Pacar Online-ku Mengirim Puluhan Juta Rupiah Setiap Hari
Di Hari Pertama Magangku, Aku Tak Sengaja Memutar Voice Message “Honey, I Miss You” di Depan Seluruh Kantor
Barulah Aku Sadar Saat Chairman Perusahaan Perlahan Menoleh…
Dan Saat Itu Juga Aku Tahu Hidupku Tamat…
Saat sedang menyajikan kopi di sebuah café kecil di kawasan Sudirman, Jakarta, ponselku tiba-tiba bergetar berkali-kali.
Pacar online-ku mengirim pesan.
— Jadi good girl hari ini ya. Fokus belajar, jangan gampang tergoda cowok-cowok ganteng di Jakarta.
— Aku sudah tua, mana bisa saingan sama anak-anak muda tampan di sana.
— Tinggal bilang kamu mau apa. Aku bisa menghidupimu seumur hidup.
Bersamaan dengan itu, masuk transfer bank sebesar Rp88.888.000.
Dengan catatan:
“For baby’s cravings.”
Aku langsung terpaku di belakang counter.
Teman kerjaku menyenggol siku.
— Woi, Gia, misterius sugar daddy-mu lagi ya?
Aku cepat-cepat mematikan layar, tapi tetap tidak bisa menahan senyum.
Ya ampun…
ternyata benar ada pria seperti ini di dunia? Yang tiap hari manis, perhatian, dan kirim uang tanpa diminta?
01
Namaku Gia Ayu Prameswari.
Mahasiswi tingkat akhir di sebuah universitas swasta di Jakarta Selatan.
Kalau bulan ini aku gagal dapat tempat magang, kelulusanku bakal mundur satu tahun.
Tapi buat anak daerah dari Surabaya sepertiku, masuk perusahaan besar di Jakarta tanpa koneksi hampir mustahil.
Pagi kuliah.
Malam kerja di café.
Dini hari ambil freelance editing buat bayar uang semester.
Dan di masa paling kacau dalam hidupku…
aku bertemu dengannya.
Username-nya:
“Ares_77.”
Foto profilnya cuma punggung seorang pria memakai polo hitam.
Tidak ada wajah.
Tidak ada postingan.
Tidak pernah flex kehidupan mewah.
Bahkan video call pun selalu ditolak.
Tapi dia sangat baik.
Waktu pertama kali aku mengeluh capek kuliah sambil kerja, sepuluh menit kemudian tiba-tiba ada transfer Rp20 juta masuk ke rekeningku.
Pesannya singkat:
— Jangan sampai kelaparan.
Sejak itu, setiap kali aku kesulitan uang, dia seperti selalu tahu sebelum aku bicara.
Tapi semakin lama…
aku malah makin curiga.
Suatu hari sahabatku pernah bilang:
— Lo nggak takut? Bisa aja dia penipu atau om-om mesum.
Aku juga pernah berpikir begitu.
Sampai suatu malam…
aku tidak sengaja mendengar suaranya.
Berat.
Sedikit serak.
Sangat dewasa.
Cuma satu kalimat sederhana:
— Tidur cepat. Jangan begadang terus.
Dan malam itu…
jantungku tidak berhenti berdebar.
Saat itulah aku benar-benar jatuh cinta.
Hari ini adalah hari pertamaku magang.
Aku belum memberi tahu dia.
Aku ingin menunggu sampai gajian pertama, lalu membelikannya hadiah sebelum kami bertemu.
Saat berada di lift gedung perusahaan di kawasan SCBD, dia tiba-tiba mengirim pesan lagi.
— Kamu keluar hari ini?
— Background-mu nggak kelihatan seperti kosan.
Aku langsung gugup.
Segitunya dia memperhatikan?
Aku buru-buru mengarahkan kamera ke wajahku.
— Cuma beli keperluan kok.
— Nanti balik lagi ke kampus.
Balasannya langsung masuk.
— Jangan bohong.
Dadaku langsung berdebar keras.
Dan tepat saat itu—
“Ting.”
Pintu lift terbuka.
Aku cepat-cepat menyimpan ponsel dan menunduk sambil berjalan keluar.
Tapi begitu mengangkat kepala—
aku langsung membeku.
Seluruh lantai kantor sunyi.
Semua karyawan menunduk hormat.
Seorang pria berjas hitam berjalan dari ujung lorong.
Tinggi.
Bahu lebar.
Cufflink silver-nya berkilau di bawah lampu kantor yang dingin.
Para manager di belakangnya bahkan tampak sulit bernapas.
Seseorang berbisik pelan:
— Chairman datang…
Aku buru-buru minggir ke samping.
Tapi saat pria itu melewatiku—
ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Dan suara manja seorang wanita langsung menggema di seluruh kantor.
— Honey… aku baik banget hari ini. Aku cuma suka kamu seorang~♡
Isi perutku langsung terasa jatuh.
Itu…
suaraku.
Voice message yang kukirim pagi tadi ke pacar online-ku.
Seluruh ruangan langsung membeku.
Mataku membesar.
Dan pria itu…
perlahan berhenti melangkah.
Lalu—
di depan seluruh karyawan perusahaan terbesar di Jakarta—
dia menoleh pelan ke arahku.
Tatapannya tajam… tapi anehnya terasa familiar.
Kemudian dia mengangkat ponselnya dan melihat nama kontak di layar.
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
— Akhirnya… aku menangkapmu juga, good girl.
Kelanjutan cerita ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk melihat cerita lengkapnya…👇

Pada detik itu…
seluruh kantor terasa seperti berhenti bernapas.
Aku, Gia, berdiri membeku di dekat lift sambil menatap pria yang selama ini hanya kukenal lewat layar ponsel.
Chairman perusahaan terbesar di Jakarta.
Dan juga…
pacar online-ku.
Tanganku langsung dingin.
Beberapa karyawan mulai saling berbisik pelan.
“Chairman punya pacar?”
“Intern baru itu siapa?”
“Dia barusan dipanggil good girl nggak sih?!”
Aku ingin menghilang saat itu juga.
Tapi pria itu malah berjalan mendekat.
Sepatu kulit hitamnya berhenti tepat di depanku.
Lalu untuk pertama kalinya…
aku melihat jelas wajah asli Ares_77.
Tampan.
Terlalu tampan.
Dengan tatapan tajam yang membuat lututku hampir lemas.
“Nama kamu Gia Ayu?”
Aku mengangguk pelan.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Jadi selama ini kamu bohong soal tinggal di kos sempit?”
Aku langsung panik.
“A-aku bukan bohong… cuma takut…”
“Takut apa?”
“Takut kalau Kak Ares ternyata penipu…”
Beberapa manager di belakangnya langsung pucat mendengar aku memanggil chairman mereka dengan sebutan “Kak.”
Sedangkan pria itu…
malah tertawa kecil.
Suara rendahnya membuat seluruh lorong makin sunyi.
“Aku terlihat seperti penipu?”
Aku ingin menjawab, tapi lidahku kelu.
Lalu tiba-tiba salah satu direktur buru-buru maju.
“Chairman Arsen, meeting dengan investor Singapura sudah siap—”
“Aku tahu.”
Jawabannya dingin.
Tapi matanya tetap tidak lepas dariku.
“Tunda tiga puluh menit.”
Semua orang langsung terdiam.
Karena semua tahu…
Arsen Wijaya tidak pernah menunda meeting untuk siapa pun.
Kecuali hari itu.
Dan alasannya…
adalah seorang intern miskin yang berdiri gemetar di depan lift.
Begitu pintu private office tertutup, kakiku langsung lemas.
Ruangan itu sangat besar.
Jendela kaca tinggi memperlihatkan seluruh pemandangan SCBD.
Sedangkan aku…
masih belum bisa memproses kenyataan bahwa pria yang tiap malam mengirimiku pesan manis ternyata adalah salah satu pengusaha paling berpengaruh di Indonesia.
Arsen membuka jasnya perlahan.
Lalu duduk di sofa sambil menatapku.
“Ayo sini.”
Aku tetap berdiri kaku.
Dia menghela napas kecil.
“Kalau aku mau mencelakaimu, dari dulu aku sudah melakukannya.”
Pipiku langsung merah.
Pelan-pelan aku duduk di seberangnya.
Jantungku berdetak terlalu cepat.
“Aku masih nggak percaya…”
Arsen menatapku lama.
“Aku juga nggak percaya akhirnya bisa menemukan kamu.”
Aku terdiam.
“Apa maksudnya?”
Dia membuka dompetnya.
Lalu mengeluarkan sebuah foto lama yang sudah agak kusam.
Begitu melihatnya…
napasku langsung tercekat.
Foto itu diambil enam tahun lalu di Surabaya.
Saat aku masih SMA dan membantu seorang pria tua yang pingsan di terminal saat hujan deras.
Dan di pojok foto…
ada seorang pemuda berpakaian hitam yang sedang menatapku.
“Itu…”
“Ayahku.”
Suara Arsen berubah pelan.
“Hari itu semua orang cuma merekam video.”
“Cuma kamu yang berhenti membantu beliau.”
Mataku langsung berkaca-kaca.
“Aku bahkan nggak tahu…”
“Ayahku meninggal setahun setelah itu.”
Tatapannya melembut.
“Tapi sebelum meninggal, beliau terus mencari gadis SMA yang menolongnya waktu hujan.”
Dadaku terasa sesak.
Arsen tersenyum tipis.
“Aku menemukannya lebih cepat daripada yang kupikir.”
Air mataku mulai jatuh.
Selama ini…
aku pikir semua perhatian dan uang yang dia kirim hanyalah rasa kasihan.
Ternyata bukan.
Dia benar-benar memperhatikanku sejak lama.
Arsen lalu berjalan mendekat.
Tangannya mengusap pelan air mataku.
“Gia.”
“Mulai sekarang… jangan kerja sampai sakit lagi.”
Aku menggigit bibir.
“Aku nggak mau cuma jadi perempuan yang menerima uangmu.”
Tatapan Arsen langsung berubah dalam.
“Kalau begitu berdirilah di sampingku.”
“Bukan di belakangku.”
Jantungku hampir berhenti.
Dan sebelum aku sempat menjawab—
“BRAK!”
Pintu ruangan mendadak terbuka.
Seorang wanita cantik dengan dress mahal masuk sambil marah.
“Arsen! Kakek sudah setuju pertunangan kita, jadi kenapa kamu—”
Kalimatnya langsung terhenti saat melihatku.
Tatapannya berubah tajam.
“Dia siapa?”
Ruangan langsung dingin.
Tapi Arsen bahkan tidak menoleh ke wanita itu.
Dia hanya menggenggam tanganku perlahan.
Lalu berkata dengan suara rendah yang membuat seluruh tubuhku gemetar:
“Perempuan yang akan jadi masa depanku.”
Wajah wanita itu langsung pucat.
Sedangkan aku…
untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun berjuang sendirian di Jakarta…
akhirnya merasa ada seseorang yang memilihku.
Bukan karena kasihan.
Bukan karena status.
Tapi karena sejak awal…
dia memang hanya menginginkanku.