Posted in

“Ke Mana Kamu Pergi dengan Pakaian Seperti Itu?” — Untuk Pertama Kalinya Sang Pewaris Benar-Benar Memperhatikan Asisten Rumah Tangga yang Selama Ini Seolah Tak Terlihat

“Ke Mana Kamu Pergi dengan Pakaian Seperti Itu?” — Untuk Pertama Kalinya Sang Pewaris Benar-Benar Memperhatikan Asisten Rumah Tangga yang Selama Ini Seolah Tak Terlihat
Bagian 1

Malam itu, untuk pertama kalinya Caleb Madrigal memandangku sebagai seorang wanita sungguhan.

Bukan sebagai pembantu rumah tangga.

Bukan sebagai bayangan diam yang berjalan melewati lorong panjang mansion besar tempat bahkan suara jam di lantai tiga pun bisa terdengar jelas.

Melainkan sebagai seorang wanita.

Dan kalimat pertama yang keluar dari mulutnya membuat seluruh tubuhku gemetar.

“Mau pergi ke mana?”

Aku langsung terdiam di dekat pintu belakang dapur.

Sepatu hak tinggi yang belum sempat kupakai masih ada di tanganku.

Selama lebih dari setahun bekerja di rumah keluarga Madrigal, Caleb belum pernah berbicara padaku lebih dari tiga kalimat.

“Kopi.”

“Di mana dokumennya?”

“Bersihkan ruang rapat.”

Hanya itu.

Dia seperti badai di tengah laut—dingin, gelap, dan tak ada yang tahu kapan akan meledak.

Aku selalu menghindarinya.

Sama seperti semua pelayan di rumah itu.

Karena semua orang tahu bahwa Caleb Madrigal bukan hanya pewaris perusahaan pelayaran terbesar di kota.

Dia juga pria yang ditakuti polisi, politisi, dan para pebisnis.

Ada banyak hal yang tidak pernah diucapkan orang secara terang-terangan.

Hanya dibisikkan diam-diam.

Bahwa keluarga Madrigal tidak menjadi kaya dengan cara yang bersih.

Bahwa orang-orang yang menentang Caleb tiba-tiba menghilang dari kota.

Bahwa dia bisa menghancurkan hidup seseorang hanya dengan satu panggilan telepon.

Dan aku…

Hanyalah gadis miskin dari kawasan kumuh dekat pelabuhan.

Karena itu aku belajar menunduk.

Belajar untuk tidak terlihat.

Namun malam ini, aku mengenakan gaun putih sederhana yang membentuk tubuh, sedikit lipstik, dan untuk pertama kalinya keluar dari kamar kecil para pelayan dengan rambut tergerai.

Aku hanya ingin merasa seperti wanita normal… meski cuma satu malam.

Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya.

Dia berdiri di ujung lorong gelap.

Memakai polo hitam dengan kerah terbuka, satu tangan di saku, sementara tangan lainnya memegang gelas anggur.

Cahaya kuning menerpa wajahnya yang dingin dan tegas.

Dia menatapku lama sekali.

Sangat lama sampai aku hampir lupa cara bernapas.

“Jawab.” Suaranya rendah. “Mau pergi ke mana malam-malam begini?”

“Aku… cuma mau ketemu teman.”

“Teman siapa?”

“Sepertinya saya tidak perlu menjelaskan kehidupan pribadi saya.”

Dia tertawa pelan.

Sangat pelan, tapi justru membuat suasana terasa lebih gelap.

Dia berjalan mendekat.

Pelan.

Tidak terburu-buru.

Namun cukup untuk membuat detak jantungku semakin cepat.

“Kamu gemetar,” katanya.

“Tidak.”

“Iya.”

Aku mempererat genggaman pada tasku.

“Tuan Madrigal, hari ini saya libur.”

“Lalu?”

“Saya berhak keluar.”

“Dengan pakaian seperti itu?”

Wajahku langsung panas.

Aku tidak suka cara dia menatap dari bahuku turun ke pinggangku seolah-olah dia sedang menandai sesuatu yang menjadi miliknya.

“Ada masalah dengan pakaian saya?”

“Ada.”

Aku mengernyit.

“Terlalu banyak pria yang akan memandangmu.”

Jantungku seakan berhenti.

Aku belum sempat memahami maksudnya ketika dia berdiri tepat di depanku.

Sangat dekat.

Aku bisa mencium campuran aroma rokok dan parfum mahalnya.

“Lebih dari setahun.” Suaranya pelan. “Kamu selalu bersembunyi di balik pakaian longgar, rambut diikat, dan terus menunduk seolah tidak ingin siapa pun mengingat keberadaanmu.”

Aku tidak bisa menjawab.

Karena dia benar.

Aku tumbuh dengan memahami satu hal:

Kalau kamu perempuan miskin dan terlalu menarik perhatian, biasanya akhirnya tidak baik.

Karena itu aku belajar menjadi tak terlihat.

Dia menatap langsung ke mataku.

“Tapi malam ini…” Suaranya semakin rendah. “Kamu tiba-tiba muncul seperti ini.”

Aku berusaha tetap tenang.

“Saya cuma mau makan malam.”

“Dengan siapa?”

“Lucas.”

Ekspresinya langsung berubah.

Aku melihatnya dengan jelas.

Rahangnya mengeras.

Gelas di tangannya hampir pecah karena genggamannya terlalu kuat.

Dan saat itu aku langsung mengerti.

Dia cemburu.

Caleb Madrigal… cemburu.

Rasanya gila memikirkan hal itu.

Bagaimana mungkin pria seperti dia bisa tertarik pada pembantu rumah tangga sepertiku?

“Apa pekerjaannya?”

“Dia koki di warung kecil dekat pelabuhan.”

“Sudah berapa lama kalian saling kenal?”

Kesabaranku mulai habis.

“Apakah Anda sedang menginterogasi saya?”

Dia tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatapku seolah sedang melawan pikirannya sendiri.

Lalu tiba-tiba dia bertanya:

“Kamu suka dia?”

Aku terdiam.

Suasana tiba-tiba menjadi sangat sunyi.

Aku bahkan belum sempat menjawab ketika ponselnya bergetar.

Dia melihat layar.

Dan hanya dalam satu detik, wajahnya langsung berubah total.

Lebih dingin.

Lebih berbahaya.

Dia mengangkat telepon.

“Apa?”

Orang di seberang berbicara cepat.

Wajah Caleb semakin gelap.

“Cari dia.” Suaranya dingin. “Jangan biarkan dia keluar dari kota.”

Aku belum sempat memahami apa yang terjadi ketika tiba-tiba terdengar suara rem mobil yang sangat keras dari luar mansion.

SKREEECH—

Disusul teriakan kacau.

Seorang pelayan berlari masuk dari depan rumah dengan wajah pucat ketakutan.

“Tuan! Ada orang-orang masuk—”

BOOM!!!

Ledakan keras mengguncang kaca lantai pertama dan membuat chandelier besar bergoyang hebat.

Dan di detik berikutnya, Caleb tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya….

Aroma tembakau dan parfum maskulin milik Caleb langsung membungkus seluruh indra penciumanku. Pelukannya begitu erat, menyembunyikan kepalaku di dadanya yang bidang saat serpihan kaca dari jendela lorong terbang dan berdenting di atas lantai marmer.

Aku terengah-engah, mencengkeram polo hitamnya dengan sisa-sisa keberanianku. Jantungku berdegup begitu kencang, tidak tahu mana yang lebih berbahaya: ledakan di luar sana, atau intensitas pria yang sedang mendekapku ini.

“Tetap di belakangku,” bisik Caleb. Suaranya tidak lagi terdengar cemburu atau terganggu. Suara itu kini menjelma menjadi suara seorang panglima perang—tenang, dingin, dan penuh kendali.

Dia melepaskan pelukannya, namun satu tangannya tetap menggenggam pergelangan tanganku dengan kuat. Dari balik pinggangnya, Caleb menarik sebuah pistol semi-otomatis hitam legam. Aku memekik kecil, menyadari bahwa rumor yang beredar di antara para pelayan selama ini bukanlah sekadar bualan belu.

“T-Tuan Madrigal… apa yang terjadi?” tanyaku dengan suara bergetar hebat.

“Tamu yang tidak diundang,” jawabnya singkat.

Lorong yang tadinya sunyi kini dipenuhi oleh derap langkah sepatu bot yang berat. Tiga orang pria bertopeng dengan jaket taktis tak dikenal muncul dari arah ruang tamu, memegang senjata laras panjang.

“Madrigal! Menyerahlah! Malam ini pelabuhan bukan lagi milik keluargamu!” teriak salah satu dari mereka.

Sebelum pria itu sempat menarik pelatuk, Caleb bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Dua tembakan memekakkan telinga terdengar berturut-turut.

BANG! BANG!

Dua pria di depan langsung tumbang. Pria ketiga mencoba membidik, namun Caleb mendorongku ke balik pilar besar, sementara dia berguling di lantai dan melepaskan tembakan ketiga tepat di dada lawan.

Semua terjadi dalam hitungan detik. Bau mesiu yang menyengat memenuhi udara. Aku terduduk di lantai, memeluk lututku dengan gaun putih yang kini mulai terkena noda debu dan cipratan kecil. Seluruh tubuhku lemas. Ini bukan duniaku. Aku hanyalah gadis miskin yang ingin menikmati makan malam, bukan terjebak dalam perang kartel pelabuhan.

Caleb berdiri, mengibaskan debu di celananya seolah baru saja menyelesaikan urusan sepele. Dia berjalan mendekatiku, lalu berjongkok di depanku. Tatapannya melembut sejenak saat melihat air mata yang mulai menggenang di pelupuk mataku.

“Kamu terluka?” tanyanya, tangannya yang hangat menyentuh pipiku, menghapus setitik debu di sana.

Aku menggeleng pelan, masih terlalu syok untuk berbicara.

Ponsel Caleb kembali bergetar. Dia mengangkatnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap berada di pipiku.

“Bereskan lobi,” perintah Caleb pada bawahannya di telepon. “Dan siapkan mobil cadangan di gerbang belakang. Aku akan membawa seseorang bersamaku.”

Caleb mematikan ponselnya, lalu menatapku dalam-dalam. “Lucas-mu itu… koki di warung pelabuhan, kan?”

Aku mengangguk ragu. “I-iya. Kenapa?”

Caleb menghela napas berat, sebuah senyuman sinis yang pahit terukir di wajahnya yang tegas.

“Orang-orang yang baru saja menyerang rumahku adalah kelompok penyelundup dari pelabuhan utara. Dan informan mereka di dalam wilayahku… adalah pria bernama Lucas itu.”

Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak seketika. “Tidak… itu tidak mungkin. Lucas orang baik, dia—”

“Dia mendekatimu selama beberapa bulan terakhir hanya untuk mencari tahu jadwal dan denah mansion ini, Alina,” potong Caleb seolah dia tahu segala hal tentang hidupku, bahkan nama depanku yang hampir tidak pernah dia sebut.

“Dia tahu kamu bekerja di sini. Malam ini, dia memancingmu keluar agar posisi penjagaan di pintu belakang melemah. Pakaian bagusmu ini…” Caleb menyentuh pundak gaun putihku dengan lembut, “…hampir saja menjadi kain kafanmu jika aku membiarkanmu pergi tadi.”

Aku terpaku. Kenyataan itu menghantamku lebih keras daripada ledakan bom tadi. Pria yang kukira tulus menyukaiku, ternyata hanya memanfaatkanku sebagai pion dalam permainan maut mereka.

Caleb berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang besar ke hadapanku.

“Rumah ini sudah tidak aman untuk beberapa jam ke depan. Ikut denganku,” katanya tegas.

Aku menatap tangannya, lalu menatap matanya. Di dalam manik mata gelap itu, aku tidak lagi melihat seorang majikan yang kejam atau pria asing yang tak tersentuh. Aku melihat satu-satunya pelindung yang kupunya di dunia yang kejam ini.

Perlahan, aku menyambut tangannya. Caleb menarikku berdiri, lalu tanpa peringatan, dia melepaskan kancing polo hitamnya, membuka kemeja luarnya, dan menyampirkannya ke bahuku—menutupi gaun putihku yang terbuka.

“Mulai malam ini, jangan pernah berpikir untuk menyembunyikan dirimu lagi,” bisik Caleb di telingaku saat dia menuntun langkahku melewati lorong gelap. “Dan jangan pernah berpikir untuk menatap pria lain selain aku.”