Hujan masih turun ketika motorku berhenti di depan rumah kontrakan yang selama setahun ini menjadi tempat tinggalku dengan Elvan.
Lampu teras ma-ti. Hanya suara air menetes dari atap genteng dan aroma tanah basah yang wanginya sedikit menenangkanku.
Aku turun pelan dari motor. Kakiku gemetar sejak tadi, karena dingin dan karena terlalu lama menahan sesak di dalam da-da.
Bungkusan ayam bakakak yang tinggal separuh masih ada di jok depan. Sudah dingin. Minyaknya merembes sampai ke plastik.
Aku menatap pintu rumah beberapa detik. Biasanya aku akan mengetuk sambil memanggil nama Elvan, lalu lelaki itu muncul dengan wajah malas dan langkah pincang palsvnya.
Tapi malam ini berbeda. Aku sudah tahu semuanya. Dan anehnya, justru itu yang membuat langkahku terasa ringan.
Tanganku masuk ke saku jaket, mencari kunci. Saat pintu terbuka, suasana gelap langsung menyambutku. Aku refleks menekan sakelar lampu. Tidak menyala.
Aku tertawa kecil.
“Ah iya… token listrik habis.”
Kalimat itu keluar begitu saja, lalu terasa menyakitkan beberapa detik kemudian. Padahal selama ini aku tak pernah sekali pun libur mengisi token listrik tiap dua minggu sekali. Elvan benar-benar melakukan ini dengan sengaja.
Aku masuk perlahan. Cahaya dari luar hanya cukup membuat ruang tamu terlihat samar.
Aku berjalan menuju k4mar, mer-aba dinding, mencari lilin yang biasa kusimpan di atas lemari.
Setelah cahaya kecil itu menyala, aku menatap sekeliling. Di sudut ruangan, ada sepasang kruk dan kursi roda elektrik seharga sepuluh juta. Barang yang kubeli dengan cara menyicil selama enam bulan dari hasil kerja kerasku.
Elvan tak mau kursi roda manual yang murah. Dia menyuruhku membeli yang bagus dan mahal. Laki-laki itu benar-benar ingin membuatku mend-erita.
“B0doh… kamu b0doh sekali, Naya,” bisikku pada diri sendiri.
Bisikanku akhirnya pecah menjadi isak tangis yang menyayat di tengah kegelapan.
Aku perlahan bangkit. Kudekati lemari pakaian yang kami pakai bersama. Dengan tangan bergetar, aku membukanya. Saat itulah, sebuah kenyataan pahit kembali menyadarkanku.
Aku baru menyadari sesuatu yang selama ini luput dari penglihatanku karena rasa iba yang membvtakan.
Pakaian Elvan di lemari ini hanya ada lima pasang. Semuanya adalah kemeja dan celana kain yang kubelikan dari hasil kerja lemburku sebagai kurir makanan. Hanya lima pasang. Tidak ada barang pribadi lainnya. Tidak ada buku, tidak ada barang-barangnya yang berha-rga. Tak satu pun benda yang menunjukkan dia benar-benar ‘tinggal’ di sini.
Aku yakin, selama ini, saat aku pergi bekerja dari pagi hingga tengah malam, Elvan pasti pulang ke rumah mewahnya. Dia pasti menanggalkan pakaian ‘miskin’ ini dan kembali menjadi tuan muda di istananya.
Dan aku? Aku bekerja bant!ng tulang seperti orang gi-la hanya untuk memb!ayai sandiwara mvrahannya.
“Bren-gsek!” gumamku.
Aku yakin laki-laki itu tidak akan kembali ke rumah ini.
Aku mulai memasukkan barang-barang yang pernah digunakan Elvan ke dalam plastik, lalu melemparnya ke teras. Nanti aku akan memberikannya ke pemulung yang setiap pagi lewat.
Aku terduduk pelan di lantai ruang tamu. Entah kenapa, pemandangan rumah kontrakan kosong ini jauh lebih menyakitkan daripada semua ucapan Elvan tadi.
“Bagaimana bisa kamu seb0doh ini, Naya?” gumamku lirih.
Suara hujan di luar makin deras. Aku memelvk lutut sambil bersandar di dinding yang dingin.
Kepalaku mulai mengingat banyak hal sekaligus. Tentang bagaimana aku dihakimi teman-teman kampus karena telah menc-elakai orang lalu terpaksa berhenti kuliah karena harus bekerja untuk memb-ayar kesalahanku.
Dan bagaimana setiap kali aku kelelahan, Elvan hanya bilang, “Kalau bukan karena kamu, hidupku tidak akan mend-erita seperti ini!”
Kata-katanya yang menvsuk selalu berhasil membuatku semakin merasa bersalah.
Ponselku tiba-tiba bergetar. Nama pemilik kontrakan muncul di layar.
Aku mengusap wajah cepat sebelum mengangkatnya.
“Halo, Bu.”
“Naya, kamu di rumah?”
“Iya, Bu.”
“Ibu sebenarnya nggak enak ngomongnya…” Suara perempuan paruh baya itu terdengar ragu. “Tapi suamimu tadi sore datang.”
Jantungku langsung berdegup aneh.
“Datang?”
“Iya. Dia bilang kalian mau pindah. Dia ambil uwang dep0sit rumah sewa kalian.”
Aku membeku.
“…apa?”
“Iya katanya kamu sudah tahu.”
Tanganku gemetar memegang ponsel.
Uwang deposit itu hasil aku mengumpulkan tabungan sedikit demi sedikit selama berbulan-bulan.
“Berapa yang dia ambil, Bu?”
“Semua. Kamu benar mau pindah besok pagi, Nay?”
Sunyi.
Aku menatap lantai kosong di depanku. Lalu tertawa pelan lagi. Elvan dan Lyona benar-benar menghancurkanku sampai titik dar-ah penghabisan.
“Naya… kamu nggak apa-apa?”
“Iya, Bu.”
Padahal aku bahkan tidak yakin masih bisa bernapas normal malam ini.
Telepon terputus.
Aku langsung membuka aplikasi mobile banking. Sald0 terakhirku membuat da-daku makin sesak. Rp 400.
Aku memandangi angka itu lama sekali.
Aku benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi. Orang tuaku sudah lama meninggal. Aku keluar dari kampus setahun lalu. Teman-temanku perlahan menjauh setelah kasus kecel-akaan itu.
Dan sekarang, aku bahkan nyaris tidak punya uwang untuk hidup besok.
Ponselku kembali berbunyi. Kali ini notifikasi masuk dari aplikasi pengantaran.
Aku membuka pesan itu.
[Kerja sama kemitraan Anda dihentikan sementara karena rating dan laporan pelanggan.]
Aku menatap layar tanpa berkedip. Otakku seperti lambat memproses semuanya.
Dihentikan sementara?
Aku membuka detail laporan. Pelanggan terakhir memberi rating satu. Komentarnya membuat tenggorokanku terasa pahit.
‘Kurir tidak profesional dan membuat keributan di rumah pelanggan.’
Aku memejamkan mata. Tentu saja. Pasti ulah si pecvndang Lyona.
Aku mengusap wajah ka-sar. Mereka benar-benar ingin menghancurkan hidupku sampai jadi abu.
Suami pen!pu. Uwang habis. Pekerjaan hilang. Dan aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana besok pagi.
Perutku tiba-tiba terasa nyeri. Aku baru sadar belum makan dengan benar seharian ini. Mataku jatuh pada ayam bakakak dingin sisa tadi.

Aku berjalan mengambilnya. Duduk di lantai. Lalu makan dalam gelap.
“Selamat ulang tahun, Naya. Semoga Tuhan memberimu kekuatan untuk bangkit kembali. Semoga Tuhan membalas para pecvndang itu dengan seburuk-buruknya pembalasan.” Doaku sungguh-sungguh.
Air mataku jatuh mengenai plastik makanan. Aku langsung buru-buru mengusapnya.
Ponselku kembali bergetar. Nomor tidak dikenal.
Aku hampir tidak ingin mengangkatnya, tapi tanganku akhirnya menekan tombol hijau.
“Halo?”
“Nayanika?”
Aku langsung mengenali suara itu.
“Lyona.”
Perempuan itu tertawa kecil di ujung sana.
“Masih menangis?”
Aku tidak menjawab.
“Aduh, jangan sedih begitu dong. Aku malah jadi kasihan.” Nada suaranya jelas terdengar menge-jek.
“Masih belum pvas menghancurkanku?” tanyaku datar.
“Belum doong. Cuma mau ngasih tau. Setelah kamu dan Elvan bercerai, kami akan langsung bertunangan. Mulai besok, jangan ganggu Elvan lagi ya. Dia capek pura-pura mis-kin hidup sama kamu.”
Aku mengepalkan tangan.
“Mau tunangan kek, mau langsung nikah kek, terserah! Tidak ada hubungannya denganku. Aku jij-ik lihat kalian berdua.”
“Hmmm…” Lyona tertawa pelan. “Padahal dulu kamu cinta banget ya sama suami palsvmu.”
“Aku tidak pernah cinta pada calon tunanganmu yang menjij!kkan dan pecvndang itu , Lyona. Aku hanya kasihan. Ka .. si … han. Kamu dengar itu?”
“Benarkah?” sindirnya. “Kalau tidak cinta, kenapa tadi kamu kelihatan hancur sekali?”
“Aku hancur karena kalian sudah merusak masa depanku! Oia, pastikan calon tunanganmu itu tidak menyimpan perasaan cinta diam-diam terhadapku. Mengingat selama setahun ini aku begitu baik padanya dan pintar mela-yaninya di ranj-ang.”
“Kamu …!” Lyona kehilangan kata-kata.
Aku membual soal pelayanan di ranj-ang. Aku hanya ingin membuat wanita itu kesal.
“Dasar perempuan mvrahan!” maki Lyona berapi-api.
“Kalau cuma mau mar4h-mar4h, tutup saja teleponnya, Lyona. Yang jelas, aku tidak akan membiarkan kalian berdua hidup tenang setelah ini.”
Dih, ngatain orang perempuan mvrahan! Nggak ngaca si Lyona