Surabaya menyambutku dengan hujan.
Jenis hujan yang membuat kota terlihat seperti kenangan lama—kabur, dingin, dan sedikit menyedihkan.
Tiga hari setelah kejadian di bandara, aku berdiri di depan gedung kaca setinggi tiga puluh lantai milik Ardent Creative Consulting, perusahaan tempat aku diterima bekerja sebagai strategic branding manager.
Aku mengenakan blazer cokelat muda, rok hitam selutut, dan riasan tipis untuk menyembunyikan fakta bahwa aku belum benar-benar berhenti menangis sejak pesan suara Satria.
Namun aku sudah membuat keputusan.
Aku tidak akan hancur karena ditinggalkan.
Setidaknya… tidak di depan orang lain.
Lift membawaku ke lantai dua puluh enam bersama beberapa pegawai lain yang tampak sibuk membaca tablet dan mengecek email. Semua orang terlihat seperti tahu arah hidup mereka.
Sementara aku?
Aku masih memutar ulang satu kalimat di kepalaku:
“Aku pikir kita harus putus.”
Pintu lift terbuka.
Seorang perempuan berambut pendek dengan ID card tergantung di leher langsung menghampiriku.
“Valeria Anandita?”
Aku mengangguk cepat.
“Saya Mira dari HR. Syukurlah kamu sudah datang. Semua pegawai baru diminta langsung masuk ke ruang rapat utama.”
“Sekarang?”
“Iya,” jawabnya sambil terlihat gugup. “CEO grup induk datang mendadak pagi ini.”
Aku tidak terlalu memikirkan kalimat itu.
Perusahaan besar sering punya petinggi yang datang tiba-tiba untuk inspeksi. Aku hanya pegawai baru. Tidak mungkin urusanku bersinggungan dengan mereka.

Setidaknya… itu yang kupikirkan.
Sampai pintu ruang rapat dibuka.
Dan dunia mendadak berhenti bergerak.
Deg.
Jantungku seperti jatuh tepat ke lantai.
Di ujung meja rapat panjang itu—
duduk pria yang sama.
Setelan hitam sempurna.
Tatapan abu-abu dingin.
Jam tangan mahal di pergelangan tangan kirinya.
Dan wajah yang tiga hari lalu membiarkanku menangis di bahunya di tengah bandara.
Adrian Fauzan.
Tanganku langsung membeku di gagang map.
Napas pertama yang kuambil terasa terlalu kecil untuk paru-paruku.
Tidak.
Tidak mungkin.
Mira masih berbicara di sampingku, tapi suaranya terdengar jauh.
“Pak Adrian sedang mengevaluasi seluruh divisi kreatif karena Fauzan Group baru mengakuisisi perusahaan ini bulan lalu…”
Aku tidak mendengar sisanya.
Karena Adrian sedang menatapku.
Lurus.
Tanpa berkedip.
Dan aku langsung tahu—
dia mengenaliku.
Ya Tuhan.
Aku ingin mati saja.
Pikiranku langsung dipenuhi bayangan memalukan itu:
aku mencengkeram jasnya.
aku menangis di bahunya.
aku mengotori pakaiannya dengan maskara.
aku meminta dipeluk seperti orang kehilangan akal sehat.
Dan sekarang…
dia adalah atasanku.
“Silakan duduk.”
Suara Adrian memecah ruangan.
Tenang.
Dingin.
Nyaris tanpa emosi.
Namun entah kenapa, aku merasa nada suaranya sedikit berubah saat berbicara padaku.
Aku buru-buru duduk di kursi paling ujung, berharap bisa menghilang ke dimensi lain.
Rapat dimulai.
Presentasi berjalan.
Beberapa kepala divisi menjelaskan laporan kuartal dan strategi branding sambil berkeringat dingin di bawah tatapan Adrian yang terkenal tajam di dunia bisnis.
Aku mencoba fokus.
Sungguh.
Tapi setiap beberapa menit, aku bisa merasakan matanya kembali mengarah padaku.
Dan itu membuat seluruh tubuhku tegang.
“Valeria Anandita.”
Aku hampir tersedak saat namaku dipanggil.
Semua orang langsung menoleh.
Adrian menyandarkan tubuhnya perlahan di kursi.
“Kamu pegawai baru?”
“Ya, Pak.”
“Divisi strategi?”
“Ya, Pak.”
Hening beberapa detik.
Lalu—
“Bagaimana menurutmu presentasi tadi?”
Apa?!
Aku menatapnya tidak percaya.
Ini hari pertamaku kerja.
Aku bahkan belum hafal letak pantry.
Namun seluruh ruangan kini menungguku bicara.
Aku menelan ludah.
Lalu membuka map dengan tangan sedikit gemetar.
“Menurut saya… branding perusahaan ini terlalu fokus pada citra mewah,” kataku hati-hati.
Beberapa orang mulai saling pandang.
Aku lanjut bicara sebelum keberanianku hilang.
“Padahal konsumen sekarang lebih percaya pada sesuatu yang terasa manusiawi.”
Tatapan Adrian belum berpindah.
“Lanjutkan.”
Aku menarik napas.
“Orang tidak lagi membeli hanya karena perusahaan terlihat besar.”
Aku berhenti sepersekian detik.
“Mereka membeli karena ingin merasa dipahami.”
Sunyi.
Ruangan mendadak sangat tenang.
Dan entah kenapa—
aku melihat sesuatu berubah di mata Adrian.
Sesuatu yang nyaris seperti… ingatan.
Seolah dia teringat seseorang.
Atau sesuatu.
Lalu perlahan, pria itu berdiri.
Semua orang otomatis ikut tegang.
Adrian berjalan mengelilingi meja rapat perlahan.
Sepatu kulitnya berdetak pelan di lantai marmer.
Dan detik berikutnya—
dia berhenti tepat di samping kursiku.
Aku bisa mencium aroma kayu cedar yang sama seperti di bandara.
Jantungku langsung kacau.
Adrian menunduk sedikit.
Lalu berkata pelan, cukup untuk membuat seluruh ruangan membeku:
“Jadi sekarang… kamu sudah merasa lebih baik?”
DEG.
Wajahku langsung panas.
Dia mengingatnya.
Tentu saja dia mengingatnya.
Dan saat semua orang di ruang rapat mulai kebingungan melihat ekspresiku—
aku menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Pria seperti Adrian Fauzan…
bukan tipe pria yang melupakan seseorang begitu saja.
Terutama seseorang yang pernah menangis di pelukannya.
Sebelum Mimin lanjutin cerita,Mimin mau tau dong,kalian dari kota mana aja,..