“Jangan senang dulu, kamu ku nikahkan dengan anakku, cuma untuk kujadikan babu.”
Kupikir dia gadis desa lemah, ternyata…
“Kurang ajar! Kamu pikir kamu siapa, hah?! Berani-beraninya kamu mencuri kartu kredit anakku!”
Aku berteriak histeris di depan pintu kamar Siti yang tertutup rapat. Tanganku gemetar, bukan karena takut, tapi karena murka yang sudah sampai ke ubun-ubun. Daren berdiri di sampingku, menendang pintu kayu itu berkali-kali sampai suaranya menggema ke seluruh penjuru rumah.
“Buka, Siti! Balikin kartu gue atau gue laporin polisi!” raung Daren. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menegang.
Tiba-tiba, suara kunci diputar terdengar.
Pintu terbuka perlahan. Siti berdiri di sana, masih mengenakan daster murahannya, tapi tatapannya… Ya Tuhan, tatapannya begitu tenang sampai-sampai aku merasa dialah pemilik rumah ini, bukan aku.
“Lapor polisi, Mas?” Siti mengangkat sebelah alisnya. “Silakan. Tapi pastikan Mas sudah siap kalau polisi juga bertanya tentang transaksi di kelab malam ‘Red Velvet’ semalam. Atau mungkin soal tagihan hotel atas nama Mas dan perempuan bernama… siapa tadi? Tiffany?”
Daren bungkam seketika. Matanya membelalak, mulutnya mengatup rapat seolah baru saja dipaksa menelan batu. Aku menoleh ke arah anakku, bingung. “Daren? Apa maksud perempuan ini?”
“Nggak usah didengar, Bu! Dia cuma gertak sambal!” sahut Daren gugup, tapi dia tidak lagi berani menatap Siti.
Siti tersenyum tipis, senyum yang sangat ingin kusobek dari wajahnya. “Gertak sambal? Saya punya foto mutasi rekeningnya, Mas. Dan oh, Ibu Mertua yang terhormat…”
Dia melangkah maju, membuatku refleks mundur selangkah. Dia mengeluarkan kunci kuningan dari saku dasternya. Kunci lemari makanku!
“Ibu mencari ini?” tanyanya sambil menggoyang-goyangkan kunci itu di depan mataku.
“Kembalikan! Itu milikku!” aku merampasnya dengan kasar, tapi dia dengan mudah menghindar. Gerakannya cepat sekali, hampir tidak terlihat.
“Tentu, saya akan kembalikan. Tapi sebelum itu, saya ingin memberitahu Ibu satu rahasia kecil,” dia berbisik, suaranya lembut tapi tajam seperti diri jeruk. “Ibu sangat teliti mengunci makanan, tapi Ibu sangat ceroboh menyimpan perhiasan. Berlian di kotak merah bawah ranjang itu… yakin itu asli semua? Atau jangan-jangan Ibu belum tahu kalau almarhum Bapak dulu pernah menggantinya dengan imitasi untuk menutupi hutang judinya?”
Duniaku serasa berputar. Bagaimana dia bisa tahu?! Itu rahasia yang kupendam rapat-rapat bahkan dari anak-anakku sendiri. Nafasku memburu, dadaku sesak oleh amarah dan rasa malu yang luar biasa.
“Kamu… kamu lancang! Kau cuma jaminan per ba yar u ta ng!” teriakku, suaraku parau.
“Memang. Dan sebagai pembayar hutang yang baik, saya akan memastikan semua ‘hutang’ di rumah ini lunas. Termasuk hutang rasa lapar saya malam ini,” Siti melemparkan kunci kuningan itu ke lantai, tepat di depan kakiku.
“Ambil saja kuncinya, Bu. Saya sudah tidak butuh. Lemari itu sudah kosong. Semua daging rendang dan ayam ungkep yang Ibu sembunyikan tadi, sudah saya berikan ke anjing liar di depan komplek. Kasihan, mereka lebih menghargai makanan daripada manusia pelit seperti Ibu.”

“APA?!!!” Aku menjerit histeris. Aku berlari menuju dapur, diikuti Daren yang masih tampak linglung.
Aku membuka lemari makan itu dengan tangan gemetar. Benar saja. Wadah-wadah yang tadi kuisi penuh dengan daging premium, kini kosong melompong. Bersih tanpa sisa. Bahkan piring-piringnya pun dicuci mengkilap seolah tak pernah ada makanan di sana.
“SITI!!! KAMU BENAR-BENAR SETAN!” aku meraung, air mata kemarahan menetes di pipiku. Masakan yang kupersiapkan berjam-jam, hilang dalam sekejap.
Aku kembali ke depan kamarnya, tapi Siti sudah berdiri di ruang tamu, sedang memakai sepatu ketsnya. Dia memegang Black Card milik Daren dengan santai.
“Aku pergi dulu ya, Bu, Mas. Mau makan sate kambing yang paling mahal. Mas Daren yang bayar. Anggap saja ini biaya ‘servis’ karena saya sudah membersihkan lemari Ibu dari makanan basi. Bersih-bersih di Eropa hitunganya per jam lo. Di kartu ini pasti cukup,” ucapnya dengan nada yang membuatku ingin meledak.
“Jangan berani-berani keluar dari rumah ini!” ancam Daren, hendak mencengkeram lengan Siti.
Tapi sebelum tangan Daren menyentuhnya, Siti bergerak lebih dulu. Dengan gerakan yang sangat cepat, dia menangkap pergelangan tangan Daren, memutarnya ke belakang, dan dalam sekejap Daren sudah tersungkur di lantai sambil mengerang kesakitan.
“Jangan pernah sentuh saya dengan tangan yang habis memegang perempuan murahan, Mas. Najis,” ucap Siti dingin.
Aku terpaku di tempat. Anak laki-lakiku, yang badannya jauh lebih besar, dilumpuhkan hanya dengan satu tangan oleh gadis desa ini? Ya Allah, nyesel aku mengambilnya ke keluarga ini.
Siti merapikan bajunya, lalu menoleh padaku. “Oh iya, Bu Nandini. Besok pagi, saya ingin sarapan nasi uduk premium. Ibu yang masak, ya? Dan tolong, jangan dikunci lagi lemarinya. Karena kalau dikunci, saya terpaksa harus membongkar brankas Ibu di ruang kerja. Kuncinya ada di dalam bingkai foto pernikahan Ibu, kan?”
Siti mengedipkan sebelah matanya, lalu melenggang keluar rumah dengan anggun, meninggalkan suara tawa kecil yang terdengar sangat menghina di telingaku.
Aku jatuh terduduk di lantai marmer, memeluk kunci kuninganku yang kini terasa tak berguna. Dia bukan Siti yang kukira lugu.
“Daren… kita harus menyingkirkannya,” bisikku dengan gigi gemeretak.
“Gimana caranya, Bu? Dulu Ibu maksa aku nikah sama dia. Sekarang malah mau nyingkirin,” sahut Daren sambil memegangi lengannya yang kesakitan.
“Dia tahu semua rahasia kita. Ibu maksa kamu nikahi dia agar kita untung, seumur hidup nggak perlu bayar pembantu. Ini malah buntung.”
Aku menatap pintu rumah yang terbuka lebar. Sebuah rencana licik mulai tersusun di kepalaku. Jika aku tidak bisa menundukkannya dengan lapar, aku akan menundukkannya dengan kehormatan.
“Besok, kita undang keluarga besar. Kita buat dia malu di depan semua orang. Kita buat dia seolah-olah gila dan suka mencuri. Biar semua orang tahu, dia hanyalah sampah yang kita pungut dari jalanan,” ucapku dengan senyum kemenangan walau acara itu belum ada hilalnya.
Aku tidak akan membiarkan menantu gratisan ini menang. Tapi, saat aku sedang merencanakan itu, aku tersentak mendengar bunyi benda jatuh di dekat jendela.
“Ada orang?”
Miauoooong….