“Mas Lingga, ada kabar baik, loh. Keluarga Pratama menerima perjodohan sama Mas Lingga,” ucap Seruni, dia masuk begitu saja ke ruang baca Kalingga tanpa permisi bahkan langsung merebut buku dari tangan kakaknya. “Namanya Kinanti.”
“Oh.” Kalingga dengan tenang merebut kembali bukunya. Dia tak terlalu tertarik dengan kabar itu.
Seruni memicingkan mata. “Oh doang? Mas Lingga nggak mau lihat mukanya? Takutnya malah nggak sesuai tipe Mas Lingga gimana?”
“Kamu sudah lihat?”
“Sudah. Mas Dirga juga sudah, tapi lewat foto doang,” jawabnya santai sambil duduk di atas meja. “Kalau Mama sama Papa sudah pernah ketemu langsung. Kata Mama, sih, anaknya sopan dan penurut. Cocok-lah buat mengisi hidup Mas Lingga yang penuh bahaya.”
Kalingga akhirnya menutup bukunya. Tampaknya obrolan ini mulai serius. “Menurutmu bagaimana?”
Seruni mengangkat bahu. “Kok tanya aku? Yang mau nikah kan Mas Lingga.”
“Ya, nggak papa. Mas mau dengar pendapatmu.”
Seruni berpikir sejenak lalu menyeringai kecil. “Hmmm … gimana, ya. Katanya jangan nilai buku dari sampulnya, jangan juga nilai orang dari penampilannya.” Dia mengedikkan bahu. “Kalau dari penampilan sih, oke-lah. Wajah juga lumayan.”
“Lumayan?” Kalingga menaikkan satu alis.
“Iya, lumayan.” Seruni menyeringai. “Tapi aku nggak tahu wataknya kayak gimana.”
“Kalau harus menilai dari penampilan, berapa dari sepuluh?”
“Tujuh.” Seruni menjawab tanpa ragu sambil menunjukkan tujuh jarinya. Bahkan di matanya nilai Kinanti kurang dari sepuluh.
“Kamu yakin tujuh?” Satu alis Kalingga terangkat lebih tinggi. Masa penampilan calon istrinya diberi nilai tujuh. Selama ini wanita yang mendekati Kalingga tak main-main, baik profesi maupun penampilan selalu luar biasa.
Seruni tertawa lebar melihat ekspresi kakaknya. “Ya kan sepuluhnya buat aku, Mas! Pokoknya, siapa pun calon istri Mas Lingga, nilainya cuma tujuh. Nggak boleh ngalahin aku.”
Kalingga mendengus pelan, menahan senyum. Belum juga menikah, tapi adik perempuannya itu sudah mempertahankan posisi sebagai wanita tercantik di keluarga Madhava.
“Dia sudah tahu soal keluarga kita?”
“Sudah.” Seruni mengangguk. “Malah Mama bilang, Kinanti cukup percaya diri. Katanya dia yakin bisa menaklukkan hati Mas Lingga.”
Kalingga mencebikkan bibir. Raut wajahnya berubah dingin. Dia sudah sering melihat tipe wanita seperti Kinanti, tampak lembut di luar, penuh semangat sangat mendekatinya, tapi bukan karena tulus, melainkan karena mengincar apa yang dia milik. Harta dan takhta, tentu saja.
“Temui saja sekali, Mas,” lanjut Seruni santai sambil memainkan buku-buku di sampingnya. “Siapa tahu cocok. Lagian Mas Lingga juga sudah tua.”
Plak! Kalingga menyentil kening adiknya.
“Ngomong apa kamu.”
“Aduh!” Seruni mengelus keningnya. “Sakit tahu!” Dia merengut, tapi kemudian kembali tersenyum usil. “Serius, Mas. Kasihan Mama sama Papa. Mereka sudah pengin punya cucu. Mau mengandalkan siapa lagi kalau bukan Mas Lingga, kan Mas anak pertama.”
Kalingga terdiam sejenak. Kalau dipikir-pikir, apa yang Seruni ucapkan ada benarnya juga. Dia sudah terlalu lama sendiri. Kebanyakan temannya sudah menikah, bahkan beberapa juniornya di kesatuan sudah punya anak.
Pandangan Kalingga kembali jatuh ke buku di tangannya, tapi pikirannya sudah melayang ke hal lain.
“Dia masih kuliah?” tanya Kalingga.
“Masih,” jawab Seruni, “Umurnya baru dua puluh tahun.”
Kalingga mengangguk pelan. “Ya sudah, nanti Mas temui dia.”
Mata Seruni langsung berbinar. “Serius? Mau aku bantu kabarin keluarga Pratama, nggak?”
Kalingga menggeleng. “Nggak perlu.” Dia berdiri, merapikan bajunya dengan tenang. “Kalau mereka tahu Mas mau datang, mereka pasti menampilkan versi terbaiknya. Mas mau lihat, apa dia seperti yang Mama bilang.”
Seruni tersenyum lebar. Wah, ini bakal seru, nih, begitu pikirnya.
Berbekal sedikit informasi dan foto yang diberikan adiknya, Kalingga kini sudah berada di kampus tempat Kinanti menuntut ilmu. Dia harus memastikan sendiri tabiat wanita yang akan menemani hidupnya. Karena bagi Kalingga, menikah itu sekali seumur hidup, dia tak mau salah pilih pasangan.
Langkahnya mantap memasuki area fakultas seni. Di antara hiruk-pikuk mahasiswa dan aroma cat yang samar tercium di udara, sosok Bramasta sudah berdiri menunggunya. Dia melambaikan tangan sambil tersenyum lebar seperti biasanya.
Keberuntungan tampaknya sedang berpihak pada Kalingga. Dari sekian banyak kemungkinan, dia memiliki teman satu angkatan yang kini justru menjadi dosen kesenian di kampus tempat Kinanti menuntut ilmu.
“Siapa namanya? Fakultas apa?” tanya Bramasta begitu keduanya duduk di kantin.
“Kinanti Putri Pratama. Fakultas seni.”
“Lo datang ke orang yang tepat.” Bram sedikit memajukan tubuhnya, matanya menyipit seolah sedang mengingat sesuatu. “Kinanti yang lo cari itu adiknya Reno Pratama, kan?”
“Reno?” Kalingga mengernyit. “Siapa?” Kini justru dia yang berpikir keras. “Gue nggak tahu silsilah keluarganya. Adik gue cuma bilang dia punya dua kakak, tapi gue nggak tau siapa namanya.”
Bram menatapnya tak percaya. “Serius lo nggak inget Reno?”
Kalingga bertopang dagu dengan ekspresi datar. “Sepenting itu buat gue harus inget dia?”
Bram mendecak kesal sambil memainkan sedotan di bibirnya. “Yaelah, Lingga.” Dia menggeleng lalu tertawa pendek. “Dulu kita pernah tawuran sama sekolah sebelah. Yang bikin kita diskors seminggu. Inget nggak?”
Kalingga tidak langsung menjawab. Alisnya berkerut tipis, seolah sedang mengais sesuatu di dalam ingatannya. Beberapa detik berlalu, dia menjentikkan jarinya pelan. Bagaimana mungkin dia melupakan kejadian sial itu?
“Lo udah inget, kan? Nah, pemimpin gengnya itu Reno. Kinanti itu adiknya Reno. Kalau Kinanti yang kita maksud orangnya sama.” Bram menyeringai tipis. “Lo apes banget, Lingga. Bisa-bisanya iparan sama musuh lama.”
Kalingga tidak berkomentar, tapi rahangnya mengeras tanda kalau mood-nya buruk.
“Ada fotonya nggak? Buat mastiin.”
Kalingga mengangguk lalu menyerahkan ponselnya. Layar menampilkan potret Kinanti yang dikirim Seruni.
Bram langsung bersiul pelan. “Cocok.”
Ekspresi Kalingga semakin kecut. Rupanya benar bahwa Kinanti yang mereka maksud adalah adik dari musuh bebuyutannya semasa sekolah dulu. Sial! Betapa sempitnya dunia ini, dari jutaan manusia di muka bumi, bisa-bisanya dia menerima perjodohan dengan adik dari musuhnya sendiri.
Bram mengembalikan ponsel itu. “Kalau gue boleh kasih saran, mending lo batalin, deh. Kinanti sama Reno, wataknya sebelas dua belas. Tapi gua nggak mau meracuni pikiran lo, mending lo liat sendiri aja. Kebetulan banget, habis ini gue mau ngisi materi di kelasnya. Lo boleh ikut.”

Kalingga mengangguk. “Ok, nanti gue duduk di belakang aja.”
Kalingga membuka kulkas dengan kasar lalu meneguk minuman dingin hingga tandas. Botol kosong di tangannya diremukkan begitu saja, sebelum dilempar ke tempat sampah.
“Mas?”
Kalingga tersentak. Baru dia sadari kalau di meja makan keluarganya sedang berkumpul dan memperhatikannya.
“Kamu kenapa, Lingga?” tanya mamanya, dia tampak khawatir melihat tingkah putranya yang tak biasa. “Kamu nggak papa, kan?”
“Nggak papa, Ma.” Kalingga menarik kursi lalu duduk sambil mengembuskan napas panjang. “Aku habis dari kampus tempat Kinanti kuliah, Ma.”
“Oh ya?” Wajah mamanya langsung berbinar. Sepertinya hanya masalah asmara, tak begitu serius. “Gimana Kinanti? Cantik, kan? Mama udah pernah ketemu sama dia, anaknya baik dan sopan lagi.”
“Papa juga suka sama dia,” sambung papanya. “Anaknya nggak manja. Kelihatannya dewasa.”
Kalingga berdecak pelan.
“Kenapa?” tanya papanya, mulai curiga. “Nggak sesuai sama yang kami lihat?”
Seruni mencondongkan tubuh. “Dia ngeselin ya, Mas?” tanyanya serius. “Ih, aku nggak mau punya ipar yang nggak asik.”
“Kenapa sih? Ditanya dari tadi kamu diam saja.” Nada suara mamanya mulai tak sabar. “Ini kita disuruh nebak apa gimana? Kita nggak bakal tau kalau kamu nggak cerita. Sudah, nggak usah mikir yang aneh-aneh, kamu bilang aja yang sebenarnya.”
Kalingga mengangkat wajahnya. Sebenarnya dia tak ingin membebani kedua orang tuanya apalagi mereka begitu menyukai Kinanti, tapi perkara ini juga tak bisa dia hadapi sendiri.
“Kebaikan yang kalian lihat itu cuma pencitraan,” ucap Kalingga akhirnya.
“Loh, jadi aslinya gimana? Padahal dia baik banget, loh, sama mama. Jadi, itu cuma bohongan?” tanya Mamanya.
Kalingga mengangguk pelan. Dia menyandarkan punggungnya. “Aslinya Kinanti itu arogan, kasar, sombong dan selalu mengandalkan status keluarganya.”
“Ah, masa, sih?” Mamanya masih ragu.
Tanpa banyak bicara, Kalingga mengeluarkan ponselnya. Dia sudah menduga reaksi ini. Karena itu, dia sempat merekam sikap Kinanti di kampus.
Video pun diputar. Suasana meja makan berubah hening kecuali dari suara rekaman itu di mana Kinanti dan gengnya sedang membuli temannya, meminta si anak tak berdaya itu membelikan minuman untuknya.
Satu per satu ekspresi mereka berubah. Setelah video selesai ketiganya menggelengkan kepala, seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat tadi.
“Cih, memang benar, ya. Jangan menilai orang dari penampilannya, kelihatannya sih anak baik-baik, tapi perangainya jelek banget,” ucap Seruni sambil sedikit menggebrak meja. “Jangan nikah sama dia, Mas. Bisa-bisa Mas Lingga tersiksa seumur hidup.”
Kalingga mengangguk mantap. Dia juga tak sudi terlibat dalam hidup Kinanti dan keluarga Pratama. “Aku nggak mau menikah dengan dia, Ma.”
“Bener, Ma!” Seruni menggoyang lengan Mamanya. “Aku juga nggak mau punya ipar model begitu. Amit-amit!”
Mama dan Papanya saling pandang. Ekspresi mereka tidak sesederhana itu padahal mereka hanya perlu mengatakan kalau keduanya tak cocok sebagai pasangan lalu masalah selesai. Tak benar, pasti ada yang salah.
“Ma, Pa.” Kalingga menyipitkan mata. “Jangan bilang kalian sudah melamar Kinanti?”
Keduanya mengangguk pelan.
“Mama pikir kamu setuju,” ucap mamanya pelan. “Kamu nggak pernah protes waktu mama bilang mau menjodohkanmu sama Kinanti.”
“Papanya Kinanti juga terus mendesak,” tambah papanya. “Papa jadi nggak enak. Lagian, awalnya papa juga pikir dia cocok buat kamu. Dia bahkan bilang nggak keberatan sama rumor yang beredar soal keluarga kita.”
Kalingga memijat pelipisnya. Masalahnya jadi lebih rumit sekarang. Jika pihak mereka yang membatalkan perjodohan, maka harus ada ganti rugi yang cukup besar pada keluarga Pratama. Dan dia tak sudi uang keluarganya dipakai keluarga itu.
“Kita buat mereka yang membatalkan,” ucap Kalingga akhirnya.
Kedua orang tuanya menatapnya bersamaan.
“Caranya?” tanya papanya.
Kalingga terdiam sejenak lalu sebuah ide gila muncul di kepalanya.
“Pa, kali ini aku butuh bantuan Papa,” ucap Kalingga mantap, “Sebarkan kabar kalau aku mengalami kecelakaan saat bertugas.”
“Kecelakaan gimana maksudnya?” tanya mamanya bingung.
“Bilang saja aku terkena sesuatu, semacam ilmu hitam, santet, klenik. Terserah-lah apa istilahnya,” lanjut Kalingga tanpa ragu. “Sebarkan kabar kalau akibat kecelakaan itu aku koma dan peluang buat sadar sangat kecil.”
Semua terdiam.
“Apa mereka akan percaya?” tanya Papanya ragu.
“Kita nggak pernah tau kalau nggak dicoba, Ma.” Kalingga menatap mereka satu per satu. “Katakan juga kalau satu-satunya cara untuk menyembuhkanku adalah harus menikah dengan seseorang yang punya ‘hari lahir baik’.”
“Hari lahir baik?” Papanya mengernyit. “Memang ada yang begitu?”
“Kita karang saja,” jawab Kalingga asal. “Kinanti yang manja itu pasti mundur. Dia nggak akan mau punya suami koma apalagi dengan risiko jadi janda di usia muda.”
Hening kembali menyelimuti ruangan. Mama dan Papa saling berpandangan lalu mereka mengangguk. Mereka pun tak ingin keluarga mereka dimasuki seseorang dengan watak seperti itu. Jadi, apa salahnya dicoba.