dua miliar ini!”

Daniel terduduk lemas di kursi. Amplop cokelat di tangannya terlepas, berserakan di atas meja. Keberanian palsunya runtuh total saat menyadari bahwa ancamannya justru berbalik menjadi borgol yang siap mengikatnya.

“Kalau besok pagi, atau kapan pun, ada satu saja dokumen utang yang berjalan atas namaku tanpa persetujuanku…” aku menjeda kalimatku, menatap mereka satu per satu dengan tajam, “…aku pastikan bukan cuma Daniel yang masuk penjara, tapi kalian bertiga sebagai komplotan.”

Aku menyambar kembali kartu memori dan tas kantorku. Tanpa menunggu jawaban, aku berbalik dan melangkah lebar menuju pintu keluar.

“Mara! Tolong, Mara! Kita bisa bicarakan ini!” teriak Daniel dari belakang, mencoba mengejarku.

Namun, langkahku tidak berhenti. Begitu aku membuka pintu, angin malam dan deru hujan deras langsung menyapu wajahku. Rasanya begitu melegakan. Air hujan yang membasahi pakaianku tidak terasa dingin, melainkan seperti membasuh seluruh kotoran dari tiga tahun kepalsuan yang kuhabiskan bersama pria itu.

Aku berjalan menembus hujan menuju gerbang luar, mengeluarkan ponsel, dan mengetik satu pesan singkat ke grup keluarga besarku: Pernikahan dengan Daniel batal. Detailnya akan saya jelaskan besok. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

Tiga hari sebelum pernikahan, aku kehilangan calon suami dan rencana masa depan yang kukira indah. Namun, saat aku masuk ke dalam taksi yang sudah menungguku di pinggir jalan, aku tersenyum di tengah kegelapan malam. Aku tidak kehilangan apa-apa. Aku justru baru saja menyelamatkan diriku sendiri dari penjara seumur hidup yang berkedok pernikahan.