Setelah aku mengetahui Ayah memiliki wanita lain, barulah aku tahu bahwa ternyata Mama berasal dari keluarga super kaya.
Ayah mempermalukan kami dan berkata bahwa kami hanyalah “orang numpang tinggal” di mansion mereka di Cebu.
Sampai hari ketika iring-iringan mobil mewah datang ke kawasan bisnis Jakarta dan membuat seluruh direksi perusahaan gemetar…
1
Namaku Sofia Reyes.
Usiaku dua puluh tiga tahun.
Aku tumbuh di sebuah mansion mewah dekat pantai di Cebu, tetapi selama lebih dari dua puluh tahun, hubungan Mama dan Papa tidak pernah resmi.
Mamaku—Elena Reyes—mengikuti Adrian Villanueva saat pria itu belum punya apa-apa.
Dulu Papa bahkan kesulitan membayar kontrakan kecil di Quezon City.
Mama meninggalkan keluarga kayanya demi menemani Papa.
Mereka miskin bersama.
Membangun Villanueva Holdings dari nol bersama.
Tapi selama dua puluh tahun…
Papa tidak pernah menikahinya.
Setiap kali Mama membahas pernikahan, Papa selalu berkata:
“Kita tunggu perusahaan stabil dulu.”
“Sebentar lagi.”
“Aku tidak mau kamu susah.”
Dan Mama mempercayainya terlalu lama.
Sampai hari kelulusanku di Manila, ketika aku bersiap masuk ke perusahaan keluarga.
Di rapat pemegang saham di Makati, Adrian Villanueva berdiri dengan bangga.
“Seluruh saham warisan saya akan diberikan kepada Isabella Cruz.”
Ruangan langsung bertepuk tangan.
Seorang wanita muda dengan gaun putih berdiri dan tersenyum.
Isabella Cruz.
Pegawai baru yang bahkan belum tiga bulan bekerja di perusahaan.
Dan wanita yang selama ini sering terlihat bersama Papa di acara bisnis Jakarta Selatan.
Tubuhku langsung dingin.
Setelah rapat, Mama masuk ke kantor Papa.
Namun di depan semua pegawai, Adrian mendorongnya dengan dingin.
“Elena, jangan bikin drama di sini.”
Suara Mama bergetar.
“Adrian… kamu bilang Sofia yang akan menggantikan perusahaan…”
Papa malah tersenyum sinis.
“Sofia?”
“Hak apa yang dia punya?”
Setiap kata terasa seperti pisau menusuk dadaku.
“Elena Reyes, kamu pikir benar-benar istriku?”
“Aku hanya kasihan pada kalian.”
“Dan Sofia…”
Tatapannya turun dari kepala sampai kakiku.
“Dia hanyalah kesalahan yang seharusnya tidak pernah lahir.”
Seluruh kantor sunyi.
Beberapa pegawai bahkan diam-diam merekam kami.
Mama pucat.
Tapi Adrian belum selesai.
Dia memegang bahu Isabella dan berkata dengan bangga:
“Mulai hari ini, Isabella satu-satunya pewaris Villanueva Holdings.”
Isabella langsung memeluk lengannya.
“Daddy…”
Suaranya manis.
Dan saat itu aku sadar…
Selama dua puluh tiga tahun, aku bahkan tidak pernah diizinkan memanggilnya “Daddy” di depan orang lain.
2
Malamnya, kami pulang ke mansion di Cebu.
Mama diam sepanjang perjalanan.
Kupikir dia akan menangis histeris.
Tapi tidak.
Dia hanya duduk di ruang tamu yang gelap.
Sampai Adrian menelepon.
“Besok Isabella dan ibunya pindah ke mansion.”
“Kalian pindah ke guest house belakang.”
Aku hampir kehilangan kendali.
“Apa kamu tidak malu?!”
Tapi Papa hanya tertawa dingin.
“Sofia, kamu sudah tidak punya hak bicara.”
Setelah telepon ditutup, Mama menatap kosong cukup lama.
Lalu perlahan berjalan ke taman belakang.
Taman itu dirawatnya selama dua puluh tahun.
Penuh tanaman herbal yang dipakai untuk menjaga kesehatan Adrian.
Namun keesokan paginya…
Aku terbangun karena suara ribut di luar.
Saat keluar, orang-orang sedang menghancurkan seluruh taman.
Tanaman Mama dicabut satu per satu.
Adrian berdiri sambil memberi perintah:
“Cabut semua.”
“Isabella suka tulip putih.”
Mama hanya memandang.
Lalu tersenyum pahit.
“Sudahlah…”
“Semuanya juga sudah tidak berarti.”
Malam itu Isabella dan ibunya, Clarisse Cruz, datang ke mansion.
Adrian sendiri yang membawakan koper mereka.
Hal yang tidak pernah dia lakukan untuk Mama.
Begitu masuk, Isabella langsung tersenyum.
“Daddy, aku mau kamar yang menghadap laut.”
Aku membeku.
Itu kamarku.
Malam itu juga semua barangku dipindahkan ke kamar kecil bawah.
Sementara Adrian menghabiskan malam menghias kamar lamaku untuk Isabella.
Tirai baru.
Boneka.
Piano putih di dekat jendela.
Aku berdiri diam di luar pintu.
Tidak pernah sekalipun dia melakukan itu untukku.
Saat melihatku, Adrian langsung mengerutkan dahi.
“Masih ngapain di sini?”
“Turun dan siapkan makan malam untuk Isabella.”
Aku berkata pelan:
“Aku juga anakmu…”
Dia terdiam sebentar.
Lalu tersenyum dingin.
“Kamu seharusnya tidak pernah lahir.”
3
Malam itu aku membuat kue.
Bukan untuk mencari perhatian.
Tapi karena Mama demam dan aku tidak ingin Adrian membuat keributan lagi.
Namun saat aku membawa kue keluar—
Isabella tiba-tiba berkata:
“Sofia, kamu tahu aku alergi stroberi, kan?”
Sebelum aku menjawab—
Adrian langsung merebut kue itu dan mendorongnya kembali ke arahku.
Krim berceceran di bajuku.
Seluruh ruang tamu sunyi.
Dia berteriak marah:
“Kamu sengaja ya?!”
Saat itulah Mama turun dari tangga.
Melihat keadaanku, wajahnya langsung pucat.
Karena marah dan sakit hati, tangannya mencengkeram vas bunga sampai jatuh ke lantai.
PRANG!
Pecahan kaca berserakan.
Suaranya gemetar.
“Adrian Villanueva…”
“Sofia juga anakmu!”
Seluruh rumah membeku.
Isabella mundur ketakutan.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku melihat tatapan Mama yang benar-benar dingin pada Adrian setelah dua puluh tahun.
Mama menarikku ke kamar.
Setelah pintu tertutup, dia membuka brankas besi tua di bawah lantai.
Di dalamnya ada sebuah telepon satelit perak.
Tangannya gemetar saat menekan nomor.
Begitu telepon diangkat…
Mama langsung menangis.
“Kak…”
“Aku dan Sofia disakiti…”
Aku tidak tahu apa yang dikatakan orang di seberang.
Tapi perlahan ekspresi Mama berubah.
Dari sedih…
Menjadi dingin.
Dan akhirnya dia berkata pelan:
“Aku ingin Villanueva Holdings hilang dari Indonesia.”
Keesokan harinya…
Seluruh distrik finansial Jakarta geger.
Semua berita bisnis menampilkan headline:
“Kelompok misterius dari Cebu diam-diam membeli saham Villanueva Holdings dengan harga fantastis.”
Saat rapat direksi berlangsung, sekretaris Adrian masuk dengan wajah pucat.
“Sir… ada masalah.”
“Apa?!”
“Seseorang membeli hampir seluruh saham mayoritas tadi malam.”
Adrian langsung berdiri.
“SIAPA?!”
Namun sebelum dia bergerak—
Pintu ruang rapat terbuka perlahan.
Masuk pria-pria berbaju hitam.
Lalu…
Tiga pria dengan aura yang sangat kuat.
Begitu melihat pria di tengah—
Seluruh direksi langsung berdiri.
Pucat.
Karena dia adalah Alejandro Reyes.
Taipan pelayaran terbesar di Cebu.
Dan pria yang hampir tidak pernah muncul di media bersama satu-satunya adik perempuannya.
Alejandro meletakkan map di meja.
Lalu menatap Adrian Villanueva dengan dingin.
“Aku dengar…”
“…kamu mengusir adikku dari rumahnya sendiri?”
Bersambung di komentar 👇👇

Ruang rapat itu sunyi total.
Tidak ada satu pun orang yang berani bernapas terlalu keras setelah Alejandro Reyes berbicara.
Adrian Villanueva, pria yang selama ini begitu sombong dan tak tersentuh, kini berdiri pucat di depan meja direksi.
“Alejandro… ini salah paham,” katanya mencoba tersenyum.
Alejandro menatapnya tanpa ekspresi.
“Salah paham?”
Dia membuka map di atas meja.
Isinya foto-foto.
Dokumen.
Kontrak.
Dan bukti transfer.
“Aku membiarkan adikku hidup sederhana selama dua puluh tahun karena itu pilihannya,” suara Alejandro rendah namun membuat seluruh ruangan menegang. “Tapi kamu mengira dia lemah karena dia mencintaimu.”
Adrian menelan ludah.
“Aku bisa jelaskan—”
“Tidak,” potong Alejandro dingin. “Kamu sudah terlalu banyak bicara selama dua puluh tahun.”
Saat itu pintu rapat terbuka lagi.
Mama masuk.
Untuk pertama kalinya sejak aku lahir…
Dia tidak terlihat seperti wanita yang terluka.
Dia berjalan perlahan memakai gaun putih sederhana, tetapi seluruh ruangan langsung memberi jalan.
Karena tiba-tiba semua orang sadar—
Elena Reyes bukan wanita biasa.
Dia adalah darah keluarga Reyes.
Keluarga yang bahkan para taipan Jakarta tidak berani sentuh.
Adrian membeku.
“Elena…”
Mama menatapnya lama.
Tatapan yang dulu penuh cinta.
Kini kosong.
“Aku meninggalkan semuanya demi kamu,” katanya pelan. “Keluarga. Warisan. Nama besar.”
Air mata mulai memenuhi mata Adrian.
“Atas nama cinta.”
Mama tersenyum tipis.
“Tapi sekarang aku sadar… laki-laki miskin yang baik jauh lebih berharga daripada laki-laki kaya yang lupa diri.”
Isabella yang duduk di pojok mulai panik.
“Daddy…”
Namun kali ini Adrian bahkan tidak bisa menoleh padanya.
Karena sekretaris perusahaan masuk tergesa-gesa.
“Sir… saham kita jatuh 48% pagi ini.”
Seluruh direksi langsung ribut.
“Bank mulai menarik dukungan!”
“Investor asing keluar!”
“Media sudah dapat berita tentang skandal keluarga!”
Tubuh Adrian limbung.
Dia menatap Mama dengan putus asa.
“Elena… tolong hentikan ini.”
Mama diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan:
“Waktu kamu menghancurkan taman yang kurawat dua puluh tahun…”
“…kamu juga menghancurkan sisa hatiku.”
Sunyi.
Tidak ada lagi yang bisa dibela.
Alejandro berdiri.
“Mulai hari ini,” katanya dingin, “seluruh aset Villanueva Holdings yang masih tersisa akan diakuisisi.”
Dia melirik Adrian.
“Dan mansion di Cebu?”
Alejandro tersenyum tipis.
“Itu dibeli atas nama Elena Reyes sejak lima belas tahun lalu.”
Dunia Adrian runtuh dalam satu detik.
“Apa…?”
Mama akhirnya bicara:
“Kamu bahkan tidak pernah sadar rumah yang kamu banggakan itu bukan milikmu.”
Aku melihat tangan Adrian gemetar.
Pria yang dulu membuat kami merasa kecil…
Kini bahkan tidak mampu berdiri tegak.
Beberapa bulan kemudian…
Villanueva Holdings resmi hilang dari bursa.
Nama Adrian Villanueva menjadi bahan berita dan skandal bisnis.
Isabella dan ibunya menghilang dari media sosial.
Dan Mama?
Dia kembali ke Cebu.
Bukan sebagai wanita yang dibuang.
Tapi sebagai Elena Reyes.
Pewaris keluarga paling berpengaruh di sana.
Suatu sore, aku duduk bersamanya di taman baru belakang mansion.
Taman itu dipenuhi tanaman herbal seperti dulu.
Mama meminum teh hangat sambil melihat laut.
“Apa Mama menyesal?” tanyaku pelan.
Dia tersenyum kecil.
“Pernah.”
“Sekarang?”
Mama menatap matahari tenggelam.
“Kalau dulu aku tidak terluka… mungkin aku tidak akan pernah tahu seberapa kuat diriku sebenarnya.”
Aku menggenggam tangannya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Tangannya terasa ringan.
Tidak lagi penuh luka.
Tidak lagi gemetar karena cinta yang salah.
Dan malam itu, saat angin laut masuk perlahan ke taman…
Aku akhirnya mengerti satu hal:
Ada wanita yang diam bukan karena lemah.
Tetapi karena mereka sedang memberi kesempatan terakhir kepada orang yang mereka cintai.
Dan ketika kesempatan itu dihancurkan…
Mereka tidak menangis lagi.
Mereka bangkit.
Dan seluruh dunia ikut gemetar.