Setelah kami menikah, aku tidak pernah sekali pun memberitahu perusahaan bahwa aku adalah istri CEO.
Bukan karena aku ingin menyembunyikannya.
Dulu Rafael hanya berkata:
“Aku tidak ingin orang-orang memandangmu berbeda. Jalani saja apa yang ingin kamu lakukan.”
Aku mempercayainya.
Selama tiga tahun aku bekerja seperti semua orang—datang pagi, lembur, mengejar klien, begadang demi menyelesaikan proposal. Selain cincin yang selalu kusimpan di dalam tas, tidak ada yang tahu hubungan kami.
Sampai hari terakhir tahun itu.
Seluruh divisi sales sudah menerima bonus tahunan.
Hanya aku yang belum.
—
“Namamu dicoret.”
Staf HR mendorong daftar itu ke depanku dengan nada dingin.
Aku menunduk melihatnya.
Di bagian bonus akhir tahun, nama Maya Santos dicoret tebal dengan tinta merah.
Di sampingnya tertulis:
“Tidak lulus evaluasi.”
Aku tertawa sinis.
“Tidak lulus?”
“Aku yang mendapatkan tiga klien terbesar tahun ini.”
“Lebih dari setengah penjualan divisi berasal dari proyek yang kutangani.”
“Di bagian mana aku tidak lulus?”
Staf HR itu mengangkat bahu.
“Perintah dari atasan.”
“Aku cuma menjalankan tugas.”
Aku belum sempat bertanya lagi ketika pintu tiba-tiba terbuka.
Seorang wanita muda masuk.
Rambutnya sedikit bergelombang, mengenakan dress warna krem, dan membawa kopi mahal.
Wajah semua orang di ruangan itu langsung berubah.
“Oh, Miss Bianca sudah datang.”
“Resi pembelian kemarin sudah siap.”
“Oh iya, hadiah akhir tahunnya juga sudah dikirim ke condo Anda.”
Aku melirik tumpukan resi di tangannya.
Tas desainer.
Kosmetik mahal.
Spa.
Dinner party.
Semuanya bertanda dibayar perusahaan.
Bianca dela Cruz menoleh padaku lalu tersenyum tipis.
“Ada masalah?”
Aku memandang staf HR.
“Perusahaan menyetujui semua pengeluaran ini?”
Dia langsung mengernyit.
“Bukan urusanmu.”
“Itu fasilitas orang penting.”
Aku terdiam.
“…Orang penting?”
Dia tertawa kecil.
“Kamu tidak tahu?”
“Satu perusahaan juga tahu.”
“Miss Bianca adalah wanita di sisi CEO.”
“Tidak kelihatan bagaimana Sir Rafael begitu memanjakannya?”
Dadaku perlahan terasa dingin.
Wanita di sisi CEO?
Aku menggenggam ponselku erat-erat.
Sudah tiga hari suamiku pergi business trip.
Di layar masih ada pesan terakhirnya.
【Begitu aku pulang, kita makan malam di luar.】
Aku menatap kalimat itu cukup lama.
Lalu perlahan mematikan layar.
—
Sore harinya, aku dipanggil ke kantor manajer departemen.
Dia melempar sebuah folder ke meja.
“Mulai bulan depan, kamu tidak lagi menangani proyek utama.”
Aku mendongak.
“Maksudnya?”
“Ada penyesuaian tenaga kerja.”
“Aku yang menangani proyek itu selama enam bulan.”
“Hanya aku yang berhubungan langsung dengan klien.”
Dia bersandar di kursi dengan nada kesal.
“Memangnya perusahaan tidak bisa jalan tanpa kamu?”
“Jangan terlalu tinggi menilai dirimu sendiri.”
Aku melihat surat mutasi di atas meja.
Dari team leader sales.
Dipindahkan menjadi admin support.
Mengurus dokumen.
Menginventaris hadiah.
Bahkan mejaku dipindahkan ke ujung lorong dekat toilet.
Barang-barangku dimasukkan begitu saja ke dalam kardus.
Tanaman yang kurawat hampir dua tahun patah satu dahannya.
Rekan-rekan kerja yang lewat hanya melirik diam-diam.
Tak ada yang berani bicara.
Seorang pegawai senior mendekat dan berbisik pelan:
“Bertahan saja dulu.”
“Kudengar kamu membuat Miss Bianca kesal.”
“Sekarang hampir semua yang dia mau pasti terjadi.”
“Bahkan CEO juga mengikuti kemauannya.”
Aku diam sambil memunguti dokumen yang berserakan di lantai.
Kuku jariku menekan telapak tangan sendiri.
Aku benar-benar ingin tahu…
Pria yang setiap malam menelepon untuk mengingatkanku makan tepat waktu.
Pria yang menunggu semalaman di luar ruang operasi saat ibunya menjalani operasi.
Berapa banyak wajah lain yang belum pernah kulihat darinya?
—
Malam itu, jam pulang kerja sudah dekat.
Tiba-tiba seluruh perusahaan heboh.
“Mobil CEO sudah kembali!”
“Katanya langsung dari bandara ke sini!”
“Miss Bianca ada di ruang meeting!”
Aku sedang membawa dua kotak hadiah akhir tahun melewati lorong ketika seseorang tiba-tiba menabrakku dari belakang.
Troli miring.
Kotak-kotak jatuh.
Satu set hadiah kaca di dalamnya pecah berantakan.
Terdengar tawa dari depan.
“Makanya hati-hati.”
Bianca berdiri di dekat lift sambil melipat tangan dan menatapku.
Di sampingnya ada manajer HR dan manajer departemen.
Mereka menatapku seolah aku bahan lelucon.
“Memang ada orang yang cocoknya cuma angkat barang.”
“Entah dari mana dulu dia dapat keberanian untuk bersikap tinggi.”
Aku menopang tubuh dengan tangan untuk berdiri.
Pecahan kaca menggores telapak tanganku.
Darah mengalir dari pergelangan tanganku ke lantai dingin.
Tepat saat itu—
Pintu lift terbuka.
Barisan pria bersetelan jas keluar lebih dulu.
Seluruh lorong langsung sunyi.
Orang terakhir yang keluar adalah pria yang sangat kukenal.
Mantel hitamnya bahkan belum dilepas.
Wajah dinginnya menyapu seluruh karyawan.
“CEO…”
Wajah Bianca langsung berubah.
Dia cepat-cepat menghampiri Rafael dengan suara manja.
“Kamu sudah kembali.”
Rafael Villar bahkan tidak meliriknya.
Pandangannya berhenti di tanganku.
Pada darah yang menetes ke lantai.
Seluruh lorong membisu.
Aku menatapnya.
Dia juga menatapku.
Beberapa detik kemudian, perlahan dia melepas sarung tangannya dan melemparkannya pada asistennya di belakang.
Lalu selangkah demi selangkah berjalan mendekatiku.
Wajah Bianca memucat.

“S-Sir Rafael…”
Rafael berhenti tepat di depanku.
Suaranya rendah dan menakutkan.
“Siapa yang melakukan ini padamu?”…
Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir dari cerita tersebut:
Bagian Akhir: Hancurnya Sebuah Topeng
Keheningan di lorong itu begitu pekat hingga suara tetesan darahku yang mengenai lantai marmer terdengar seperti bom waktu yang siap meledak.
Manajer departemen dan staf HR yang tadinya tertawa, kini membeku. Bianca mencoba meraih lengan Rafael dengan wajah panik yang dipaksakan. “Sir Rafael, dia hanya seorang admin yang tidak becus bekerja. Dia ceroboh dan memecahkan hadiah perusahaan, aku hanya—”
“Aku tidak bertanya padamu, Bianca dela Cruz,” potong Rafael. Suaranya tidak keras, namun dinginnya sanggup membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
Rafael perlahan berlutut di depanku—di atas lantai yang kotor oleh pecahan kaca. Pria yang ditakuti oleh seluruh dewan direksi itu tidak memedulikan celana kain mahalnya yang kini ternoda darahku. Dengan sangat lembut, dia meraih tanganku yang terluka. Tatapan matanya yang tadi sekeras es, seketika runtuh menjadi gumpalan rasa bersalah dan kemarahan yang masif saat melihat luka gores di telapak tanganku.
“Aku bertanya padamu, Maya,” bisik Rafael, mendongak menatapku. “Siapa yang membuat istriku menjadi seperti ini?”
Kata ‘istriku’ bergema di sepanjang lorong dekat toilet itu.
Deg.
Bianca melangkah mundur hingga menabrak dinding. Wajahnya yang tadinya merona karena kosmetik mahal kini mendadak pucat pasi. Staf HR dan manajer departemen saling berpandangan dengan tubuh yang gemetar hebat. Mereka menyadari satu hal: mereka baru saja menggali kuburan mereka sendiri.
Aku menatap Rafael, lalu perlahan menarik tanganku dari genggamannya. “Aku tidak apa-apa, Sir Rafael. Lagipula, saya sudah dipindahkan menjadi admin support. Mengurus sampah dan pecahan kaca seperti ini memang sudah menjadi tugas saya sejak nama saya dicoret dari daftar bonus.”
Mendengar kalimatku, rahang Rafael mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. Dia berdiri, membalikkan badannya menghadap jajaran manajemen yang kini sudah menunduk ketakutan.
“Siapa manajer departemen sales?” tanya Rafael dingin.
Manajer departemen maju satu langkah dengan kaki yang lemas. “S-Saya, Sir… tapi saya tidak tahu kalau Miss Maya adalah—”
“Kamu dicopot dari jabatanmu detik ini juga. Seluruh aset, bonus, dan pesangonmu dibatalkan,” potong Rafael kejam. Dia beralih ke staf HR. “Dan kamu, pastikan surat pemecatanmu sendiri sudah ada di mejaku sebelum jam kerja berakhir. Bersama dengan audit menyeluruh atas semua resi belanja yang kalian bebankan pada perusahaan.”
Rafael kemudian menatap Bianca yang kini sudah mulai terisak ketakutan.
“Fasilitas orang penting? Wanita di sisi CEO?” Rafael tersenyum sinis, sebuah tatapan yang membuat Bianca tahu bahwa karier dan hidup mewahnya di kota ini telah berakhir. “Bianca, satu-satunya alasan aku membiarkanmu memegang proyek besar adalah karena ayahmu memohon padaku demi melunasi utang judinya. Dan kamu memanfaatkan kebaikanku untuk menindas pemilik sah dari perusahaan ini?”
“Sir Rafael… maafkan saya… saya tidak tahu… Miss Maya tidak pernah bilang…” Bianca menangis histeris, mencoba berlutut di depan Rafael, namun asisten pribadi Rafael dengan cepat menghadangnya.
“Bawa mereka semua keluar dari gedungku. Dan pastikan nama mereka masuk dalam daftar hitam seluruh korporasi di negara ini,” perintah Rafael tanpa belas kasihan.
Lorong yang tadinya penuh intimidasi kini bersih dalam hitungan menit. Rekan-rekan kerja yang selama ini diam hanya bisa terpaku melihat bagaimana sang admin support yang mereka kasihanilah yang sebenarnya memegang kendali atas tempat mereka mencari nafkah.
Rafael kembali berbalik menghadapku. Dia melepaskan mantel hitamnya yang mahal dan menyampirkannya ke bahuku yang gemetar, lalu menggendong tubuhku ke dalam pelukannya tanpa memedulikan kardus atau barang-barangku yang berserakan.
“Maafkan aku, Maya,” bisiknya lirih di telingaku saat dia membawaku masuk ke dalam lift pribadinya. “Aku salah karena membiarkanmu bersembunyi. Mulai besok, tidak akan ada lagi yang memandangmu rendah.”
Aku menyandarkan kepalaku di dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang berdegup kencang karena cemas. Tiga tahun aku memilih menjadi bayangan, namun malam ini, aku sadar bahwa tempatku yang sebenarnya bukanlah di ujung lorong yang gelap, melainkan tepat di sampingnya, memimpin puncak tertinggi Villar Corporation.