Bosku Mengira Aku Punya Anak dengan Pria Lain, Sampai Keponakanku Berpura-pura Jadi Anakku di PTA—Dia Tidak Tahu, Anak yang Sebenarnya Dia Simpan di Dompetku Selama Tujuh Tahun

Bosku Mengira Aku Punya Anak dengan Pria Lain, Sampai Keponakanku Berpura-pura Jadi Anakku di PTA—Dia Tidak Tahu, Anak yang Sebenarnya Dia Simpan di Dompetku Selama Tujuh Tahun

Kakakku memberiku Rp200.000 dan sebuah tugas sederhana:

“Pergi ke rapat PTA Maya. Aku sibuk. Kamu saja yang pura-pura jadi ibunya.”

Aku pikir itu uang mudah.

Sampai aku masuk ke ruang guru, tiba-tiba keponakanku yang berusia tujuh tahun berlari ke arahku, memeluk kakiku, dan berteriak di depan semua orang:

“Mommy! Selamatkan aku!”

Aku belum sempat pulih dari rasa malu itu ketika suara dingin terdengar dari belakangku.

“Ms. Reyes?”

Seluruh tubuhku kaku.

Aku perlahan menoleh.

Dan di sana aku melihat Adrian Monteverde—CEO perusahaan tempatku bekerja, bos langsungku, dan pria yang selama tujuh tahun berusaha aku lupakan, tapi tidak pernah bisa kuhapus dari hidupku… bahkan dari dompetku.

Dia berdiri di samping kepala sekolah St. Claire Academy di Quezon City, mengenakan jas hitam, kacamata silver, wajahnya sedingin AC ruang rapat.

“Bukankah kamu ambil cuti karena demam?” tanyanya pelan.

Aku menelan ludah.

“Pak…”

Dia menatap Maya yang masih memeluk kakiku.

“Sejak kapan anakmu sebesar ini?”

Seluruh ruangan hening.


Maya… bukan anakku.

Dia anak kakakku, Liza.

Aku hanya “ditugaskan” menggantikannya di rapat PTA dengan bayaran Rp200.000.

Tapi sekarang…

aku terjebak dalam kebohongan yang bahkan tidak aku rencanakan sendiri.

Adrian tersenyum kecil, tapi itu bukan senyum yang baik.

“Sampaikan salamku pada suamimu,” katanya. “Aku ingin bertemu kalian berdua untuk makan malam.”

“Suami?” pikiranku kosong.

Aku tidak punya suami.

Tapi kalau aku bilang begitu… aku bisa kehilangan pekerjaan.


Setelah rapat yang panjang dan penuh keluhan guru, aku keluar dengan kepala hampir meledak.

Di parkiran, Adrian sudah menunggu di samping mobil kecilku.

“Antar aku,” katanya.

“Pak, saya tidak terbiasa menyetir orang penting…”

Dia menatapku tajam.

“Kamu punya anak tapi takut menyetir?”

Aku tidak bisa menolak.

Di dalam mobil, suasana hening menekan.

“Ke rumah sakit,” katanya tiba-tiba.

“Hah?”

“Kamu kan demam.”

Aku hampir tersedak.

“Pak, saya bohong soal itu…”

Dia menatapku.

“Kenapa kamu bohong soal PTA?”

Aku diam.

Dia mendekat sedikit.

“Apa karena kamu takut aku tahu kamu punya anak?”

Hening.

Tiba-tiba ponselku berdering.

Liza.

Aku menyalakan speaker.

Sebelum aku sempat bicara, dia berteriak panik:

“Clara! Di mana Maya?! Ada pria yang menelepon, bilang dia mau ambil anaknya!”

Mobil menjadi sunyi.

Adrian menoleh ke arahku.

Matanya berubah dingin.

“Ambil anaknya?”

Dan dalam detik itu, aku sadar…

kebohongan kecil Rp200.000 ini baru saja berubah menjadi sesuatu yang bisa menghancurkan hidupku.

Aku langsung mematikan ponsel, tapi sudah terlambat. Suasana di dalam mobil berubah seperti udara sebelum badai.

Adrian menatapku lama, terlalu lama.

“Clara,” suaranya pelan, tapi tajam, “siapa yang akan mengambil anak itu?”

Aku menggenggam kemudi sampai jari-jariku pucat.

“Pak… itu salah paham. Maya bukan anak saya. Dia keponakan saya.”

Hening.

Lalu Adrian tertawa kecil. Tapi bukan tawa yang ringan—lebih seperti napas yang tertahan terlalu lama.

“Keponakan?” ulangnya.

Aku mengangguk cepat.

Dia bersandar ke kursi, matanya menatap lurus ke depan.

“Jadi kamu berbohong di PTA, berbohong soal suami, berbohong soal anak…”

Aku menelan ludah.

“…dan kamu pikir itu hanya urusan kecil?”

Mobil terasa semakin sempit.

Tiba-tiba ponselku bergetar lagi. Nomor Liza.

Aku tidak berani menjawab.

Adrian mengambil ponsel itu dari tanganku tanpa izin, lalu menyalakan speaker.

Suara Liza terdengar lebih panik dari sebelumnya:

“Clara! Pria itu datang ke rumah! Dia bilang dia ayah Maya! Dia bawa dokumen! Dia bilang anak itu terdaftar atas nama dia!”

Darahku seperti berhenti mengalir.

Aku menoleh cepat ke Adrian.

“Pak… itu tidak mungkin…”

Dia tidak menjawab. Dia hanya menatap layar ponsel, lalu berkata pelan:

“Jadi benar.”

Aku gemetar.

“Benar apa?”

Adrian akhirnya menoleh ke arahku.

Dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang retak di wajah dinginnya.

“Clara… Maya itu bukan keponakan.”

Dunia seakan berhenti.

Aku tertawa gugup. “Pak, jangan bercanda…”

Dia mengeluarkan sebuah amplop dari jasnya.

Di dalamnya: fotokopi dokumen, laporan rumah sakit, dan satu halaman lama yang sudah kusut.

Di bagian atas tertulis:

“Pendaftaran kelahiran: Maya Monteverde.”

Tanganku jatuh lemas.

“Ini… tidak mungkin…”

Adrian menarik napas panjang.

“Enam tahun lalu,” katanya pelan, “ada seseorang yang mengambil anakku dari sistem rumah sakit karena kesalahan administrasi. Aku mencari selama ini.”

Aku merasa lantai mobil seperti hilang.

“Dan hari ini,” lanjutnya, “aku akhirnya menemukannya… di sekolah yang sama dengan karyawan yang sedang pura-pura jadi ibunya.”

Aku tidak bisa bicara.

Tidak bisa bergerak.


Beberapa menit kemudian, kami sudah berada di depan rumah Liza.

Lampu menyala terang.

Di halaman, Liza berdiri gemetar, memeluk Maya erat-erat.

Dan di seberang mereka, seorang pria lain berdiri—tinggi, rapi, membawa dokumen yang sama seperti Adrian.

Dua pria.

Dua klaim.

Satu anak.

Dan satu kebohongan kecil Rp200.000 yang berubah menjadi badai.

Adrian membuka pintu mobil.

“Clara,” katanya tanpa menoleh, “sekarang kamu ikut aku.”

Aku menatapnya.

“Ke mana?”

Dia berhenti sejenak.

“Ke tempat di mana semua kebohongan ini dimulai.”

Maya berlari kecil ke arahku, tapi Liza menariknya kembali.

Dan di detik itu, aku sadar satu hal:

Aku tidak lagi hanya “pura-pura jadi ibu.”

Aku sudah menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar… yang bahkan aku tidak pernah punya kendali sejak awal.

Adrian menoleh sekali lagi.

“Dan Clara…”

Aku menatapnya.

“…kamu satu-satunya orang yang ada di semua dokumen ini sejak awal.”

Hening.

Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya dalam hati:

Apakah aku benar-benar tidak tahu apa-apa… atau aku hanya tidak berani mengingatnya?