Posted in

“Tolong masakin Ibu gule daging kambing sama bikinin sayur asem ya. Nanti malam ada arisan PKK di rumah Ibu.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut ibu mertuaku, tanpa nada memohon, tanpa peduli pada kondisi tubuhku yang belum sepenuhnya pulih.

Aku menunduk menatap kantong plastik hitam besar yang baru saja ia jatuhkan ke pangkuanku. Beberapa potong tulang iga dan daging kambing segar mengintip dari balik plastik bening di dalamnya, beserta setumpuk sayur mayur dan bumbu dapur yang belum dikupas.

Aku mendongak, menatap wanita paruh baya itu dengan perasaan tak percaya.

“Ibu nyuruh aku masak makanan sebanyak ini?” tanyaku.

“Ya iya lah, Rum! Kalau bukan kamu terus siapa lagi?” sahut ibu mertuaku ketus, tangannya bersedekap di dada.

“Anggota arisan PKK itu ada dua puluh orang lebih. Kamu harus masak porsi besar biar pada puas makannya.”

“Tapi, Bu. Jahitanku masih sakit. Buat berdiri lama di depan kompor aja perutku melilit,” tolakku halus.

“Ibu minta bantu masak sama Farah aja ya, Bu? Atau minta tolong Bude Yem tetangga depan buat masakin?”

Mendengar jawabanku, wajah ibu mertuaku seketika berkerut tak suka. “Heh, Arumi! Farah itu lagi sibuk ngurusin pendaftaran kuliahnya, masa disuruh bau asep di dapur! Terus ngapain minta tolong orang luar kayak Bude Yem kalau aku punya menantu yang nganggur di rumah!”

“Tapi aku belum sanggup, Bu. Benang jahitanku juga belum di lepas. Aku nggak bisa,” lirihku.

“Alah, balik lagi alasan gitu mulu! Kamu kan udah keluar dari rumah sakit, berarti udah sembuh, kan?” ucapnya tak mau kalah. Namun, menyadari bahwa ia sangat membutuhkan tenagaku hari ini, nada suaranya mendadak melunak, meski raut wajahnya tetap terlihat licik.

“Lagi pula, masakan kamu itu jauh lebih enak, Rum. Daging gulenya bisa empuk, bumbunya meresap. Ibu-ibu PKK itu lidahnya pada cerewet, Ibu nggak mau malu kalau masakannya nanti kurang enak.”

Aku terdiam, masih berusaha menolak dalam hati. Memasak porsi besar membutuhkan tenaga ekstra. Harus mengulek bumbu, mengaduk panci besar, belum lagi memotong-motong daging alot itu.

“Udah, kamu yang masak bumbu intinya aja. Ibu janji bakal bantuin kamu penuh kok. Ibu yang ngupasin bawang, Ibu yang potong dagingnya, nanti Ibu juga yang nyuci wajannya. Kamu tinggal ngeracik sama numis-numis aja. Ayo dong, Rum. Masa sama mertua sendiri nggak mau berbakti? Nanti malam Ibu kasih kamu jatah gulenya sepiring deh.”

Janji manis itu mengikis pertahananku. Bukannya aku tergiur sepiring gule kambing, tapi aku sungguh tidak punya tenaga untuk berdebat lebih panjang dengannya.

Otakku terlalu lelah untuk mencari alasan penolakan. Aku berpikir, jika ibu benar-benar membantuku menyiapkan semua bahan, mungkin aku hanya perlu duduk sebentar di dapur dan mengaduk bumbu.

“Yaudah, Bu. Tapi benar ya Ibu yang potong daging dan siapin bahannya? Aku nggak kuat kalau harus ngulek bumbu banyak,” pungkasku akhirnya, mengalah demi menghindari keributan yang bisa membuat kepalaku makin pecah.

“Iya, iya, bawel banget sih jadi menantu! Udah, cepetan bawa bahan-bahannya ke dapur, Ibu nyusul bawa pisau sama talenan,” titahnya seraya berjalan menuju arah pintu keluar untuk kembali ke rumahnya sebentar.

Dengan napas berat, aku bangkit perlahan, memeluk kantong plastik berat itu, dan melangkah tertatih menuju dapur. Aku menata bahan-bahan di atas meja kecil dan menyiapkan peralatan.

Tak lama kemudian, ibu mertuaku datang dan benar-benar duduk di kursi kayu dapurku, mulai mengupas bawang merah dengan malas-malasan. Aku merasa sedikit lega, setidaknya dia menepati janjinya.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Sepuluh menit kemudian, suara langkah kaki ceria terdengar dari pintu depan. Farah, adik perempuan Mas Danang yang baru lulus SMA itu, melenggang masuk ke dapurku dengan santainya.

Wajahnya berseri-seri, tangannya sibuk mengotak-atik sebuah kotak kardus kecil berwarna putih.

“Ibu! Lihat nih, Bu!” panggil Farah antusias.

Ibu mertuaku menoleh, meletakkan bawang yang baru dikupasnya setengah. “Ada apa sih, Nduk? Kok seneng banget keliatannya?”

Farah mengangkat benda di tangannya tinggi-tinggi dengan senyum bangga.

“HP baru, Bu! Keluaran terbaru, kameranya jernih banget, memori internalnya besar! Cocok banget buat anak kuliahan kayak aku, buat bikin tugas sama nongkrong!”

Ibu mertuaku langsung bertepuk tangan girang, bangkit dari kursinya untuk melihat ponsel itu dari dekat.

“Wah, bagus bener hapemu, Nduk! Warnanya cantik banget! Duit dari mana kamu beli barang mahal begini?”

“Dari Mbak Ratna, Bu! Kemarin kan Mbak Ratna transfer uang jajan ke rekeningku, katanya hadiah lulusan. Ya udah, langsung aku beliin HP ini. Keren, kan?” pamer Farah, menyebut nama kakak perempuannya yang paling kaya di kota.

Tanganku yang sedang memotong tomat terhenti. Kepalaku langsung pening mengingat pertengkaranku semalam dengan Mas Danang. Mas Danang sampai merampas habis uang tabungan keluarga kami untuk menutupi biaya kuliah Farah.

Tapi sekarang? Farah justru membuang-buang uang dari kakak perempuannya untuk membeli ponsel mahal?

Aku menoleh, menatap Farah dengan dada yang bergemuruh. “Farah, harga ponsel itu pasti mahal banget. Emangnya kamu butuh banget ponsel baru sekarang?”

Farah langsung memutar bola matanya malas. “Ya butuh dong, Mbak Rum! Masa anak kampus hapenya jelek? Nanti aku diketawain sama temen-temen.”

“Tapi, harusnya uwang dari Mbak Ratna itu kamu tabung dulu buat tambahan bayar uang pangkal pendaftaran kuliahmu. Kemarin Mas Danang sampai ngabisin sisa uwang tabungan kami, bahkan Mas Danang nggak mau ngadain tahlilan anakku karena alasannya mau bantu bayar uwang kuliah kamu. Kalau uwang dari kakakmu kamu belikan ponsel begini, kan sayang, Farah.”

Senyum di wajah Farah seketika lenyap. Dia menatapku dengan sinis. “Lho, kok Mbak Rum yang repot ngatur-ngatur? Itu kan uang dari kakak kandungku sendiri, hak aku dong mau dipakai buat apa! Mbak Rum tuh sirik aja lihat aku punya barang bagus!”

“Aku nggak sirik, Farah. Aku cuma ngingetin. Kasihan Mas Danang, dia kerja keras sift malam sampai ngorbanin kepentingan keluarganya sendiri demi ….”

“Arumi! Berani-beraninya kamu ceramahin Farah. Dia ini adik iparmu, anak bungsu di keluarga suamimu!”

Suara ibu mertuaku menggelegar, memotong kalimatku. Wanita itu membanting pisau dapurnya ke atas meja dengan kasar. Wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak.

“Maaf, Bu. Tapi ….”

“Udahlah, kamu itu kerjaannya bikin orang tua daarah tinggi mulu. Kerjain semuanya sendiri, Ibu mau pulang!”

Wanita paruh baya itu menarik lengan anak kesayangannya pergi. Lalu, apa mereka akan