Posted in

“SEORANG WANITA MENAMPAR WAJAHKU DI DEPAN SEMUA DIREKTUR DAN BERTERIAK BAHWA DIA ISTRI SAH CEO…

PADAHAL GEDUNG ITU DIBANGUN DENGAN UANG KELUARGAKU.”

***

Ponsel para direksi masih terus berbunyi di seluruh ballroom.

Suara notifikasi email bersahutan.

Pendek.

Tajam.

Memalukan.

Emergency Board Meeting, CEO Removal Agenda.

Adrian berdiri mematung di tengah ruangan yang perlahan berubah asing baginya.

Padahal lima belas menit lalu…

semua orang masih tersenyum hormat setiap kali dia lewat.

Sekarang?

Beberapa direksi mulai menghindari tatapannya.

Bahkan salah satu komisaris senior yang biasanya selalu menepuk pundaknya setiap acara…

langsung berjalan menjauh sambil pura-pura sibuk menerima telepon.

Adrian menelan ludah pelan.

“Pak Adrian…”

Salah satu staf PR mendekat dengan wajah tegang.

“Media sudah mulai upload berita.”

“Apa?”

Wanita itu menyerahkan tablet dengan tangan gemetar.

Headline media bisnis terbesar di Indonesia sudah naik.

“CEO Wijaya Petroleum Ternyata Bukan Penyelamat Perusahaan.”

Headline lain menyusul beberapa detik kemudian.

“Pemilik Mayoritas Saham Bongkar Rahasia Internal di Gala Dinner.”

Dan yang paling menghantam Adrian…

foto dirinya berdiri di samping Calista saat Elena memperlihatkan dokumen saham.

Wajahnya terlihat seperti pria yang tertangkap basah mencuri hidup orang lain.

“Brengsek…” gumam Adrian pelan.

Dia langsung berjalan cepat ke arah Elena.

Namun langkahnya terhenti ketika dua investor asing yang sejak tadi berbicara dengannya tiba-tiba berbalik pergi.

Adrian memaksa tersenyum.

“Mr. Han, about the project tomorrow…”

Pria tua asal Korea itu menatap Adrian beberapa detik.

Lalu tersenyum tipis penuh jarak.

“I think we should wait for board decision first.”

Dan mereka pergi begitu saja.

Tanpa berjabat tangan.

Tanpa basa-basi.

Adrian berdiri diam.

Untuk pertama kalinya dalam hidup…

dia merasakan bagaimana cepatnya orang-orang elite meninggalkan seseorang yang mulai tenggelam.

Sementara di sisi lain ballroom…

Calista mulai panik.

“A-Adrian…”

Dia menarik lengan pria itu pelan.

“Dia bohong, kan?”

Adrian tidak menjawab.

“Adrian?”

“Diam dulu!”

Bentakan itu membuat Calista terkejut.

Pria itu langsung berjalan cepat mengejar Elena yang sudah menuju pintu keluar ballroom.

“Hei! Elena!”

Suara langkah sepatu hak tinggi Elena tetap tenang menyusuri lorong hotel mewah itu.

Tidak terburu-buru.

Tidak juga menoleh.

Seolah semua keributan tadi bukan sesuatu yang penting baginya.

Adrian akhirnya berhasil menyusul tepat sebelum pintu lift basement tertutup.

“Elena, tunggu.”

Wanita itu menahan pintu lift dengan satu tangan.

Tatapannya datar.

Dingin.

“Aku bisa jelaskan semuanya.”

Lift terbuka perlahan.

Elena masuk lebih dulu.

Adrian ikut masuk sebelum pintu menutup.

Ruangan sempit itu mendadak terasa menyesakkan.

Hanya ada mereka berdua.

Suara mesin lift berdengung pelan.

Dan keheningan panjang yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada teriakan.

“Aku nggak pernah berniat mempermalukan kamu,” ucap Adrian pelan.

Elena tersenyum tipis.

“Lucu.”

“Aku serius.”

“Kamu selingkuh bertahun-tahun di belakangku.”

“Elena…”

“Kamu diam waktu perempuan itu menamparku.”

Lift terus bergerak turun.

Lantai demi lantai.

Adrian mengusap wajah kasar.

“Aku memang salah.”

“Akhirnya ada juga satu kalimat jujur dari mulut kamu.”

“Elena, dengar dulu.”

Wanita itu menoleh pelan.

Tatapannya tenang sekali.

Justru itu yang membuat Adrian mulai takut.

“Masalahnya…” suara Elena lirih, “aku sudah terlalu lama mendengarkan.”

Deg.

Kalimat itu terasa lebih tajam daripada makian apa pun.

Pintu lift terbuka.

Basement hotel terasa dingin.

Deretan mobil mewah berjajar rapi di bawah cahaya lampu putih.

Elena melangkah keluar tanpa buru-buru.

Adrian mengejarnya lagi.

“Aku bisa putusin Calista.”

Langkah Elena berhenti sebentar.

Namun hanya sebentar.

Lalu dia kembali berjalan.

“Aku bisa perbaiki semuanya.”

Kali ini Elena benar-benar berhenti.

Dia menoleh perlahan.

Dan untuk pertama kali malam itu…

mata wanita itu terlihat lelah.

Bukan marah.

Bukan sedih.

Lelah.

“Kamu tahu bagian paling menyedihkan dari semua ini, Adrian?”

Pria itu diam.

“Aku bahkan nggak kaget kamu selingkuh.”

Adrian terpaku.

“Aku cuma kaget…” Elena tersenyum kecil, pahit, “kamu ternyata sebiasa itu.”

Kalimat itu membuat dada Adrian terasa sesak.

Karena Elena benar.

Selama ini dia menikmati semua fasilitas hidup mewah tanpa pernah benar-benar berpikir dari mana semuanya berasal.

Jet pribadi.

Penthouse.

Mobil.

Jam tangan.

Relasi bisnis.

Bahkan citra CEO sukses yang selama ini dia banggakan…

dibangun memakai uang dan koneksi Elena.

Suara ponsel Elena bergetar.

Wanita itu melirik layar sebentar.

Lalu terkekeh kecil.

Adrian langsung merasa tidak enak.

“Apa?”

Elena mengangkat layar ponselnya sedikit.

Sebuah berita baru muncul.

“Brand Fashion Maison Laurent Officially Ends Partnership with Influencer Calista.”

Wajah Adrian langsung berubah.

“Cepat juga,” gumam Elena tenang.

Beberapa detik kemudian…

ponsel Calista ikut berdering dari jauh.

Wanita itu yang baru keluar dari lift langsung membuka layar ponselnya.

Dan wajahnya mendadak pucat.

“WHAT?!”

Dia menatap Adrian panik sambil berjalan cepat mendekat.

“Mereka putus kontrak sama aku!”

Tidak ada lagi nada manja malam itu.

Yang tersisa hanya ketakutan.

“Mereka bilang image aku nggak sesuai brand lagi!”

Elena tertawa kecil.

Pelan sekali.

“Baru mulai,” katanya.

Calista menatap Elena dengan wajah gemetar.

“Kamu sengaja ngancurin hidup aku?!”

Elena membuka pintu mobilnya.

“Aku?”

Dia menatap wanita muda itu beberapa detik.

“Kamu yang datang sendiri ke pesta tadi.”

Calista kehilangan kata-kata.

Sementara Adrian mulai sadar…

semua yang selama ini disentuh Elena bisa hidup.

Dan semua yang ditinggalkan Elena…

perlahan akan runtuh sendiri.

“Elena.” Adrian kembali mencoba mendekat. “Please.”

Wanita itu masuk ke dalam mobil.

Lalu sebelum pintu tertutup…

dia berkata pelan:

“Kamu belum lihat aku benar-benar marah.”

Pintu mobil tertutup.

Dan sedan hitam itu meluncur pergi meninggalkan basement hotel.

Adrian berdiri diam cukup lama.

Sampai suara Calista kembali terdengar panik di sampingnya.

“Aku gimana sekarang?”

Adrian memejamkan mata sebentar.

Untuk pertama kalinya…

pertanyaan itu membuatnya muak.

Hampir pukul satu malam saat Adrian tiba di penthouse mereka.

Langit Jakarta gelap.

Jalanan mulai sepi.

Biasanya saat jam seperti ini…

lampu apartemen masih menyala hangat.

Dan Elena sering tertidur di sofa sambil menunggu dirinya pulang.

Namun malam ini…

semuanya gelap.

Sunyi.

Adrian berdiri di depan pintu penthouse.

Lalu menempelkan jarinya ke sensor fingerprint.

Bip.

Lampu merah menyala.

“Access denied.”

Adrian mengernyit.

Dia mencoba lagi.

Bip.

“Access denied.”

Darah di wajahnya perlahan menghilang.

“Tidak mungkin…”

Dia menekan sensor lebih keras.

Namun suara mesin otomatis kembali berbunyi datar.

“Access denied.”

Dan tepat saat itu…

lampu apartemen tiba-tiba menyala dari dalam.

Ada seseorang di sana.

Lanjut?
Isi kolom komentar pembaca darimana aja nih?

Cerita full tayang di KBM
Penulis Muhamadirata
Judul Istri Pemilik Tahta