Posted in

“Bapak jangan sembarangan nuduh! Mobil ini saya beli pakai u a ng halal!”

Jeritan Saira melengking membelah udara sore yang mendung. Perempuan itu berlari menuruni a n ak tangga teras dengan langkah serabutan. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar di depan kap mobil merah marun itu. Matanya melotot ta j a m menatap dua polisi yang berdiri tegak di depannya.

Di ruang tamu, puluhan ibu-ibu pengajian mendadak riuh. Beberapa dari mereka mulai berbisik sambil menutupi mulut. Kulihat Bu Tejo perlahan memundurkan langkahnya menuju pagar, tangannya diam-diam mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Ia mulai merekam tontonan gratis yang jauh lebih menarik daripada sinetron sore.

Bu Laras memegangi dadanya kuat-kuat. Napas mertuaku itu terdengar berbunyi. Wajahnya yang tadi berseri-seri memamerkan kalung emas, kini pucat seperti selembar kertas kosong.

“Ibu tolong menyingkir dari kendaraan ini. Surat penyitaan sudah ditandatangani oleh pihak kejaksaan.” Pria tegap berkemeja putih itu berbicara dengan nada sangat datar. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh air mata Saira yang mulai bercucuran.

“Nggak mau! Ini mobil saya! Atas nama saya!” Saira memu k ul kap mobil itu dengan telapak tangannya. Suaranya serak karena menangis. Ia menoleh ke arah teras dengan wajah putus asa. “Mas Bas! Tolong aku, Mas! Jelasin ke Bapak Polisi ini kalau mobil ini dibeli pakai u a ng Mas Bas! Bukan u a ng c u ri an!”

Baskara terkesiap di ambang pintu. Jari-jarinya mencengkeram kusen kayu dengan sangat kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

Semua mata ibu-ibu di ruang tamu kini beralih menatap suamiku. Bisik-bisik mereka terdengar semakin keras. Aku hanya bersandar pelan pada dinding ruang tengah, melipat tangan di depan d a d a. Aku menatap punggung suamiku yang terlihat bergetar hebat.

Baskara melangkah turun dengan gontai. Ia mendekati polisi itu dengan kepala menunduk.

“Maaf, Pak.” Suara Baskara terdengar sangat parau. “Adik saya benar. Kemarin sore saya mentransfer u wanng tujuh puluh lima juta ke rekeningnya. U wa ng itu yang dipakai untuk membayar u wang muka mobil ini. Dewangga nggak memakai u a ng perusahaannya.”

Polisi itu menatap Baskara dari atas ke bawah. Ia lalu membuka map merah di tangannya, membalik dua lembar kertas, dan membacanya sekilas.

“Bapak bernama Baskara?” tanya polisi itu tegas.

“Iya, Pak. Saya kakak kandung Saira.”

“Bapak tahu untuk apa u a ng tujuh puluh lima juta itu Bapak berikan kepada adik Bapak?”

Baskara menelan ludah. Ia menatap Saira yang masih menangis tersedu-sedu. “Untuk … untuk menebus sertifikat rumah ibu saya yang digadaikan Dewa ke rentenir.”

Hening mendadak jatuh menyelimuti halaman rumah itu. Hanya terdengar suara daun mangga yang bergesekan tertiup angin sore.

Saira berhenti menangis seketika. Matanya membelalak lebar menatap Baskara. Wajah perempuan itu seolah baru saja disiram air es. Bu Laras yang sejak tadi bersandar di pintu teras tiba-tiba merosot perlahan ke lantai. Mertuaku itu memegang kepalanya sambil meng e r a ng tertahan.

“Mas Bas bicara apa?” bisik Saira dengan bibir bergetar.

Baskara menatap adiknya dengan tatapan nanar. Pertahanan laki-laki itu akhirnya hancur. “Kamu membohongiku, Saira? Kamu menangis semalaman bilang preman akan menyita rumah Ibu. Kamu membuatku mencuri tabungan istriku sendiri demi u a n g itu! Dan kamu memakainya untuk b e li mobil ini?”

Air mata Baskara menetes. Laki-laki itu terlihat sangat menyedihkan. Ia baru menyadari betapa bodoh dirinya. Ia mengorbankan rumah tangganya demi air mata palsu adiknya yang g i l a harta.

“Aku malu, Mas!” jerit Saira tiba-tiba. Ia kembali menangis histeris. “Semua teman arisanku sudah punya mobil! Cuma aku yang selalu naik ojek kalau kumpul! Lagian Mas Dewa bilang uang Mas Bas itu digabung sama uang dari bosnya biar cukup b e l i mobil tunai!”

Polisi itu berdehem pelan. Ia menutup map merahnya dengan bunyi tepukan yang cukup keras, membuat Saira terlonjak kaget.

“Kalian ini sepertinya sama-sama dit i p u oleh Dewangga,” ucap polisi itu dingin. “Berdasarkan laporan mutasi rekening yang kami s i t a dari bank pagi ini, u a ng muka mobil ini diba y ar langsung dari rekening perusahaan tempat Dewangga bekerja. Bukan dari rekening Ibu Saira.”

Baskara mengerutkan kening. Ia melangkah maju mendekati polisi itu. “Tunggu dulu, Pak. Kalau Dewa pakai u a n g perusahaan untuk b e l i mobil, lalu ke mana perginya u a ng tujuh puluh lima juta yang saya transfer ke rekening Saira kemarin sore?”

Polisi itu menatap wajah Baskara lekat-lekat. “U a ng dari rekening Bapak memang masuk ke rekening Ibu Saira p u kul empat sore kemarin. Namun, tiga jam kemudian, seluruh dana tersebut dipindahkan habis ke sebuah rekening penampung atas nama sindikat ju d i daring internasional.”

Kakiku nyaris kehilangan pijakan mendengar kalimat itu, namun aku menahan diri sekuat tenaga agar tetap berdiri tegak.

Tujuh puluh lima juta. U a n g hasil makanku yang kuirit, hasil jalan kakiku setiap pagi, hasil sepatuku yang solnya bolong, menguap begitu saja ke tangan bandar judi dalam waktu tiga jam. Laki-laki bernama Dewangga itu benar-benar ba j i ngan yang luar biasa cerdik. Ia menggunakan u a ng haram dari perusahaan untuk membe li barang berwujud atas nama istrinya, dan menggunakan u a n g suciku untuk dibakar di meja judi karena tidak bisa dilacak dengan mudah.

Baskara jatuh berlutut di atas tanah berkerikil. Tangannya mencengkeram rambutnya sendiri sambil berteriak histeris. Laki-laki itu menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil. U a ngnya hilang. Mimpinya hancur. Istrinya membencinya. Dan harga dirinya diinjak-injak tepat di halaman rumah ibunya sendiri.

“Anakku,” rin t ih Bu Laras dari lantai teras. Mata mertuaku berputar ke atas sebelum akhirnya tu b uhnya ambruk sepenuhnya ke lantai. Pingsan.

Ibu-ibu pengajian menjerit panik. Beberapa orang berlari mendekati Bu Laras, menepuk-nepuk pipinya dan mencari minyak kayu putih. Suasana sore itu benar-benar seperti kapal pecah. Panggung sandiwara kebahagiaan mereka runtuh berkeping-keping.

“Tolong bawa kendaraan ini sekarang,” perintah polisi berkemeja putih kepada rekannya yang baru saja turun dari mobil derek di luar pagar.

“Pak, jangan, Pak! Tolong kasihanin saya!” Saira menjatuhkan tubuhnya di depan ban mobil. Ia me m e luk ban itu dengan pakaian gamis mahalnya yang kini kotor terkena debu. “Saya cuma ibu rumah tangga biasa! Saya nggak tau suami saya korupsi!”

“Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi, Bu Saira,” potong polisi itu tegas.

Mendengar kata kantor polisi, Saira langsung melepaskan pelukannya dari ban mobil. Ia mendongak dengan wajah penuh ketakutan. “Maksud Bapak apa? Saya nggakl mau dipenjara! Saya kan nggak ikut k o r u p si!”

“Rekening atas nama Anda digunakan secara sadar sebagai tempat penampungan u a ng hasil kejahatan. Anda juga ikut menikmati hasilnya berupa barang mewah. Anda berstatus sebagai saksi utama dan terduga penadah barang curian. Silakan ikut kami ke mobil sekarang, Bu.”

Saira menggeleng kuat-kuat. Ia mundur merangkak di atas kerikil. Matanya menyapu sekeliling, mencari tempat berlindung. Pandangannya lalu jatuh pada Baskara yang masih berlutut menangis meratapi nasibnya di sudut halaman.

Saira tiba-tiba bangkit berdiri. Ia berlari mendekati Baskara dan menarik kerah kemeja kakaknya itu dengan kasar.

“Mas Bas! Tolong aku! Aku nggak mau dipenjara! A n a kku, siapa yang urus nanti?” teriak Saira tepat di depan wajah Baskara.

Baskara menatap adiknya dengan mata merah menyala. Ia menepis tangan Saira dengan sangat keras sampai perempuan itu terhuyung ke belakang.

“Jangan panggil aku kakakmu lagi,” desis Baskara dengan suara penuh kebencian. “Kamu menghancurkan hidupku, Saira. Kamu membuatku mencuri u a ng Naya. Kamu merusak pernikahanku. Sekarang urus saja nasibmu sendiri bersama suamimu yang ba ji ngan itu!”

Baskara memalingkan wajahnya. Laki-laki itu benar-benar menyerah pada keluarganya sendiri.

Polisi melangkah maju, memegang lengan Saira untuk membawanya pergi. Namun Saira memberontak hebat. Sifat asli perempuan itu akhirnya keluar. Ketika seorang parasit merasa inangnya melepaskan diri, ia akan menggigit apa saja untuk bertahan hidup. Termasuk menghancurkan inangnya sendiri.

“Lepaskan saya!” jerit Saira sambil menunjuk tepat ke wajah Baskara. Napasnya memburu. Matanya berkilat liar menatap kakaknya sendiri.

“Bapak Polisi mau menangkap orang yang bantu Dewa kabur? Tangkap laki-laki ini!” Saira berteriak sekeras-kerasnya sampai urat lehernya terlihat jelas.

Seluruh orang di halaman menahan napas. Baskara menatap adiknya dengan kening berkerut dalam.

“Tadi pagi laki-laki ini mengirim pesan ke Dewa!” lanjut Saira tanpa ampun. Telunjuknya masih mengarah ke hidung Baskara. “Dia bilang dia sudah menc u r i emas batangan istrinya! Dia bilang uang hasil penj u a lan emas itu akan diserahkan sore ini supaya Dewa bisa lari ke luar kota sembunyi dari polisi! Mas Bas adalah komplotan suamiku, Pak!”