Ruangan itu langsung sunyi.Aku bisa mendengar suara napas Gabriel yang berat.

Ruangan itu langsung sunyi.

Aku bisa mendengar suara napas Gabriel yang berat.

Tatapannya kosong selama beberapa detik, seolah otaknya menolak memahami apa yang baru saja kudengar.

“Apa… maksudmu?” suaranya serak.

Air mataku jatuh lebih dulu sebelum aku sempat menjawab.

“Tiga tahun lalu… seminggu sebelum aku meninggalkanmu, aku pingsan di kantor.”

Tangannya perlahan mengepal di samping tubuhnya.

“Aku pergi ke dokter sendirian.”

Suara sirene samar terdengar dari luar gedung, tapi di dalam kamar itu, dunia terasa berhenti.

“Aku hamil delapan minggu.”

Gabriel menunduk tajam, seperti baru saja dipukul tepat di dada.

“Kenapa kamu tidak bilang padaku?”

Aku tertawa kecil, pahit.

“Karena di hari yang sama… dokter juga bilang ada kemungkinan besar aku kena kanker serviks stadium awal.”

Wajahnya langsung pucat.

“Apa?”

“Aku harus operasi. Mereka bilang kemungkinan aku selamat tinggi kalau cepat ditangani… tapi kemungkinan mempertahankan kandungan sangat kecil.”

Suara aku mulai pecah.

“Dan kalau aku memilih mempertahankan bayi itu… ada kemungkinan aku yang mati.”

Gabriel mundur satu langkah.

Aku masih ingat malam itu.

Aku duduk sendirian di parkiran rumah sakit sambil memegang hasil tes.

Di ponselku ada puluhan chat dari Gabriel yang sedang bertugas membantu korban kebakaran di Cavite.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…

aku takut menjadi beban bagi orang yang paling kucintai.

“Aku tahu kamu,” bisikku. “Kalau aku bilang waktu itu, kamu pasti memilih aku. Kamu pasti menyerahkan semuanya demi aku.”

“Karena aku mencintaimu!” bentaknya tiba-tiba.

Suara itu membuatku terkejut.

Matanya merah.

“Karena kamu itu hidupku, Bianca!”

Aku menangis makin keras.

“Tapi aku tidak mau jadi alasan hidupmu hancur!”

Suara Gabriel bergetar.

“Jadi kamu memutuskan semuanya sendiri?”

Aku menutup mata.

“Iya.”

“Aku bilang aku sudah tidak mencintaimu… supaya kamu membenciku.”

Tangannya gemetar saat mengusap wajahnya sendiri.

“Tiga tahun…”

Dia tertawa pendek, tapi penuh rasa sakit.

“Tiga tahun aku pikir aku kurang untukmu.”

Dadaku terasa diremas.

“Aku pikir ada pria lain.”

“Aku pikir kamu bosan sama hidup bersamaku.”

“Aku pikir…” suaranya patah, “aku gagal jadi laki-laki yang layak dipertahankan.”

“Gabriel…”

“Aku bahkan tetap menyimpan cincin itu.”

Aku membeku.

Dia mengeluarkan rantai kecil dari balik seragamnya.

Dan di ujung rantai itu…

ada cincin pertunangan yang dulu kukembalikan lewat pos tanpa sepatah kata pun.

“Aku benci diriku sendiri karena tidak bisa membuangnya,” katanya pelan.

Tangisku pecah.

Tiga tahun.

Tiga tahun kami sama-sama terluka oleh kebohongan yang kubuat demi melindunginya.

“Apa yang terjadi dengan bayi kita?” tanyanya lirih.

Aku menggigit bibir sampai gemetar.

“Aku mengalami pendarahan setelah operasi.”

Tatapan Gabriel langsung jatuh.

“Dokter bilang kemungkinan besar aku keguguran… tapi saat aku sadar, rumah sakit bilang jaringan janinnya tidak ditemukan lengkap.”

Dia langsung mengangkat kepala.

“Apa maksudnya?”

“Ada kemungkinan…” suaraku hampir hilang, “bayinya masih hidup waktu operasi dilakukan.”

Ruangan itu kembali sunyi.

“Selama tiga tahun ini aku mencari.”

Aku menatapnya dengan mata penuh air mata.

“Aku diam-diam mencari data rumah sakit, mencari kemungkinan bayi yang tertukar, mencari bayi prematur tanpa identitas…”

“Tapi aku tidak pernah menemukan apa pun.”

Gabriel menutup matanya sebentar.

Saat dia membukanya lagi…

kemarahan di sana sudah hilang.

Yang tersisa hanya luka.

Dan cinta yang ternyata tidak pernah pergi.

Perlahan, dia naik ke atas ranjang dan duduk tepat di depanku.

Tangannya yang besar menyentuh pelan bekas merah di pergelangan tanganku akibat borgol.

“Kamu bodoh,” bisiknya.

Aku tertawa sambil menangis.

“Iya.”

“Kamu sangat bodoh.”

“Iya…”

Lalu untuk pertama kalinya setelah tiga tahun…

dia menyentuh wajahku lagi.

Hangat.

Hati-hati.

Seolah takut aku akan menghilang.

“Aku marah,” katanya jujur. “Sangat marah.”

Aku menunduk.

“Tapi kalau aku harus memilih antara kehilanganmu karena kebohongan… atau kehilanganmu karena kematian…”

Suaranya pecah.

“Aku tetap bersyukur kamu masih hidup.”

Aku tidak kuat lagi menahan tangis.

Gabriel menarik napas panjang, lalu mengambil kembali hydraulic cutter yang tadi jatuh di kasur.

“Kita selesaikan dulu masalah ini.”

Di tengah tangis, aku malah tertawa kecil.

“Romantis sekali.”

“Aku memecahkan pintu mantan pacarku jam dua pagi karena dia terjebak pakai borgol bulu warna pink. Sangat romantis.”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat sudut bibirnya terangkat lagi seperti dulu.

Klik.

Borgol itu akhirnya terbuka.

Pergelangan tanganku bebas.

Tapi anehnya…

justru saat itulah aku sadar.

Selama ini, bukan tanganku yang terikat.

Melainkan hati kami berdua—

pada rasa sakit yang tidak pernah benar-benar kami lepaskan.

Gabriel menatapku lama sebelum akhirnya berkata pelan,

“Bianca.”

“Hm?”

“Kali ini… jangan pergi lagi.”

Aku menggenggam tangannya erat.

Dan sambil menangis, aku mengangguk.

Karena setelah kehilangan satu sama lain selama tiga tahun…

akhirnya kami mengerti:

cinta bukan tentang siapa yang paling kuat menahan sakit sendirian.

Cinta adalah membiarkan seseorang tinggal… bahkan saat hidup sedang paling berantakan.

Setelah kata-kataku jatuh di antara kami, dunia terasa berhenti berputar.

Gabriel menatapku seolah baru saja kehilangan napas.

“Apa…?” suaranya serak. “Apa yang kamu bilang?”

Air mataku jatuh sebelum sempat kutahan.

“Tiga tahun lalu… aku hamil.”

Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya. Aku bisa melihat rahangnya menegang, matanya memerah, tapi bukan karena marah.

Karena hancur.

“Aku tahu itu tepat seminggu sebelum ulang tahunmu,” lanjutku sambil gemetar. “Aku sebenarnya ingin memberitahumu malam itu.”

Flashback itu kembali menghantamku.

Hujan deras di Baguio. Gabriel tertawa sambil memayungiku dengan jaketnya sendiri. Tangannya menggenggam tanganku erat sambil berkata, “Apa pun yang terjadi nanti, kita hadapi sama-sama.”

Tapi aku tidak memberinya kesempatan.

Karena dua hari sebelum aku mengaku, dokter menelepon.

Ada komplikasi.

Pendarahan.

Risiko tinggi.

Dan kemungkinan bayinya tidak akan selamat.

“Aku takut, Gab…” suaraku pecah. “Kamu waktu itu baru naik pangkat. Kariermu lagi bagus. Kamu punya masa depan. Aku nggak sanggup jadi alasan hidupmu hancur.”

Gabriel tertawa pendek.

Tapi itu bukan tawa bahagia.

Itu suara orang yang terlalu sakit untuk menangis.

“Jadi kamu memutuskan semuanya sendiri?” tanyanya lirih. “Kamu bilang kamu sudah nggak cinta lagi… supaya aku pergi?”

Aku menunduk.

“Waktu aku operasi… dokter bilang detak jantung bayinya hilang.” Aku terisak pelan. “Setelah itu aku nggak pernah berani cari tahu lagi. Aku pikir… anak kita sudah nggak ada.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Hanya suara napas kami yang bergetar.

Lalu Gabriel perlahan duduk di tepi ranjang, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…

Aku melihat Gabriel Sandoval menangis.

“Aku nyariin kamu,” katanya pelan tanpa mengangkat kepala. “Selama berbulan-bulan.”

Dadaku terasa diremas.

“Aku datang ke apartemenmu. Ke kantor lamamu. Bahkan ke rumah tantemu.” Ia tertawa pahit. “Aku pikir aku kurang baik buat kamu. Aku pikir kamu pergi karena capek punya pacar yang selalu sibuk nyelamatin orang lain.”

Air mataku makin deras.

“Tapi ternyata…” ia menatapku, matanya penuh luka, “yang paling gagal aku selamatkan malah kamu.”

Aku tidak tahan lagi.

Aku mendekat sebisaku meski kedua tanganku masih terborgol di kepala ranjang.

“Gab…”

Tiba-tiba ia berdiri.

Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil cutter itu lagi.

Tangannya masih gemetar saat memotong borgol pink murahan itu.

KRAK.

Logam itu akhirnya patah.

Begitu kedua tanganku bebas, aku belum sempat bergerak ketika Gabriel langsung menarikku ke dalam pelukannya.

Erat.

Sangat erat sampai aku bisa mendengar detak jantungnya yang kacau.

Tiga tahun rasa sakit runtuh dalam satu pelukan.

“Aku benci kamu,” bisiknya serak di rambutku.

Aku menangis makin keras.

“Aku tahu…”

“Tapi aku nggak pernah berhenti cinta sama kamu.”

Kalimat itu menghancurkan sisa pertahananku.

Aku memeluknya balik sekuat tenaga.

Dan malam itu, di tengah pintu rusak, borgol murahan, dan semua kekacauan yang memalukan… akhirnya kami berhenti saling lari.

Dua minggu kemudian, Gabriel datang lagi ke condo-ku.

Tapi kali ini bukan sebagai petugas penyelamat.

Melainkan sebagai laki-laki yang membawa map cokelat tebal dan wajah yang terlalu serius.

“Apa ini?” tanyaku.

“Hasil pencarian.”

Aku mengernyit.

Dia duduk di sofa lalu membuka map itu perlahan.

“Aku nggak bisa tidur setelah malam itu,” katanya. “Jadi aku cari rumah sakit tempat kamu dirawat dulu.”

Napasmu tercekat.

“Gab…”

“Dan aku menemukan sesuatu.”

Tangannya menyerahkan satu lembar dokumen.

Mataku langsung kabur oleh air mata bahkan sebelum selesai membaca.

LIVE BIRTH RECORD.

Aku gemetar hebat.

“Ini…”

Gabriel mengangguk pelan, matanya merah.

“Anak kita lahir hidup, Bianca.”

Dunia terasa berhenti untuk kedua kalinya.

Aku menutup mulutku, menangis tanpa suara.

“Perempuan,” lanjutnya lirih. “Prematur. Sempat dipindahkan ke neonatal care.”

“Tapi… dokter bilang dia meninggal…”

“Tidak.”

Suara Gabriel pecah.

“Dia hidup.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

“Di mana dia sekarang?”

Gabriel menatapku lama.

Lalu perlahan tersenyum sedih.

“Ada keluarga yang mengadopsinya setelah terjadi kesalahan administrasi saat kamu koma.” Ia menggenggam tanganku erat. “Dan Bianca…”

Air mata jatuh di pipinya saat ia berkata:

“Aku sudah menemukan dia.”

Tubuhku langsung lemas.

“Dia masih hidup?”

Gabriel mengangguk.

“Dan dia punya matamu.”